Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Ayo, Kita Kencan


__ADS_3

Flashback On.


Bokongnya kram, terasa kebas seakan ada milyaran semut menggerayangi. Mendesah kesal Yuki duduk dengan tidak nyaman. Digeser ke kanan-kiri dengan gelisah, namun justru membuatnya ingin marah pada daging tidak montok yang melapisi tulang duduk miliknya itu.


“Masalah pekerjaan gak usah bingung. Asal kamu ikut Papa, semua bisa Papa atur.”


“Ada lowongan kerja?”


“Kenalan Papa banyak.”


“Oh … Jadi nepotisme ...." Membeo Yuki melontarkan tiga patah kata mengambang. Kepalanya mengangguk paham. Jari-jemarinya tertaut, saling mengetuk punggung tangan satu sama lain seakan membentuk ritme yang mengiringi perputaran di otak. "Jujur aku nggak masalah kalau Papa bantu. Malah peluang banget supaya aku nggak nganggur. Karena aku yakin bakal bekerja keras untuk bisa membuktikan aku pantas.”


“Tentu kamu harus buktikan. Kamu gak boleh diremehkan orang lain," sahut Papa Gibran menimpali perkataan Yuki. Sekilas seulas senyum tipis yang angkuh menghiasi bibir Papa Gibran.


“Iya, aku tau. Tapi, Pa … Tolong biarkan aku berusaha sendiri. Papa harus biarin aku jatuh, bangun, jungkir balik dulu, biar aku tau gimana susahnya nyari kerja. Minimal aku jadi punya pengalaman,” ucap Yuki bijak, sejatinya sedang menolak tawaran Papa Gibran.


"Oke, kalau kamu mau cari kerja sendiri. Gak masalah, malah Papa bangga kamu mau berusaha sendiri. Tapi kamu tetap tinggal sama Papa.”


“Aku mau kerja di Kota ini, Pa. Jadi aku gak bisa ikut Papa.”


“Jangan keras kepala. Setidaknya kamu gak kesepian kalau tinggal sama Papa. Ada Adik dan Mama mu.”


"Sejak kapan Papa peduli aku kesepian atau nggak?" tanya Yuki spontan. Ia terkekeh miris, melebarkan senyuman di bibir yang nyatanya berkedut nyeri. "Aku udah biasa sendiri, tanpa Papa ataupun Mama. Justru dari dulu kalian lebih mementingkan uang dari pada kasih sayang untuk aku ... Aku udah cukup bahagia. Kalau nggak, pasti ajakan Mama udah aku iyain, Pa. Sama seperti Papa, Mama juga minta aku tinggal sama Mama.”


Menghela nafas berat seraya menatap lekat Yuki yang sibuk menggigiti sedotan es dawet, Papa Gibran menyandarkan punggung sambil bersedekap. "Setelah kamu cerai, kamu tanggung jawab Papa lagi," ucap Papa Gibran, nada suaranya seakan menyiratkan rasa cemas, namun juga khawatir. Jujur saja sulit untuk Yuki terka makna sebenarnya dari penuturan sang Papa.


“Tapi kan gak harus tinggal sama Papa," gumam Yuki lirih dengan bibir mencebik sebelum kembali berkata, "aku selama ini bisa kok sendirian."


"Makanya kamu ikut Papa supaya gak sendirian."


"Sekali lagi aku mohon maaf, Pa ... Aku nyaman di sini. Jadi bukan karena aku gak mau tinggal serumah bareng Papa dan Tante Inka ...."


"Panggil Mama atau Bunda, bukan Tante," tegas Papa Gibran, menyela kalimat yang belum Yuki selesaikan.


Mendengus sebal, dinding kesabaran Yuki yang menipis itu akhirnya runtuh. “Siapapun bisa jadi istri Papa, tapi nggak untuk menempati posisi Mama di hidup aku. Jadi biarkan aku tetap memanggil istri Papa itu Tante,” ucap Yuki cepat, tidak kalah tegasnya dengan intonasi suara Papa Gibran.


Mata yang sedari tadi menyorot malas es dawet yang tinggal seperempat gelas kini berkilat marah. Amarah itu membludak, padahal sudah sedemikian rupa Yuki tekan.


"Bahkan dari awal Papa gak melibatkan aku sebagai anak Papa. Papa bukan laki-laki single. Papa berkeluarga, beristri dan punya anak. Apa Papa pernah tanya aku mau atau nggak punya 2 Ibu? Nggak! Jadi jangan paksa aku mengakui dia sebagai ibu. Dia istri Papa, tapi bukan Ibuku!"


"Jangan kurang ajar! Orang yang kamu panggil 'dia' itu udah jadi Ibu kamu!" Suara Papa Gibran meninggi, terdengar sampai ke meja pengunjung lainnya. Laki-laki tua itu melupakan keadaan sekitar yang tergolong cukup ramai.


'Terserah,' jawab Yuki ketus dalam hati. Malas mengeluarkan suara jika hanya akan memicu perdebatan baru.


Sejenak keheningan melanda. Suasana kekeluargaan di sebuah rumah makan yang dipilih Papa Gibran tidak bisa menurunkan ketegangan di antara Ayah dan Anak itu.


Kedua manusia berbeda usia yang sama-sama memandang lalu lalang kendaraan di jalanan bertahan dalam benteng kesunyian. Riuh rengekan dan jeritan anak-anak kecil yang menginginkan es krim terdengar jelas, namun tidak mengusik Ayah dan Anak yang enggan bersuara terlebih dahulu.

__ADS_1


“Sorry, telat,” ucap berat seseorang yang berhasil mengebut di sepanjang jalan demi menemui Yuki. Penampilan acak-acakan karena nyaris gila menunggu Yuki di depan kos-kosan sudah sedikit dirapikan, hanya rambutnya saja yang sangat kentara disisir dengan jari.


Drak.


Kursi kayu itu terdorong ke belakang, menggesek kasar lantai semen. Berderap menggema kencang meski suasana rumah makan itu cukup ramai. Praktis menarik atensi seluruh pasang mata yang terusik. Sebagian mengabaikan, namun sebagian besar memilih bertahan melirik penuh keingintahuan.


"Untuk apa kamu ke sini?!" Melotot tajam dengan deru nafas memburu, Papa Gibran mendorong kasar bahu kiri Keven. Sontak Keven yang tanpa persiapan langsung terhuyung, membentur meja kosong di belakangnya. Beruntung tidak sampai terjatuh. Ia reflek menumpu bobot tubuh di kaki yang kokoh.


"Pergi! Jangan dekati anak saya lagi!" ketus Papa Gibran marah. Ia merasa direndahkan oleh Keven atas desas-desus yang diam-diam berusaha Papa Gibran korek dari berbagai sumber. Jelas belum tentu terpercaya.


Tanpa pernah mengingat bahwa ada Yuki sang anak kandung yang bisa ditanyai sekaligus merajut kembali hubungan yang kusut. Bahkan mungkin Papa Gibran lupa jika dirinya juga berperan besar membuat Yuki tidak berkutik terjebak dalam permainan pernikahan Keven.


"Pa ...," sapa Keven dengan tenggorokan tercekat. Tangannya terulur ingin menyalami sang mertua. Sungguh Keven sedang menebalkan wajahnya dengan ketidakmaluan.


“Pergi!” Telunjuk Papa Gibran mengacung lurus, menunjuk pintu keluar dengan suara yang menggelegar. Sedetik kemudian tangan yang baru saja terangkat lurus itu sudah menyentak dada bidang Keven.


Sedangkan tangan yang mengambang menanti jabatan hanya mampu meremas udara, mengepal kuat menahan sentakan yang sebenarnya tidak seberapa terasa bagi Keven.


“Pa, udah! Malu dilihat orang-orang,” pinta Yuki dengan suara lirih sambil berusaha melerai amukan Papa Gibran pada Keven. Tentu saja Keven pasrah tanpa perlawanan. Keven tau dirinya salah dan masih beruntung hanya mendapatkan perlakuan seperti itu dari calon mantan mertuanya.


“Minggir!” tukas Papa Gibran seraya menarik lengan Yuki hingga sang empunya terlonjak mendekat di samping Papa Gibran. “Gak perlu kamu lindungi bajingan ini.”


“Aku yang minta Mas Keven ke sini. Jadi Papa gak usah marah-marah sama Mas Keven.”


"Besok kalian udah cerai. Untuk apa kamu berurusan sama dia lagi?!" ucap Papa Gibran lantang penuh amarah.


"Maaf, Pa ... Aku ...."


"Ini masih rumah tangga aku, Pa!"


Perkataan Keven dan Yuki terlontar serentak, namun jelas lebih didominasi oleh suara meninggi Yuki.


“Rumah tangga Papa aja Papa hancurin sendiri, jadi untuk apa emosi tentang rumah tangga aku?” Wajah datar Yuki mendongak, menatap mantap pada Papa Gibran yang seketika diam mematung. Terlalu terkejut dengan perubahan ekspresi sang putri. Apa lagi kalimat pedas yang terlontar tepat sasaran.


“Ini keputusan kami. Papa gak perlu ikut campur. Dan jangan pernah menggurui kami. Bercerai pun hubungan kami tetap baik-baik aja," ucapnya dingin, nyaris tanpa emosi. Padahal gejolak itu sudah bergenderang membunuh Yuki secara perlahan. "Lebih baik Papa urusin istri baru Papa yang masih muda, cantik lagi. Ingat ya Pa, Papa itu udah tua, jangan sampai Papa kena karma diselingkuhi waktu sakit-sakitan.”


“YUKI!” bentak Papa Gibran dengan mata melotot tajam.


“Aku serius, Pa. Jangan menyalahkan sikap Mama yang gila kerja, karena di antara kalian bertiga gak ada yang benar. Dan sampai kapanpun Mama ku cuma satu, Mama Maria!" Kobaran amarah itu kembali. Membumbung tinggi membakar kekecewaan lama yang belum terobati. Berusaha diredam sekuat tenaga sampai urat-urat Yuki menegang, menonjol di balik lapisan kulit pelipis.


"Satu lagi … Tolong berdamai. Aku capek! Saat kalian bersama, aku sendiri. Sekarang kalian punya hidup masing-masing, kenapa aku harus ikut pusing?!” teriak Yuki histeris, menohok Papa Gibran.


Kini dapat laki-laki itu lihat anaknya tidak baik-baik saja. Senyum, tawa dan mata hampa Yuki yang dikiranya hanya ilusi rupanya nyata. Lagi-lagi Papa Gibran tidak bisa berkilah membohongi batin dengan pembenaran demi pembenaran.


“Udah ….” Keven mengusap punggung Yuki, menggeleng pelan agar Yuki berhenti. Bukan untuk menahan segala keluh kesah Yuki terlepas, namun Keven tidak mampu melihat satu per satu luka yang semakin bertambah kala bibir mungil itu terus terbuka.


Menghela nafas berat, Yuki memejamkan mata erat. Sepersekian detik kemudian ia buka seiring wajah yang dipalingkan. Sontak alis berkerut di atas tatapan sendu Keven yang pertama Yuki lihat.

__ADS_1


“Aku pikir hanya itu yang mau Papa sampaikan, benar kan? Aku ada janji sama Mas Keven, jadi sekali lagi aku minta maaf sama Papa. Aku memang bukan anak yang berbakti. Tapi aku akan tetap berusaha, minimal Papa gak menyesal punya anak seperti aku.”


Tanpa pamit Yuki berlalu dari hadapan sang Papa. Meninggalkan Keven yang memohon pengertian Papa Gibran atas sikap Yuki.


Maaf itu terucap puluhan kali dari bibir Keven, namun Papa Gibran seolah tuli pada setiap dengungan gelombang suara yang tercipta. Mata tuanya terus menatap punggung ringkih Yuki yang semakin menjauh, perlahan menghilang dari pandangan. Menyisakan gumpalan menyesakkan yang disesalinya.


“Maaf udah buat kamu nunggu sampai malam. Aku pikir kamu pulang pas tau aku gak ada di kos," celetuk Yuki. Ditatapnya langit malam yang indah meski tanpa bintang. Tampak lebih terang dibandingkan malam-malam sebelumnya.


“Aku pasti nungguin kamu,” sahut Keven.


“Maaf juga tadi ponsel aku matikan. Niatnya biar gak ketemu Papa, tapi ternyata udah takdir aku buat nemuin Papa lagi.”


"Maaf ...."


"Maaf? Kenapa?" Mengernyit heran, Yuki melirik sekilas pada Keven yang berdiri di sisi kirinya.


Sejenak dipaksa bibir itu mengulas senyuman. "Bukan salah kamu. Aku aja yang belum mampu ketemu Papa."


"Aku ...."


"Udah jalan hidup kita," potong Yuki cepat.


"Bukannya kamu bilang hari ini kita gak boleh ingat apapun selain menikmati waktu berdua? Katanya mau kencan. Kenapa harus melow sih? " lanjut Yuki berucap. Menyenggol genit lengan Keven dengan sedikit loncatan kecil. Spontan Keven terkekeh, meski masih memancarkan senyuman pilu.


"Iya ... Ayo, kita kencan." Seketika keceriaan yang remang terpancar. Kedua manusia berbeda jenis kelamin itu tersenyum lebar memamerkan barisan para gigi. Menutupi perih yang menggerogoti kala tawa riang berdenging.


Manis permen kapas yang lengket. Pedas pentol mercon yang menggigit. Dinginnya es soda gembira yang menyegarkan. Semuanya berhasil membangkitkan binar mata Yuki dan Keven yang redup.


Keduanya berjalan bersisian. Pertama kali saling menautkan jemari dengan mesra. Bercanda tawa mengubur luka dan fakta perpisahan di depan mata. Mengukir kenangan terindah yang Yuki impikan sejak lama. Sayangnya mereka meniti kebahagiaan malam itu di atas pecahan kaca. Semakin dipijak, semakin banyak luka itu berdarah-darah.


Segala dugaan yang sempat mencubit sudut hati Yuki telah lenyap. Penjelasan demi penjelasan sudah Keven sampaikan, dari kedatangan Alia hingga dirinya yang berjongkok di Pos Satpam kos-kosan Yuki. Hari ini tidak ada kesalahpahaman lagi.


Akan tetapi penjelasan Keven hanya mampu mengobati kekecewaan Yuki, tidak mengubah keputusan Yuki untuk tetap berpisah. Terbukti pada keesokan harinya, baik Yuki maupun Keven sudah resmi menyandang status janda dan duda bersegel.


Flashback Off.


...****************...


*


*


*


Sedikit info untuk yang juga membaca novel ketiga ku "Not Friends with Benefits" (masih hiatus ya...), aku akan tetap lanjutin sampai tamat. Tapi rencananya setelah novel ini selesai dan kemungkinan ada perubahan di judul😁


Pantau aja terus yaa...

__ADS_1


Terima kasih untuk semua pembaca kisah Yuki😍


__ADS_2