
Brak.
Pyarr..!!
Bunyi benda jatuh dan pecah tidak melukai kulit, namun hebatnya menggores hati terdalam Yuki. Dengan mata terpejam erat, gigi mengatup rapat dan kepalan tangan menahan ketakutan Yuki bergeming meresapi bagaimana terluka tanpa berdarah.
“Kamu selalu egois, terobsesi karir. Aku udah suruh kamu diam temani anak kita, dia masih butuh kasih sayang Ibu nya, tapi apa? Tapi apa, HA!!??” Teriak Papa Gibran kuat membentak Mama Maria. Telunjuknya menghardik sosok Ibu dari anak gadisnya.
“Gak usah nyalahin aku! Kalau mau selingkuh ya selingkuh aja!! Gak usah bawa-bawa anak aku kekurangan kasih sayang!! Sadar Gibran, selama ini mana kasih sayang mu!!?? Apa setelah kamu menikah lagi anak aku juga dapat kasih sayang dari pelakor itu?!” Balas Mama Agni tidak kalah membentak dengan intonasi meninggi.
Sedangkan di luar rumah sudah ada perempuan bernama Inka menunggu dengan menutup rapat telinga batita berjenis kelamin laki-laki yang menatapnya dengan kerjapan bingung. Ia sempat masuk saat pembicaraan kondusif, sempat pula meminta Yuki memanggilnya Bunda, namun jelas ditolak mentah-mentah. Bagi Yuki, istri baru sang Papa tak ubahnya bak serangga beracun yang ikut berperan mengusik, mengganggu, menghancurkan dan membunuh kebahagiaannya.
“Harusnya kamu sadar Maria! Aku lakuin ini semua gara-gara sikap egois kamu!” Ucap Papa Gibran lantang. Ego nya tidak ingin disalahkan meski sebenarnya memang salah. Menikmati kehangatan dari ranjang lain di atas alasan mencari kasih sayang pengganti untuk sang anak yang lebih baik dari mantan istrinya.
“Kalau aku egois kamu apa? Bajingan! Cuih..!” Balas Mama Maria sambil meludahi laki-laki yang dulu adalah tempatnya merasa aman terlindungi, namun justru kini berhasil meremuk redamkan jiwa raganya.
“TUTUP MULUT MU!!” Bentak Papa Gibran yang memekakkan telinga. Sebagian pakaiannya terkena ludahan Mama Maria sehingga menyulut emosi hingga tanpa sadar mengangkat tangannya seolah hendak menampar Mama Maria.
“Mau tampar? TAMPAR!! TAMPAR AKU SAMPAI PUAS!” Tantang Mama Maria sambil mencengkeram tangan kokoh yang menahan amarahnya. Hampir saja Papa Gibran kehilangan kendali dan melakukan kekerasan di depan mata anaknya.
“Cukup, Ma, Pa! Cukup! Jangan jadikan aku alasan. Kalau kalian memang gak sanggup dan gak ingin aku lagi, lepaskan! Aku udah besar, aku bisa cari makan sendiri. Aku juga udah punya suami yang bakal limpahin aku semua kasih sayang yang percuma kalian debatkan!!” Ucap Yuki sambil tersenyum, memaksa lidah kelunya merangkai kalimat. Pelupuk matanya penuh genangan air, sulit untuk Yuki menyimak tatapan yang kini memerhatikan dirinya gemetaran.
“Yuki ...,” ucap Papa Gibran dan Mama Maria bersamaan, sejenak keduanya lupa bahwa Yuki masih mengamati perkelahian mereka. Tanpa malu kedua orang dewasa yang selalu mencurahi Yuki kasih sayang itu saling tuduh, mengatasnamakan Yuki yang kekurangan kasih sayang.
__ADS_1
“Stop! Jangan mendekat!” Menghalau dengan tangan terangkat lurus, telapak tangan terbuka dan jari diregangkan, Yuki menghembuskan nafas berat. Tampak rahang yang mengeras dan gigi bergemeletuk saling bersinggungan.
“Selama ini aku diam kalian tinggal. Meski dulu setahun sekali kita kumpul, meski akhirnya kalian cuma kasih kabar lewat pesan singkat, gak apa-apa. Tapi kenapa tiga tahun yang lalu kalian kasih kebahagiaan tipuan? Kenapa gak jujur sama aku padahal Papa dan Mama udah pisah hampir empat tahun? Kenapa kalian pura-pura saat itu? Pantas dulu selama seminggu Mama selalu ngotot tidur sama aku. Kangen? Apa itu bohong juga, Ma, Pa?” Cerca Yuki dengan nafas memburu. Emosinya sudah sampai ubun-ubun, namun tidak diluapkan dengan membabi buta.
“Mulai sekarang, urus keluarga kalian masing-masing! Selama ini hidup ku juga udah baik-baik aja, jadi gak usah capek-capek cari alasan memikirkan kasih sayang buat aku!” Lanjut Yuki berucap sambil memaksa langkah lemahnya berniat meninggalkan rumah penuh drama mengerikan yang pasti akan menghantui sepanjang hidupnya kelak.
“Mas Kev-ven?” Ucap Yuki lirih dengan sedikit terbata, terperanjat kaget pada kehadiran sosok yang berdiri tegap lebih dari semester di depannya.
Terdiam mematung dengan tenggorokan tercekat, kakinya bahkan belum sempat melangkah melewati ambang pintu. Banyak pertanyaan melintas di kepala Yuki. Salah satunya sejak kapan Keven ada di sini, bagaimana bisa ia datang ke rumah Mama Maria dan banyak pertanyaan-pertanyaan lainnya yang semakin membuat kepala Yuki pusing jika terus mencoba menerka.
Belum lagi suara nyaring saling menyalahkan kembali menyeruak pendengaran Yuki. Entah harus bagaimana lagi Yuki menghadapinya, yang jelas Yuki bertekad akan berhenti mengharapkan kedua orang tuanya. Namun tetap saja di lubuk hati terdalam Yuki berharap jika suatu saat nanti mereka sendiri yang mengambil langkah kembali mendekat pada Yuki.
“Ayo, pulang.” Ucap Keven lembut, meraih pergelangan tangan bergetar Yuki. Terlihat jelas kepalan erat yang membuat kuku menusuk keras telapak tangan Yuki sendiri. Keven mendengar semua perdebatan yang tidak pernah ia sangka. Bahkan belum sampai tiga bulan pernikahannya dengan Yuki dilalui. Keven tentu ingat bagaimana keharmonisan mertuanya yang nyatanya kini itu semua hanya sandiwara.
“Khem, maaf..” Deheman singkat dan ucapan maaf karena menyela interaksi Keven dan Yuki membuyarkan lamunan Yuki. Menatap tajam dengan mata melotot garang, Yuki muak melihat sosok perempuan yang masih tampak muda, bisa jadi umurnya hanya beberapa tahun di atas Keven.
“Anda memang perempuan hebat, sangat hebat. Semoga bisa menjadi Ibu yang hebat untuk dia.” Ucap Yuki sambil menunjuk batita laki-laki yang baru ia ketahui adalah adik Seayah dengannya.
“Semoga anak anda tidak mendapat karma disakiti oleh orang tercinta seperti yang sudah saya sendiri alami!” Imbuh Yuki lagi dengan raut wajah datar, tatapannya dingin menusuk. Sekali berucap dua nyawa tertembak, mungkin begitulah Yuki secara halus menyindir Ibu tirinya dan tanpa sadar juga tepat sasaran mengenai akal sehat sang suami yang membeku di belakang tubuh Yuki.
“Kita pulang, permisi.” Ucap Keven pada Yuki dan sosok wanita asing di depannya yang sempat ditatap sekilas dengan anggukan kecil. Tanpa disebutkan lagi, Keven bisa menarik kesimpulan atas status wanita yang baru pertama kali ditemuinya itu.
Mulanya Keven berpikir wanita yang menggendong bayi itu hanyalah seorang tetangga yang kebetulan berhenti di depan rumah mertuanya atau tipe tetangga kepo yang biasa ia temui di lingkungan sekitar rumahnya. Namun setelah Keven mendengar percekcokan kedua mertuanya dan kalimat sarkas yang Yuki ucapkan, kini Keven mengerti secara tidak langsung wanita asing itu adalah salah satu mertuanya juga.
__ADS_1
Blam.
Pintu penumpang di samping kemudi sudah ditutup. Penghuninya yang tidak lain adalah Yuki juga sudah memejamkan mata rapat menahan tangis yang ingin diluapkan. Secara kasar Yuki memukul paha nya penuh amarah.
Berbeda dengan Yuki yang sudah di dalam mobil, Keven kini melangkah masuk ke dalam rumah mertuanya. Dengan mata kepalanya sendiri Keven melihat pecahan vas bunga, bantalan sofa serta rak kecil dan taplak meja tergelak di lantai bak kapal pecah.
“Pa, Ma!” Ucap Keven dengan suara dikeraskan. Bahkan terlalu larut mereka berdebat hingga tidak menyadari Keven sudah menyaksikan segalanya. Termasuk Mama Maria yang menyumpahi kehidupan wanita asing yang diam tanpa perlawanan. Dan Papa Gibran yang layaknya pahlawan pasang badan, namun gilanya membalas menyumpahi Mama Maria agar sadar diri dan menyesal.
Meski tidak tau jelas masalah yang terjadi, Keven hanya sangat menyayangkan anak kecil yang ikut menangis histeris ketakutan ditengah perkelahian orang dewasa. Tidak hanya Yuki, namun bayi itu juga korban.
...****************...
*
*
*
Terima kasih sudah menanti kisah ini yang slow update😁
Mungkin untuk mengobati kerinduan kisah Yuki bisa ke sebelah. Gak dikunci apa lagi digembok, justru menerima tamu dengan senang hati😄
__ADS_1