Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kenyamanan Sesaat


__ADS_3

“Haus.” Ucap Yuki lirih sepeninggal Mama Agni dan Papa Leigh dari kamar yang ia tempati itu.


“Sebentar.” Ucap Keven sambil mengusap puncak kepala Yuk. Berlalu secepatnya dengan langkah lebar berniat mengambil air minum di dapur untuk Yuki. Dirinya lupa menyediakan air minum di kamar jika sewaktu-waktu Yuki sadar.


“Jangan buat istri mu stress, Mas.” Celetuk Papa Leigh di balik punggung Keven yang sibuk meraih seteko air putih dan gelas bersih ke dalam kedua genggaman tangannya.


“Iya, Pa. Keven naik dulu. Yuki minta minum.” Jawab Keven dengan anggukan kecil mengiyakan ucapan Papa Leigh. Dirinya terburu-buru meniti setiap undakan anak tangga agar cepat sampai ke kamarnya.


Memerhatikan punggung anaknya yang semakin menjauh, Papa Leigh menghembuskan nafas kasar. Prihatin pada kondisi rumah tangga anaknya yang tidak biasa, terutama pada situasi yang harus dihadapi menantunya itu.


Dari cerita singkat Mama Agni, Papa Leigh mengerti bagaimana sakitnya menjadi Yuki yang selalu mengejar cinta Keven, menikah bukan karena keinginannya, bahkan alasan yang pernah Keven sebutkan atas dasar saling mencintai dan sudah menjalin hubungan diluar batas semuanya hanya kebohongan. Meski berakhir dengan pernikahan, sungguh Papa Leigh tidak habis pikir kenapa anak satu-satunya itu dengan tega menyebar kebohongan.


Lalu dari mana Mama Agni mengetahui semua fakta itu? Satu-satunya jawaban adalah Alia. Berniat memisahkan Keven dengan Yuki justru berakhir Mama Agni yang jatuh cinta dengan ketulusan hati Yuki. Apa lagi kondisinya saat ini Mama Agni yang sudah antipati sepenuhnya dengan Alia membuat Mama Agni berpikir lebih cerdas untuk menyaring semua perkataan Alia.


Kini yang dirasakan Papa Leigh tinggal penyesalan sebagai orang tua yang terlalu gegabah. Menyimpulkan segala hal hanya dari sisi pembenaran Keven. Selain itu juga karena tuntutan pihak keluarga Yuki yang tidak terima dengan kelakuan kedua anak mereka masing-masing. Lagi pula sangat wajar pihak keluarga perempuan akan lebih ngotot dan ngeyel di situasi seperti itu.


Akan tetapi tetap ada yang Papa Leigh syukuri. Setidaknya ketika Yuki terpuruk saat ini, rumahnya ini akan menjadi salah satu pilihan untuk Yuki pulang. Kini mereka adalah keluarga. Bahkan keberadaan Yuki layaknya berkah yang memberikan warna baru di rumahnya.


Anak perempuan yang pasangan lanjut usia itu idamkan hadir dari menantu yang bagai pinang dibelah dua kebawelannya dengan Mama Agni. Untuk mendapatkan Keven saja mereka harus bersabar melewati tahun-tahun penuh perjuangan. Kondisi Papa Leigh yang tidak subur adalah cobaan terberat saat mereka menginginkan seorang keturunan.


Sedangkan Keven yang saat ini berdiri di ambang pintu yang sedikit terbuka sudah terpaku tidak mampu meneruskan langkahnya lagi. Tangan yang hendak mendorong daun pintu kamarnya itu menggantung membeku pada suara tangis yang sudah pasti milik Yuki.

__ADS_1


Beberapa kali Keven juga mendengar tarikan dan hembusan kuat nafas panjang Yuki. Ia tau jelas Yuki sedang berusaha meredam tangisnya, namun semua sia-sia. Setelah nafas itu berhasil terhembus, maka Yuki akan kembali sesegukan.


Melangkah masuk dan meletakkan gelas dan teko air di nakas samping ranjang, Keven mengusap air mata yang membasahi pipi Yuki dengan ibu jarinya.


“Jangan ditahan. Lepaskan.” Ucap Keven lembut yang membuat Yuki terperanjat. Selama berada di dekat Keven, baru kali ini Yuki bisa merasakan kelembutan sesungguhnya dari seorang Keven. Tutur kata, perhatian dan perlakuan membuat Yuki merasa berharga. Tapi akal sehat Yuki selalu berhasil menjerit agar dirinya tidak terlena.


“Udah?” Tanya Keven sambil mengusap dan menyibak rambut panjang Yuki yang menempel pada pipi basah dan mata bengkak akibat tangis yang tidak kunjung usai.


Sekali lagi Keven berusaha meredakan tangis Yuki lewat pelukan hangat dan usapan lembut di punggung. Rasa bersalahnya semakin membesar.


“Aku harus kemana sekarang?” Ucap Yuki lirih, masih merebahkan kepalanya dengan nyaman di dada Keven. Antara sedih dan senang, Yuki merasa nyaman akhirnya salah satu daftar keinginannya terwujud. Dirinya bukan bermimpi, bukan pula berhalusinasi, dekapan hangat yang merengkuh tubuh mungilnya adalah kenyataan yang mungkin tidak akan bisa Yuki ulang kembali.


“Sejak kapan? Aku hanya orang asing di rumah ini.” Terkekeh miris Yuki mengucapkan kalimat itu. Mau tidak mau Yuki sadar, jika mengedepankan ego dengan membuang segala fasilitas yang masih Papa Gibran dan Mama Maria berikan, maka dirinya juga harus siap tidak memiliki apapun jika suatu saat Keven juga membuangnya.


Memikirkan Dimas dan Ara yang pasti mau menampung sudah sempat terlintas, namun rasanya Yuki terlalu segan harus melimpahkan kesulitannya pada kedua sahabatnya itu. meski tanpa diminta sudah pasti baik Dimas maupun Ara akan memaksa Yuki bersama mereka.


“Kamu istri aku.” Tukas Keven lirih. Intonasi suaranya membuat hati Yuki berdenyut sakit. Entah Yuki yang terlalu berpikir buruk atau daun telinganya yang salah menangkap getaran yang mengantarkan gelombang suara mengetuk gendang telinga, namun yang Yuki yakini dari bersamaan dengan terhentinya usapan di punggungnya adalah Keven yang tidak tulus.


“Sejak kapan aku istri kamu?” Tanya Yuki tidak kalah lirihnya dengan bibir menyunggingkan senyum miris. Sejak kapan dirinya dianggap sebagai istri, kalimat itu seolah melambung di angan bersama rangkaian kilasan peristiwa kesendiriannya di rumah tangga yang sudah mereka jalani.


Baju yang selalu Yuki susun rapi di atas ranjang untuk Keven pasti bisa tertawa karena tau ia diam-diam sedang mengemis perhatian. Sarapan yang selalu disiapkan meski keahlian memasaknya minim. Tergores pisau, terciprat minyak dan air panas Yuki abaikan, ia terus meminta Mama Agni mengajarinya memasak seluruh makanan kesukaan Keven. Berbagai perhatian Yuki curahkan walaupun sikapnya sok acuh masa bodoh, tapi tetap saja hanya berakhir dengan hubungan mereka yang semakin renggang.

__ADS_1


“Maaf, aku terlalu syok dengan keadaan orang tua aku sampai gak sadar diri aku menumpang di sini. Sebisa mungkin setelah ini aku gak bakal nyusahin kamu lagi.” Ucap Yuki mantap, melepaskan dekapan Keven dan menjauhkan diri. Yuki sudah merasa cukup atas kenyamanan sesaat yang ia dapatkan. Dirinya takut akan bertambah serakah dan berakhir kecewa.


“Ini memang bukan rumah aku. Ini rumah orang tua aku. Tapi kamu sekarang juga anggota keluarga di rumah ini.” Ujar Keven mencoba memberi penjelasan kepada Yuki.


Mengulas senyuman tipis dengan mata menyipit yang seolah mengatup rapat karena terlalu bengkak, Yuki menggeleng lemah. Terlalu berlebihan jika menganggap dirinya bagian dari keluarga. Keberadaannya di rumah itu tidak lebih hanya karena Keven mengikat dalam sebuah pernikahan.


Keduanya bernaung pada atap bahkan kamar yang sama di atas status pasangan suami istri, nyatanya bukan berarti cinta yang pernah ingin Yuki kubur dalam-dalam itu terbalaskan. Yuki berani bersumpah jika perhatian Keven saat ini adalah sekedar bentuk rasa kasihan.


Menampar dirinya sendiri dengan ingatan atas perkataan Mama Agni tentang Alia yang tanpa sengaja ia dengarkan, Yuki hanya berharap bisa menumpang sebentar di rumah yang seperti Keven ucapkan menerima hadirnya sebagai keluarga baru.


...****************...


*


*


*


Tanda-tanda Yuki menyerah sesungguhnya nih?🤔


Terima kasih ya udah ngikutin kisah Yuki dan terus dukung tulisan aku🥰

__ADS_1


__ADS_2