
Perdebatan antara Yuki dan Keven berakhir tanpa penyelesaian. Yuki bukan mengemis cinta Keven, ia hanya ingin meluapkan isi hatinya. Berharap hubungan yang tidak sehat itu bisa dimulai kembali layaknya berteman dengan cara saling terbuka.
Merutuki hatinya yang terlalu mellow malam itu, Yuki meringkuk memunggungi Keven yang duduk di tepi ranjang. Posisi yang saling berseberangan memberikan jarak kosong di antara keduanya.
Menolehkan kepala, Keven memanggil Yuki, “Ki? Yuki?”
Sepersekian detik kemudian Keven menggeser posisi duduknya hingga kaki yang menggantung bersila di atas kasur. Beringsut mendekat dengan tangan yang terangkat, lidah Keven mendadak kelu saat ingin kembali memanggil Yuki. Bahkan tangan terangkat yang ingin menyentuh bahu Yuki diurungkan, kembali turun mencengkeram lutut.
Menyugar dan menjambak rambutnya dengan kasar, Keven beranjak dari atas kasur. Berlalu keluar dari kamar, menuruni anak tangga dan berakhir di ruang tengah yang biasanya sering digunakan Mama Agni menikmati serial dari stasiun ikan fenomenal.
“Gue udah gila,” gumam Keven sambil menghempaskan dirinya ke atas sofa panjang. Kemelut tidak terdefinisi kan mengganggu pikiran Keven.
“Gak mungkin gue suka sama dia,” tolak Keven dengan suara bergumam lirih. Lengan kanannya menopang di wajah, memblokir cahaya menyilaukan mata.
‘Kenapa rasanya gak rela ada yang suka sama dia?’ batin Keven bertanya-tanya. Jujur saja pikirannya kacau dan amarahnya memuncak saat Yuki menyebutkan bila ada orang lain yang menyukainya.
“Gak! Gak bisa! Dia istri gue!” ucap Keven penuh penekanan, matanya berkilat tidak rela ketika membayangkan Yuki bersama laki-laki lain.
Kedua tangannya yang terkepal erat membentur secara bersamaan ke atas paha berotot miliknya. Entah sadar atau tidak, lewat bibir dan sikapnya sendiri Keven mengakui bahwa Yuki adalah istrinya, miliknya yang tidak boleh dilirik oleh orang lain.
Lain halnya dengan Keven yang berdialog seorang diri, di kamar, tepatnya setelah Keven menutup pintu kamar, Yuki menghela nafas kasar. Matanya mengintip tipis Keven yang berlalu meninggalkan dirinya. Sedari tadi Yuki hanya berpura-pura terlelap sambil memejamkan mata rapat.
Panas hatinya menjalar hingga ke permukaan kulit. Alhasil tidak mungkin Yuki bisa tertidur pulas dengan hati yang kacau balau.
Semalaman itu kedua manusia yang masih berstatus suami istri larut dalam pikirannya masing-masing. Yuki berbaring di kamar yang berada di lantai atas, sedangkan Keven merebahkan tubuh pada sofa ruang tengah di lantai bawah.
Hingga menjelang pagi keduanya belum bisa memejamkan mata sedetikpun. Jelas saja lingkaran hitam mencekung menghiasi mata lelah Yuki dan Keven. Tidak hanya tubuh, namun pikiran yang berkecamuk membuat sorot sayu dan lemah semakin kentara.
“Yuki?” panggil Keven pada Yuki yang menghilang bagai kilatan petir di langit.
Mengernyit heran Keven menatap meja makan yang kosong. Sejak setengah jam yang lalu Keven sebenarnya mendengar kegaduhan di dapur, namun ia urung untuk beranjak dari posisinya walau sekedar mengintip kesibukan Yuki.
Rasanya canggung menemui Yuki. Padahal ia terbiasa acuh pada hubungan mereka. Penolakan hatinya kemarin malam seolah menjungkirbalikkan Keven. Ia seperti ditertawakan oleh kebenaran dari isi hatinya sendiri.
“Yu- …,” panggilan Keven menggantung, terputus begitu saja saat bayangan Yuki menghilang dari pandangannya. Baru saja sudut mata Keven menangkap sosok Yuki di ujung anak tangga, namun kini sudah menghilang tanpa jejak.
Seketika Keven merasa layaknya udara yang berhembus, meski terasa tapi diabaikan. Bedanya udara masih dibutuhkan, namun Keven, entahlah ia masih dibutuhkan atau tidak oleh Yuki.
__ADS_1
“Yuki … Kamu … Tunggu aku,” teriakan Keven diabaikan oleh Yuki yang memilih menghilang, kabur bersama motor kesayangan.
“ARGH!! Sialan!” umpat Keven sambil meninju dan menendang udara kosong. Benar-benar tidak terduga olehnya berhasil dibuat kelimpungan dengan perubahan sikap Yuki.
Belum ada sehari, bahkan belum ada 1 jam dari terakhir mereka selalu berpapasan. Yuki seolah memiliki jurus seribu bayangan yang membuat Keven selalu dihantui kemanapun menatap setiap sudut rumah.
Selama hampir 29 tahun hidupnya, baru kali ini Keven kesal pada desain rumah orang tuanya yang tanpa jalur buntu. Pantas saja Yuki selalu berhasil menghindar selain berdiam diri di kamar.
Sedangkan gadis yang sudah membuat Keven uring-uringan pagi itu asik mengunyah nasi uduk di warung rumahan. Duduk bersila sambil memisahkan daging ayam goreng lengkuas dari tulangnya. Sungguh nikmat sarapan paginya, sepiring nasi uduk dengan lauk sambal kering tempe, suwiran telur dadar, ayam goreng lengkuas dan acar santan.
‘Aku sedang belajar menjadi sosok yang tegar dengan mencintai orang yang salah … Yuki semangat! Hidup mu masih panjang di depan,’ ucap Yuki dalam hati menyemangati dirinya sendiri. Jika kemarin malam dirinya boleh lemah dan menangis tersedu-sedu, maka pagi ini ia harus makan yang banyak untuk mengembalikan stamina.
“Buk … Teh tarik hangat satu lagi!" pekik Yuki sambil mengacungkan jari telunjuknya, mengkode jumlah pesanan yang baru diteriakkan.
‘Makan apa ya dia di rumah?’ Sejenak Yuki merasa khawatir dan bersalah meninggalkan Keven pergi begitu saja.
Memang tadinya Yuki sempat berkutat di dapur, namun bukan memasak, melainkan membersihkan area dapur. Ia akan merasa tidak enak dan paling berdosa jika tiba-tiba Mama Agni pulang dan melihat wilayah kekuasaannya berantakan selama ditinggal pergi.
Sedangkan Yuki yang saat ini masih duduk bersila menghabiskan sarapannya tentu memiliki tujuan utama untuk menghindar dan menghibur diri. Yuki ingin menikmati kesendiriannya. Dimas yang sibuk bekerja tidak bisa Yuki harapkan untuk menemani. Sedangkan Ara, jangan ditanya lagi pasti fokus menghabiskan waktu bersama kekasih paling bucin.
Sengaja Yuki tidak menghubungi Ara, karena Ara pasti akan memilih bersama dirinya jika Yuki minta. Tapi kabar buruknya bisa dipastikan laki-laki posesif yang doyan menempel pada Ara itu pasti akan meneror segala kegiatan Ara setiap waktu. Dan lebih buruknya lagi menyusul hingga menyusup di antara Yuki dan Ara, menjadikan Yuki nyamuk mabuk akibat overdosis kebucinan.
Tak.
“Makasih, Bang.” Mengulas senyum simpul Yuki mengangguk kecil pada pemuda yang mengantarkan segelas teh tarik hangat pesanannya.
Sejenak Yuki menolehkan kepalanya, memandang semburat kilau cahaya pagi dengan gumpalan awan putih di langit biru. Pagi yang cerah itu memberikan energi positif pada jiwa Yuki yang sempat rapuh.
Menyelesaikan santapan paginya, Yuki ingin memulai tur seorang diri pagi itu dengan cuci mata di mall. Hanya cuci mata, tidak berbelanja dan semoga saja tidak tergoda untuk belanja. Sudah disusunnya daftar tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Tentu saja dengan kategori low budget. Yuki harus pintar berhemat dan mengolah keuangannya.
Sebagai informasi, uang bulanan dari Mama Maria dan Papa Gibran yang terus masuk ke rekeningnya dibiarkan sebagai bekal saat nanti dirinya berpisah dengan Keven. Sedangkan uang dari Keven akan digunakan sebagian untuk memenuhi kebutuhannya saat ini.
...----------------...
“Kenapa kamu juga bikin aku susah sih motor … Hiks, Hiks ... Aku capek,” keluh Yuki dalam raungan kecil.
Di bawah terik matahari yang beranjak naik, Yuki yang baru saja berbahagia setelah bermain timezone di mall kini bermandikan keringat. Mendorong motor di pinggir jalan sambil merengek kesal. Sungguh kesal Yuki pada paku yang menancap di ban motor bagian belakang.
__ADS_1
Menurunkan standar motornya, Yuki mengusap lelehan keringat di leher dan tengkuk. Menengguk kasar air liur sambil memerhatikan penjual es cincau di pinggir jalan berseberangan.
“Temannya Ara kan?” celetuk suara yang entah dari kapan pemiliknya berdiri di belakang Yuki.
“Kamu nangis? Karena ban kempes?” Terkekeh laki-laki itu melihat mata Yuki yang sedikit sembab dan cekung yang sebenarnya efek semalaman menangis.
“Dion … Ayo balik rumah sakit lagi!” teriak suara lain yang sudah berada di dalam sebuah mobil, menyembulkan kepala meneriaki laki-laki di hadapan Yuki yang tentunya bisa ditebak bernama Dion.
Ursa Dion Kim (Kim Taehyung)
“Duluan aja, aku nanti nyusul pakai ojol,” balas sosok bernama Dion itu dengan suara lantang.
“Dokter Dion ya?” tanya Yuki basa-basi. Jelas saja Yuki masih ingat dan tidak mungkin mudah melupakan sosok Dokter ganteng di depannya ini.
“Panggil Abang atau Mas aja bisa? Jangan ikutan Ara yang gak mau panggil aku selain pakai embel-embel Dokter,” ujar Dion santai sembari celingukan memerhatikan motor Yuki. Dalam sekejap Yuki mampu melupakan dahaganya, terpesona pada laki-laki rupawan yang masih sama tampannya seperti saat terakhir kali ditemui bersama Ara.
...****************...
*
*
*
Absen dulu yuk pembaca "Aara Bukan Lara", pasti udah kenal kan siapa Dion di sini?😃
Buat yang tau, sebutkan di kolom komentar ya😆
Terima kasih untuk yang sudah vote novel "Kita, Tanpa Aku" di lomba UPDATE TIM🤗 Tadi pagi Yuki sempat nangkring di posisi #4, tapi sore ini cek jatuh di posisi #447 (nasib terjun bebas🤣)
Buat yang belum dan mau ikutan vote bisa klik banner seperti gambar di bawah ini👇 (Mohon maaf sebelumnya, butuh poin yang harus dikorbankan untuk melakukan vote ini🙏)
__ADS_1
Sekali lagi terima kasih banyak sudah menanti kelanjutan kisah Yuki 🥰