
"Kamu ke sini sama siapa?" tanya Keven lantang, sengaja mengeraskan suaranya agar seseorang di seberang sana tidak berspekulasi aneh yang berujung salah paham.
"Aku sendiri, naik taksi," jawab Alia sembari meremas tas jinjingnya. Bibirnya memang tersenyum, namun tidak dengan lubuk hatinya yang memanas. Percakapan Keven dengan Yuki yang sempat dicuri dengar membuat Alia muak.
"Saat kamu bisa ke sini sendiri, lalu kenapa kamu gak langsung cek kandungan sendiri?"
"Kamu kenapa jadi jahat gini sama aku, Kev?" lirih Alia seraya memiringkan kepala dengan kerutan halus di dahi. Memasang raut wajah sedih dengan mata berkaca-kava. "Kamu bayangin aja gimana pandangan orang-orang yang pastinya ditemani suami mereka! Aku gak mau dicap atau ditanyain aneh-aneh."
"Masalahnya bisa kan kamu gak langsung masuk gitu aja ke ruangan aku?!"
"Aku makin gak ngerti sama kamu, Kev. Kamu berubah ... Aku gak suka kamu berubah!"
"Terserah kamu lah, Al ... Aku sibuk. Bisa kamu pergi sekarang?"
"Tapi aku perlu kamu untuk antar aku cek kandungan, Kev! Percuma aku datang kalau hasilnya gini. Dari tadi juga aku udah nahan diri untuk gak langsung nyelonong masuk!! Kamu tau kalau aku gak punya siapa-siapa di sisi aku, kenapa kamu juga sama tega dengan mereka?"
Melihat Alia yang bersikeras, ditambah kesedihan yang teramat dalam serta memikirkan kandungan sahabatnya itu Keven merasa tidak tega. Bukan sepenuhnya pada Alia, namun lebih tepat pada kandungan Alia. Perut yang tampak menonjol dibalik gaun selutut yang Alia kenakan membuat Keven luluh.
"Oke, aku antar kamu. Tapi tolong tunggu di luar sebentar. Aku harus selesaikan urusan aku dulu," pinta Keven dengan merendahkan suaranya. Telunjuknya menunjuk lurus pintu keluar, cukup halus sebagai tindakan mengusir seorang sahabat. Meski kini sulit jika masih menyebut Alia sebagai seorang sahabat.
"Tapi Kev...," sergah Alia menolak permintaan Keven yang sarat akan perintah.
"Alia!" bentak Keven, suaranya menggeram kesal. Jika dulu segala sikap Alia dianggapnya wajar, namun entah mengapa saat ini sukses membuat Keven jengah.
"Oke, aku tunggu di luar!" ketus Alia sambil mendelik sebal. Tanpa menunggu perintah Keven lagi Alia memutar tubuhnya. Membawa langkah penuh hentakan kekesalan berlalu dari hadapan Keven.
Baru sampai di ambang pintu langkah Alia terhenti. Tangannya menggapai kusen pintu. Berpegangan seolah kaki jenjangnya tidak mampu menopang bobot tubuh yang sebentar lagi rubuh.
"Argh... Pe-rut a-ku... Aaarrgh, Keeeevv ...," rintih Alia sambil memegangi perut bagian bawahnya.
"Alia, kenapa?!" Sontak Keven panik mendapati Alia yang nyaris terjatuh. Beruntung Keven dengan sigap berlari dan menahan kedua bahu Alia.
"Sa-kit Kev ... Gak ku-at ...." Menghela nafas berat Alia menyandarkan kepalanya di bahu Keven yang merendah demi menjaga keseimbangan Alia.
Beberapa detik kemudian tubuh Alia sudah melayang dalam gendongan Keven. Berlari keluar melalui pintu belakang khusus untuk staf restoran. Bisa mengganggu dan sangat tidak profesional jika Kevin nekad keluar dari pintu depan yang otomatis akan disaksikan oleh para pengunjungnya.
'Kamu pikir aku bakal biarin gitu aja kamu teleponan sama istri bocah mu itu? Gak Kev. Sampai kapanpun kamu hanya boleh perhatian sama aku!' Seringai Alia melebar dengan kepala yang menunduk dan wajah sebelah kiri menempel di dada Keven.
Sandiwara Alia berhasil total. Sikap Keven yang sangat panik sudah menunjukan seberapa pentingnya Alia dibandingkan Yuki, mungkin begitulah yang Alia pikirkan. Dirinya merasa menang karena Keven kembali memperlakukan dirinya penuh perhatian dan teramat lembut.
Namun senyum diam-diam Alia memudar sesaat setelah Keven merebahkan dirinya di kursi mobil. Tanpa mengulur waktu Keven merogoh ponsel dengan panggilan di seberang yang masih tersambung.
__ADS_1
"Sorry, Ki ... Aku-,"
[Santai aja. Itu istri mu urusin dulu sana! Aku di sini lagi sibuk nyari pacar. Jangan ganggu!]
Sarkas Yuki menohok Keven. Baginya tidak ada yang salah saat ini. Semua adalah imbas sikap Keven yang membenci dan tidak pernah memperdulikan Yuki. Belum Keven sadari jika Alia hanya bersandiwara.
Dan begitulah akhir kisah percakapan panjang penuh kecanggungan Keven berakhir. Dimatikan sepihak oleh Yuki yang menahan kekesalan sampai di ubun-ubun. Yuki sudah cukup bersabar sebagai pendengar obrolan Keven dan Alia, karena pada dasarnya dirinya sangat kepo.
Berbeda dengan Keven yang terburu-buru mengantar Alia ke rumah sakit. Yuki yang baru saja mematikan panggilan itu melesat secepat kilat kembali masuk ke bilik toilet umum.
Sarapan pagi hasil eksperimen telur balado Ismi mengguncang isi perutnya. Sungguh sangat menyiksa. Ia benar-benar tidak kuat dengan makanan pedas.
"Aarrghh!! Suami ngeselin!! Telur sialan!!!" Pekikan tertahan Yuki menggema samar.
...----------------...
Waktu terus berputar hingga tidak terasa tugas kuliah yang Yuki emban telah berakhir. Kemarin malam Yuki dan teman-temannya sudah menggelar acara sederhana dengan warga setempat sebagai wujud syukur dan perpisahan telah berakhirnya tugas KKN yang diemban.
Sajian nasi kuning lengkap dengan berbagai lauk pauknya menyisakan cerita yang pasti akan terus terkenang di hati seluruh anggota kelompok KKN Yuki yang menemukan banyak hal baru selama 40 hari itu.
Kini di depan Kantor Kelurahan Yuki dan teman-temannya menunggu bus yang akan mengantar mereka ke pelabuhan. Hari ini Yuki akan kembali menempuh perjalanan laut yang melelahkan. Namun kali ini Yuki sudah bertekad akan mandi di kapal agar badannya tidak lengket dan mudah pegal karena tidak diguyur air yang menyegarkan.
"Iya, Pak Danu."
"Ini kartu nama saya. Hubungi jika kamu berminat ikut mengembangkan budidaya perikanan di sini. Semoga rencana kamu untuk mengejar skripsi tahun ini lancar."
Sosok yang Yuki panggil 'Pak Danu' itu menyerahkan selembar kertas persegi panjang seukuran kartu ATM. Warnanya abu-abu dengan bagian tengah berhias warna biru membentuk kesan gelombang.
"Terima kasih banyak Pak doanya ... Wah ini ceritanya saya dapat undangan ekslusif ya?? Jadi terharu ... Tapi ini nomor di kartunya Bapak saya udah punya," ucap Yuki sembari tersenyum ramah. Kedua sudut bibirnya tertarik naik membentuk lengkungan besar yang memamerkan deretan gigi.
"Simpan aja. Sebagai pengingat kalau Desa ini butuh orang pintar seperti kamu."
"Disebut orang pintar kayak saya dukun aja, Pak," seloroh Yuki dengan cengiran khasnya.
Yuki tetaplah Yuki di manapun dirinya berada. Ia sangat mudah bergaul. Cukup menyesuaikan diri dengan sikap lawan bicaranya saja.
Mengenai sosok Danu, dirinya bukan Pak Lurah atau bahkan staf Kelurahan. Namun Danu di sini bekerja langsung di Kantor Kecamatan sebagai Kepala divisi yang berkaitan langsung dengan pembudidayaan usaha perikanan.
Yuki memang bukan ditempatkan pada wilayah yang berdekatan dengan laut. Akan tetapi di Kecamatan, khususnya di Kelurahan tempat Yuki ditugaskan banyak kegiatan budidaya ikan air tawar yang sebenarnya cukup menjanjikan. Namun sayangnya sebagian kolam subsidi di atas tanah milik pemerintah banyak yang terabaikan. Perlu seorang tenaga ahli dan tentunya penggerak kegiatan tersebut.
Yuki sangat bersyukur dan merasa beruntung diterima oleh masyarakat setempat. Apa lagi mendapatkan tawaran yang bisa disebut pekerjaan, meski belum terlintas di benaknya ingin melanjutkan ke mana setelah dirinya wisuda. Semua seolah masih samar tanpa Yuki ketahui bahwa peluang hari itu adalah jalan terbaik yang akan dipilihnya kelak.
__ADS_1
...----------------...
Kepulangan Yuki merupakan angin segar bagi Keven yang sudah menantinya. Laki-laki itu semakin yakin dirinya ingin memperbaiki segalanya.
Ingatkah pada kalimat Yuki tentang matematika cinta mereka? Benar. Keven tidak ingin kisah mereka menjadi bangun segi empat dengan hadirnya sosok laki-laki lain yang mencintai Yuki.
Setelah Yuki kembali, Keven bertekad akan meluruskan segalanya, termasuk tentang perasaannya pada Alia yang hanya sebatas kepedulian karena sedari kecil sudah terlanjur tertanam untuk membahagiakan Alia. Namun naasnya Keven malah menyakiti perempuan yang tulus mencintainya.
Selain itu Keven juga akan mengungkapkan perpisahan Alia dan Saka yang pastinya belum Yuki ketahui. Ia tidak ingin Yuki berpikir dirinya sengaja menyembunyikan fakta itu agar bisa berhubungan dengan Alia secara diam-diam.
"Menurut Mama yang ini bagus?"
"Memang Yuki suka itu?" tanya Mama Agni yang jelas tau sesuatu yang Keven tunjukan tidak masuk kriteria yang Yuki sukai.
"Mmm ...," bergumam lirih sambil menggaruk alisnya, Keven kebingungan karena tidak bisa menemukan hadiah yang cocok untuk Yuki. Tepatnya karena Keven tidak tau mana barang yang lebih Yuki sukai atau tidak.
Ia cukup malu pada dirinya sendiri yang sudah menjalani pernikahan melebihi umur jagung tapi tidak mengetahui sedikitpun tentang Yuki. Bukan tentang kebiasaan Yuki yang selalu berkaitan dengannya, namun benar-benar hanya tentang diri Yuki saja.
"Mama pasti lebih tau kan dari aku? Bantuin ya, Ma? Please, Ma ...," bujuk Keven pada Mama Agni.
Laki-laki dewasa itu membuat sang Ibunda tercengang karena kembali merengek. Meski tidak terlihat sama sekali seperti merengek. Namun sebagai sosok yang melahirkan dan merawatnya puluhan tahun baru kali ini Keven kembali bertingkah manis. Seingat Mama Agni sejak sang anak menginjak di bangku pendidikan menengah pertama, Keven mulai bertingkah sok dewasa, mandiri dan tidak banyak tingkah.
...****************...
*
*
*
Tepat di hari Rabu, 17 November 2021, akhirnya tulisan ku dilirik platform 😄
Benar-benar terharu banget naskahnya di approved pihak Noveltoon 🥰
Selain usaha ku, semua ini juga gak lepas dari teman-teman semua yang udah menanti UP dan UP (pasti diam-diam banyak yang berharap moga UP lagi kan?😂)
Bagi aku ini menjadi salah satu doa baik. Karena berharap UP nya secara gak langsung mendoakan supaya aku sehat, halu lancar dan jempol penuh stamina🤭
Terima kasih semuanya yang sudah menanti kisah Yuki 😘 Untuk pembaca yang baru mampir semoga betah, cocok dan suka sama tulisan ku yang amatiran ini😁
__ADS_1