
Menjadi bahagia bukan berarti harus selalu manis, terkadang akan terselip pahit, asam, asin, pedas atau bahkan getir yang tidak bisa didefinisikan. Karena sejatinya bahagia bukan sebuah kata sederhana yang sepele. Bahagia itu penuh misteri. Namun tentunya bukan untuk dipusingkan. Cukup nikmati setiap tetes dan goresan rasa itu, maka akan ada bahagia yang beranekaragam sesuai versi sudut pandang yang digunakan.
Sama seperti saat ini, ada sejuta suka cita dari gemerlap megah ballroom tempat berlangsungnya pernikahan Ara. Sedangkan di kursi yang disediakan khusus untuknya Yuki asik menikmati euphoria kebahagiaan Ara yang bersanding di pelaminan bersama Rava. Keduanya tampak mesra dan sangat berbahagia. Jujur saja di balik senyuman lebar Yuki, ada iri yang mengganjal.
Benar, bahagia milik Yuki terselip kegetiran.
Tak.
“Makan dulu, Ki.” Dimas menggeser kursi di sebelah Yuki, duduk santai setelah meletakkan piring berisi aneka macam potongan cake. Tentu sengaja diambilnya untuk Yuki yang gemar makanan manis.
“Lihat orang bucin juga perlu energi,” lanjut Dimas berucap, bersuara lebih rendah dari kalimat sebelumnya.
“Kayaknya dulu kita masih liat bucin versi pemanasan deh. Coba lihat sekarang, Pak Rava aktif banget ya?” Seulas senyum tipis menghiasi wajah mungil Yuki. Gadis itu tampak takjub pada Rava yang enggan mengalihkan pandangan, tiada henti mengagumi Ara. Bahkan terlihat jelas tidak peduli pada keramaian yang memperhatikan tingkah manis menggelikannya.
“Jangan dilihat, Ki. Merinding aku,” ucap Dimas sambil memeluk lengannya sendiri. Ia bergidik saat rambut-rambut halus di lengannya meremang pada kebucinan yang seakan Rava sombongkan. Meski Dimas akui dirinya mungkin akan seperti Rava jika berhasil mempersunting sang pujaan hati.
Sekilas Dimas menggeleng samar. Mengumpat rangkaian bayangan indah yang terlalu tinggi untuk diraihnya. Tidak mungkin baginya bersanding menggantikan Ara dan Rava di pelaminan bersama perempuan yang diam-diam sedang dikaguminya dari sisi samping.
Perempuan yang mengulas senyum tipis itu sekali lagi berhasil membuat jantung Dimas berdegup dua kali lebih cepat. Tentu bukan sebatas debar kekaguman biasa yang lagi-lagi Dimas sembunyikan. Rasa yang bermula dari kecocokkan obrolan di lorong Fakultas Kelautan kala itu berubah menjadi sebuah kenyamanan. Perlahan bersemayam menjadi bibit-bibit cinta yang sayangnya tidak berani Dimas perjuangkan.
“Kenapa lihatin aku?!” ketus Yuki sinis saat mendapati Dimas memandanginya lekat. Sorot kosong yang terasa tajam itu sangat mengesalkan bagi Yuki.
Sontak Yuki mengangkat ponselnya, meneliti pantulan wajah dari layar ponsel yang tidak menyala. Mengerutkan alis mencari sesuatu yang salah. Namun jelas tidak ada yang salah hingga akhirnya hanya bisa mendengus kesal pada Dimas.
“Apaan sih lihatnya gitu kali? Aku colok nih matamu!” ancam Yuki dengan dua jari tanda perdamaian yang justru siap mencongkel kedua bola mata Dimas.
"Cantik." Entah sadar atau tidak, sepatah kata itu terlontar ringan dari bibir Dimas.
"Apa-apa?? Coba ulangi!" pinta Yuki menuntut, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Reflek Yuki mengguncang tubuh Dimas yang masih saja tersenyum bodoh.
Tersentak dari lamunannya, Dimas membeo dengan kerjapan bingung. “Ha? Hah, apa?”
Plak.
Sebuah tamparan ringan mendarat di lengan Dimas. “Jawab, Cuit!” perintah Yuki.
Sejenak Dimas terdiam, memproses apa yang baru saja dilakukannya. Praktis kerutan halus di dahi menghiasi ekspresi bingung yang sejurus kemudian disusul pupil mata yang membesar.
"Cantik budek!" kata Dimas ketus, terlanjur basah jika ia memilih berkilah, lebih baik jujur yang dibumbui sikap acuh.
"Ini Dimas, kan? Hebat banget bisa muji aku. Sering-sering aja ya ... Satu lagi, kalau muji jangan setengah-setengah. Udah muji kok pakai julid lagi." Merotasi bola matanya malas, Yuki mencebik sewot. Namun juga semakin besar kepala dipuji cantik meski dikiranya hanya bualan belaka.
__ADS_1
"Iya-iya, cantik banget sih kayak bunga tai ayam," ucap Dimas sekenanya.
Bukannya tersinggung, Yuki malah mencolek gemas dagu Dimas. "Ya ampun Cuit, manis banget sih. Aku jadi pengen lihat prakiraan cuaca, moga besok nggak ada badai."
"Pengen gumoh dibilang manis," balas Dimas sambil menangkupkan telapak tangan kanan di bibirnya. Bersuara aneh seakan menahan gejolak rasa mual akibat pujian Yuki. Interaksi keduanya sukses menjadi pusat perhatian seorang laki-laki yang sejatinya menguarkan magnet pemikat bagi kaum hawa di pesta hari itu.
“Kak Yuki, ayo!” Suara Nita tiba-tiba menggema di pendengaran Yuki dan Dimas, serta beberapa tamu undangan yang tanpa sengaja ikut mendengarkan.
Remaja itu meraih pergelangan tangan Yuki dalam genggaman, menarik dengan semangat ke arah panggung khusus. Meninggalkan Dimas yang memilih bergabung bersama Jona dan Rian, menyensus aneka hidangan layaknya tamu undangan. Tidak lupa Dimas juga mencomot sepotong cake yang belum sempat Yuki makan.
"Udah bagian kita ya?" tanya Yuki sambil menyamakan langkahnya dengan Nita. Kedua perempuan bergaun senada itu melenggang cepat, membelah kerumunan yang sebagian sibuk berbincang, mencari tempat duduk untuk menikmati hidangan atau bahkan hendak bersalaman dengan si empunya acara sebelum pulang.
"Iya, bentar lagi bagian kita nyanyi," jawab Nita sambil mengangguk cepat. Sedetik kemudian remaja yang gugup namun tertutup kobaran semangat itu berbisik pada Yuki, “jadi nyanyi, kan?”
Menghela nafas perlahan, Yuki mengulurkan tangannya, mencubit gemas pipi Nita. "Udah di sini kenapa baru nanya?"
"Hehe ... Memastikan aja, Kak." Menyengir Nita menggosok pelan cubitan gemas yang jelas tidak sakit sama sekali.
"Aku gugup banget nih, Kak," ucap Nita lagi sambil meremas berulang kali jari-jemarinya. Meski ia sudah biasa bernyanyi, akan tetapi selalu hanya sebatas di kamar mandi.
"Tenang, suara kamu bagus. Kalau gak bagus juga pede aja,” ucap Yuki menyemangati yang sebenarnya ditujukan pula untuk dirinya sendiri.
Kini kedua perempuan berbeda usia itu sibuk mengatur nafas. Sesekali Yuki merilekskan bibir dengan gerakan memutar tidak karuan, benar-benar sesuka hati agar rasa kaku di bibir itu menghilang. Sedangkan Nita mencoba melenyapkan dingin menyergap di ujung kuku jari tangan lewat hembusan udara hangat yang dikeluarkan dari mulut.
Maukah lagi kau mengulang ragu
Dan sendu yang lama
Dia yang dulu pernah bersamamu
Memahat kecewa
Atau kau inginkan yang baru
Sungguh menyayangimu
…
(Adu Rayu - Glenn Frendly, Tulus dan Yovie Widianto)
Saat kalimat pertama sukses Yuki nyanyikan, terlihat dari pelupuk mata Yuki bahwa Ara tersenyum pasrah. Benar, Ara baru menyadari bahwa suara Yuki benar-benar memiliki potensi merusak gendang telinga. Beruntung lagu itu tidak hancur karena suara Nita yang sangat merdu.
__ADS_1
“Makasih ya Ki udah nyanyi. Pasti capek ya harus latihan juga, tapi please lain kali nyanyi di depan kita aja ya?” celetuk Ara sambil mengelus punggung tangan Yuki di pangkuannya. Perempuan yang baru saja resmi menyandang gelar istri Rava beberapa jam lalu itu sedang duduk bersama kedua sahabatnya.
“Jelek banget ya?”
“Iya,” jawab Dimas dan Ara serentak.
“Selera makan orang-orang itu anjlok gak ya dengar aku nyanyi?” tanya Yuki asal sambil memasang ekspresi serius.
"Urusan perut gak akan goyah sama suara tong setan," sahut Dimas cepat.
"Itu sih perut mu, lambung langka," ketus Yuki. Sedetik kemudian ia menatap Ara dan kembali berkata, "korsetnya kencang kali ya, Ra? Aku perhatiin Pak Rava suapin tadi gak banyak yang kamu makan."
“Aku udah gak selera makan, bawaannya mual, pusing. Gak nyaman juga makan dilihatin banyak orang. Korsetnya sih biasa aja, gak sesak, malah gak kerasa pakai korset. Tapi pakai gaun gini ternyata capek juga. Untung aja tadi Mas Rava tau kalau aku pecinta sandal jepit, jadi lihat nih ….” Ara menaikkan sedikit gaunnya sebatas mata kaki, memperlihatkan sandal jepit hitam sambil cengengesan, detik berikutnya ia kembali berkata, “emang sandal jepit yang paling nyaman. Gak tau lagi deh kalau harus jalan ke sini pakai heels itu juga. Kaki aku udah gak kuat.”
“Pantesan tinggi mu dari segini, berubah jadi segitu,” ucap Dimas mengedikkan dagu sambil memanyunkan bibir bawahnya, seakan menekankan perbedaan tinggi badan Ara yang sangat kentara.
"Sayang ... Ikut aku sebentar ya?" celetuk suara dari arah belakang sebelum melabuhkan sebuah kecupan mesra di pelipis Ara. Tentu saja pelakunya adalah Rava. Laki-laki itu seakan tidak melihat kedua jomblo yang spontan melongo. "Kita sapa rekan bisnis aku dulu."
...****************...
*
*
*
Udah lihat IGS kemarin? Judul bab kali ini beda dari spoiler ya🤭 Terpangkas dialog cuplikan untuk judul ke bab selanjutnya, jadi ganti judul di bab ini😁
Yang udah lihat spoiler, sstt ... 🤫
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Spesial thanks untuk Kak Eren yang kasih aku tip lewat gift hati (❤) buat semua novel ku😘 Terima kasih banyak udah buang-buang koin buat aku😍Kerasa banget bertambah recehan yang masuk ke brankas kalau ada yang kasih tip 😄
Jujur tanpa tip paling sebulan dapat 1000 - 2000 rupiah aja, maklum kan gak famous (ini curhat🙂).
Oh iya, by the way Kak Eren ini author juga. Buat yang mau kenal Kak Eren bisa nih mampir di novelnya😉
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Terima kasih untuk dukungan semuanya😘