Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Sekali Lagi


__ADS_3

“Sampai kamu bosan, aku akan terus minta maaf. Maaf, karena keegoisan aku kamu harus menderita. Mulai sekarang kamu cuma boleh bahagia.”


Yuki menggeleng. “Nggak, bukan hanya kamu yang egois, tapi semuanya … aku juga. Meskipun banyak hal yang aku pikirkan kayak kuliahku, kehidupanku di masa depan karena tetap butuh makan, aku yang nggak punya penghasilan dan masih pengen have fun. Banyak lah pokoknya yang akhirnya buat aku nggak lebih memberontak atau kabur. Mau nggak mau terkesan nurut aja meski kelihatan ogah-ogahan, tapi sebenarnya aku pun ingin memiliki kamu. Itu kenyataannya."


“Serius? Tapi tetap aja kamu yang paling terluka.” Suara Keven perlahan merendah, lama-lama seakan bergumam. Mata berbinarnya langsung berubah sendu. Senyum di bibir yang mengembang sekilas sontak layu.


“Makanya, kamu nggak usah terus-terusan nyalahin diri sendiri. Aku juga bersalah … kenyataan Papa ninggalin Mama demi perempuan lain, bahkan aku taunya saat mereka udah punya anak buat aku berandai-andai gimana jadinya kalau kamu seperti Papa. Sosok terbaik dalam hidup aku aja kayak gitu, apalagi kamu … selalu ada bayangan Kak Alia di antara kita.”


Menghembuskan nafas panjang, Keven duduk menyerong. Sejenak kembali diraup udara sebanyak-banyaknya, memasok oksigen segar yang sejatinya telah terkontaminasi gas-gas beracun sisa pembakaran kendaraan bermotor.


“Walaupun ternyata Papa nggak sesempurna yang kamu kira, tolong terima situasi dan posisinya saat ini. Memang gak mudah untuk kamu menerima sosok Bunda, tapi kamu tetap anak Papa dan Arsya tetap adik kamu. Pelan-pelan pasti bisa. Percaya, kan?”


Mengangguk pelan, Yuki diam mengiyakan, menyimak kalimat Keven.


“Satu hal lagi, jangan marah ya … jujur, dulu aku memang sayang banget sama Alia. Tapi setelah aku pikirkan lagi semua itu nggak lebih atas dasar rasa empati karena aku tau gimana hidup dia. Kami udah bersama dari kecil.”


Mengernyit, Yuki lirik Keven sekilas. Ia seolah bingung untuk apa dirinya marah pada fakta yang baru saja Keven lontarkan. Lagi pula jika memang dulu Keven mencintai Alia, itu sudah menjadi cerita lama. Lain lagi jika kisah itu masih berlanjut.


“Percaya sama aku, sedikit pun nggak ada niat untuk menduakan kamu. Aku … aku memang berniat menceraikan kamu. Tapi aku juga terlalu berat untuk melepas kamu. Ada ketidakrelaan yang akhirnya buat aku bertanya-tanya, sebenarnya kapan aku jatuh cinta sama si cerewet ini?”


Mendelik tajam, Yuki menoleh secepat kilat. Alhasil kini Yuki dan Keven saling beradu pandang, mengunci lekat dengan senyum lebar yang perlahan mengembang. “Oowh, jadi aku cerewet? Bener sih. Mau disangkal juga kadang aku sendiri capek ngomong, soalnya apa yang ada di kepala kalau nggak dikeluarin semua malah jadi beban. Tapi aku nggak setuju sama sikap dan tindakan kamu. Itu udah cukup menduakan aku.”


“Iya … kamu benar. Di poin itu tetap salahku.” Angguk Keven lemah.


"Dan ternyata kita sebenarnya sama-sama memilih untuk bersama, walaupun alasan kita saling bertolak belakang, iya kan?” Yuki mengayunkan kakinya berganti. Tersenyum cerah pada Keven melebihi kilau sang mentari yang beranjak turun. “Kita hebat juga, padahal di pelaminan udah perang batin kayak kucing garong, tapi bisa aja sok manis. Kamu juga waktu Dimas datang mau kasih selamat malah tiba-tiba kayak suamiable banget. Kalau dipikir-pikir mirip orang cemburu, cuma nggak mungkin banget.”


“Kalau sebenarnya aku memang cemburu gimana?”

__ADS_1


“Idih, nggak mungkin. Palingan kamu tersinggung gara-gara omongan dia waktu itu. Tapi Cuit bener loh, ujung-ujungnya kamu pilih kopi susu, kan? Udah kayak beristri dua aja.”


“Memang Dimas ngomong apa?”


“Ituloh Mas, kalau udah punya susu jangan nyari kopi apalagi dijadiin kopi susu. Masa kamu lupa? Aku aja masih ingat muka kamu waktu itu udah mirip paprika busuk.”


“Oh itu … tumben kamu jelasin? Biasanya kamu pasti bilang udah tau pakai nanya.” Keven menutupi kekehannya dengan punggung tangan kiri. Sekejap ia mengedarkan pandangan dan kembali menatap Yuki yang memicing tajam.


“Nggak usah mancing-mancing!!” ketus Yuki sambil mendengus sebal. Detik berikutnya ia ambil lagi kerupuk udang yang nyaris dilupakan.


“Hish! Masuk angin kerupuknya," rengek Yuki sebal.


“Jangan dikunyah gitu terus kalau keras," cegah Keven seraya mengulurkan tangan, hendak meraih kerupuk yang asik Yuki gigit, namun tidak juga menjadi serpihan.


Menjauhkan badan, Yuki menggeleng kuat. “Tapi enak. Sayang banget dibuang.”


“Biar aku beliin lagi. Kamu tung-”


Dalam sepersekian detik Keven nyaris terhuyung. Kaki yang baru maju selangkah dengan tubuh condong ke depan itu mematung. Bagian belakang jaket yang dikenakan ditarik kuat oleh Yuki. Spontan Keven menoleh ke belakang.


“Sebentar lagi kamu harus antar aku ke Pelabuhan lagi. Gak usah buang-buang waktu beli kerupuk," gumam Yuki lirih layaknya orang berbisik. Pipi gadis itu seketika bersemu merah dengan bibir manyun menggemaskan.


'Argh! Lucu banget! Pengen gue cium.'


“Sadar nggak kalau ini pertama kalinya kita bisa bicara banyak hal?” celetuk Yuki menyentak Keven yang terbengong cengo. Ekspresi kagetnya hampir mirip ikan maskoki yang bernafas tenang di dalam akuarium.


Menyugar rambut dengan kasar, Keven usap juga wajahnya yang mendadak kaku. “Iya. Semoga akan ada banyak momen seperti ini lagi," ucap Keven penuh harap. Berhasil pula ia kendalikan suara bergetar akibat lamunan singkat yang sedikit menggila.

__ADS_1


“Bisa sih, tapi kamu harus gerak cepat. Cuma nungguin kamu yang menikmati proses itu ... capek.”


“Maksudnya?” Alis kanan Keven menukik naik. Sekejap ia miringkan kepala sambil membenahi resleting jaket yang turun.


“Iya jadi aku mau hubungan kita lebih jelas.”


“Ki-”


“Ssstt!"


Keven terpaku pada telunjuk yang menempel tepat di bibirnya. Namun belum sempat ditangkap, buru-buru Yuki jauhkan.


"Dengarin aku dulu, okay?” lanjut Yuki berucap seraya meremas kaos kotor bekas lap ingus yang terlipat di antara dirinya dan Keven.


“Pertama, maaf ... mungkin memang aku semakin kekanakan. Entah kenapa aku mulai berubah. Aku yang suka menghadapi masalah walaupun marah-marah nggak jelas, menggebu-gebu sampai berani gelut membabi-buta jadi mulai takut menyelesaikan masalah. Aku selalu memilih kabur." Satu tarikan nafas panjang menghentikan perkataan Yuki. Gadis itu berusaha menguatkan diri, melawan gejolak emosi yang bisa melengkingkan suaranya.


“Kamu lihat anak kecil di sana … kita seperti anak kecil berebut perosotan. Menangis, lalu tertawa, saling mengejar dan akhirnya … entahlah. Maka dari itu aku mau kita menarik garis yang jelas. Aku harap bukan hanya aku atau kamu yang berjuang, tapi kita. Bukan juga yang tiba-tiba mengalah dan diam seperti dulu, tapi yang bisa melengkapi satu sama lain." Senyum Yuki mengembang di bawah mata yang berkaca-kaca. Selaras dengan Keven yang sama halnya tidak mampu membendung perasaan haru.


Saat ini keduanya melempar sorot yang sama. Menjalarkan gelombang rasa yang mulanya dianggap tidak akan terbalaskan. Benar, cinta itu nyata. Hadir tanpa Yuki dan Keven sangka. Membawa luka, tawa, tangis, impian dan kini tidak berdiri sendirian lagi.


Lekas Keven merapatkan diri. Meraih kepalan tangan dingin Yuki dalam genggaman. "Kamu tau kenapa dulu aku lebih memilih diam? Bukan hanya menghindar dari ocehan kamu, tapi juga semua hal tentang kamu?"


Hening. Kebisingan seakan membisukan diri. Menarik eksistensi dari kedua manusia yang diselimuti kilau merah muda. Sementara itu, Yuki sekejap menunduk, mengulas senyum simpul pada usapan lembut Keven di punggung tangannya.


"Karena sebenarnya aku nggak tau bagaimana cara yang benar untuk melepas kamu. Aku hanya mencoba abai, tapi nyatanya kamu terlalu menarik untuk aku abaikan," lanjut Keven mengimbuhi perkataannya, seolah menjawab tanya yang sempat ia lontarkan sendiri.


"Ja-jadi ... a-apa se-ka-rang aku bo-leh nggak menyerah la-gi?" ucap Yuki terbata, suaranya parau. namun matanya menatap lekat sebulir air mata bahagia yang jatuh membasahi pipi Keven.

__ADS_1


"Boleh. Sang-ngaat bo-leh," jawab Keven mantap seraya membawa masuk gadis yang mulai berderai air mata itu ke dalam dekapannya.


'Sekali lagi izinkan aku untuk kamu memiliki. Izinkan aku untuk membahagiakan kamu. Izinkan aku mengisi di setiap sisa hidup kita berdua, membangun keluarga kecil bersama anak-anak kita kelak,' batin Keven dengan tenggorokan tercekat atas gelayar emosi bahagia yang sekejap menyita nafasnya.


__ADS_2