Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Flashback Off


__ADS_3

Berlalu dari hari yang super sial bagi Yuki, ia memutuskan untuk bangkit dan move on, meski faktanya sangat sulit. Berulang kali Yuki mencoba cuci mata lewat paras rupawan teman-teman sesama mahasiswa, tapi tetap saja justru wajah Keven yang tersemat.


“Degan banyak, tapi kenapa muka orang nyebelin itu yang muncul? Wahai dedek ganteng, diam-diam datang godain lah biar aku bisa move on.” Gumam Yuki miris, menelungkup kan wajahnya di atas tangan terlipat.


Merogoh sesuatu dari dalam tas miliknya, Yuki mendesis kasar. “Apa aku harus kasih undangan ini ya?” Ucap Yuki lirih, bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang sebuah undangan berwarna silver yang ia dapatkan dari merengek manja pada orang percetakan.


Yuki teringat saat itu dirinya sedang menemani tetangga kompleks perumahannya yang kebetulan ingin mencetak kartu ucapan terima kasih untuk para tamu yang datang ke pesta ulang tahun anaknya. Tanpa sengaja Yuki melihat Saka dan Alia di sudut terbuka di tempat yang sama sedang membahas desain sample undangan yang sudah tercetak atas Louis Sangkara dan Adelia Larina.


Tanpa pikir panjang, Yuki berinisiatif meminta salah satu sample undangan dengan alasan tertarik dan ingin menunjukkan desain undangan tersebut pada calon suaminya. Walaupun sempat terjadi perdebatan alot yang lebih menyarankan Yuki mengambil gambar lewat ponselnya, namun dengan kegigihan Yuki sample itu akhirnya berhasil ia peroleh, tentu dengan bantuan uang.


“Sebenarnya ada apa sih sama mereka? Kenapa Mas Keven bisa iyain aja saat Kak Alia bilang cinta sama dia? Terus kenapa otak sama hati nurani gak dipakai mikirin perasaan Mas Saka yang udah jelas-jelas statusnya itu jadi apa! Kenapa juga Mas Saka pura-pura gak tau sama perasaan Mas Keven sebenarnya!! Toxic banget sih hubungan mereka bertiga itu.” Gerutu Yuki super cepat bak penyanyi rap. Kalimat panjang yang cukup menyita waktu bila diucapkan dengan kecepatan normal hanya perlu beberapa kerjapan saja Yuki selesaikan.


“Kenapa juga aku harus pusing dan simpan semua rahasia mereka bertiga?! Nyesal aku jatuh cinta!!” Lanjut Yuki berkata dengan pekikan kecil tertahan. Mengusap kasar wajahnya hingga sebuah keberanian berbalut kerinduan menyergap Yuki yang masih setia duduk di bangku taman seorang diri.


‘Demi ketentraman hati ku, aku harus kasih undangan ini. Anggap aja ini bukti yang pernah pengen aku tunjukkan supaya Mas Keven sadar, sisanya lebih baik aku simpan sendiri. Berharap banget Mas Saka gak jadi nikah sama itu anaconda.’ Gumam Yuki dalam hati, menguatkan tekad walau sedetik kemudian ia ingin menangis saat mengingat bagaimana tatapan Keven kepadanya.


Kini Yuki sadar bahwa sorot mata Keven tidak pernah ramah hanya kepada dirinya. Pantas saja interaksi mereka sedikit dan lebih banyak Yuki curi-curi pandang atau diam-diam mencari kesempatan.


Menghabiskan beberapa lembar uang yang salah satunya berasal dari pesangon, mungkin Yuki terlihat terlalu keras kepala dan membatu. Pasalnya ia datang ke restoran sebagai seorang konsumen setelah dipecat begitu saja.


Bertapa hingga tulang duduk dan punggung terasa pegal. Yuki sudah menghabiskan banyak porsi dessert yang membuat perutnya mengeras kekenyangan. Belum cukup juga penantiannya terbayarkan, ia kini terusir karena restoran harus tutup. Beruntung sampai menjelang malam Yuki tidak bertemu dengan Alia yang entah sedang berada di mana.


“Nah itu dia.” Ucap Yuki riang, berdiri tiba-tiba dan hampir terhuyung jatuh karena kakinya kesemutan.


“Mas Keven..!!” Teriak Yuki lantang, sedangkan yang diteriaki buru-buru menuju mobilnya. Namun kalah cepat dengan langkah lebar Yuki yang langsung menghadang Keven.


“Aku mau kasih sesuatu ke kamu. Selain itu, mungkin ini hari terakhir kita bertemu, bolehkan aku panggil Mas Keven Sayang?” Tanya Yuki sok malu-malu sambil mengetukkan ujung sandal yang dikenakannya di kaki kakan ke paving halaman restoran.

__ADS_1


“Ck!” Decak Keven yang jelas sangat kesal. Sudah cukup jengah Keven dengan sikap Yuki yang selalu berusaha mendekatinya.


“Kayaknya dari awal kita belum kenalan baik-baik selain waktu interview kerja.” Ucap Yuki tiba-tiba, masih tersenyum menatap Keven yang membuang pandangannya. Keven sudah sangat lelah dan ingin segera pulang ke rumahnya, namun niatnya harus terhambat dengan kehadiran Yuki.


“Halo, aku Yuki Yulika Abian, biasa dipanggil Yuki, umur aku udah 20 tahun. Aku anak pertama dan tinggal seorang diri, seperti yang pernah aku bilang dulu saat Mas Keven ngantar aku pulang. Satu hal lagi, aku suka kamu.” Ucap Yuki lembut, tersenyum manis dengan tangan menggantung di udara.


“Aneh!” Ucap Keven singkat dan ketus dengan tatapan sinis. Berlalu mengabaikan tangan Yuki yang terus terulur hingga berakhir meremas udara.


"Sayang.." Ucap Yuki memaksa lidah kelunya meneriakkan panggilan ‘Sayang’ untuk Keven. Membuang segala rasa malu yang masih melekat di dirinya, Yuki hanya ingin sekali saja memanggil Keven dengan sebutan itu dan menghilang.


"Sayang mau kemana??" Berlari kecil, suara centil lolos dari bibir yang terbuka memamerkan deretan gigi. Senyum cerah di wajah cantik terlukis tanpa beban. Namun tidak sebanding dengan jemari yang meremas tali tas selempang berwarna krem di balik punggung. Sekuat tenaga menahan perihnya luka yang terus tergores.


Luka yang setiap waktu Yuki tutupi perban tiada henti terus terkoyak dan menganga lebar. Tatapan tajam bagai mata pisau yang selalu Yuki dapatkan kali ini naik berkali-kali lipat. Tubuh yang gemetaran itu bukan karena takut, justru rasa tercabik yang diam-diam ditahannya.


Blam!!


"Aku cuma mau kasih ini.." Yuki menyodorkan sebuah undangan pernikahan berwarna silver berpadu pita emas. Tali semu menarik sudut bibir Yuki secara paksa. Yuki tersenyum manis menahan tangis.


"Sesuai janji ku sebelumnya.. Aku udah punya bukti." Masih tetap tersenyum, Yuki memilih mundur selangkah lebih jauh, mendesah pasrah dan menahan rasa nyeri yang merebak di dadanya.


"Semoga kamu tetap bahagia dengan pilihan mu." Undangan yang masih dalam genggaman Yuki lemparkan begitu saja melewati jendela mobil. Tampak wajah kaget yang mendelik, Yuki tidak perduli lagi.


Cengkeraman kuat pada kemudi mobil menampilkan urat tangan yang mengeras. Belum juga sosok yang hanya terlihat setengah badannya itu membuka mulutnya, Yuki membungkam dengan kalimat perpisahan.


Huufft..


"Selamat malam, maaf kalau saya mengganggu. Selamat tinggal." Berucap lebih formal Yuki melangkah pergi. Air mata yang susah payah Yuki tahan lolos begitu saja. Bendungan yang dibangun kokoh tidak mampu menahan besarnya gelombang air mata.

__ADS_1


Setulus hati Yuki berjuang, namun ia harus berhenti sebelum semakin terpuruk. Sedangkan sosok laki-laki yang tidak pernah melihat ketulusan Yuki ditinggalkan dengan kemarahannya.


Brak!


"Kurang ajar!!" Rahang mengeras mengiringi suara maskulin penuh kemarahan.


“Maksudnya apa ini?” Ucap Keven dengan suara berat. Beberapa hari setelah Saka pergi ke luar Kota, Alia mengatakan pada Keven jika hubungannya dengan Saka memburuk. Lalu tiba-tiba Yuki memberikan sebuah undangan bertahta nama Saka dan Alia.


Meski Keven menyangkal dengan berpikir Yuki sedang mengada-ada, namun tidak bisa menutupi fakta bahwa sudut hatinya merasa kecewa. Antara menjadi sahabat yang tidak dianggap atau sebuah perasaan tidak rela Alia akan bersanding dengan Saka.


Sedangkan Yuki yang sudah sedari tadi pergi saat ini mendudukkan dirinya di perosotan sebuah sekolah TK. Berjam-jam Yuki menangis tanpa suara hingga menjelang tengah malam. Yuki sadar bahwa tidak mungkin ia akan menangis meraung, ia takut disangka sebagai si cantik yang doyan terkikik.


Flashback Off.


...****************...


*


*


*


Sampai jumpa di masa kini untuk besok😄


Yang belum ngikutin tulisan Hana dari novel yang pertama mungkin akan sedikit kurang nyaman dengan alur yang lambat. Alur yang Hana buat memang lebih lambat dari penulis lainnya yang udah pro, karena di sini Hana mau tunjukkan perspektif dari masing-masing karakter. Sayangnya diriku ini masih terbiasa dengan bahasa yang bertele-tele😅 Jadi sedikit banyak perlu belajar lagi lewat tulisan author lain & tentunya komen teman-teman yang baca🥰


Terima kasih untuk semuanya yang udah selalu mendukung😘

__ADS_1


__ADS_2