
“Di kisah ini tidak ada aku, hanya kamu dan kita. Bukankah kita berarti aku dan kamu? Tapi mengapa kisah kita berbeda?” Ucapan lewat suara bergetar Yuki mampu menohok lawan bicaranya, membungkam bibir yang tiba-tiba beku dengan lidah yang kelu.
Keven menggeleng cepat, menolak ungkapan yang Yuki lempar. Ia meraup kasar wajahnya. Mencengkeram erat rambut yang sebagian patah dan tercabut.
"Nggak ... Itu semua gak benar. Tanpa kamu semua ini gak ada artinya. Tidak ada kita jika tanpa aku dan kamu, Ki!" tegas Keven lantang, suaranya menggema hingga ke lantai dasar.
Beruntung volume berita pembunuhan dari salah satu stasiun televisi menguasai pendengaran pasangan senja yang hanyut dalam buaian kengerian informasi yang tersaji. Meski tidak dapat dipungkiri pikiran kedua orang tua itu berkecamuk, bercabang pada sosok anak dan menantu yang diyakini berdebat hebat di lantai atas.
"Tapi nyatanya memang kayak gitu ... Kita, tanpa aku!! Selama ini semuanya hanya tentang kamu ... Apa arti aku di sini? GAK ADA!!" balas Yuki tidak kalah lantangnya. Ia melepas nada tertahan tanpa segan. Biarlah jika mertuanya mendengar, Yuki sudah pasrah.
"Saat ini aku udah sampai di titik menyerah. Lepaskan aku dengan tangan terbuka, karena aku udah lebih dari muak hanya untuk memikirkan tentang masalah ini!"
"Kamu hanya perlu diam di sisi aku. Gak perlu berjuang lebih keras lagi, cukup diam melihat perjuangan aku saat ini. Biarkan aku yang berjuang untuk kamu ... Tolong, ki, aku mohon ...," pinta Keven mengiba, namun hanya gelengan yang didapat.
"Kamu tau, tangan ini penuh luka ...," ucap Yuki nanar seraya mengangkat kedua tangan dengan telapak terbuka. Ia julurkan tangan gemetaran itu mendekati Keven sambil berkata, "sekian lama merajut ikatan yang kamu paksakan, namun kamu tanpa lelah memberi jarak, memperpanjang tali agar kamu bisa menjauhi aku ... Bodohnya aku bertahan. Berharap tali itu menyusut dengan terus merajut harapan. Kini, bukan hanya luka, tapi aku juga lelah, tidak mampu menyimpul ikatan kita yang sudah terlanjur kacau." Telapak terbuka itu meremat udara, mengepal kuat memukul dada yang ngilu bersamaan dengan air mata yang kembali luruh.
Yuki meraung, membebaskan pekikan pilu yang menggores kantung air mata. Ia tersungkur di atas lantai kamar dengan tubuh terguncang hebat. Tungkainya melemah, tidak mampu menopang bobot tubuh yang sejatinya semakin mengecil. Hanya mengandalkan baju kedodoran dan berkerah tinggi untuk menutupi tulang selangka dan siku yang semakin menampakkan bentuknya.
Bagi Yuki selama ini kata 'kita' dalam rumah tangganya hanya harapan semu. Kita yang hanya terisi raga kosong Yuki dengan jiwa yang perlahan terbunuh. Ia yang tidak berarti, tidak pula Keven inginkan. Terikat tanpa belas kasih yang sejak awal tertolak untuk membela diri, hingga akhirnya harus berjuang seorang diri sampai pada titik kembali menyerah. Sungguh miris.
Tertekan, Yuki benar-benar sangat tertekan dengan berbagai masalah yang datang menghantam beruntun.
"Nggak, kamu nggak bodoh ... Aku-aku yang bodoh. Aku yang bodoh karena terlalu lama menyadari seberapa berartinya kamu dalam hidup aku."
"Keputusan aku udah final. Aku mau kita udahan aja. Cukup sampai di sini."
"Aku gak akan pernah setuju dengan gugatan ini. Kamu gak akan pernah dapat persetujuan aku! Kita gak bisa bercerai!" tukas Keven tegas.
“Hahahahahaa ...." Tawa itu menggelegar, mengejek ujaran Keven yang terdengar mantap dan penuh kemenangan. Ia mengusap kasar air mata beserta ingus dengan lengan bajunya, beranjak dari duduk mengenaskan yang tampak miris. "Kamu pikir ini sinetron yang tanpa tanda tangan kamu kita gak bisa cerai? Jangan naif kamu!!” Yuki menggelengkan kepalanya. Disekanya sisa air mata yang masih menggenang sambil tersenyum miring.
__ADS_1
“Hellooo ... Perkara ini tetap akan berlanjut dengan atau tanpa persetujuan kamu!!" lantang Yuki berucap, menatap nyalang Keven yang kini terpaku, mematung dengan otak membeku tidak berkutik.
Benar, tanpa persetujuan Keven sebagai pihak tergugat proses gugatan perceraian itu akan tetap berlangsung di pengadilan. Yuki sebagai seorang istri memiliki hak untuk melayangkan gugatan cerai terhadap suaminya yang dalam hal ini adalah Keven. Tidak ada hukum perundang-undangan yang melarang seorang istri menggugat suaminya. Apa lagi seperti yang menjadi paradigma masyarakat jika harus mendapatkan persetujuan suami bila ingin gugatan cerai itu bisa diproses oleh pengadilan.
...----------------...
Tak.
Cangkir berwarna hitam berbunyi nyaring saat bagian dasarnya bersinggungan dengan meja kaca sederhana. Uap panas dari air teh beraroma melati menguar, membentuk kepulan uap yang menakutkan untuk lidah dan bibir yang ingin menyesapnya.
“Sebelumnya gue mau tanya ... Lo mau gue perlakukan sebagai teman atau klien?” tanya Yogi sambil melipat tangannya di depan dada. Ia memandang serius meski dengan kekehan kecil di bibirnya.
“Teman yang paham hukum,” jawab Keven ketus. Matanya mendelik dengan wajah dipalingkan.
"Terus gue harus gimana sekarang? Apa mending gue gak datang di sidang nanti?" ucap Keven lagi, melanjutkan pertanyaan yang sempat tertunda akibat jeritan teko air yang mendidih.
“Oke … Asal lo tau, tergugat gak hadir, maka hak jawab dianggap gak ada. Secara gak langsung artinya lo menyetujui atau tidak membantah sedikitpun isi dari gugatan istri lo,” jelas Yogi langsung pada inti permasalahan yang baru saja Keven jabarkan. Sebagai seseorang yang bergelut dalam dunia hukum tentu tidak sulit ia memberikan Keven pemahaman mengenai permasalahannya.
Tampak Keven yang mengerutkan alis dan dahinya, mencerna inti penjelasan yang Yogi sampaikan. Ia kini tidak memiliki pilihan selain hadir, karena nyatanya ketidakhadirannya juga tidak membuat perceraiannya serta merta langsung dibatalkan.
“Dan kabar buruknya buat lo, meski gak hadir gugatan istri lo masih bisa diproses dan disetujui. Tergantung poin-poin penting yang udah istri lo buat saat melayangkan gugatan itu. Terlebih kalau istri lo punya bukti kuat yang bisa mendorong permohonannya disetujui ... Lo tamat!" sarkas Yogi santai, semakin menurunkan awan gelap di wajah Keven yang mendung.
"Kalau seandainya gue gak hadir, apa mungkin perceraian gue tetap bisa batal?" tanya Keven masih penuh harap.
"Sesuai yang gue bilang tadi, fifty-fifty. Bisa batal, tapi juga bisa disetujui. Semua tergantung poin gugatan. Apa lagi kalau istri lo sebagai pihak penggugat kooperatif, semua itu akan mungkin kalau gugatannya disetujui." Kembali Yogi menjeda ucapannya. Ia mengangkat cangkir teh dengan uap yang masih mengepul, ditiupnya pelan dan disesap perlahan.
Sedangkan Keven yang kalut, pusing, gusar dan galau hanya mampu menopang dahinya menggunakan kedua tangan yang bertumpu di atas paha.
Tidak lama kemudian suara cangkir membentur meja terdengar lagi, diikuti oleh suara Yogi yang kembali melanjutkan perkataannya. "Dan satu-satunya cara yang harus lo lakuin adalah mengajukan banding. Kalau nggak? Ya saat putusan verstek final dijatuhkan, saat itu juga istri lo berstatus janda, lo duda dan kalian resmi bercerai ... Lo coba bujuk terus aja istri lo buat cabut gugatan itu."
__ADS_1
"Kalau gak berhasil gimana? Dia keras kepala banget gak mau kasih gue kesempatan buat berjuang. Bahkan sekarang Mama dan Papa gue juga udah kasih semua keputusan ke dia untuk melanjutkan hidup kedepannya mau seperti apa ... Di sini gue gak cuma pincang, tapi juga tanpa dukungan lagi. Gue benar-benar nyesel gak memperhatikan dia."
"Sorry sebelumnya, tadinya gue pikir lo baik-baik aja sama istri lo. Tapi ternyata lebih rumit dari kelihatannya. Jadi saran gue lo harus datang, ikuti aja semua prosesnya dengan tetap mempertahankan dia. Yakinkan istri lo kalau lo serius memperbaiki hubungan kalian ... Mau pakai jasa dari firma hukum gue? Tapi bukan gue yang dampingi."
Lain tempat, lain pula pembicaraannya. Di bawah gelapnya malam yang hanya ditemani penerangan lampu senter duduk setinggi 20 sentimeter, ketiga trio pejuang skripsi sedang bersiap untuk memburu data. Mereka tidak lain dan tidak bukan adalah Yuki, Dimas dan Ara.
Sebenarnya mereka belum mengantongi surat izin turun penelitian baik dari jurusan maupun fakultas. Namun demi penyusunan proposal pengajuan yang sinkron dengan hasil uji yang ingin dilakukan di lapangan, meminimalisir teori dan kenyataan yang harus dihadapi, maka dengan nekad ketiganya ingin menjelajahi lautan malam.
"Mas di sini aja, gak perlu ikut, gak muat sampannya."
"Kenapa gak kasih tau jauh-jauh hari kalau kamu harus malam-malam kayak gini?"
"Mas itu suka heboh sendiri, bikin repot. Lagian turun kayak gini juga udah biasa, namanya juga anak kelautan perikanan. Pasang surut air laut itu gak pasti, kadang siang, sore, pagi, bahkan malam kayak sekarang ini."
"Lebih baik kamu satu sampan sama Mas. Mas mau cari sampan lain. Kamu tunggu aja, pasti ada nelayan yang bisa Mas sewa lagi sampannya sekaligus antar kita malam ini."
"Kan bener Mas jadi heboh sendiri ... Udahlah di sini aja, hitung-hitung jagain barang-barang Ara sama punya Yuki, Dimas."
"Dimas ikut tapi Mas disuruh diam aja di sini??"
"Harus ya kita lihat pasangan bucin itu tanpa camilan?" celetuk Dimas tiba-tiba sambil mendengus sebal. Ia melirik sekilas pada Yuki yang rupanya asik mengunyah roti isi. Gadis itu mengulas senyum kecil pada pemandangan manis dalam jarak dekat di depannya. Tapi Dimas yang jeli justru melihat sorot mata dan bibir Yuki yang memancarkan arti saling berlawanan.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Ada perpecahan kubu gak di sini? Tim yang minta Yuki dan Keven cerai atau baikan aja gitu misalnya?😄
Terima kasih ya udah menanti kisah Yuki dan gak ada habis-habisnya memberi dukungan untuk tulisanku🥰