Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Hadiah Perpisahan


__ADS_3

Senja masih bertahta. Cahaya jingganya menyorot miring, menembus kaca mobil yang Keven naiki. Sedangkan si empunya asik mencengkeram erat setir kemudi. Perlahan rahangnya ikut mengeras seiring aksi saling pukul Dimas dan Yuki di kejauhan.


Padahal dua manusia yang Keven amati itu bagai anak kembar berebut mainan. Tapi di mata Keven interaksi keduanya terlihat sangat manis dan kelewat mesra. Mungkin sudah saatnya mata Keven perlu dicuci dengan abu gosok.


“Argh!! Sakit-sakit, sakit … Kicooot lepas!!” keluh Dimas sambil memegang kepalan tangan Yuki.


“Ogah! Balikin dulu buntelan kaos kakiku!”


“Tinggal ambil sendiri apa susahnya, sih?!”


“Masuk comberan itu begok!” rengek Yuki sambil mengencangkan tarikan di rambut Dimas.


“Aaaarrgghh …,” jerit Dimas panjang. “Iya-iya … Aku ambil, tapi lepas dulu!”


“Nggak! Ayo cepet!” tegas Yuki sambil mendorong kuat kepala Dimas. Kesalnya meluap tepat saat kaos kaki yang hendak di packing justru Dimas mainkan. Dilempar bagai atraksi sirkus dan berujung salah satunya menggelinding hingga terjun bebas ke selokan.


Seolah kesialan itu kurang, selokan kecil di depan kamar Yuki yang biasanya kering saat ini justru tergenang air buangan pel tetangga kamar sebelah. Praktis bisa ditebak jika sudah basah tidak tertolong lagi.


“Aku biarin malah ngelunjak, ya!” keluh Dimas seraya memutar badan, menempelkan punggung keduanya dan mengunci sebelah tangan Yuki yang terbebas. Secepat kilat ia membungkuk, mengangkat Yuki dalam posisi telentang di punggungnya.


Tidak terelakkan teriakan memberontak Yuki terlontar, berhasil menarik perhatian penghuni kos lain yang kebetulan berada di tempat. Begitu pula dengan Keven yang seketika menggeram marah. Secepat kilat Keven melepas sabuk pengaman, membuka pintu mobil dan menurunkan kaki kanan. Namun belum sempat pantatnya berpisah dengan kursi kemudi, niatnya terhalang restu jeritan ponsel yang berdering.


"Ambil atau buang, terserah." sahut Keven datar mengakhiri laporan yang diterima lewat panggilan telepon. Detik berikutnya, ia sandarkan punggung di badan mobil, cukup lama sambil menunduk dan meremas rambut.


‘Ini hampir sama, bahkan lebih baik,’ gumam Keven dalam hati. Mendadak ia teringat sering menolak pemberian Yuki. Tidak jarang pula ditolaknya dengan kasar.


Mengangkat pandangannya, Keven menolehkan kepala. “Ka-kamu …,” ucap Keven terbata-bata dengan mata membola. Sang bidadari berdiri sambil menopang pipi dengan tangan bertumpu di kap mobil.


“Kamu gak capek gini terus?” tanya Yuki seraya menegakkan punggung. Dihembuskan nafas kasar sambil mengamati keven lamat-lamat. Sedangkan yang ditatap reflek mengusap tengkuknya salah tingkah. Seakan mati kutu didatangi Yuki dalam posisi dirinya mengintai pula.


Memalingkan wajah sekilas, Yuki melirik ajudan yang berdiri ogah-ogahan di belakang. Sepersekian detik kemudian ia kembali berkata, “saran aku harusnya kamu ganti mobil kalau mau lihat diam-diam. Kalau kayak gini mau gak peduli juga aku gak bisa.”


Brak.


Terperanjat, Dimas hampir saja meloloskan umpatan.


“Ini mobil udah aku hafal banget. Mau kamu ganti warna juga aku hafal plat nomornya.” Mempertahankan ekspresi datar, Yuki kembali berucap sambil mengusap tangannya yang panas. Setelah sok-sokan menggebrak kap mobil Keven, kini telapak tangannya berdenyut kebas.


“A-ku ….”

__ADS_1


“Ssstt!!” potong Yuki sembari menempelkan telunjuk di depan bibir. Sejenak tangan kirinya menengadah ke belakang, meminta sesuatu yang dititipkan pada Dimas.


Memutar bola matanya malas, Dimas menyodorkan botol minuman yang dibawa ke sisi kanan Yuki. “Nih!” ketus Dimas. Jelas sorot matanya kembali sinis, terpatri pada Keven seorang.


“Ck!” decak Yuki sebal sambil menurunkan tangan kiri yang menengadah, berganti mengulurkan tangan kanan meraih botol minuman itu.


Tidak lama gadis itu maju, mendekati Keven dengan ragu walaupun kakinya menapak santai. “Aku gak punya apa-apa. Cuma ini, minumlah … Rasanya pasti beda dari yang biasa kamu minum, tapi itu kopi susu sachet yang dulu sering aku buatin. Ditambah susu kental manis dikit.”


Menerima botol yang disodorkan, sekilas ujung jari keduanya bersentuhan. Praktis menghasilkan sengatan yang mengantarkan kehangatan ke sudut terdingin hati Keven. Ingin Keven genggam tangan yang kini sudah berpindah ke sisi tubuh mungil yang berdiri di hadapannya. Namun Keven mencoba menahan diri agar tidak bertindak kelewatan batas lagi.


Kini rasa haru yang perlahan menjalar itu membungkam Keven. Ia kesulitan bicara, hanya senyum lebar yang menghiasi wajah. Ekspresinya benar-benar tampak bodoh.


Terlalu banyak ucapan terima kasih yang teruntai. Bahagianya membludak secara tiba-tiba. Seakan banyak kupu-kupu di dalam perut yang menggelitik, beterbangan bagai kumpulan dandelion di dada. Musim semi bak kembali menyapa, namun juga bersamaan dengan musim dingin yang telah berlangsung lama.


Botol di tangan Keven sama persis seperti botol yang dulu pernah tanpa sengaja dipecahkan. Benar, botol itu bersaudara. Demi setiap saat bisa memberi Keven racikan kopi susu sederhana dengan sejuta makna, Yuki memang sengaja membeli beberapa botol serupa.


“Makasih.” Suara Keven bergetar. Seraknya terdengar jelas. Sedikit mengejutkan Yuki yang hanya berniat baik ingin membagi apa yang ia miliki.


Lagi pula botol yang berada di tangan Keven saat ini adalah satu dari dua botol yang tersisa. Sedangkan satunya lagi akan Yuki bawa untuk menemani perjalanannya esok hari. Ke mana? Biarkan nanti Yuki yang bercerita.


Mengangguk singkat, Yuki memalingkan wajah. Diayunkan langkah memutar membelakangi Keven. “Ayo, Dim,” lirih Yuki sambil menepuk lengan Dimas.


Inilah yang Dimas ragukan dari mempersatukan kedua insan yang sejatinya saling mencintai. Tidak akan pernah Dimas merelakan Yuki-nya kembali sok tegar dalam kubangan nestapa. Entah apa yang akan Dimas lakukan jika ia mengetahui Dion sedang belajar membangun jembatan masa depannya dengan Yuki.


“Anggap aja itu hadiah perpisahan,” bisik Dimas sambil menyeringai sinis. Ditepuknya kuat bahu Keven sebelum berlalu pergi.


"Makan siang, ayo makan siang ... Kamu belum makan, kan?" ucap Keven lantang, tentu untuk Yuki yang membelakangi, bukan Dimas yang spontan memicing kesal.


"Kami masih ken-"


Kruk ...


"Lapar ... Hehe ...," kekeh Dimas menimpali kalimat Yuki sambil menggaruk pelipisnya.


"Cuit!" geram Yuki dengan suara rendah, nyaris seperti berbisik. Benar-benar perut Dimas laknat yang tidak bisa diajak bekerjasama.


"Yuki masih kenyang. Kalau aku selalu lapar. Memang Abang mau traktir aku tanpa Yuki? Kalau iya, yuk gaskeun aja ... Gak mau, kan? Ya udah sana, pergi!" cerocos Dimas cepat, hampir bisa menyamai kecepatan Yuki berceloteh. Ia bahkan tidak menyisakan celah yang bisa Keven sela.


Tanpa ragu Dimas sengaja merangkul bahu Yuki dengan sebelah tangan melambai yang lebih mirip kibasan pada Keven. Tentu sambil membawa Yuki berlalu pergi. Sayangnya kesombongan Dimas tidak bertahan lama, cubitan maut Yuki membuatnya menjerit bagai ayam betina kejepit.

__ADS_1


"Gak masalah. Aku antar makanannya. Tunggu sebentar ...." Keven merogoh ponselnya, menghubungi seseorang lewat sambungan telepon. Dapat Dimas dan Yuki dengarkan jika banyak menu makanan telah Keven sebutkan.


"Sadar gak sih kalau lagi diusir?!" tukas Dimas dingin, ditariknya kembali lengan Yuki agar keduanya segera menjauh meninggalkan Keven.


Memang Dimas merelakan cintanya tidak terbalas, namun setiap kali melihat Keven sel-sel amarahnya seakan bermutasi. Ia bagai monster yang tersembunyi dalam cangkang manis nan imut yang ingin melahap Keven saat itu juga. Tangis Yuki yang selalu ditanggapi sepele tidak sesepele amarah yang Dimas pendam.


...----------------...


Keesokan harinya dengan langkah cepat namun tetap tenang, seorang laki-laki yang putus asa mengetuk pintu masuk ke dalam ruangan gelap. Jendela kaca yang seharusnya bisa ditembus cahaya masih tertutup tirai. Begitu juga dengan lampu ruangan yang dimatikan, menyisakan satu lampu kerja menyala, menyorot gumpalan kertas penuh coretan.


“Pak?” tegurnya berusaha menyadarkan sang bos yang termenung.


"BA-PAK KE-VEN!!" teriaknya lantang, sukses menyentak Keven yang terperanjat kaget.


"Ngapain kamu teriak!?" ucap Keven meninggi, masih dengan tangan kanan memegangi dada kiri yang berdegup kencang. Ditatapnya sang asisten yang mundur selangkah sambil menunduk singkat.


"Maaf, Pak. Saya terpaksa ... Apa Bapak semalam gak pulang lagi?"


"Bukan urusan kamu."


"Sekali lagi maaf, Pak. Sepertinya mulai sekarang itu urusan saya juga," ucapnya lemah sambil meletakkan kantong besar yang dijinjing. "Baju dari Ibunya Bapak lagi. Kalau masih gak mau pulang, keluar aja dari kartu keluarga sekalian. Lebih baik adopsi anak tetangga, sama-sama duda tapi punya anak tiga. Rela jodohin ke Yuki, buy one get three free, itu pesan dari Bu Agni."


Mendelik, hampir saja Keven memaki dan melempar sepatu pada sang asisten. Beruntung pesan penutupnya sempat menyeruak pendengaran Keven.


"Siang ini biar saya sendiri yang antar," celetuk Keven tiba-tiba.


"Baik," jawabnya patuh tanpa banyak tanya.


Sepeninggal asistennya, Keven beranjak hendak membersihkan badan dan menghubungi Mama Agni. Mencegah terjadinya ide gila yang sejatinya Keven ketahui hanya gertakan semata. Namun tetap membuat Keven tidak tenang.


...****************...


*


*


*


Terima kasih semuanya udah nungguin kelanjutan kisah Yuki, bahkan sampai ada hubungi aku langsung🥰 Gak nyangka bisa sebesar ini sayangnya kalian sama tulisanku😍

__ADS_1


__ADS_2