Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bisikan Gaib


__ADS_3

“Mau apa?” tanya Yuki datar, kontras dengan ujung telapak kakinya yang sedari tadi bergerak gelisah menghentak lantai kantin. Beruntung lantai itu tidak terbuat dari papan yang rapuh, melainkan keramik putih polos di atas permukaan batu bata yang disemen kokoh.


“Besok aku ada kerjaan, padahal waktunya kita kencan,” ucap Keven penuh sesal. Waktu berduaan dengan Yuki harus tersita oleh sesuatu yang sejatinya ingin diabaikan.


“Teman itu gak berkencan.”


“Ah, maksud aku hangout,” sahut Keven mengoreksi penuturannya sembari menyugar kikuk rambut yang disisir ke belakang, bergaya slicked back.


“Kamu mau kalau kita undur perginya jadi malam?” ucap Keven lagi sambil meremas samar sebelah telapak tangannya. Menatap lekat Yuki yang spontan mendongak sekilas. Jelas Keven sedang berharap cemas pada jawaban Yuki.


“Aku sibuk,” ketus Yuki singkat. Sejenak dipegangnya gelas es teh manis dengan kedua tangannya. Menyedot larutan manis mencekat lewat sedotan plastik berwarna kuning guna membasahi kerongkongan yang kekeringan.


“Bukannya kita janjian sesuai jadwal bebas kamu?”


“Uhuk … Huk … Huk!”


“Pelan-pelan minumnya, Yuki.” Reflek Keven menarik 2 helai tisu, mengusapkan cepat pada dagu Yuki yang basah karena semburan es teh manis.


“Aku bisa sendiri.”


“Biar aku bantu.”


“Nggak!” tolak Yuki tegas. Ia menggeleng kuat sebagai bentuk penolakan sekaligus protes sambil bersungut kesal pada Keven. “Kamu bikin bedak aku hilang kalau diusap kayak gitu. Harus di tap-tap kayak gini pelan-pelan tau. Ini pasti udah bolong dempulnya.”


Rasa bersalah Keven seketika melayang kala kata 'dempul' terlontar. Ia cukup paham sudah melewati batas aman dunia perbedakan Yuki. Namun tetap tidak bisa mengendalikan kedua sudut bibirnya yang berkedut menahan kekehan.


"Bare face kamu tetap cantik kok."


"Gak usah ngerayu!" ketus Yuki.


Duduk dengan posisi menyerong, Yuki memalingkan wajahnya. Menyulitkan Keven untuk memperhatikan apa saja yang Yuki lakukan. Gadis itu memandangi dengan seksama setiap inci wajah mungil yang terpantul dari layar ponsel yang tidak menyala. Yuki sok sibuk dengan bibir menggerutu kesal, namun jelas semua hanya akal-akalan demi menghindari sorot mata Keven yang sedari tadi membuatnya ingin menyatu dengan es teh manis karena malu.


Yuki sadar jika tingkah lakunya jauh sebelum menjadi istri Keven dahulu lebih tidak tau malu, hanya saja tidak ada kontak fisik berlebihan meski ia diam-diam memiliki khayalan kotor tentang roti sobek Keven. Mana mungkin pula selama ini Yuki tidak tergoda dengan pahatan indah yang sering ingin diterkamnya. Beruntung saja Yuki sadar Keven tidak melihatnya sebagai wanita, tapi seorang pengganggu.


‘Kenapa harus aku yang sengsara nanggung malu gini sih? Mama Agni sampai datang ke kamar lagi ngira aku diapa-apain. Padahal aku yang ngapa-ngapain.’ Membatin Yuki meratapi berkah yang datang di dalam kesialannya.


Iya, berkah mencicipi roti sobek limited edition. Kapan lagi bisa menyentuh yang asli jika bukan milik Keven tadi pagi.


‘Mesum kali otak aku ini!!’ jerit Yuki di dalam hati. Jiwanya seolah ingin keluar menampar kesadarannya sendiri.


"Haah .... "


"Kenapa? Hilang ya? Maaf ... Kamu kalau mau bedakan lagi hadap ke aku, gak kelihatan dari orang-orang," ujar Keven bertubi, ia merasa bersalah meski di matanya tidak terlihat sedikitpun perubahan dari wajah Yuki. Istrinya tetap cantik walaupun sudah seperti kertas kusut.


"Gak kenapa-napa," jawab Yuki sambil menggeleng lemah.


Masih terngiang jelas di pendengaran Yuki suara gedoran pintu saat dirinya tanpa sadar memukuli Keven dalam posisi yang menerbangkan harga dirinya. Ia yang sudah meneriaki Keven kurang ajar, namun dengan semangat juang tinggi melancarkan serangan cakaran asal sambil menduduki perut Keven. Kontras sisi bar-bar yang membara seketika layu bersamaan dengan tubuh lesu, merosot ke lantai dan dibawa berlari cepat masuk ke kamar mandi.


Mendadak lagi-lagi Yuki menghela nafas berat secara perlahan, berusaha agar Keven tidak menyadarinya. Ada sedikit beban yang sebenarnya memenuhi pikiran Yuki.


Ungkapan kebahagiaan atas kembalinya Yuki sebagai istri Keven yang dibumbui dengan ketulusan kasih sayang membuat Yuki merasa sangat bersalah pada Mama Agni dan Papa Leigh. Yuki jelas sangat merindukan kebersamaan keluarga yang hangat itu. Jika saja kedua orang tua Keven tidak sesayang itu terhadapnya, Yuki yakin sudah melarikan diri dari Keven jauh-jauh hari, bahkan mungkin sejak awal keduanya menikah.

__ADS_1


"Jangan terlalu dipikirin."


"Apa?"


"Kamu mikirin omongan Mama Papa tadi pagi, kan?"


"Ng-nggak tuh. Barusan ingat kalau ada kegiatan organisasi. Kayaknya aku harus pergi sekarang," kilah Yuki.


"Bukannya kamu bilang udah gak aktif organisasi lagi?" Kedua pangkal alis Keven mengerut, meneliti kejujuran dari perkataan Yuki. Benar, getar kebohongan yang tersirat dari gerak-gerik Yuki mulai Keven pahami.


“Iya kemarin gitu, tapi sekarang nggak,” balas Yuki sekenanya. Berusaha mengalihkan perhatian dari sorot menelisik Keven, ia fokus mengeluarkan uang untuk membayar minumannya.


"Udah aku bayar," ucap Keven seraya menahan tangan Yuki yang mengaduk-aduk isi tas.


...----------------...


“Sekarang aku harus gimana, Ra?”


“Mulai nyaman lagi bikin kamu ragu?”


“Mungkin …,” ucap Yuki ragu-ragu. Matanya menerawang jauh menembus gerombolan awan putih di langit biru. Detik berikutnya dihembuskannya udara yang seakan menggumpal di dada lewat mulut.


“Tekad mulai goyah?"


“Tadinya ….”


“Terus sekarang gimana?”


“Kenapa? Mau cerita?” tanya Ara dengan suara lembut, ia sabar menanti jawaban Yuki yang sedikit banyak bermakna ganda. Terlalu ambigu untuk dikatakan iya atau tidak.


Mengangguk pelan, Yuki mengiyakan pertanyaan singkat Ara. “Pasti. Aku butuh bisikan-bisikan gaib yang menyusup otak bebal ini.”


“Dikira setan kasih bisikan gaib,” ketus Ara.


“Mertua aku baik banget, Ra. Aku jadi takut bikin mereka kecewa dan benci sama aku. Apa lagi mereka ngira aku sama Mas Keven udah baikan. Padahal kami nggak bisa dibilang baik-baik aja.” Sorot sendu mengiringi penuturan Yuki. Ia berada di ambang dilema berkat kembali menginjakkan kaki di rumah mertua tanpa terduga.


“Karena kamu sering sama anaknya jadi dikira udah baikan gitu?”


“Bukan karena itu, tapi … Ya pokoknya mereka mikir gitu lah.”


“Ck! Bau-bau ada bangkai yang ditutupi,” sindir Ara pada Yuki.


“Emang. Bangkai banget ini sampai aku malu mau cerita dari dan kayak gimana. Haaah ….” Yuki menelungkupkan wajahnya, menopang dengan dahi yang menempel di tepian meja. Mata gadis itu memandang sepasang kaos kaki krem yang membungkus rapat kakinya yang bersilang di bawah meja.


“Jadi semalam habis kita pisah, aku pergi makan sama Mas Keven dulu kan. Nah terus pas mau pulang di jalan aku ketiduran. Emang kebo banget aku molornya, bangun-bangun udah tidur sama itu manusia kurang ajar."


Brak.


"Dia macem-macem sama kamu?!" Suara Ara meninggi disertai gebrakan meja kayu yang menggema.


"Woi, Ra! Bikin jantungan aja. Bukan gitu ... Dengarin cerita aku dulu. Tapi jangan ngakak!" peringat Yuki pada Ara dengan jari telunjuk mengacung, seolah menekan peringatannya agar tidak dilanggar.

__ADS_1


Maka di sini, di dalam sepetak kamar kos mengalirlah semua cerita dari awal mula perpisahannya dengan Ara, dari parkiran Fakultas Kelautan sampai akhirnya pertemuan kembali dengan Keven di kantin beberapa hari yang lalu. Jujur saja akhir-akhir ini Yuki kembali menghindar, selalu berhasil memberikan alasan yang tidak bisa Keven tawar, apa lagi sanggah.


“Pfft! Aku yang dengar aja udah malu banget. Yang kurang ajar itu kamu, kok malah lempar jala terus kabur.”


Seperti yang Yuki duga, Ara pasti menertawainya. Beruntung bukan Dimas yang mendengarkan ceritanya. Bisa Yuki pastikan jika tawa Dimas akan 100 kali lebih dahsyat dari milik Ara saat ini. Sayangnya tanpa Yuki ketahui jika dibalik tawa Dimas ada kecemburuan yang selalu ditekan dan perasaan cinta yang dibunuh oleh pemuda itu.


"Malah ngetawain. Jadi aku harus gimana ini?"


"Kamu lebih condong ke mana?"


"Gak tau. Bingung."


“Susah nih. Kadang yang kita kira baik belum tentu baik. Apa lagi kalau datangnya dari sudut pandang orang lain. Aku takut salah, Ki. Takut juga omongan aku justru jadi mengupas masalah dan menambah masalah."


“Skripsi aja udah bikin pusing, malah ditambah sering kepikiran ini. Jujur aja aku belum siap berumah tangga, Ra," keluh Yuki sembari menjambak kasar rambutnya.


“Tapi sebenarnya jauh lebih baik dari pada sekedar pacaran. Sayangnya kisah awal kalian kacau.” Mengulurkan tangannya, Ara mengusap lembut punggung Yuki. Gadis itu cukup memahami kepusingan Yuki, namun tetap tidak bisa membantu banyak selain sebagai pendengar, penyemangat dan tentunya sebagai tempat bersandar untuk Yuki seperti saat ini.


"Beli es buah rumput laut, yuk!? Kali aja bisa buat penyegaran," ajak Ara pada Yuki. Ia sudah berdiri menyambar tas selempang, memutar lubang gantungan kunci motor di jari telunjuk kanan sambil memainkan kedua alisnya naik turun bersamaan.


"Beli batagor sama mpek-mpek sekalian deh. Tiba-tiba pengen, kayak ngidam aja," sahut Yuki tidak kalah semangatnya dari Ara.


"Baru raba-raba perut udah ngisi aja. Hahaha ...."


"Heh, mulut!" Melotot tajam Yuki merespon perkataan dan gelak tawa Ara. Ia mendelik kesal sepanjang jalan ke parkiran motor kos-kosan karena Ara terus saja menggodanya.


"Lama gak konsultasi ke Dokter ganteng bikin kamu kurang waras, Ra. Sono aku temenin gih konsul lagi."


"Bilang aja kamu yang mau ketemu Dokter Dion. Ingat udah punya suami loh, Ki."


"Ck! Lagian kamu aneh, Ra. Udah lebih dari setahun bolak-balik ketemu Mas Dion, sering berduaan aja, tapi kok gak kepincut gitu."


"Ciyeee ... Mas Dion loh manggilnya."


"Kayak baru dengar aja ... Hari ini kerasukan roh Cuit ya? Ngeselin kali loh. Kayak ada bayang-bayang dia di mulut mu itu," gerutu Yuki.


"Kayaknya iya."


"By the way, aku kepo sama peletnya Pak Rava. Mantap banget bisa buat kamu klepek-klepek. Berasa nikung kesempatan adeknya sendiri."


"Sembarangan. Gak ada ya nikung-nikung. Lagian aku sama Dokter Dion cuma sebatas pasien dan dokternya aja."


'Ya inilah kamu, Ra. Memang teman aku yang super gak peka,' gumam Yuki dalam hati. Padahal Yuki sendiri juga tidak terlaku peka. Buktinya ia tidak bisa menerka perasaan yang Dimas pendam terhadapnya hingga saat ini.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mengikuti kisah Yuki😘


__ADS_2