Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Rekayasa Keven


__ADS_3

Duduk di balik dinding kaca bersemu gelap, Keven terpesona pada seorang gadis yang mengenakan blouse putih polos dipadukan dengan celana bahan kain hitam. Menggendong tas ransel berisi laptop dan perkakas perang untuk berburu pekerjaan.


Gadis yang tidak lain adalah Yuki itu celingukan, matanya menjelajah bangunan di hadapan. Menelisik parkiran yang dipenuhi banyak mobil mewah dan beberapa motor pekerja. Rambutnya yang diikat kuda itu bergoyang seirama dengan gerak kepala yang menyorot setiap sisi bangunan.


Di sini Yuki berdiri, bertekad mencoba tawaran yang pernah Keven sebutkan. Ia yang dirundung gelisah setelah lebih dari 1 minggu tanpa kabar dari hasil interview mulai tergoyah. Memang mulanya Yuki ragu, namun ia perlu pemasukan demi menyambung hidup.


Uang yang menumpuk di dalam rekening Bank dianggapnya habis. Tentu agar dirinya tidak terlena dan berakhir menjadi gelandangan.


Drrt … Drrt …


Yuki terperanjat pada getar ponsel yang digenggam, padahal ia baru saja mantap melangkah maju sambil mulai mengosongkan kekusutan di benaknya.


“Halo?”


[…]


“Iya, benar … Baik, Pak.”


[…]


“Baik.”


Senyum Yuki semakin mengembang, dan itu nyata Keven saksikan. Meski tidak bisa mendengar isi obrolan Yuki, tapi prasangka buruk Keven sudah tertuju pada Dion. Laki-laki sepantarannya itu benar-benar berhasil membuat Keven kalang kabut dan hampir merasa kalah.


Terhanyut dalam kekhawatiran tidak beralasan, Keven tanpa sadar sudah berdiri di ambang pintu masuk restoran yang disebut milik kenalannya. Percayalah itu bohong. Semua hanya rekayasa Keven demi memuluskan modus mendekati Yuki. Sayangnya ia yang ingin merengkuh Yuki lebih dekat lagi, kini harus gigit jari.


“Syukurlah kamu udah di sini. Baru aja mau aku hubungi. Ada yang mau aku sampaikan …,” ucap Yuki cukup senang. Jujur, baru saja Yuki berharap agar secepatnya bisa bertemu Keven. Ada kabar baik yang sebentar lagi Yuki bagikan, namun bisa ditebak akan menjadi kabar kurang mengenakan untuk Keven.


Menggaruk pelipisnya sekilas, Yuki berkata pelan, “maaf ya, Mas. Barusan aku dapat telepon kalau aku lolos interview, intinya udah diterima kerja. Jadi … Aku batal deh coba lamar di sini.”


Sejenak Keven menyugar rambutnya, terkekeh miris disertai hembusan nafas kasar yang justru Yuki artikan sebagai kekesalan pada dirinya.


"Bener-bener baru di depan parkiran itu tadi dihubunginya, sumpah! Aku nggak bohong sama kamu,” celoteh Yuki cepat, tanpa rem. Kedua jari kirinya mengacung, memberi sinyal tanda perdamaian dengan pupil mata yang ikut membesar serius.


“Udah datang ya orangnya?" ucap Yuki lagi, bertanya dengan nada menyerupai bisikan.


Hening. Masih tidak ada jawaban dari Keven yang menatap sendu berbalut kecewa.


"Aduh! Jadi gak enak buang-buang waktu orang. Biar aku minta maaf langsung sama yang punya. Lusa udah mulai kerja, jadi mending minta maaf ngebatalin lamar di sini sekarang ...." Seketika ekspresi Yuki berubah. Dahi gadis itu mengernyit khawatir dengan bibir dimanyunkan. Lucu, tapi tidak dengan kalimat yang baru saja Keven dengarkan. "Kamu kenapa diam? Ayo, tunjukin orangnya yang mana ...."


“Nggak kok …,” jawab Keven terjeda, kembali ia meraup udara dalam-dalam sambil tersenyum tipis dan melanjutkan bicara, “dia belum sampai, mendadak ada urusan.”


“Serius, nih?”


Angguk Keven mengiyakan. “Iya.”


"Jadi gimana ini?"


"Gak masalah. Lagian katanya ada kandidat lain juga yang udah masukin lamaran kerja."

__ADS_1


“Syukurlah, kalau gitu masih aman," ucap Yuki lega. "Makasih banget kamu udah bela-belain ke sini buat bantuin aku. Pasti aku udah ganggu banget di jam kerja kamu."


"Nggak. Aku sama sekali gak sibuk."


"Udah jujur aja. Aku tau sibuknya kerjaan kamu. Aku kan pernah kerja di resto kamu. Walaupun jadi tukang pel, tapi aku ini tukang pel intel. Aku yakin kamu pasti sadar kalau aku suka kamuflase ngintipin kamu. Kita juga nikah nggak sebentar banget. Jadi ...." Mendadak nafas Yuki tercekat. Cerocosannya terhenti menggantung. Ia seperti salah berucap kala menyadari ekspresi mendung di wajah Keven yang siap menumpahkan badai.


"A-ak, aku pulang ya," ucap Yuki kikuk. Dengan gestur canggung ia menunjuk parkiran.


"Pulang?"


"Iya, pulang."


"Aku antar."


"Aku bawa motor, kok."


"Bukannya masih di bengkel?"


"Nggak. Kemarin itu Om Yudith nakut-nakutin. Masih tertolong, sisa setetes olinya, hehe ...." Menyengir Yuki sambil meraba tengkuknya. "Udah ya, aku pulang sekarang."


"Masuk dulu. Ada dessert yang kamu suka di sini," cegah Keven. Tangannya spontan meraih pergelangan tangan Yuki. Menggenggam dengan tarikan lembut agar si empunya menurut dan mengikut.


"Aku masih kenyang," tolak Yuki halus sambil melepas genggaman Keven dengan sebelah tangannya. Yuki lantas mundur selangkah, memasang senyuman tulus agar Keven tidak tersinggung atas sikapnya. Tapi nanar yang tersirat cukup meninggalkan setitik sesal di hati Yuki.


"Aku mau siap-siap untuk lusa. Udah ya, duluan, bye ...." Lambaian kecil Yuki menandai perpisahan mereka. Buru-buru Yuki berbalik, menapak paving segi enam yang disusun apik.


Ayunan ringan tungkai yang berlari cepat bak kelinci itu terlihat menggemaskan, cukup mengobati kesedihan Keven yang menyorot dalam setiap pergerakan Yuki. Tidak ketinggalan lambaian kecil yang kembali Yuki hadiahkan sebelum gadis itu melaju pergi, benar-benar mendebarkan jantung Keven yang dilanda getaran kasmaran.


"Harusnya aku gak bilang dulu orangnya gak bisa datang," sesal Keven sambil menjambak kasar rambutnya. Sontak tatanan rapi itu teracak. Berhasil pula menarik rasa penasaran pengunjung lain yang tanpa sengaja mendengar serta sekedar menolehkan kepala.


Kini Keven sudah menyusuri jalanan, mencoba menyusul Yuki yang bayang-bayangnya saja sudah tidak terlihat lagi. Akan tetapi hingga kendaraan roda empat itu sampai di depan kos-kosan Yuki, Keven tetap tidak mendapati kehadiran perempuan yang berhasil mencuri hatinya itu.


"Di mana kamu, Ki?" gumam Keven gusar dengan dahi mengernyit, mengedarkan pandangan berharap sosok Yuki ditemuinya.


Sedangkan Yuki yang dicari sibuk pasang badan menghadapi Dimas, melindungi Nita yang baru saja dimarahi habis-habisan. Benar yang Ara katakan, seharusnya mereka memberitahu Dimas terlebih dahulu sebelum pemuda itu memergoki Nita dalam kebohongan.


"Bang Saka itu kaya. Dia bisa bayar babysitter, buat apa Nita disuruh-suruh lagi? Untuk apa?!" teriak Dimas pada Yuki menggebu-gebu.


"Sejak kapan Abang ngajarin kamu bohong? Jawab!!" bentak Dimas sambil menatap kesal pada Nita.


"A-aku ...." Terbata Nita ketakutan.


"Kerja kelompok? Bullshit!!" ucap Dimas frustasi sambil meninju udara.


Dimas terlanjur marah dan kecewa pada kebohongan pertama sang adik yang tertangkap basah. Pasalnya dengan mata kepalanya sendiri Dimas melihat kelancangan Saka mengusap sudut bibir Nita, berlanjut dengan usakan gemas di puncak kepala remaja perempuan itu. Jelas Dimas tidak terima Nita kecilnya disentuh sembarangan pria. Tapi yang lebih mengejutkan adalah bagaimana sang adik yang diam merengut.


"Jujur kamu ngapain aja tadi?!" bentak Dimas sekali lagi. Mata pemuda itu berkilat marah bercampur kecewa pada satu-satunya adik perempuan yang sekuat tenaga dijaganya.


"Heh Pe'ak!! Sekali lagi teriak-teriak, aku sumpal kaos kaki!! Gak liat ini adikmu udah gemeteran?" ucap Yuki lantang sambil mengangkat tinggi buntalan kaos kaki yang baru dilepasnya. Yuki bahkan lebih terlihat marah dibandingkan Dimas.

__ADS_1


Melempar asal kaos kaki dari genggaman, Yuki membalikkan badan. "Kamu tadi kenapa? Bilang sama Kakak, Nit," ucap Yuki lembut, berbanding terbalik dengan suara ngototnya terhadap Dimas.


"Beneran gak ngapa-ngapain, Kak," lirih Nita sambil melirik takut pada Dimas. Sekejap remaja perempuan itu menarik masuk ingusnya, kembali berkata dengan kepala menunduk, "Abang tadi lihat pas Om Saka bantuin aku aja. Tadi muka aku kena susunya Angga, dilap pakai tisu juga kok. Abang aja yang lebay."


"Abang lihat ya tadi kalian ngapain!" ketus Dimas.


"Coba aja ini cium baju aku, ada bau susu. Masih lengket-lengket juga ini muka aku, Bang," tantang Nita sambil menarik kerah bajunya, tentu masih dengan suara bergetar takut.


"Alasan aja kamu! Udah jelas-jelas tadi gak ada bayi, cuma kalian berdua! Jangan bikin Abang tambah marah ya! Kamu Abang sekolahin biar pinter, biar gak diinjak-injak orang, biar gak dihina terus-terusan gara-gara gak punya Ibu. Berani kamu bohongin Abang? Besok pulang sekolah kamu gak boleh ke mana-mana lagi!! Gak usah ikut-ikutan kerja di luar! Cukup Abang yang kerja keras. Selama ini kita gak pernah kelaparan meski harus makan seadanya!"


"Tapi aku gak bohong, Bang," lirih Nita sambil terisak.


"Nita itu udah jujur. Angga memang lengket sama Nita, jadi sesekali cuma bantuin Mas Saka tenangin Angga yang rewel," ucap Yuki mencoba membela Nita, meski sejatinya ia dalam posisi serba salah harus bertindak seperti apa lagi.


"Bentar-bentar ... Kalian?" Dimas mengerutkan alisnya, menunjuk Nita dan Yuki bergantian.


"Sumpah ... Ada konspirasi apa ini?! Jangan bilang kalau kamu tau semuanya, Ki?" selidik Dimas sambil melotot tajam. Sukses membuat Yuki mendadak bungkam dan Nita bergidik ngeri.


"Suruh Bang Saka ke sini!" ucap Dimas dingin.


"Orang kerja loh, Dim ...."


"SE-KA-RANG!!"


"Abang udah dong ... Nenek bentar lagi pulang," ucap Nita memelas.


"Baru ingat kamu sama Nenek?!" Bukannya mereda, Dimas justru bertambah berang. Praktis Nita semakin menciut dengan tangis yang akhirnya pecah.


'Haduh ... Jauh-jauhin dulu deh yang bisa bikin kepala bocor,' gumam Yuki dalam hati sambil memindahkan asbak dan vas bunga palsu ke meja dapur.


"Padahal ke sini mau minta sayur kacang panjangnya Nenek. Harus gimana ini kalau Mas Saka beneran datang? Pusing ... Kabarin Ara gak ya?" gumam Yuki lagi, jari-jemarinya mengetuk konstan meja makan dengan tudung saji merah yang menantang.


"Yuki!!" teriak Dimas dari ruang tamu, sukses mengejutkan Yuki yang terperanjat kaget.


"Iyaaa ... Sebentar," sahut Yuki sambil mengeluarkan ponsel. Ia yakin Dimas akan mempertanyakan perihal sudah menghubungi Saka atau belum.


...****************...


*


*


*


Mohon maaf belum bisa balasin komen satu per satu🙏 Kemarin aku mulai menjejak dari komen paling lama yang ternyata udah selama itu aku gak balasin komen😅 Gak nyangka banyak banget rupanya yang udah dukung aku😍


Jujur aku sengaja gak buka komen dulu, takut ada yang bikin deg-deg serr🤣 Nanti aku galau lagi ngetiknya. Kalau gak sambil kepentok desakan di sini, semua bakal aman terkendali, tapi kalau nulisnya mode curi-curi waktu gini terlalu beresiko🤭


Jadi aku mohon maaf sekali lagi bisanya cuma minta dimaklumi terus🙏 Terima kasih juga udah kasih semangatnya lewat komen dan DM😘😘😘

__ADS_1


Pokoknya ...


Terima kasih banyak buat semuanya yang udah menanti🥰


__ADS_2