Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Pesan Terbuka


__ADS_3

Mentari bersinar terang, menyusup ke celah-celah jendela kaca yang tertutupi gorden panjang menjuntai. Namun rasa hangat yang menjalar tidak dapat menembus ruangan berpendingin yang mengurung seorang pemuda dalam gelungan selimut tebal.


Tring.. Tring.. Tring..


Tak.


Sekali lagi bunyi alarm dari sebuah ponsel mahal hanya dianggap layaknya nyanyi kodok dikala hujan yang menambah tidur semakin nyenyak. Entah sudah berapa kali pemilik ponsel itu menunda jam alarm tanpa berniat mengintip perubahan waktu yang membuatnya semakin terjepit dan akan kalang kabut nantinya.


Tring.. Tring.. Tring..


Sudah 10 menit dari alarm terakhir yang ditunda. Kini ponsel itu kembali bersuara. Jika bisa berteriak, mungkin ponsel berwarna dominan biru tua itu akan memaki sosok yang enggan untuk terbangun dari mimpi indahnya.


“Al..” Gumamnya dalam tidur. Bermimpi indah dalam sebuah kisah manis bersama pujaan hatinya.


“Alia..” Gumamnya lagi, namun kali ini dengan membuka sedikit matanya. Mengerjap perlahan dan kemudian menyipit pada seberkas sinar mentari yang menyorot miring dari celah gorden yang tersingkap.


Terlonjak kaget dan terduduk tiba-tiba, alarm yang sempat diabaikan kini hampir menjadi sasaran amukan. “Arg!! Saka bodoh!! Kenapa gue puas banget tidurnya!!” Umpat Saka pada dirinya sendiri.


Berlari dengan tampilan rambut acak-acakan, bertelanjang dada dan sehelai celana boxer berwarna hijau lumut yang melekat, Saka pontang-panting terburu-buru mandi sambil memikirkan pakaian apa yang harus ia kenakan.


“15 Menit lagi Saka!!” Gumam Saka yang mirip geraman. Menggosok kasar wajahnya yang penuh busa sabun dengan tidak sabaran.


Kamar Saka benar-benar terlihat kacau. Berbagai kemeja, kaos santai hingga celana bahan kain dan levis terlempar sembarangan ke atas ranjang. Sedangkan Saka hanya mengenakan handuk yang melilit pinggang, belum lagi tetesan air dari rambutnya yang terus terkibas asal membasahi lantai.


Drrt.. Drrt..


“Hi, Al..” Sapa Saka ramah dengan nada suara melembut pada seseorang di seberang panggilan telepon.


[Aku pikir kamu belum bangun, Ka.] Ucap Alia yang terdengar lega.

__ADS_1


“Udah dong.. Sebentar lagi ya aku on the way.” Ucap Saka setenang mungkin sambil meneliti pakaian mana yang akan ia kenakan. Tidak mungkin dirinya berkata jujur jika baru akan memakai pakaian yang masih belum bisa ia tentukan.


[Oke, aku tunggu. Jangan terlambat. Kalau terlambat kamu harus traktir aku makan ice cream sepuasnya!] Ucap Alia dengan nada sedikit mengancam dan merengek, namun terdengar manis di telinga Saka.


Bagi Saka, Alia yang kini ia kenal tidak berubah sedikit pun dengan Alia yang pertama kali dikenalnya saat masa orientasi siswa dahulu. Kesan dewasa Alia seolah lenyap di mata Saka, yang tersisa hanya gadis manis yang senang sekali merengek dan mengancam.


Mungkin untuk sebagian orang sikap Alia menyebalkan, namun bagi Saka yang sudah terbutakan oleh cinta yang membara semua itu tetap terlihat menggemaskan. Alia, cinta pertamanya dan sedang diperjuangkan agar menjadi cinta terakhirnya.


Berbeda dengan Saka yang sedang berbunga-bunga meski sedang dilanda kegundahan pilihan pakaian, di tempat berbeda Keven sedang mengacak rambutnya kesal. Menatap tajam pada seorang gadis yang hanya memamerkan senyum polos dengan binar mata memelas.


“Kan gak sengaja Mas..” Gumam Yuki lirih, mencebikkan bibir menatap kemeja Keven yang terkena tumpahan bubur sum-sum. Niatnya ingin memberikan secepat kilat pada Keven justru menjadi secepat kilat menumbur dan melumuri Keven dengan objek yang manis nan lengket itu.


“Makanya jalan itu mata juga dipakai!” Ucap Keven sewot penuh amarah. Paginya yang indah hancur karena ulah Yuki.


“Ini buburnya masih hangat. Tadinya biar Mas Keven cepat makan. Tapi salah Mas sih pakai putar badan tiba-tiba terus rem mendadak lagi. Aku udah pakai mata ya!” Cerocos Yuki yang lebih sewot lagi. Ia tidak ingin disalahkan, meski tau bahwa dirinya juga bersalah dalam kekacauan yang terjadi.


“Tuh sepatu aku juga kotor. Parah mana aku sama Mas?” Ucap Yuki lagi, bertanya dengan lantang, namun jelas bukan untuk Keven beri jawaban. “Jelas aku dong yang lebih parah dari pada Mas Keven!”


“Otak kamu di mana?! Kalau kamu yang kotor itu juga salah kamu!!” Ucap Keven dengan suara meninggi. Mengatupkan gigi serapat mungkin, rahang Keven mengeras dengan urat leher yang menonjol sempurna. Ia geram dan kesal pada Yuki yang terlalu menempel, mengusik dan mengganggunya selama beberapa hari terakhir.


“Kasihannya aku yang udah berjuang malah hasilnya sia-sia. Apa lagi yang diperjuangkan bukannya sadar malah doyan marah-marah mulu. Miris banget sih nasib kamu Yuki.” Celoteh Yuki dengan raut wajah dibuat sesedih mungkin.



Berpura-pura menahan tangis dengan akting yang sangat berlebihan. Siapapun yang melihat pasti akan langsung tau jika yang Yuki lakukan hanya sebuah kebohongan.


Melirik sekilas pada Keven, Yuki mantap mengutarakan isi hatinya meski lewat ungkapan yang tampak seperti gurauan belaka. Memang ia terkesan terlalu terburu-buru, namun semenjak kehadiran Alia, ada rasa asing yang membuat Yuki merasa waspada.


“Mas Keven lihat aku dong..! Masa gak peka aku lagi berjuang. Kasihan bubur sum-sum sebagai saksi perjuangan ku ini jadi terbuang sia-sia.”

__ADS_1


“Jadi jangan marah-marah sama aku lagi. Aku mau kasih pesan terbuka, aku ini suka sama Mas Keven. Lebih baik Mas Keven buka mata, buka hati, buka pendengaran. Satu lagi, buka tangan lebar-lebar kalau mau aku peluk karena terharu.” Imbuh Yuki lagi sambil mengerlingkan mata sebelah kirinya dengan genit. Masa bodoh pada urat malu yang sebaiknya dibuang jauh-jauh.


“Ha? Kamu gila?” Ucap Keven spontan.


“Jahat banget sih!! Orang bilang suka malah dikatai gila!! Aku tuh suka, menuju cinta, bukan gila!!”


Berlalu meninggalkan Keven yang kini terbengong dengan mata terbelalak lebar, Yuki menggerutu sepanjang jalan menuju ruang ganti karyawan di restoran tempatnya bekerja. Saat ini memang bukan shift nya bekerja, akan tetapi Yuki memaksa datang pagi demi sebuah bubur sum-sum untuk Keven.


“Kamu kok datang pagi, Ki? Bukannya jadwal kamu kerja shift ketiga aja ya?”


“Hehe.. Mau numpang pipis Mbak.” Ucap Yuki asal sambil terkekeh pelan.


“Memang kamu dari mana? Kenapa baju mu kotor gitu?”


“Oh, ini.. Hm.. Tadi gak sengaja ditabrak orang jalan gak hati-hati waktu di pasar Mbak.” Kilah Yuki sambil menunjuk bajunya yang kotor. “Aku ke toilet dulu ya Mbak. Udah kebelet banget ini.”


Meninggalkan rekan kerjanya yang sibuk berganti seragam kerja, Yuki di toilet sedang membersihkan sisa air gula merah yang sudah meresap ke serat kain bajunya. Membasahi bagian yang kotor dengan air mengalir yang kemudian Yuki peras sekuat tenaga, noda itu benar-benar betah melekat jika tidak dihempas oleh sabun cuci berkekuatan super.


Sedangkan di lain tempat, Keven kembali mengumpat kesal karena harus berganti pakaian. Ungkapan cinta Yuki? Sepenuhnya Keven abaikan, bahkan tidak membekas sedikitpun diingatan Keven jika Yuki pernah mengucapkan kalimat yang menurutnya hanya sebuah bualan.


...****************...


*


*


*


Udah jelas siapa suami Yuki?😄 atau ada yang punya dugaan lainnya nih?🤔

__ADS_1


__ADS_2