
Tak.
Tak.
Drap.
Drap.
Suara hentakan yang berbenturan konstan mengisi hiruk pikuk keramaian di tengah ruang tunggu pelabuhan. Berselaras dengan derap langkah saling memburu dari orang-orang yang bernafas lega karena telah sampai pada tempat tujuan.
“Ini hari terakhirku … kenyataannya kita punya kesibukan masing-masing.” Mendesah kasar, Yuki menolehkan wajah ke sisi kanan, menatap Keven yang sedari tadi memandanginya. Sontak kini sorot mata keduanya saling mengunci, menyiratkan getaran dengan gelombang yang sama.
“Maaf udah kasih harapan palsu untuk bantuin. Aku malah banyak menyia-nyiakan waktu kamu. Padahal aku mau bantu, tapi rasanya kayak main-main di agenda liburan anti mainstream,” ucap Yuki sambil memainkan kaki secara bergantian menghentak lantai keramik. Jari-jemari di atas paha bahkan bergerak acak diselingi saling meremas. Tentu bukan karena cemas, melainkan Yuki bosan menunggu kedatangan kapal ke tempat tujuannya.
“Untuk itu bertanggung jawablah,” ucap Keven yang hanya ditanggapi kerutan halus di dahi Yuki. Gadis itu memilih diam mencerna ucapan Keven. Lalu sepersekian detik kemudian Keven kembali berkata, “jangan pergi lagi. Lebih baik kamu kerja sama aku untuk menepati perkataanmu.”
Mengernyit, Yuki lantas menghentikan hentakan kecil dari kakinya. Ia menyerongkan badan. Memandang Keven dengan posisi duduk yang lebih nyaman tanpa memutar engsel leher.
“Sama kamu? Kerja apa?” Yuki mengedikan dagu. Menyilangkan tangan di depan dada dengan sorot menyelidik.
“Menguras semua waktuku.”
Memutar bola matanya malas, spontan Yuki berdecih jengah. Tidak ketinggalan bibirnya komat-kamit tidak jelas mengumpati Keven. Laki-laki itu terlihat serius dengan perkataannya, namun bagi Yuki semua hanyalah bualan semata.
“Aku serius. Kalau perlu ambil semua uang yang aku punya. Tapi tetaplah di sisiku. Kamu bebas menguras waktuku semau kamu.”
Plak.
“Aku serius,” imbuh Keven lagi menekan suara tegasnya tanpa mengindahkan lengan yang dipukul Yuki.
“Gak usah aneh-aneh! Jangan nambah pengeluaran yang nggak perlu. Fokus bangun bisnis, bayar tanggungan pinjaman, nabung lagi pelan-pelan. Karena kamu cukup beruntung, jadi Mama Agni dan Papa Leigh yang harus lebih kamu prioritaskan," ucap Yuki dengan mata melotot galak dan bibir mengerucut.
“Setelah aku berhasil stabil, apa kamu masih nggak mau jadi istriku?”
Suara datar yang terdengar putus asa mengalunkan rangkaian tanya. Alih-alih menetap lekat, Keven malah mengalihkan sorot matanya dari wajah cemberut Yuki. Ia justru memandang lurus pintu keberangkatan dan kedatangan penumpang yang menyatu tanpa sekat, meskipun di luar sana terdapat lorong berbatas pagar besi yang mengarah pada dua pelantar yang berbeda.
__ADS_1
Di sana masih saja terlihat ramai. Banyak penumpang yang menanti giliran keluar. Berharap bisa saling mendahului pada pemeriksaan tiket agar dapat menandai kursi di sisi atau sudut-sudut yang disenangi.
“Ayo kita menikah, lagi ….”
“Wow.” Hanya sepatah kata takjub itulah yang bisa Yuki lontarkan.
Tiba-tiba saja Yuki bertepuk tangan bagai orang bodoh sambil melongo. Ia menggeleng tidak habis pikir. Bahkan tanpa dijelaskan raut wajah Yuki sudah menggambarkan sebesar apa rasa keterkejutan itu menampar kenyataannya.
Keven benar-benar tidak seperti tipe ideal impian Yuki. Dia hanya laki-laki dingin tanpa sisi romantis yang Yuki idamkan. Tapi anehnya ajakan itu berhasil menyita sedetik nafas Yuki.
“Coba bilang sekali lagi,” pinta Yuki dengan kamera ponsel yang entah sejak kapan aktif merekam segala tingkah laku Keven.
Terkekeh, Keven mendadak berlutut, meraih sebelah tangan Yuki yang bebas. Dengan berdebar Keven akui waktunya kurang tepat, bahkan tidak ada dalam rencana hari ini. Praktis ia juga tidak menyiapkan sesuatu yang bisa dibilang romantis.
“Ayo menikah.”
‘What?!’ teriak Yuki dalam hati.
“Nggak ma-”
“Nggak-nggak, nggak!!”
“Mau.”
“Nggak!” jawab Yuki ngotot. Ia kukuh menolak lamaran aneh Keven. Menepis tangan yang terus memeganginya.
“Mau,” sahut Keven tenang. Ia justru mengeratkan genggaman, meski tidak sampai menyakiti Yuki. Namun bibirnya menyeringai jahil seolah sengaja mempermainkan Yuki. Padahal jangan ditanya seberdebar apa pompaan jantung di balik dada bidang Keven saat ini.
“NGGAK!!” tolak Yuki lantang seraya meletakkan ponsel yang dipegang ke sisi kosong kursi panjang. Tentu masih dalam mode merekam. Durasinya semakin bertambah seiring waktu yang terus berputar. Meski hanya berisi tampilan hitam akibat jarak tangkap lensa sebatas permukaan kursi.
Di samping itu Yuki sibuk mendorong kuat tangan Keven yang membelenggu. Menepuk kesal bahu kokoh laki-laki yang mengabaikan kekesalan bercampur rasa malu karena menjadi tontonan orang-orang. Beruntung hanya berupa lirikan penasaran, bukan sorakan layaknya sebuah acara lamaran romantis di muka umum yang sering muncul di sosial media.
“Nggak-nggak?”
“Mau-mau!!” balas Yuki kesal secara spontan. Hidungnya masih kembang-kempis mendengus sebal.
__ADS_1
“Pinter. Makasih udah menerima aku lagi,” balas Keven sambil mengusap gemas puncak kepala Yuki. Ia pun berdiri dan menepuk-nepuk berulang bagian celana yang sempat bersentuhan dengan lantai.
“Loh kok gini?! NGGAK!! Pokoknya nggak! Hish … kamu curang!” gerutu Yuki dengan dengusan sebal. Mencubit paha Keven tanpa basa-basi guna melampiaskan kekesalan.
Sekejap ia ikut berdiri. Berkacak pinggang menghadapi Keven. Mengangkat dagu dengan tatapan nyalang yang sengaja digarangkan. Akan tetapi ekspresi galak Yuki mendadak berubah muram.
“Aduh,” lirih Yuki tiba-tiba. “Ugh, sshhh!”
“Kenapa?” tanya Keven khawatir dengan raut wajah menegang.
Dalam sekejap Keven menyaksikan gerakan tangan Yuki yang turun menekan perut bagian bawah. Terus-menerus menggumamkan keluhan sakit yang terucap lirih dari bibir mungil. Ditambah lagi gadis itu tiba-tiba mendudukkan diri tidak tenang dan celingukan gelisah.
“Toilet … tunggu di sini ya, jagain tas,” ucap Yuki sambil merutuki cairan mengalir dari bagian bawahnya, namun jelas bukan air kencing.
Berlari kecil beberapa langkah, Yuki tiba-tiba berbalik, ia kembali ke tempatnya semula duduk. Buru-buru Yuki membongkar isi tas dengan brutal. “Lupa, pembalut.” Yuki menyengir sambil menyembunyikan benda persegi empuk di balik bajunya. Lagi-lagi berlari terburu-buru menuju penanda bertuliskan ‘toilet’.
Sedangkan Keven yang ditinggalkan tanpa penjelasan akhirnya mengangguk mengerti. Ia tampak mengedarkan pandangan, entah apa yang sedang dicari.
...----------------...
“Yuki, anak Mama ....”
Tubuh Yuki mematung. Gerakkan tangan yang membasuh satu sama lain terhenti. Ia lantas mendongak. Ditatap lurus pantulan sosok yang dirindukan dalam cermin toilet itu.
“Ma-ma?” Berbalik, Yuki merentangkan tangan dengan haru. “Kok Mama di sini? Mama mau ke mana?”
“Kamu yang mau ke mana," ucap Mama Maria sambil mencolek hidung Yuki.
"Bisa-bisanya kamu lupain Mama. Kalau Keven nggak kasih kabar, Mama pasti gak sempat ngejar anak Mama. Untungnya juga Dimas bisa ngebut ke sini,” imbuh Mama Maria dengan cubitan gemas di pipi Yuki.
'Mas Keven? Dimas? Sejak kapan mereka jadi bestie?' batin Yuki agak geli.
“Kamu kurusan. Anak Mama nggak pernah makan lagi ya? Di sana susah kerjanya, hm?" Lagi-lagi hanya suara Mama Maria yang mengisi keheningan toilet khusus wanita itu. Sementara Yuki diam memeluk manja.
Sejurus kemudian Yuki menyandarkan kepalanya di bahu Mama Maria. Menghidu aroma wanita yang pelukannya sudah sangat lama Yuki rindukan.
__ADS_1
"Pulang ya sama Mama, mau? Mama janji kita akan bahagia kayak dulu walaupun cuma berdua aja. Apa pun yang cantiknya anak Mama mau pasti Mama kasih. Tapi jangan pergi jauh-jauh lagi ya, Sayang ... kerja di sini yang dekat-dekat aja,” lanjut Mama Maria berucap sambil memeluk erat Yuki dengan usapan tiada henti di punggung yang terasa ringkih.