Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Cinta Limited Edition


__ADS_3

“Meski aku gak ada rasa sama kamu. Aku masih punya otak buat gak terlibat hal gila. Aku tadi kebetulan ketemu Alia di mall, bukan aku sengaja pergi dengan Alia.”


Menggeleng lemah, Yuki tidak akan percaya pada omong kosong itu. “Kamu masih bisa bilang kayak gitu setelah ketahuan sering berduaan?”


“Semua hanya kebetulan, Yuki!” Geramnya lagi, jengah pada ketidakpercayaan Yuki yang semakin lama semakin besar.


“Apa pernah kamu tatap mata Kak Alia? Apa ada kebetulan di mata dia??!! Nggak!!” Urat pelipis Yuki menegang, menonjol seram di wajah mungilnya menyalurkan kekesalan lewat ujaran berintonasi rendah.


“Aku bingung. Kenapa dia harus nikah sama orang lain kalau saat ini dia malah mempermainkan 2 hati. Sama seperti kamu Mas, buat apa kamu nikahi aku?” Ucap Yuki lirih, memaksa lidah kelu nya merangkai kata lewat suara yang bergetar pilu.


“Kamu apa gak bisa mikirin perasaan sahabat kamu? Jangan aku deh, karena aku yakin mau mati sekalipun kamu gak akan mikirin aku. Tapi orang yang udah jatuh bangun sama kamu selama ini, apa kamu gak punya hati buat jaga perasaan dia?” Seloroh Yuki ketus dengan amarah yang menggelora.


Bungkam. Sosok yang sudah menumpukan dahinya ke setir kemudi hanya mampu terdiam, menelungkup kan wajahnya dan mengunci bibir rapat. Ia juga merasa tidak tertekan berada dalam kondisi yang jauh dari perkiraannya.


“Kamu gak akan paham apa yang terjadi di antara kami. Bahkan dia lebih jahat, pengkhianat.”


“Merebut Kak Alia? Apa itu yang kamu sebut pengkhianat? Bukannya yang kamu lakukan sekarang juga sama-sama jadi seorang pengkhianat? Bahkan mungkin lebih bajingan kamu.” Ucap Yuki semakin berani, terkekeh pada kalimat menggelikan yang naasnya melukai hatinya.


“Jangan seolah-olah kamu tau tentang aku!!”


Yuki semakin sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa, hanya seseorang yang tiba-tiba mendapatkan gelar sebagai seorang istri.


Bukankah Yuki kini juga sedang dikhianati oleh suaminya sendiri? Lalu untuk apa pengkhianat itu marah pada pengkhianat lainnya?


“Suatu saat nanti kamu juga akan tau alasan aku menikahi kamu. Sekarang, lebih baik kita tetap hidup masing-masing dan terlihat harmonis di hadapan orang lain.”

__ADS_1


“Semudah itu kamu bilang untuk terlihat harmonis? Aku gak mau. Lebih baik kita sudahi permainan rumah tangga ini.” Mengibaskan tangannya di depan wajah, Yuki meraup oksigen sebanyak-banyaknya, paru-parunya terasa sesak namun dengan kehampaan.


“Kamu udah nikahi aku, tandanya kamu udah melaksanakan tanggung jawab yang pernah Papa ku minta. Entah itu memang tujuan kamu agar dimintai pertanggungjawaban, intinya kamu sekarang udah membuktikan ke Papa kalau kamu udah bertanggung jawab atas aku.” Imbuh Yuki menguatkan hati dan tekadnya.


“Kamu cuma punya dua pilihan, setuju atau kamu sendiri yang akan membuat hidup mu semakin menderita.” Mengabaikan permintaan Yuki, kalimat itu terucap jelas untuk menolak.


“Gak bisa, pokoknya aku mau pisah! Jangan egois kamu! Kalau kamu gak mau, biar aku yang urus perpisahan kita!!” Teriak Yuki keras, menatap nyalang sosok yang tiba-tiba mengeratkan genggaman di kedua bahunya.


“Pisah? Jangan harap! Jangan coba-coba bertingkah atau kamu akan menyesal.” Ucapnya tegas seakan lupa jika dirinya pernah berjanji akan melepaskan Yuki suatu saat nanti.


“Setidaknya dulu kamu bisa minta tolong sama aku secara baik-baik. Gak harus kamu siksa aku kayak gini.” Merendahkan suaranya, mata Yuki berkaca-kaca. Air mata yang sekuat tenaga dibendung, terkumpul menghalangi pandangan Yuki. Panas dan buram, itulah yang Yuki rasakan.


“Aku udah pernah minta sebelumnya dan kamu tolak.”


Tubuh yang sempat memberontak melepaskan diri dari sang suami itu terpaku, menatap lekat bola mata yang sedang menatapnya, Yuki tersenyum masam. “Nggak, kamu gak pernah minta aku buat jadi istri kamu. Kamu mengikat aku secara paksa di sini.”


“Cih!! Bukannya kamu dulu dengan percaya diri bilang aku perempuan murahan yang akan melakukan segala cara untuk dapatin kamu? Di mana kesombongan yang kamu sebutkan kalau aku pasti mau kamu nikahi?” Terkekeh Yuki menertawakan kemirisan percintaannya.


Dulu Yuki berpikir memiliki kisah seperti Si Cantik dan Si Buruk Rupa tidaklah semenyedihkan itu, baik menjadi Si Cantik atau Si Buruk, keduanya tetap harus saling berjuang, namun kini jika kisahnya hanya salah satu yang berjuang sampai kapan semuanya akan baik-baik saja?


“Sekarang aku sadar, mungkin benar apa yang kamu bilang kalau aku ini murahan. Aku yang terlalu murahan dan pasaran dalam menunjukkan cinta aku ke kamu yang lebih suka sesuatu berlabel limited edition tanpa kamu tau itu barang asli atau imitasi.” Sarkas Yuki disertai seringai tipis yang tersungging di bibirnya.


“Asal kamu tau, tanpa kamu sadari yang aku lakukan juga terbatas, hanya untuk kamu aku menurunkan standar harga diri aku.” Memundurkan punggungnya, cengkraman yang mengendur itu Yuki manfaatkan untuk menepis kasar tangan kokoh sang suami.


Tes..

__ADS_1


Sebulir air mata menetes, terjatuh bebas melewati pipi, terhempas dan menjadi noda di atas serat kain pakaian Yuki. Hanya setetes, namun tampak meninggalkan jejak basah yang beruntungnya bisa menghilang menjadi uap air.


“Aku berusaha agar kamu lihat. Oh perempuan yang selalu berusaha ngejar-ngejar aku itu Yuki, cuma itu yang dulu aku pikirkan dan harapkan dari usaha aku. Aku udah menyerah untuk bisa meraih hati kamu. Aku sadar perasaan gak bisa dipaksa, tapi kenapa.. Kenapa kamu tempatkan aku di posisi ini?” Tanya Yuki dengan air mata yang semakin tidak terbendung.


Suaranya serak dengan tenggorokan tercekat. Ia seolah kesulitan menelan udara, apalagi saliva untuk membasahi kerongkongan yang seakan berubah menjadi padang tandus. Terus mengusap lelehan air mata dengan punggung tangan, pemandangan itu mampu menyayat pilu sosok yang bersembunyi di balik topeng beku.


“Sejujurnya gak apa-apa kamu gak tau atau bahkan gak mau tau tentang perasaan aku atau bahkan menganggap aku gak ada.” Ucap Yuki lagi, kali ini sambil memberikan sebuah senyuman yang dipaksakan. Namun sepersekian detik kemudian raut wajah Yuki berubah datar, sorot matanya kosong.


“Tapi sekarang posisinya kamu yang membuat aku terlihat dan terlibat di hidup kamu di saat aku udah mau menyerah. Menyakitkan. Hati ku hancur..” Imbuh Yuki lagi dengan tawa semu, tidak ada suara dalam tawa itu, hanya tubuh Yuki bergetar seolah sedang tertawa riang dengan hebohnya.


Memilukan, itu yang terlihat di mata seseorang yang sudah mengangkat tangannya. Namun hanya mengambang di udara, ia terlalu takut mengambil sikap yang justru membuat Yuki semakin bimbang.


Cinta? Tidak ada cinta untuk Yuki, itulah yang ia yakini hingga kini. Hatinya terlalu takut menyebut itu cinta, karena baginya hanya sebatas rasa bersalah karena memanfaatkan Yuki agar terbebas dari sebutan pebinor dan menyelamatkan pernikahan kedua sahabatnya.


Jika harus dikatakan egois, dirinya akui memang sudah menjadi laki-laki egois. Bahkan sangat jahat hingga menyakiti seseorang yang tidak bersalah.


...****************...


*


*


*


Gak tau deh kalau teman-teman yang baca gimana kondisi hidungnya, tapi kalau aku selama ngetik hidung ku sumbat membayangkan jadi Yuki waktu ungkapkan isi hatinya.

__ADS_1



__ADS_2