Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
By


__ADS_3

Menghirup udara segar sepuasnya, Yuki merentangkan tangan. Perlahan matanya terpejam mengenang saat terakhir kembali ke Kota B. Kala itu ia disambut meriah oleh Mama Agni dan Papa Leigh yang bergandengan mesra, sengaja saling melempar kata-kata manis serta berjalan mendahului Keven yang memasang ekspresi cemberut.


‘Kok bau?’ Mengernyit, Yuki kerutkan hidungnya seiring bibir dimanyunkan. Mencoba menahan nafas. Memblokade aroma tidak sedap yang tiba-tiba menyeruak indera penciuman.


“Udah?”


Terperanjat, Yuki spontan melotot sambil memegangi dada kiri. “Bikin kaget aja, By ... jangan-jangan bau ini kamu kentut ya?” seloroh Yuki penuh tuduhan.


“Sampah, itu.” Tunjuk Keven pada gerobak sampah yang ditarik laki-laki tua bertubuh kurus.


“Idih, nyalahin sampah. Kalau kentut bilang aja.”


“Iya-iya,” jawab Keven mengalah meski tuduhan Yuki tidak benar.


“Tuh kan bener, kamu kentut,” cibir Yuki sambil melengos dan mengibaskan rambut.


“Heboh bener ngomongin kentut,” celetuk suara dari arah belakang Yuki.


Berbalik dan mengembangkan senyuman. “Mamaa ….” Yuki berlari. Memeluk wanita senja yang juga mendekap dirinya erat. Tidak ketinggalan telapak ringkih dengan kulit punggung tangan kendur itu menepuk-nepuk pelan bahu Yuki.


“Mama kok di sini? Sama Papa? Naik taksi, kan?” tanya Yuki memberondong sambil menjauhkan badan tanpa melepas rangkulan di tangan Mama Agni.


“Itu sama Mama-Mu … sini, Dek Mar.” Spontan Mama Agni melambai. Tersenyum ramah pada wanita yang masih enerjik dengan rambut yang dicat ombre warna terang, benar-benar menarik perhatian.


“Loh Mama juga datang? Kenapa jauh-jauh ke sini? Aku kan nanti bisa ke tempat Mama,” ucap Yuki bernada merengek, berjalan gontai mendekat pada Mama Maria yang datang menghampiri. Namun mendadak kepalanya dimiringkan dengan dahi mengerut dan alis nyaris tertaut. “Sejak kapan rambut Mama kayak lampu neon gini? Gaya muda banget Mama-Ku. Ckckck, aku nggak mau loh punya Papa brondong.”


“Anak nakal.” Reflek Mama Maria menjewer telinga Yuki.


“Ad-aduh Ma-ma,” keluh Yuki sambil berusaha melepas jeweran Mama Maria. "Sakit, Ma."


“Kemarin Keven bilang kalian hari ini pulang. Jadi dari semalam Mama udah di sini. Kebiasaan kamu nggak pernah kabarin Mama.” Cubit Mama Maria sekilas tepat di hidung Yuki setelah melepas jewerannya.


Menoleh sembari memicing, Yuki berdecak. “Mas Keven nggak geng banget. Padahal aku mau kasih kejutan buat Mama.”


“Kamu gak bilang,” balas Keven sambil mengangkat bahu sekilas.

__ADS_1


“Nggak peka!” ketus Yuki dengan bibir mencebik sok sebal.


“Udah gak usah berantem. Kamu ini, ceriwisnya turunan siapa sih?”


“Eyang. Mama kan galak,” sahut Yuki cepat tanpa rasa bersalah.


Mengelus dada, Mama Maria pun berkata, “sabar-sabar … ayo Mbak Ni pulang. Keven, kamu bawa mobil Mama. Kita berhenti dulu ke lesehan ayam bakar di depan jalan pasar. Di situ terong sambelnya kesukaan Yuki.”


"Mobil?" gumam Yuki dengan sebelah alis terangkat, tentu masih bisa didengar Mama Maria yang berdiri di sampingnya.


"Rental."


"Oh, kirain Mama beli."


Sejenak gadis itu mengamati Keven mulai mengangkat tas dan beberapa kardus oleh-oleh. “By, mau dibantu?” tanya Yuki.


“Nggak usah,” jawab Keven disertai gelengan.


“Bagus. Memang mau nyuruh kamu aja, hehe …,” kekeh Yuki dengan raut berbinar sambil beranjak meninggalkan Keven. Ia rangkul kedua lengan wanita tua berbeda usia itu di sisi kanan kiri, mengapit dirinya di tengah yang heboh sendirian.


“Ayo cepetan, Ma. Cah kangkung di sana juga enak. Aku udah ngiler banget," sambung Yuki sambil menelan air liur yang memenuhi rongga mulut. Menggoyangkan kepala ke kanan kiri seirama langkah kaki yang saling berlawanan.


“Biar Mas Keven aja, Ma. Itu berat,” cegah Yuki kala Mama Maria hendak berbalik membantu.


“Udah tau berat nggak dibantu.”


“Kan angkat beban biar makin macho. Lagian cumi kering seberat apaan sih ….” Yuki memutar bola mata malas seiring dengan bibir yang ditarik datar.


“Biarin aja, Dek Mar. Anak itu lama nggak olahraga. Perutnya udah mirip buntelan, gelambir-gelambir,” imbuh Mama Agni seakan membela Yuki. Sontak mantan mertua dan menantu itu saling berpandangan dengan tawa renyah yang mengiringi anggukan riang.


Sedangkan Keven dan Mama Maria spontan menggeleng bersamaan. Hanya saja ada seulas senyum tipis yang terbit di bibir Keven. Berbeda dengan Mama Maria yang menghembuskan nafas pasrah.


“Okay, let’s go, Pak Mansu!” celetuk Yuki sambil mengangkat tangan kanan yang terkepal saat deru mesin mobil baru saja menghilang dari pendengaran.


Seketika dada Keven mencelos. Ia spontan mencengkeram setir kemudi sambil menatap sekilas pada Yuki, gadis yang menyengir tanpa dosa.

__ADS_1


“Mansu siapa?” tanya Keven dengan mempertahankan ekspresi datar. Menahan kilatan ketidaksukaan imbas rasa was-was dari jantung berdebar kencang. Dirinya tetap harus fokus pada jalanan di depan. Berusaha memarkirkan mobil di lahan sempit tanpa merusak kendaraan di sekitarnya.


“Gak tau.” Mengedikkan bahu acuh, Yuki seolah tidak menyadari jika laki-laki yang duduk di sebelahnya sudah kepanasan, terbakar api cemburu. Nyatanya diam-diam Yuki mengulum bibir berkedut menyembunyikan tawa.


“Kamu ini malu-maluin aja. Mulutnya dikunci dulu," ucap Mama Maria yang duduk di kursi belakang. Wanita itu cukup peka pada perubahan raut wajah Keven yang terpantul dari spion dalam. Terlihat pula kedua wanita tua yang duduk di kursi belakang itu saling mengode tanpa suara.


Baru saja Yuki melangkah, tubuhnya tiba-tiba tersentak, berputar layaknya berdansa namun berakhir terpental menabrak dada bidang Keven. Laki-laki itu jelas baru saja menarik pinggang Yuki dalam gerakan cepat. Membiarkan Mama Maria dan Mama Agni berlalu terlebih dahulu. Sengaja berlama-lama mencari ponsel yang sejatinya bersemayam di saku celana.


“Siapa Mansu?”


“Kamu,” jawab Yuki sambil mengusap bibir yang baru saja membentur dada Keven. Detik berikutnya ia dorong tubuh Keven agar menjauh, menepis tangan yang masih betah menahan pinggangnya. Lagi-lagi Yuki sekuat tenaga menyembunyikan tawa yang sudah menggelitik sampai ke perut.


“Gemesin banget sih By kalau cemburu," ucap Yuki sambil mencolek iseng pipi Keven. Sontak langsung dihadiahi sorot tajam dari mata yang membulat.


"Aku serius loh Mansu itu kamu. Mantan suami, mansu … kamu, kan? Matanya jangan kayak gini, serem tau. Lihat nih, merinding." Yuki bergidik sambil menunjuk pada rambut-rambut halus di lengan yang tidak benar-benar meremang.


“Ck!"


“Oh, kamu nggak percaya? Ya udah. Memang mansu itu mantan suami. Kalau gak mau percaya juga terserah. Tenang aja nanti aku cariin Mansu nama orang beneran.” Mengedipkan sebelah mata dengan genit, Yuki berlenggak-lenggok sambil celingukan. Sekejap ia berlari kecil pada arah yang bukan tujuan seharusnya.


“Bapak Mansu, bukan?” tanya Yuki menodong pada seorang tukang parkir yang sempat terbengong bingung.


“Iya, Mbak. Saya Mansu," jawab laki-laki itu dengan kernyitan halus di dahi.


“Bohong,” sahut Yuki cepat. Tanpa sadar ia mundur selangkah sambil menggeleng kuat.


“Saya Mansu. Biasa dipanggil Pak Man,” jawabnya lagi sambil menunjuk name tag bertuliskan MANSU yang dijahit permanen di sisi kiri atas saku rompi. “Ada apa ya, Mbak?”


“Jadi ini Mansu yang kamu bilang?” bisik Keven tepat di telinga Yuki, sangat kentara mengejek. Dan entah sejak kapan sudah berdiri tepat di belakang Yuki. Sukses membuat gadis itu terperanjat lalu mendengus sebal.


“Tau ah gelap!” ketus Yuki sinis. Seketika ia ingin menenggelamkan diri dalam buih di lautan.


“Jadi ada apa ya, Mbak?” tanya sosok yang katanya biasa dipanggil Pak Man itu.


“Salah orang, Pak. Saya baru ingat orang yang saya cari MAN-SUR, bukan Mansu,” kata Yuki tanpa kikuk, seakan bukan sebuah kebetulan keisengannya gagal total.

__ADS_1


“Oh, Mansur … Mansur es tebu ya, Mbak? Itu orangnya di depan.” Tunjuknya pada sosok di seberang jalan pertigaan menuju Pasar.


‘Aduh Yuki!’ jerit Yuki dalam hati.


__ADS_2