
“Enaknya yang dipeluk cogan.”
“Lucu banget kan, Sayang?”
“Ck. Kucing orang disayang-sayang.”
“Hangat, lembut, Sayang mau?”
“Mau, sini …,” ujar Yuki cepat sambil merentangkan tangan. Namun sedetik kemudian langsung mendorong mundur Keven yang menyongsong hendak memeluknya. “Bukan kamu, By. Kucingnya, K-U KU, C-I CING, KUCING!”
Keven berdecih, namun tidak urung buru-buru menangkap kucing bunting yang hampir saja berlari keluar pintu kos Yuki. Kucing yang baru setengah jam lalu dititipkan tetangga kamar sebelah, tapi sudah merebut seluruh perhatian Yuki. Maka tidak heran jika Keven sengaja memonopoli kucing itu, membuai manja agar Yuki juga memperhatikan dirinya. Cukup kekanak-kanakan.
“By, ponsel kamu … Ringgo,” pekik Yuki dari arah dapur. Ia mencuri lihat nama yang tertera di layar ponsel Keven yang tergeletak asal di atas meja. Mengurungkan niat membasuh tangan setelah puas bermain dengan Si Oyen, kucing kampung milik tetangga sebelah yang sudah kembali ke pelukan pemilik aslinya.
“Angkat aja, Sayang,” sahut Keven seraya menyusun box marinasi ayam ke dalam freezer di area ruang tamu kos sederhana Yuki.
Sesuai perintah Keven, Yuki lantas mengangkat panggilan telepon dari Ringgo. Memutar langkah yang mulanya ke wastafel menjadi menghampiri Keven.
“Oh, gitu. Ngomong sama Mas Keven langsung ya, Bang. Sebentar … By, ini.”
“Pegangin,” pinta Keven lirih agar Yuki memegangi ponsel yang nyaris menempel di telinganya.
Sejenak Yuki berusaha menyimak obrolan. Berbinar bahagia dan tetap penasaran meski sejatinya sudah paham arah pembicaraan.
“Jadi gimana? Beneran order?” tanya Yuki sesaat setelah panggilan diakhiri.
"Iya." Angguk Keven sekilas.
“Yes! Money, money. Cuan-cuan mengalir deras."
Yuki meloncat girang, menari aneh guna merayakan limpahan rejeki tidak terduga. Menggoyang pinggul dan tangan layaknya kepakan sayap bebek kala bermain air.
Sedangkan Keven bergegas merinci kasar bahan yang harus segera dibelanjakan. Mengakumulasikan total transaksi sesuai jumlah pesanan yang Ringgo sampaikan. Semuanya benar-benar terperinci dalam catatan ringkas di ponselnya. Namun tidak luput menertawai tingkah aneh Yuki.
__ADS_1
“Jadi kamu ke toko sekarang, By?” tanya Yuki.
"Iya. Sayang aku tinggal dulu bisa? Agak lama."
"Bisa-bisa. Udah berangkat sana, tenang aja.”
“Tolong isi ulang saus, gar-”
“Aku hafal tugasku. Gak usah khawatir aku salah masukin garam jadi gula. Gak bodoh-bodoh banget kok. Lidahku masih berguna buat icip-icip kalau ragu."
“Ya udah, aku tinggal ya?”
“Iya. Cari uang yang banyak buat modal kawin. Biar bisa beliin aku kebaya … semangat kerja, fighting!! bye Ayangku,” ucap Yuki sambil melambaikan tangan. Padahal Keven belum juga beranjak dari ambang pintu, masih sibuk merogoh dan mencari-cari kunci motor di saku celana serta waist bag.
...----------------...
Dua jam berlalu setelah kepergian Keven, Yuki memilih bermalas-malasan di kamar. Segala bahan masakan untuk berjualan malam hari itu sudah disortir dan susun rapi di sepetak kecil ruang tamu. Tinggal menunggu Keven datang menggunakan mobil Papa Leigh untuk mengangkut semuanya.
Akan tetapi sepertinya hari itu tidak akan berakhir sesuai rencana mereka. Yuki terkesiap pada sebuah dering panggilan yang belum diangkat. Tiba-tiba perasaannya gelisah tidak menentu dengan jantung berdebar hebat tanpa sebab.
Tanpa kata Yuki meraih tas selempang berisi uang seadanya. Berlari keluar dengan tangan bergetar. Berulang kali berusaha memasukkan kunci ke lubang knop pintu.
“Argh!” pekik Yuki frustasi sambil melempar kunci sembarangan. Ia kesal, marah dan putus asa karena tidak mampu untuk sekadar mengunci pintu. Derai air mata benar-benar telah menutup sempurna penglihatan Yuki.
‘Tolong jangan tinggalin aku lagi. Tolong!!’
Lagi-lagi Yuki berlari. Menapak pada jalanan kasar tanpa alas kaki seraya mengobrak-abrik isi tas, mencari ponsel yang sejatinya tergeletak di atas kasur.
Dengan pikiran kacau Yuki meraung, berteriak sambil menarik rambutnya. Mengepalkan tangan memukul dada yang sesak. Sontak pemandangan itu menarik perhatian seluruh penghuni kos dan warga sekitar.
Semua orang berkumpul. Bertanya tanpa sedikit pun mendapat jawaban. Telinga Yuki seolah tuli. Ia lantas berbalik berlari ke dalam kamar kos. Ingatannya kembali setelah sekian saat kebingungan bagaimana cara menghubungi Keven. Tentu gerak-gerik Yuki diikuti oleh beberapa orang yang khawatir, panik dan penasaran.
Sontak di tempat berbeda Keven menarik penuh tuas gas motor. Melaju bagai pembalap liar ugal-ugalan bersama Ringgo yang menggigit bibir bawah ketakutan.
__ADS_1
Sudah dipastikan, mau tidak mau laki-laki itu harus menggantikan tugas Keven hari ini. Memikul dua beban lain atas ketiadaan Yuki dan Keven.
“Sayang …,” seru Keven pada Yuki yang berusaha ditenangkan banyak orang, termasuk Ibu Kos yang merupakan teman dekat Mama Maria.
“Ma-ma … Mama By, Ma-ma ….” Kalimat terbata-bata Yuki terputus. Gadis itu terkulai lemah dalam dekapan Keven. Antara sadar atau pingsan, Yuki tidak mampu menguasai serangan panik yang menghantam.
“Tante, ini?” tanya Keven seraya membopong Yuki. Sedetik matanya berkeliling mencari jawaban dari sorot-sorot iba yang mengarah pada Yuki.
“Maria kecelakaan.”
Kalimat berisi dua kata itu sukses membuat Keven terbelalak.
“Sekarang udah ditangani. Tante tadi udah hubungi orang yang bantu di sana. Pergi ke sana pakai mobil Tante, ada supir. Jangan bawa sendiri, bahaya. Alamat rumah sakitnya Tante kirim ke Yuki. Kamu lihat dari sana. Pak supir juga udah tau … Dek, ambilin minyak angin bawain buat Kak Yuki.”
Suasana begitu mencekam di sepanjang perjalanan. Jarak tempuh menyusut secara cepat, namun tidak juga membuat mereka dalam waktu dekat sampai ke tempat tujuan.
“Mama pasti baik-baik aja kan, By? Aku malu-maluin banget mendadak heboh sendiri, padahal sekarang Mama pasti lagi diobati, hehe …,” ucap Yuki parau. Helaan nafasnya yang berat berusaha menghempas kecamuk di dada dan pikiran. Kekehan simpul itu berusaha menipu dirinya sendiri yang terperosok pada praduga mengerikan.
“Iya, Mama pasti baik-baik aja. Kita harus lebih tenang. Berdoa supaya semuanya berjalan lancar.”
“Untungnya nikahan kita undur dikit. Jadi kalau Mama ada luka-luka minimal tinggal bekas-bekasnya aja. Semoga gak parah sih.”
"Semuanya pasti baik-baik aja." Hanya itu yang bisa Keven ucapkan. Pikirannya juga kacau. Kilasan ingatan kala Mama Maria berulang kali berkata lega bisa menitipkan Yuki padanya terus berputar.
Kini keduanya saling memeluk. Menyalurkan energi untuk saling menguatkan.
Sayangnya diam-diam tangis Yuki tidak juga berhenti. Meski tanpa isakan, tapi lelehan bulir air mata yang diusap kasar itu terus luruh. Tetesan itu membasahi baju Keven sampai menembus hingga melembabkan kulit.
"Minum dulu ya, Sayang."
Yuki menggeleng, menolak sembari membenamkan wajah ke dada bidang Keven. “Aku masih kenyang, By."
Keven tau Yuki berbohong. Bahkan kedua sudut bibir yang tertarik samar itu palsu. Tangan Yuki terus gemetaran. Gadis itu berulang kali meremas jemari dalam kepalan. Sementara itu kepala Yuki berdenyut sakit karena terlalu banyak menangis.
__ADS_1
...****************...
Mohon maaf yang nulis pilih kasih sama Yuki, dibuat nangis mulu🙂 Tapi Terima kasih untuk semuanya yang hebatnya tetap setia nungguin kelanjutan kisah Yuki🥰