Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bukan Mata-Mata


__ADS_3

“Ini analisis penilaian aku dan Saka. Masing-masing dari kami mencoba mempertimbangkan usulan pekerja yang memang sempat kami minta. Tapi buntu.” Tutur Keven sambil menyodorkan beberapa helai lembaran berisi hasil analisis miliknya dan Saka yang sudah disatukan.


“Rencana kita buat himpun saran dari pekerja fix gagal total. Setelah aku pikir-pikir justru mereka itu salah tanggap ke restoran kita yang mau bangkrut. Padahal di sini cuma butuh pandangan mereka tentang cara menarik lebih banyak pengunjung.” Ucap Saka putus asa, mengusap wajahnya dengan kasar.


Sebenarnya dengan terus meningkatkan kualitas pelayanan dan menu andalan atau sebatas tetap mempertahankan citra restoran yang diusung sudah cukup memperkokoh eksistensi dari restoran mereka.


Keadaan restoran dalam kondisi cukup baik, hanya saja Saka dan Keven berpikir untuk memulai sesuatu yang baru, namun mereka kehabisan ide. Jelas keinginan mereka itu tidak lepas dari sebuah alasan yang tidak menutup kemungkinan pelanggan tetap restoran mereka juga akan beralih saat mulai bosan.


Kini kedua laki-laki itu termenung seolah sibuk memikirkan hal yang sama, berkomunikasi lewat telepati dalam lamunan masing-masing. Sedangkan Alia fokus meneliti berbagai rincian data perkembangan restoran setahun terakhir beserta analisis konyol mengenai usulan dan respon pekerja.


“Kenapa kalian gak buat akun sosmed?” Tanya Alia tiba-tiba, melipat tangannya di depan dada sambil memandangi Saka dan Keven bergantian.


“Darling.. Kamu kan tau kalau aku gak terlalu bisa ngurus akun sosmed. Apa lagi si Keven ini. Belum lagi kita berdua lagi coba bangun anak cabang dari restoran ini. Kamu paham kan, Darl?” Ucap Saka sambil menaikan dagu Alia, menatapnya dengan sedikit malu. Gaya nya saja selangit sok kekinian, nyatanya baik Saka maupun Keven sama-sama gaptek.


“Pasti orang lain gak akan ada yang nyangka kalau kalian ini sebenarnya udik, gaptek, terus katrok juga.” Cibir Alia dengan tatapan mengejek.


“Jangan diperjelas, Darl..” Rengek Saka pada Alia, tangan kanannya bergerak merangkul bahu Alia, membiarkan kepala wanita nya menyandar di bahu kokoh miliknya. Tanpa menyadari ada hati yang terusik dengan kemesraan mereka berdua.


Pemandangan itu secara nyata langsung membuat dada Keven berdenyut sakit. Tidak ingin berlama-lama berada diantara Saka dan Alia, namun urusan mereka belum selesai. Terus memasang ekspresi datar, Keven mencengkram kedua lututnya erat. Berharap ia bisa segera menetralkan denyutan semu yang memilukan.


“Intinya sekarang ini lebih baik kita coba terjun pemasaran di sosmed. Gak ada salahnya kita buat event, kasih kupon atau diskon khusus di hari tertentu. Aku pikir itu bagus untuk permulaan.” Celoteh Alia masih dalam posisi bersandar manja dan nyaman di bahu Saka, mengetukkan jemari lentiknya ke atas meja dengan ritme teratur.


“Kita perlu admin untuk handle pemasaran di media sosial. Sekarang ini kalau gak mengikuti perkembangan zaman, kita bisa kalah saing. Menu kita yang autentik masih bisa diterima pasar. Tapi kalau kurang gencar promosi di sosmed resto ini gak akan ada peningkatan. Gak rugi sih, tapi kenaikan kurva keuntungan sedikit malah nyaris konstan. Kasarnya restoran ini gak berkembang.” Tukas Alia lagi, menembak tepat pada fakta yang ada.

__ADS_1


‘Kayaknya bakal lebih laris kalau dibuat fusion food. Apa lagi kalau ala street food. Cuma standar resto ini bisa turun sedikit, tapi lebih ramah dikantong semua orang.’ Gumam seseorang di balik dinding pembatas, ia sedari tadi diam-diam mencuri dengar pembicaraan Keven, Saka dan Alia.


“Ya udah, jadi sekarang ini coba buat akun official resto kita. Tapi sebelumnya seperti yang Alia bilang tadi, kita butuh cari admin yang akan handle akun itu nantinya.” Ucap Keven menarik poin kesimpulan dari diskusi kecil yang mereka lakukan. Tangannya mulai menyusun satu per satu lembaran yang berserakan di atas meja bundar.


“Bisa dari anak-anak di sini aja, Kev. Mungkin aja salah satu dari mereka ada yang udah handal atau udah paham banget tentang penggunaan sosmed untuk promosi. Bisa jadi juga diantara mereka udah terbiasa jualan online jadi sedikit banyak tau lah setting nya nanti kayak gimana.” Tutur Saka pada Keven sambil mengusap puncak kepala Alia dengan tangan kanan yang tadinya digunakan untuk merangkul bahu Alia.


“Boleh juga, kita buka lowongan ini buat mereka yang udah kerja sama kita. Kalau ide-ide mereka kurang fresh, lebih baik kita coba atur sendiri secara perlahan.” Mengangguk setuju, Keven mengiyakan ucapan Saka.


“Selesai kan?” Tanya Alia tiba-tiba.


Drrt.. Drrt..


Belum juga pertanyaan Alia dijawab, suara ponsel Saka berdering nyaring menginterupsi di tengah obrolan yang tampaknya sudah mencapai titik akhir.


“Aku pergi dulu ya, Kev.” Mengangkat dagunya sekilas pada Keven, Saka beralih menatap Alia yang sudah memberikan energi tambahan lewat senyuman penyemangat. “Aku pergi ya, Darl. Semoga kali ini klien kita gak rewel.”


Beranjak dari posisinya, Saka berlalu dengan tergesa-gesa dengan langkah lebar hingga dikejutkan oleh sosok Yuki yang berdiri menempel pada dinding layaknya seekor cicak. Keterkejutan juga dirasakan oleh Yuki yang reflek meletakkan jari telunjuk kanannya di depan bibir yang dimajukan, memohon agar Saka tidak membuat kelakuannya diketahui Keven dan Alia.


“Kenapa, Hon?” Suara Alia seketika menyadarkan Saka dari keterkejutannya.


“Bukan apa-apa, Darl. Aku tadi hampir terpleset aja.” Ucap Saka lembut, berjalan maju ke arah Yuki hingga tubuhnya menghilang dari pandangan Alia. Tanpa aba-aba Saka menarik tangan Yuki untuk ikut menyingkir dengannya.


“Kamu bolos kerja ya?” Tanya Saka yang masih menggenggam pergelangan tangan Yuki.

__ADS_1


Mencoba melepaskan genggaman Saka, Yuki tetap menggeleng pelan meski tidak terlihat oleh Saka. “Siapa bilang bolos? Gak ada ya.. Ini datang kerja kok.” Ucap Yuki membela diri.


Mengabaikan jawaban Yuki, Saka menghentikan langkahnya, menatap lekat Yuki yang memasang raut wajah bersalah. “Aku kasih kamu peringatan pertama, jangan diulang lagi. Apa lagi sampai Keven tau, kamu gak akan bisa dapat peringatan, tapi bisa langsung dipecat.”


“Iya, Mas Saka, maaf.. Tadi itu gak sengaja. Lihat kan ini aku bawa alat pel? Nah tadinya mau ngepel di tempat Mas Saka diskusi itu, niatnya mau nungguin biar diskusinya selesai duluan, tapi malah keburu ketahuan kayak jadi maling.” Kilah Yuki yang masih mencoba membela dirinya. Nyatanya Yuki memang diam-diam menguping pembicaraan para atasannya itu.


Bukan sebagai mata-mata pesaing restoran Saka dan Keven, tapi Yuki hanya ingin menambah wawasan dalam kamus spesial berisi segala informasi tentang Keven. Jika beraksi terang-terangan bukan pilihan terbaik, maka Yuki harus mengganti strategi. Mungkin lewat perhatian samar yang lama-lama menjadi pekat bisa menggoyahkan hati Keven.


...****************...


*


*


*


Selamat membaca semuanya 😄 Terima kasih udah mengikuti kisah Yuki sampai sejauh ini😘


Silakan follow atau add jika mau👇


IG : @hi.onelight


FB : Hana Hikari

__ADS_1


__ADS_2