Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Jangan Bunuh Aku


__ADS_3

Seperempat nyawa yang tersisa hanya mampu menjalani segalanya dengan kehampaan. Sulit untuk mengakui kenyataan yang tinggal menghitung detik. Sesekali Keven melirik Yuki yang duduk berjarak darinya. Terpisah celah kosong yang seolah bagaikan jurang tanpa dasar yang tampak.


Tak.


Final.


Ketukan palu itu mengakhiri segalanya. Yuki bukan milik Keven lagi. Cerita mereka usai di meja hijau.


Senyum lega menutup luka terulas nyata di bibir Yuki, berbanding terbalik dengan Keven yang tanpa sadar merembeskan setetes cairan di sudut matanya yang berembun.


Semuanya terlambat. Perjuangan Keven mempertahankan Yuki gagal. Kini hanya tertinggal Akta cerai yang akan keduanya terima sebagai hasil akhir perjalanan singkat lika-liku rumah tangga mereka.


Menunduk terpengkur, Keven meloloskan nafas dengan segala penyesalan yang lagi-lagi harus diecapnya. Bodoh, begitulah Keven. Laki-laki yang masih belum bisa terlepas dari ikatan pertemanan toxic, selalu mengatasnamakan bentuk kepedulian yang kini menjadi boomerang ladang penderitaannya sendiri. Bahkan persahabatan yang dijunjung tinggi itu sudah jatuh ke dasar jurang kehancuran.


Beberapa menit kemudian, baik Yuki maupun Keven sudah berdiri saling berhadapan. Sama-sama mengulas senyum tipis dengan berbagai makna tersirat.


“Kamu ….”


Serentak, gema suara Yuki dan Keven bertabrakan. Terucap bersamaan memecah keheningan. Mantan sepasang suami-istri itu menyingkir dari kedua belah pihak keluarga yang hadir menemani. Memilih tidak saling menghindar dan berdamai dengan menjadi teman, begitu pikir Yuki. Sedangkan Keven masih ingin mempertahankan Yuki di sisinya lebih lama lagi, meski ia tau kini semua hanya sia-sia belaka.


“Kamu duluan,” ucap Keven pada Yuki.


“Kamu aja,” balas Yuki.


“Gak apa-apa, kamu aja,” sahut Keven.


“Hahaha … Oke, aku aja.” Tawa Yuki canggung. Sejenak ia melebarkan kelopak mata dengan wajah menunduk dan jari kiri menekan pelipis.


Mendongak menatap Keven, Yuki menghembuskan nafas perlahan. Lidahnya mendadak kelu, sisa perasaan itu tentu masih ada. Membekas dalam dengan segala kilasan di setiap kisahnya. Namun harus kembali diingat jika baru saja keduanya menggores kisah baru, kisah di mana kedepannya tidak ada kata ‘kita’ yang bahkan terlalu sulit untuk disebut ‘kita’ sedari perpisahan itu belum terjadi.

__ADS_1


“Terima kasih … Terima kasih kamu udah membuat aku merasakan bahagianya dicintai orang yang kita cintai. Pernah bersama kamu adalah kebahagiaan. Tapi maaf karena akhirnya aku tetap memilih berpisah. Maafkan hatiku yang gak kuat untuk bertahan lagi.” Sendu itu hadir. Membangkitkan kabut tebal yang melingkupi tidak hanya sorot mata, namun memancar dari seluruh sisi raga Yuki. Gadis itu tidak bisa menampik sebuah kesedihan yang mendera bersamaan dengan kelegaan atas terputusnya belenggu ikatan menyesakkan.


“Harusnya aku yang bilang itu,” ucap Keven tidak kalah sendu. Suaranya parau dengan bola mata memerah. Sekuat tenaga Keven mendobrak sekat di tenggorokan yang tercekat kepiluan. Meloloskan kalimat yang sejatinya bagai belati di lidah dan relung hati.


Keven mencoba tegar atas dampak kesalahan terindah yang diperbuatnya. Kesalahan yang membawanya pada cinta yang kini tengah menjauh pergi dari dirinya.


“Aku yang harusnya berterima kasih karena kamu mau mencintai aku yang brengsek ini. Gak pernah sekalipun aku memberi kamu kebahagiaan. Setiap waktu yang aku lakukan hanya menyakiti kamu, tapi kenapa saat itu kamu tetap bertahan? Aku yang benar-benar merasa kamu cintai, tapi aku juga yang menghancurkan cinta kamu. Bukan salah hati kamu, tapi aku … Kesalahan aku ke kamu terlalu besar dan nggak cukup jika hanya dibayar dengan permintaan maaf,” ujar Keven panjang sembari menengadahkan wajahnya. Air mata itu semakin menggenang. Berontak ingin dibebaskan dari bendungan pelupuk mata yang memanas.


“Kamu atau aku … Kita sama-sama bersalah. Bukannya dulu aku juga egois? Aku selalu berusaha mendekati kamu tanpa berpikir panjang kalau kamu pasti risih. Kalaupun sekarang ada penyesalan di antara kita, itu juga gak terlalu buruk. Kita masih bisa memetik pelajaran dari rasa penyesalan. Itulah yang pernah seseorang katakan untuk aku.”


“Tapi aku gak pernah menyesal menikahi kamu. Waktu yang terlewat memang gak bisa diputar ulang. Tapi percayalah jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku tetap akan bertindak egois dengan menikahi kamu.”


“Sayangnya kita gak bisa memutar waktu. Jadi berjalanlah di jalan kamu sendiri. Terima kasih udah memberi akhir yang bahagia untuk aku.”


Mata tersenyum Yuki sangat menawan, namun sekali lagi berhasil meluluhlantakkan Keven. Sorotnya jelas terlihat hampa, menyimpan sejuta kesedihan mendalam yang tidak bisa dihapuskan.


“Ini … Aku kembalikan.” Telapak tangan dingin Yuki meraih pergelangan tangan kanan Keven. Menjalarkan getar yang perlahan merambat menikam dada Keven. Jantungnya seakan dikoyak dan dileburkan seiring kedua sudut bibir Yuki mengembang tipis.


Sontak hal itu membuat Yuki menggigit kuat bibir bawahnya. Berusaha mencegah isakan yang nyaris terlepas begitu saja.


Keduanya sama-sama bungkam. Sibuk menata serpihan hati yang runtuh. Mengusap kasar pipi dan bulu mata yang basah akibat buliran yang jatuh tanpa permisi.


"Yuki, ayo!" Intonasi tegas menyela dari arah belakang. Terdengar mendesak Yuki agar segera meninggalkan Keven.


"Yuki, cepat! Gak perlu kamu buang-buang waktu sama dia lagi!" Sekali lagi suara itu menggema, namun kali ini disertai tarikan di lengan Yuki.


Menepis kuat, Yuki memundurkan langkahnya. "Papa kalau mau pulang, ya pulang aja sana. Aku bisa pulang sama sahabat aku atau sama Mama. Lagian lebih baik Papa bawa pergi istri Papa itu sebelum jambak-jambakan sama Mama di sini," tolak Yuki diakhiri dengan dagu terangkat, menunjuk pada sosok istri baru Papanya dan sang Mama yang saling menatap sengit.


"Kemarin Papa udah biarin kamu pergi sama dia. Sekarang lebih baik kamu jangan membantah. Masih banyak yang harus kita urus masalah kepindahan kamu."

__ADS_1


"Sampai kapanpun aku gak mau tinggal bareng keluarga baru Papa! Liat Papa aja masih bikin aku sakit hati, gimana kalau tiap hari harus liat keharmonisan keluarga baru Papa? Kasih aku waktu untuk kembali percaya dengan Papa. Aku memang anak Papa, tapi jangan sok mengambil tanggung jawab tanpa memikirkan luka hati anak Papa ini. Please, Pa, jangan bunuh aku dengan kebahagiaan kalian!" cerca Yuki menusuk tepat benteng terakhir yang Papa Gibran bangun.


Sungguh, Papa Gibran tidak peduli pada gunjingan dan cercaan orang lain atas perselingkuhannya. Semua itu memang benar meski di bibir selalu mengucapkan pembelaan jika semua tingkah lakunya berawal dari sikap lalai sang mantan istri.


Namun kini berbeda. Setebal apapun muka itu memasang topeng acuh, menutup rapat mata dan telinga, Papa Gibran tetap bisa melihat gadis kecil yang senang bergelayut manja padanya memasang sekat besi berduri tidak kasat mata.


“Aku pikir saat cinta yang aku kira terakhir itu hancur, maka aku tetap bisa bertahan dengan cinta pertamaku, Pa. Tapi nyatanya sosok yang menjadi cinta pertama itu juga menghancurkan semua angan, mimpi dan impian yang udah aku bayangkan dari kecil. Papa … Papa benar-benar berhasil buat aku takut mencintai. Bahkan aku gak ingin mencintai siapapun lagi setelah melihat Papa bahagia dengan dia," lirih Yuki sambil menundukkan kepala. Emosi perempuan itu membludak. Amarahnya berkobar besar hingga sulit ia padamkan.


Tangis yang bisa ditahan kala menghadapi Keven tidak bisa Yuki bendung lagi. Sesaknya berkali lipat lebih menyakitkan. Kekecewaan terbesar yang sejatinya membuat Yuki rapuh untuk bertahan dengan perasaannya. Perlahan menggerogoti hingga ia secara tidak sadar membenci kata cinta.


Terkadang luka yang menyisakan ketakutan mencintai bukan datang dari orang asing yang sengaja singgah, tapi dari orang yang mengharapkan kebahagiaan selalu melingkupi hidup sang pembenci cinta.


Sedangkan Papa Gibran yang berusaha meraih Yuki hanya mampu meremas udara kosong. Putrinya menghindar. Bersembunyi di balik punggung Keven. Tidak ingin bersentuhan dengan tangan yang sejak dulu menimangnya penuh kasih sayang. Semuanya seakan sirna karena ketamakan dunia yang dianggapnya lebih berharga.


"Seperti yang aku bilang kemarin, setidaknya kami masih berhubungan baik sampai detik ini. Jadi lebih baik Papa pergi sama Tante Inka sebelum aku melihat keributan yang buat aku malu dengan semua orang."


Lagi-lagi Papa Gibran kehabisan kata-kata. Lidah putrinya itu mirip sekali dengan sang mantan istri, selalu berucap sesuai isi hati. Namun yang pasti tidak pernah Papa Gibran sangka tingkah lakunya menyakiti sang putri sedalam ini. Ia yang terlalu bangga pada dirinya sendiri merasa rendah di hadapan Yuki.


"Ayo." Entah apa yang Yuki pikirkan, tapi ajakan singkat disertai tarikan kecil di ujung kemeja menghangatkan hati Keven yang nyaris mendingin.


Keduanya kompak melangkah pergi, berlalu dari hadapan Papa Gibran yang jelas memandang tidak suka pada mantan menantunya. Seakan mengalami dejavu, Papa Gibran hanya mampu mengepalkan tangan. Tidak mungkin mencekal anak gadisnya sendiri yang terang-terangan menolak hadirnya. Sama seperti yang terjadi kemarin sore.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Akhirnya ...


Terima kasih sudah mengikuti kisah Yuki😘


__ADS_2