Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Bunting


__ADS_3

Semburat lampu teras jelas menyorot embun di dedaunan dan rerumputan yang terlihat menebal. Samar-samar tampak kabut seakan mengepung rumah berlantai dua itu.


Lambat laun hembusan udara dingin merambat menembus dinding, menyelip dari sela celah pintu, menusuk sampai ke tulang. Praktis dua orang tua yang tidur saling memunggungi memilih bergelung erat di balik selimut, terlelap semakin nyenyak.


Namun berbeda dengan pasangan muda yang masih asik bercengkrama. Di lantai dua, Keven dan Yuki sesekali merendahkan suara, berbisik menemani keheningan dunia kala topik pembahasan terlalu intim.


"Masih sakit?"


"Dikit-dikit, tapi enak, hehe …."


Spontan Keven melabuhkan kecupan gemas di pipi Yuki. Tidak cukup sekali, namun berulang kali hingga perempuan itu merengek manja.


“Ih, udah ... lengket, By."


"Gemesin banget ketawanya.”


“Ketawanya yang gemesin atau kamu pengen lagi?” tanya Yuki sambil mencolek dagu Keven. Sejurus kemudian memainkan kedua alisnya naik turun serentak. Lalu berbaring menghadap Keven seraya berusaha melingkarkan tangan ke leher. Menyapu tengkuk dan berhenti memberikan dorongan mesra di bagian belakang kepala Keven.


"Lagi yuk, By."


Mengerutkan dahinya, Keven tentu tidak ingin menolak. Tapi bukan berarti langsung mengiyakan. Perempuan berbantalan lengannya itu mendadak terlihat malu-malu sambil memainkan rambut.


“Kemarin kan udah libur gara-gara ketiduran, sekarang lanjut terus aja. Lagian program hamilnya gantung. Berhenti dadakan gak jelas. Jadi bikin anaknya trabas aja.”


“Anak?” gumam Keven dengan seulas senyum simpul.


“Iya, kamu, aku …,” ucap Yuki terjeda. Jarinya menunjuk Keven dan dirinya sendiri bergantian. Berlanjut menyengir seraya menggerakkan jemari asal penuh kode peringatan 25 plus-plus.


“Bunting,” lirih Yuki diakhiri kekehan kecil. Mendaratkan pukulan salah tingkah tepat di bahu Keven.


“Nggak capek?” tanya Keven dengan dada bergemuruh. Gugup dan geli menjadi satu. Ditambah lagi kenikmatan yang baru direngkuh masih membekas jelas. Tentu jika harus mengulang kembali Keven sangat-sangat sanggup.

__ADS_1


“Aku kuat kok. Kamu gak mau?” balas Yuki sambil menegakkan setengah tubuhnya. Spontan selimut sebatas dada itu melorot. Seakan tanpa malu-malu menampakkan sesuatu yang sama sekali tidak terlindung apa pun. Polos dan menantang.


‘Ah, kelinci nakal.’ Seringai Keven tipis. Meremas lembut paha yang bertengger sesuka hati di atas perut. Bergerak merangsang dan menyenggol milik Keven yang dipastikan siap tempur.


“Padahal si piton udah jadi kobra. Matuk mulu gak mau tanggung jawab,” ucap Yuki seiring lenguhan berat Keven. Selaras dengan jemari ramping mengusap dada, turun menyapu perut polos Keven membentuk ukiran abstrak.


“Ya udah kalau kamu gak mau. Aku mau tidur aja.” Berbalik dan menarik selimut sebatas leher, Yuki memejamkan mata.


Bibir yang dikatup rapat itu berusaha tidak tersenyum atau bahkan meringis. Meskipun sejatinya menanti serangan lanjutan. Tidak peduli nyeri, ngilu, encok mendera sekujur tubuh. Yuki menginginkannya lagi.


Sontak Keven berdecak gemas. Gegas menempelkan tubuh bagian depannya di punggung Yuki. Menarik selimut yang terhimpit di antara keduanya. Meresapi sapuan antar kulit yang sama-sama terekspos.


“Jangan menyesal karena hari ini kamu milikku. Selamanya milikku,” bisik Keven tulus dengan sangat serius.


Tanpa basa-basi lagi Keven mendekap Yuki dari belakang. Telapak tangannya menangkup pipi Yuki hingga wajah perempuan itu mendongak. Melahap bibir yang menyeringai puas dengan rakus.


Dalam sekejap ruangan itu kembali memanas. Bukan karena terbakar, bukan pula karena sengatan. Tapi gencatan jeritan kecil yang sempat diredam justru menggelegar. Hampir saja mengalahkan gemuruh guyuran dari langit hitam di pagi yang masih gelap gulita.


...----------------...


“Hari ini nggak ke pasar, Kev?” tanya Papa Gibran sambil menatap lurus tayangan televisi yang penuh dengan iklan.


“Ada kurir, Pa. Sekarang aku cukup kontak pedagangnya. Ada supplier lama juga. Udah jauh lebih membaik.”


“Syukurlah … renovasi udah selesai?”


“Belum, sebentar lagi.”


Papa Leigh mengangguk. “Nanti kalau kamu mau ke rumah Pak Yudith, Papa ikut. Papa mau kenalan.”


“Bilang Mama juga. Nanti Mama siapin bawaan. Minimal makanan yang orang rumahnya suka,” sela Mama Agni yang berjalan dari arah dapur, lengkap dengan secangkir teh dan kopi susu serta sepiring pisang goreng. “Kita beruntung. Gak sembarang orang bisa ditolong orang sebaik keluarga Pak Yudith.”

__ADS_1


“Iya, Kev. Kamu bilang anaknya itu sahabat Yuki, kan? Rasanya Papa makin bersyukur. Pilihan Mamamu itu gak pernah salah."


"Pasti dong, Pa. Dari pertama ketemu Mama lihatnya Yuki itu lucu. Belum kepikiran beneran bisa jadi menantu. Tadinya aja Mama kira masih anak di bawah umur. Anaknya juga sopan. Padahal baru pertama ketemu, tapi Mama ajak ngobrol nyambung terus. Walaupun cara awal mereka kurang enak."


"Sebenarnya Papa juga ada ragu, Ma. Takut yang satu labil yang satu egoan. Apa lagi anak kita kan udah mau kepala tiga. Dipanggil om juga pantes-pantes aja. Tapi ternyata Yuki gak cuma sayang ke kamu, Kev. Sama kami juga udah kayak ke orang tuanya sendiri. Jujur aja Papa sama Mama tambah seneng. Tau sendiri kan Mama pengen banget punya anak cewek.”


“Loh, terus Yuki ke mana? Baru sadar Mama dari tadi gak lihat mantu. Istrimu nggak aneh-aneh lagi kan, Kev? Kemarin sore Mama cariin gak ada, ternyata nyangkul sampai ke selokan tetangga. Mama hampir jantungan dibuatnya. Buat apa coba main cangkul? Selokan mampet harusnya kamu yang bersihin. Kalau Papa kan udah tua," celoteh Mama Agni heboh.


“Nggak, Ma. Yuki di kamar,” jawab Keven santai.


Jelas Keven sudah mendengar keseluruhan cerita Yuki semalam. Bahkan sempat beradu argumen akan ketidaksukaan peraturan-peraturan baru Keven. Namun cekcok ringan itu berakhir dengan gumulan kenikmatan.


“Dasar kamu, Kev. Biar Mama aja yang panggil sarapan. Kamu ini malah diem enak-enakan ngopi.”


“Ma, gak perlu," cegah Keven. Pasalnya ia tadi meninggalkan kamar tanpa memastikan Yuki sudah benar-benar beranjak ke kamar mandi atau kembali meringkuk di bawah selimut. Tentu tanpa sehelai benang pakaian.


"Papa lihat kamu setiap hari keramas,” celetuk Papa Leigh mengalihkan perhatian. Spontan menghentikan Mama Agni yang menggebu-gebu ingin memanggil Yuki.


“Khem, iya, Pa. Panas," sahut Keven canggung.


"Jadi, Yuki masih tidur?" tanya Mama Agni tiba-tiba. Matanya berbinar penuh makna. Bukan marah karena sang menantu justru bangun kesiangan.


Mengangguk, Keven lantas berkilah singkat, "capek, Ma. Nyangkul.”


Senyum simpul di sudut bibir Keven menjelaskan segala hal di mata Mama Agni. Kebohongan kecil itu sudah tentu dimaafkan.


"Ini pasti efek jamu buatan Mama. Nanti Mama buatin lagi."


"Ma, aku gak suka," protes Keven menolak. Teringat aroma menyengat larutan kental dari aneka campuran rempah yang terpaksa ditenggak beberapa hari lalu. Meskipun separuhnya dihabiskan oleh Yuki.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih untuk dukungannya ❤ tulisanku memang belum sempurna, tapi semoga sesuai selera bacaan semuanya 🥰


__ADS_2