Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kita?


__ADS_3

“Kenapa baru sekarang, Ma? Aku kira Mama gak mau ketemu aku lagi."


Tertohok, jantung Mama Maria mencelos. Sekali lagi sebuah fakta menyentak keegoisannya. Suara lirih Yuki yang terdengar samar itu seolah membenarkan penuturan Keven sebulan silam kala beberapa kali mendatanginya.


Tidak ada seorang pun yang tidak luput dari kesalahan. Mereka semua menyakiti Yuki, bahkan Yuki sendiri pun tanpa sadar ikut menyakiti dirinya.


Sementara Mama Maria, karena sakit hati yang teramat dalam pada Papa Gibran, ia malah melimpahkan kemarahan pada Yuki. Menghancurkan anak semata wayang yang selalu dimanja. Meninggalkan segala kewajiban mencurahkan kasih sayang dengan alibi telah menebus dosa karena terus memenuhi tanggung jawab dalam hal materi.


Secepatnya Mama Maria menangkup wajah sendu Yuki. “Hei, anak Mama yang cantik … sekali pun nggak pernah Mama berpikir gitu. Kamu anak Mama. Satu-satunya kebanggaan Mama. Mama salah selama ini lebih mementingkan ikut Papamu. Mama juga salah karena setelah tau Papamu selingkuh malah nggak bersikap selayaknya orang tua untuk kamu.”


Yuki beringsut mundur. Tangannya menggantung seakan tak rela mengurai pelukan Mama Maria. “Bukannya aku cuma buat sakit hati Mama bertambah? Aku mirip Papa, kan? Mukaku, sikapku, tanda lahir di badan ini juga makanan yang kami suka … semuanya aku mirip Papa. Mama pasti jadi lebih sering terluka setiap lihat aku. Makanya aku gak masalah kalau Mama sengaja nggak banyak meluangkan waktu untuk aku. Aku memang sempat marah dan kecewa, kenapa aku harus ikut terluka? Tapi gak apa-apa, aku ngerti."


‘Ya ampun Yuki … maafin Mama, Nak. Mama yang salah udah biarin kamu sendirian selama ini. Mama salah, Nak … bodohnya Mama malah bernafas lega kamu dinikahi orang. Mama tutup mata dari apa yang sebenarnya kamu mau. Padahal rumah tangga Mama juga gagal.’


Pandangan Yuki nanar, matanya berkaca-kaca. Sejenak ia buru-buru mendongak agar bulir air mata tidak tumpah membanjiri wajah. Mengepalkan tangan menahan emosi yang meluap. Namun sekuat apa pun Yuki tidak dapat memungkiri sangat-sangat menyesakkan dada memaklumi kealfaan sang Mama.


Saat itu, Yuki hanya membutuhkan pelukan kala dirinya rapuh.


"Aku juga udah besar, Ma. Aku bisa ngurus diri aku sendiri. Jadi Mama jangan merasa bersalah atau kepikiran tentang aku lagi. Maaf … aku belum bisa nurutin apa maunya Mama. Bukan karena aku gak mau ikut Mama, tapi pekerjaan aku di sana adalah tanggung jawab yang harus aku selesaikan.” Senyum Yuki sembari meraih tangan rapuh wanita di depannya.


“Asal Mama tau, aku udah nggak manja. Bahkan selama nikah sama Mas Keven aku bisa masak, bantu ngurus rumah, udah nggak perlu Bibi lagi. Aku udah mandiri, Ma. Ini beneran, sumpah!” ucap Yuki terjeda dengan acungan dua jari tanda perdamaian.


"Sekarang aku mau Mama bahagia dengan pilihan Mama. Lupakan Papa yang udah bahagia dengan keluarganya. Semua itu udah terjadi, nggak bisa kita ubah lagi. Walaupun aku sempat nggak sebahagia dulu. Kecewa karena kalian nggak jujur. Tapi Mama Papa tetap jadi sumber cahayaku. Karena kalian aku bisa berdiri di sini menjadi bintang untuk diri aku sendiri. Aku baik-baik aja, Ma. Ak-”


Kalimat Yuki terputus. Nafasnya tersengal. Pasokan udara di paru-paru telah habis. Tapi Yuki tetap mengembangkan senyuman sumringah seakan benar-benar baik-baik saja. Sayangnya semua itu tidak serasi dengan suara yang bergetar pilu.

__ADS_1


Namun yang pasti tidak ada kebencian di mata Yuki, baik untuk Mama Maria maupun Papa Gibran. Meskipun masih terlukis jelas di ingatan Yuki bayangan kemarahan Mama Maria dan tawa sang Papa bersama seorang balita. Tentunya semua itu bercampur aduk dengan gema suara-suara merajam hati yang masih sering berdengung di telinga Yuki.


“Udah yuk, Ma, keluar. Nanti penghuni toiletnya baper lihat kita melow.” Yuki mengusap kelopak matanya yang basah. Menepuk-nepuk pelan area kantong mata dengan jari telunjuk agar terasa rileks.


"Hush! Ngomongnya!" tegur Mama Maria.


"Hehe," kekeh Yuki yang malah cengengesan.


Sedetik kemudian Yuki berbalik menatap pantulan wajahnya di cermin. Ia terbelalak kaget mendapati rona yang benar-benar seperti tomat busuk. Lantas dibasuh wajah sembab itu sembari membuang ingus, membebaskan sumbatan kental di rongga hidung.


"Ngapain kamu kayak gitu? Mau jadi penunggu pintu?" celetuk Yuki agak kaget pada Keven yang berdiri bersedekap satu setengah meter dari ambang pintu toilet khusus wanita. Laki-laki itu sekilas tampak menyeramkan dengan sorot mata tajam yang menatap intens pada satu arah, tentu pintu toilet.


"Kamu ...," ucap Keven terputus kala Mama Maria menyusul keluar dari toilet. "Ayo pergi. Kapal kamu baru aja sampai."


Plak.


"Minum ini." Keven berdiri di sisi kanan Yuki. Menenteng kantong kresek putih di tangan kiri, sedangkan tangan kanannya menyodorkan botol kaca yang masih tersegel. Ia sedang mempersiapkan diri melepas kepergian Yuki.


"Pereda nyeri?" ucap Yuki dengan sebelah alis terangkat. Mengeja dua kata yang tertulis dari wadah tidak asing karena sering kali dibeli saat ia datang bulan.


"Perutmu perlu dikompres? Mau aku bawain air hangat sama handuk kecil atau koyo aja?" tanya Keven memastikan. Ia juga menyodorkan kantong kresek yang dibawa pada Yuki.


Menggeleng sebagai jawaban, Yuki tanpa diperintah sudah meraih kantong yang Keven sodorkan. Diperiksa isinya dengan teliti. Sesekali melirik Keven dengan kernyitan selidik. "Coklat? Biar aku nggak gampang emosian?" tebak Yuki asal, namun justru diangguki spontan oleh Keven.


Terkekeh dengan sejuta rasa, Yuki sontak menoleh ke belakang. Di sana ada Mama Maria yang terlihat memeriksa tas bawaan Yuki sambil sibuk menerima panggilan telepon. Wanita tua itu jelas kerepotan dengan pekerjaan yang mendadak ditinggalkan.

__ADS_1


“Melihat sikap kamu yang sekarang rasanya persis seperti pertama kali kita ketemu," kenang Yuki dengan senyum hambar. Matanya menerawang jauh pada kilasan lama. Sedikit memercik kebahagiaan yang menggelitik relung hati.


“Maksudnya?”


“Kamu yang kelihatan cuek ternyata perhatian, baik banget. Siapapun pasti bisa baper dan pengen punya pasangan kayak kamu.”


“Kalau kamu … apa mau punya pasangan seperti aku?”


“Iya, dulu. Aku sangat-sangat mau. Tapi bukan di pertemuan pertama kita." Suara Yuki terdengar yakin. Ia hembuskan nafas kuat. Membuang pandangan ke arah orang-orang yang satu per satu berjalan beriringan di lorong kedatangan penumpang.


"Kamu nggak lupa kan sememalukan apa aku ngejar kamu? Tiada hari tanpa curi-curi pandang dan cari perhatian ... ya walaupun kamu biarin juga besoknya masih aku ulangi lagi. Anehnya saat kamu sewot aku malah senang. Aku merasa berhasil dapat perhatian kamu."


"Kalau sekarang?" Keven menggigit bagian dalam bibir bawahnya. Ia bernafas tidak tenang menunggu jawaban Yuki yang sejenak diam.


"Sedang aku pertanyakan,” jawab Yuki santai, kejujurannya terdengar ringan, namun membawa dampak besar bagi Keven.


“Ka-kamu se-rius?” tanya Keven dengan mata berbinar. Jantungnya berdegup hampir tiga kali lebih cepat. Beruntung bukan serangan jantung tiba-tiba.


Yuki mengangguk. “Hmm … sanggupkah aku bersama kamu lagi? Bisakah aku benar-benar bahagia? Karena sekedar tertawa bersama bukan prioritas utama kita saat ini, benar kan?”


Yuki mendongak. Menghadiahi tatapan meneduhkan yang tidak disangka-sangka. Meskipun begitu tangannya mencengkeram erat kantong kresek pemberian Keven.


Jujur saja, Yuki takut mengulang kisah yang sama di lembaran lama. Karena nyatanya Yuki belum menutup buku pada kisah mereka. Tepatnya belum berhasil keluar dari perasaan yang tidak mampu dihapuskan.


Bayangan Keven sering kali menghantui. Tapi hebatnya tidak pernah menyakiti Yuki. Ia justru bahagia atas kehadiran Keven meski sebatas mimpi. Mungkin benar, ia tidak cinta buta, namun terlalu bodoh akan cintanya.

__ADS_1


“Kita?” lirih Keven dengan senyum lebar. Nafasnya terhembus patah-patah karena terlalu diliputi kebahagiaan. Padahal hanya sepatah kata ‘kita’ yang ia ulangi dari perkataan Yuki.


“Iya, kita,” sambung Keven sambil memasang ekspresi bahagia yang tidak kalah meneduhkan.


__ADS_2