Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kelinci Liar


__ADS_3

Menendang dan meninju gemas udara tidak berdosa, Yuki mengacak rambutnya kesal. Frustasi menghadapi sikap dingin, keras dan galak dari seorang Keven. Ini baru permulaan dirinya melamar kerja, tidak bisa dibayangkan jika diterima dan sering bertegur sapa.


Sepertinya Yuki harus segera menghubungi Dion, Dokter yang pernah merawat Ara untuk siap sedia jika dirinya gila karena tertekan pada sikap bos yang melebihi tingkah anak gadis datang bulan.


“Keven manusia batu.. Awas aja kamu..!! Aku sumpahin jatuh cinta klepek-klepek sama aku!!” Pekik Yuki tertahan, ingin segera meluapkan kekesalan namun masih berada di depan bangunan restoran yang menjadi saksi bisu dirinya dihantam sindiran, cercaan dan berbagai pertanyaan menghujam.


“Mimpi!” Seketika punggung Yuki seakan diterpa aura dingin mencekam lewat suara ketus yang menyela. Spontan saja ucapan itu langsung membuat Yuki melotot, terlonjak kaget dan memutar tubuhnya.


“Astaga..!!” Pekik Yuki kencang sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar.


“Kok bisa di sini?” Gumam Yuki lirih, panik, takut dan malu. Sosok berdada bidang, bahu kokoh dan sorot mata tajam sedang memicingkan mata menatap lekat Yuki yang kembali menjadi patung. Hanya butuh disemen saja jika ingin membuat Yuki mematung dengan awet.


“Minggir!”


“Ha? Ap-Apa??” Tanya Yuki lantang terkesan sewot, nyatanya ia hanya sedikit terkejut dengan suara perintah singkat yang ketus dan sinis dari Keven.


Huufft..


Menghembuskan nafas berat, Keven membuang pandangannya sejenak, jengah pada respon Yuki yang lambat seakan kehilangan sinyal pemancar. “Minggir. Ini mobil aku!”


“Aaa..” Ucap Yuki melongo sambil menunjuk mobil hitam yang terparkir dan sosok Keven silih berganti.


“Maaf, Pak.. Yang tadi itu juga cuma mantra abal-abal, jangan dimasukan ke hati ya, Pak..” Ucap Yuki sopan dengan sok manis, saling mengapit kedua telapak tangannya di depan perut dan melakukan gestur membungkuk anggun bak putri raja bertemu sesepuh.


“Minggir!” Ucap Keven lagi dengan nada berat yang semakin tidak sabaran, pasalnya Yuki masih belum juga beranjak dari posisinya berdiri. Menghalangi tepat di depan pintu yang langsung terhubung pada kursi kemudi.


“Jangan cepat marah Pak Keven. Nanti level ubanannya meningkat.” Ucap Yuki sambil bergeser sedikit ke kiri, benar-benar sedikit hanya dua langkah kecil yang masih menghalangi pintu untuk terbuka lebar.


“Eits, jangan nyembur lagi!” Mengacungkan jarinya dengan mata berbinar dan senyum merekah, Yuki melangkah maju, mendekati Keven yang sudah terbelalak menampakkan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.

__ADS_1


“Nanti gantengnya luntur.” Imbuh Yuki dengan tawa kecil, memutar badan menyerong dan berlari meninggalkan Keven yang kehabisan kata-kata.


“Bye Mas Keven ganteng yang doyan marah..” Teriak Yuki lantang sambil mengerling genit, melambai dengan lompatan kecil hingga hampir menubruk sebuah pot besar berhias pohon bonsai. Hampir saja Yuki harus mengeluarkan uang untuk ganti rugi, kerja saja belum tentu diterima masa ia harus membayar kerusakan dadakan, bisa-bisa disebut sial berlevel.


“Mengerikan.” Bergidik ngeri Keven pada sikap bertolak belakang Yuki. Sangat berbeda dengan si irit bicara Yuki saat berhadapan dengannya dan Saka di ruang kerja beberapa waktu lalu.


Bak kelinci manis yang girang dan takut bersamaan, begitulah Yuki yang terlihat di mata Keven sebelumnya. Kini, Yuki yang Keven lihat sedang melompat heboh di parkiran benar-benar berubah dari kelinci manis menjadi kelinci liar dan nyaris seperti jelmaan siluman genit.


Tin.. Tin..


Terperanjat dengan tubuh terlonjak, rupanya Keven sempat terpaku pada setiap gerak-gerik Yuki. Menggeleng tidak percaya, Keven menatap sekilas pada punggung Yuki yang semakin menjauh dibawa oleh laju motornya.


“Kev.. Tunggu..” Teriak Saka sesaat sebelum Keven memasuki mobilnya.


Dengan tangan yang menggantung, Keven menoleh pada Saka yang berlari kecil sambil melambai cepat. Sekilas tingkah Saka mengingatkan Keven pada seseorang, namun entah siapa. Rasanya belum lama Keven melihat pergerakan seperti itu.


“Alia akhir bulan ini pulang..” Ucap Saka tiba-tiba, menepuk bahu Keven yang kemudian dirangkulnya.


“Terus kenapa? Bukannya bulan depan juga rencananya pulang awal bulan? Gak ada bedanya juga.” Ucap Keven remeh. Rasanya sama saja jika Alia pulang akhir bulan ini atau awal bulan depan, selisih waktunya tidak terlalu terasa jauh.


“Beda, Kev. Masa lo gak bisa bedain akhir bulan ini sama awal bulan depan? Gini ya, gue jelasin dan lo dengar baik-baik. Kalau Alia pulang akhir bulan ini berarti lebih cepat 13 hari lagi dari waktu kepulangan Alia, jelas?” Ujar Saka panjang dengan gestur bak guru mata pelajaran sejarah sedang menjelaskan panjang lebar di depan kelas dan siswanya.


“Iya, terus? Udah kan?”


“Argh, tau deh lo. Gak asik..” Mengacak rambutnya frustasi, Saka gagal menyalurkan euphoria kebahagiaannya bersama Keven yang menanggapi ucapannya dengan acuh.


“Udah kan? Sekarang minggir. Dari tadi gue mau pergi gagal terus.” Ucap Keven ketus sambil mendorong paksa Saka agar segera menyingkir.


Memacu mobil dengan kecepatan sedang, Keven fokus menikmati waktunya menuju sebuah tempat favorit. Memutar perlahan setir kemudi menyalip beberapa kendaraan di depannya dengan hati-hati, namun sedetik kemudian fokus Keven tiba-tiba terbuyarkan pada sebuah motor matic berwarna pink yang melaju bak pembalap super.

__ADS_1


“Shiit..!! Gila! Dikira jalan punya dia sendiri.” Gerutu Keven dengan umpatan yang ikut mengiringi ujarannya. Menatap sengit pengendara yang masih setia menyalip dengan lihai di depannya tanpa ampun.


“Benar-benar gila.” Ucap Keven lagi, namun kini dengan sedikit tawa. Ia cukup takjup pada kegesitan pengendara yang membuat motornya berlenggak-lenggok diantara celah sempit di antara banyak kendaraan roda empat.


Terus memandang sambil fokus pada arah tujuannya, kini mata Keven menangkap sosok tidak asing yang dihampiri pengendara gesit itu di pinggir jalan. Memanfaatkan lampu merah yang masih menyala untuk mengalihkan pandangannya, jelas sosok familiar itu ternyata kelinci liar yang sempat membuatnya bergidik ngeri.


“Rupanya yang aneh-aneh itu pasti berteman sama yang sejenisnya.” Gumam Keven sambil terkekeh memandang kehebohan Yuki di kejauhan, entah apa yang terjadi.


Sedangkan Yuki yang menggerutu kesal di pinggir jalan asik menumpahkan keluh kesahnya. Beruntung Ara cepat datang menghampirinya, meski cukup memakan waktu dan menunda agenda jalan-jalan kedua gadis itu.


“Tunggu Bang Andi ambil motor kamu. Nanti dia datang dari bengkel Papa ku sama Jona.” Ucap Ara sambil melepas helm yang dikenakannya.


“Kita gimana ini sekarang? Tadi motor aku gak apa-apa, terus tiba-tiba gas nya kayak sesak nafas. Mati sebentar, gak lama aku hidupkan lagi bisa.” Keluh Yuki dengan bibir mengerucut cemberut. Rasanya kaki Yuki ingin menendang motor yang sudah membuatnya kesal.


“Buka jok motor mu, biar aku lihat aki nya. Kali aja habis.” Mengedikkan dagunya, Ara bergerak mendekati motor Yuki. Meski dirinya tidak pernah terlibat jauh di bengkel Papa nya, namun Ara cukup paham jika hanya terkait hal-hal kecil, seperti mengecek aki motor, ganti ban, bahkan melepas pompa gas di mobil.


“Aman kok.” Gumam Ara, seketika matanya menyipit menatap Yuki penuh curiga. “Motor mu tadi kayak sesak nafas kan? Terus sempat mati tapi dinyalakan lagi bisa?” Tanya Ara dengan mata masih memicing yang hanya diangguki cepat oleh Yuki.


“Cih.. Buka tanki minyak mu. Pasti kosong melompong!! Fuel meter motor mu kan baru-baru ini rusak.”


Menepuk dahinya sekuat tenaga, Yuki terbelalak mengingat belum mengisi bensin sejak kemarin pagi. Seketika ia langsung menatap Ara dengan cengiran khas, mengacungkan dua jari tanda perdamaian dengan jari telunjuk menempel ke pipi kanan.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Masih tenang yaa.. Belum ada gelombang dan ombak yang menghantam kisah Yuki🙂



__ADS_2