Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Di Sini RumahKu


__ADS_3

Yuki menurunkan pandangan. Duduk merapatkan kaki yang terasa membeku. Digosok ujung jari-jari kakinya dengan sedikit remasan diakhir.


"Itu apa?" Tunjuk Yuki pada kantong kresek berisi strawberry cake yang Keven bawa.


"Buat kamu."


"Aku tau, pasti buat aku. Kamu kan lagi mau modus. Berusaha menarik perhatian aku. Padahal udah ketahuan kalau mau modus. Katanya cowok memang suka gitu kan, manis di awal ... eh, tapi kamu nggak deh. Pahit banget. Berarti salah yang bikin kata-kata itu," celoteh Yuki sekenanya. Menyindir Keven sesuka hati. Namun tangannya tetap dengan lihai membuka kresek dan kotak kertas yang tertutup rapat itu.


Memprotes? Tentu tidak, Keven hanya diam mengiyakan. Ia bahkan sudah sangat merindukan omelan Yuki yang sering kali bagai meledakkan gendang telinga.


"Waah ... strawberry cake, kok bisa? Kamu bikin sendiri lagi?" tanya Yuki dengan mata berbinar senang. Reflek dicolek sedikit krim dengan jari telunjuknya. Dijilat sambil menggoyangkan bahu. Tersenyum sumringah seiring krim itu menyatu dengan air liur.


Menggeleng, Keven berkata, "nggak. Aku beli di toko roti. Ada di sekitar …."


"Sebentar ya, mau ambil piring," ucap Yuki bersemangat, menyela perkataan Keven disertai kode tangan. Keceriaannya tampak nyata. Ayunan lincah kaki ramping itu bergerak cepat meninggalkan Keven.


Tidak lama Yuki sudah kembali dengan dua piring kecil memenuhi kedua tangan. Tentu sambil membawa serta pisau dapur.


Dengan tidak sabaran sepotong cake penuh krim itu dilahap. Dikunyah sambil sesekali mengernyit, menilai rasa yang memenuhi rongga mulut. Tidak mempedulikan Keven yang tersenyum puas dengan mimik wajah was-was, berharap agar Yuki tidak kecewa pada strawberry cake yang dipilihnya.


"Tapi ini baunya aja yang strawberry, buahnya nggak kelihatan secuil pun. Rasanya sih strawberry banget," keluh Yuki sambil mengamati potongan kedua yang baru saja diambil.


"Karena itu cuma pakai selai dan butter cream strawberry."


“Tapi enak. Pinter kamu milihnya. Aku suka,” puji Yuki pada Keven. Sontak dada laki-laki itu mengembang bangga seiring lengkungan di bibir yang tertarik naik.


"Kamu gak mau makan? Enak loh, nih … ayo, makan!" ucap Yuki lagi, terdengar memaksa sambil menyodorkan sepotong cake yang diambil dari piring Keven.


Membuka bibirnya yang terkatub, Keven menerima suapan Yuki. Digigit potongan cake itu sambil terus mengamati wajah gadis yang reflek ikut membuka mulut dengan kelopak mata melebar.


“Enak, kan?”


"Iya." Mengangguk, ibu jari Keven menyapu sudut bibirnya yang belepotan krim. Ia lantas mengangkat gelas kopi susu buatan Yuki. Menyeruput pelan cairan yang mulai menghangat itu.


“Aku kasih juga ke teman serumah boleh? Dia sekitar jam dua baru pulang dari Kecamatan.”


“Terserah kamu,” balas Keven sambil mengamati Yuki yang sesekali menggosok lengan dan telapak tangan. “Ambil jaketmu. Kamu bisa sakit kalau pakai kaos tipis aja. Apa rambut kamu juga masih basah?”

__ADS_1


Memegangi handuk yang melilit kepalanya, Yuki lantas membuka belitan handuk itu. Tergerai rambut yang masih sangat lembab meski tidak meneteskan air lagi. Sepersekian detik kemudian Yuki berkata, “rambut masih basah. Tadi kan kena hujan terus aku keramas. Jaketnya juga basah, lupa aku angkat dari jemuran. Cuma fokus tutup mesin air di kolam.”


Menghela nafas pelan, Keven lantas berdiri tanpa banyak bicara. Ia bergegas meraih payung. Menembus derasnya guyuran hujan.


“Kamu udah mau pergi?” tanya Yuki di ambang pintu dengan suara meninggi.


Sedangkan Keven terburu-buru membuka pintu mobil bagian belakang. Gegas ia peluk gumpalan jaket di depan dada. Mendekap erat agar tidak terkena tepisan air hujan. Berjalan cepat hingga nyaris terpeleset tanah berlumpur keorenan yang licin.


Meletakkan payung ke lantai teras yang sudah basah, sejurus kemudian Keven menyodorkan jaket miliknya pada Yuki. “Pakai ini,” ucap Keven dengan jaket tergantung di ujung tangan terjulur lurus, masih menunggu Yuki ambil.


Menaikkan sebelah alis, Yuki menunjuk dirinya sendiri. Ia seakan bertanya lewat gestur sederhana.


Berdecak singkat, Keven lantas menarik tangan Yuki, memasukkan ke dalam lengan jaket yang kebesaran. Lalu diambil handuk dari sebelah tangan yang belum terlindung jaket.


“Eh, biar aku aja,” tolak Yuki. Berusaha mengelak dengan menjauhkan tangan, namun kalah cepat oleh Keven yang menangkap lengan Yuki.


Dalam sekejap Keven sudah melakukan hal yang sama sampai gadis yang terbelalak kaget itu bagai tenggelam dalam jaket kebesaran. Sejenak Keven sedikit menggulung ujung lengan jaket itu sebatas pergelangan tangan Yuki. Berlanjut membalik badan Yuki, mendorong masuk, berlalu dari ambang pintu. Terlalu dingin akibat terpaan angin bercampur tempias air hujan.


"Aku harus pergi," lirih Keven sendu. Dihela nafas perlahan, masih dengan memegangi bahu Yuki yang membelakangi dirinya.


"Ya udah, pergilah," ucap Yuki tanpa beban. Menoleh ke belakang sambil berusaha membalikkan badan.


“Buat apa?”


“Pulang ….”


“Mau pulang ke mana? Di sini rumahku saat ini,” ucap Yuki getir. Pandangannya seketika mengedar, mengamati pola karpet dengan sorot yang berubah nanar.


“Sekarang di mana aku tidur, mencari makan dan berjuang untuk hidup, di situlah rumahku. Jadi kalau kamu mau pulang ke Kota B, silakan. Kamu ke sini juga atas kemauan kamu sendiri. Jadi ... ya silakan aja kalau kamu mau kembali ke Kota B. Suka-suka kamu," imbuh Yuki cukup panjang.


“Kamu bisa pulang ke rumahku, ke rumah Mama Papa. Mereka pasti senang kalau kamu pulang.”


“Bukan pulang, tapi bertamu. Udah nggak pantas aku sebut diriku pulang kalau ke rumah keluarga kamu.”


“Makanya, kenapa kita nggak jadi keluarga lagi?”


“Lemes banget bibirmu! Dikira masak air segampang itu!” Mendelik sinis, Yuki memilih pergi dari hadapan Keven. Ia duduk menutup kotak strawberry cake, lalu bersandar pada dinding dingin sambil merapatkan jaket Keven.

__ADS_1


“Selama aku nggak di sini, jangan lihat laki-laki lain. Jangan ada selain aku," celetuk Keven memberanikan diri bersikap posesif.


Memutar bola matanya malas, Yuki menatap Keven datar. “Kamu berharap aku jawab iya? Gila! Kamu pikir mata aku bisa tertutup otomatis kalau ada laki-laki? Suka-suka aku dong mau lihat siapa. Ya kali ada rejeki cogan aku biarin lewat. Masa setiap hari harus lihat semak aja. Gak ada cuci mata."


"Jadi kamu memang mau jelalatan gitu?" Melotot, Keven terpancing emosi. Ia mendadak terbakar api cemburu hanya membayangkan Yuki bersikap genit dengan laki-laki selain dirinya.


"Mau iya atau nggak itu urusan aku. Kamu siapa?"


"Aku ... aku ...." Tergagap Keven kesal pada jawaban yang tidak bisa ia lontarkan.


"Udahlah ... harusnya kamu bersyukur aku masih sebaik ini. Ya walaupun nggak baik-baik banget sih. Tapi karmamu itu masih kurang tau." Menyilangkan tangan, Yuki memasang ekspresi cemberut. "Dulu kamu jahat. Sadar nggak? Yang sepele aja, berapa kali kamu maki aku gara-gara kasih kopi susu? Bahkan sampai kamu banting kan botolnya? Padahal niat aku baik, mau kasih sesuatu yang kamu suka. Meskipun memang modus banget apa yang aku lakuin itu.”


"Tentang botol, aku gak pernah niat buat pecahin. Nggak sengaja. Lagi pula aku nggak bermaksud memaki kamu, Ki. Aku hanya mencoba tegas supaya kamu berhenti berharap," ucap Keven penuh pembelaan. Sepasang alisnya berkerut sedih dengan bahu kokoh yang turun melemah.


"Sama, sekarang aku juga lagi mencoba tegas supaya kamu berhenti berharap. Seandainya kamu beneran udah cinta sama aku, harusnya kamu tetap bisa bahagia kalau lihat aku bahagia, kan? Meskipun bahagiaku bukan sama kamu."


"Bullshit! Aku akan bahagia saat melihat kamu bahagia itu benar. Tapi semua tetap menjadi omong kosong jika aku harus melihat kamu bahagia dengan laki-laki lain. Aku nggak akan pernah bahagia."


"Karena kamu egois," cibir Yuki.


"Benar. Aku egois. Aku serakah. Maka dari itu aku minta jangan pernah ada kata kita jika itu tanpa aku ... kamu pasti kembali. Aku yakin dan aku akan bersabar menunggu kamu."


"Dari dulu kamu selalu seperti ini. Entahlah ... aku capek. Aku mau tidur. Silakan keluar dan pergi." Tunjuk Yuki pada pintu yang masih terbuka lebar.


"Hah ... istirahatlah." Menunduk menyesali perpisahan yang telah lama terjadi, Keven sejenak kembali mendongak. "Maafin aku yang lagi-lagi membuat kamu kesal. Tapi apa yang aku bilang barusan, aku serius."


Memilih diam sambil memalingkan wajah, Yuki mengatur nafasnya yang memburu. Suasana menyenangkan di awal kedatangan Keven sudah hilang. Kini Yuki hanya ingin menahan kekesalan untuk menghemat tenaga.


Bagi Yuki, baik dulu maupun sekarang, Keven selalu menyebalkan. Namun apesnya tidak bisa Yuki benci laki-laki egois yang pernah sangat dicintainya itu.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih untuk semuanya yang udah dukung tulisanku ini😍 Jangan lupa tinggalkan jejak jempol😘


__ADS_2