Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Senja yang Bersembunyi


__ADS_3

Bibir mungil itu terus bergumam, menghafal setiap untaian kata yang tersusun menjadi pokok bahasan yang lugas. Sesekali terhenti sejenak guna membuang udara yang mengganjal paru-paru. Yuki masih menatap layar laptopnya yang menyala, memindai setiap kalimat yang tertera dalam slide power point, meneliti satu per satu agar tidak ada yang terlewat, apa lagi kalau sampai salah ketik.


Pagi ini dirinya masih bisa bersantai, tapi bukan benar-benar bersantai. Banyak yang harus Yuki persiapkan, namun jelas bukan segala macam keperluan sidang yang hanya tinggal memasukkan laptop ke dalam tas, melainkan mental yang harus diperkuat. Jadwal sidang skripsi yang berlangsung tepat pukul setengah 11 siang nanti sedikit banyak membuat Yuki gugup, bahkan kurang berselera makan meski lambungnya sudah berdendang riuh.


Srak.


“Apa yang kamu harapkan, Ki?” tanya Yuki pada dirinya sendiri. Tersenyum kecut dengan getir mencekat tenggorokan. Entah apa yang sedang ditunggunya, tapi jelas hanya guliran sampah plastik akibat tiupan angin yang memenuhi lensa mata Yuki.


Ditutupnya gorden yang sempat disibak. Dihela perlahan nafas berat lewat mulut. Sejurus kemudian Yuki meraih tas ransel berisi seluruh perlengkapan perang. Beratnya terasa bertambah berkali-kali lipat karena level kegugupan Yuki meningkat.


“Yuki, ayo!” teriak Dimas dari balik pagar. Ternyata pemuda itu sudah duduk manis di atas motor, menanti Yuki yang baru saja mengunci pintu kamar kos. Tentu saja Dimas tidak sendiri, ada Ara bersamanya. Keduanya datang bersamaan dengan motor masing-masing.


Mengulas senyum tipis, Yuki berlari kecil tergopoh-gopoh. “Aku gugup banget nih. Takut pingsan pas baru pembukaan.”


“Nanti udah mulai presentasi juga santai. Aku kemarin juga gitu, Ki,” ujar Ara.


“Ya udah, berangkat sekarang aja. Mau ikut aku atau Ara?" Dimas menyalakan mesin motornya, mendorong mundur sejengkal agar tidak menyenggol bagian belakang motor Ara.


"Ara aja, mau ghibah dulu," sahut Yuki ringan.


"Halah ...."


...----------------...


“Aaaaaa … Akhirnya tinggal revisi dikit, tanda tangan, jilid terus distribusi, Geng … Otak ku bentar lagi bisa cuti. Akhirnya-akhirnya …,” celoteh Yuki heboh. Ia memeluk kuat 5 tumpuk skripsi miliknya yang sudah disetujui oleh 3 penguji dan 2 pembimbing. Lega rasanya setelah satu beban itu lenyap.


Masih dengan bibir yang mengembang, Yuki mengedarkan pandangannya. Mengamati setiap sudut gedung fakultas, nihil, tidak ada sosok yang memenuhi pikiran. Sontak senyum sumringah itu luntur.


"Ada apa?"


"Gak ada. Cuma masih nervous," jawab Yuki sambil meremas jemarinya. Matanya melirik sekilas ke ujung lorong. Masih sama, tidak ada seorang pun di sana.


“Aku ke toilet dulu ya, Ra? kebelet pipis.” Berlalu tanpa menunggu jawaban, Yuki meninggalkan berbagai tumpukan lembaran yang sempat dipeluknya erat-erat.


Maka di sinilah Yuki saat ini, menertawai pantulan dirinya di cermin toilet hingga membuat seorang adik tingkat mengurungkan niat buang hajat.


“Kamu kenapa sedih? Lucu …,” lirih Yuki sambil menyalakan ponselnya. Tidak jelas kalimat tanya itu ditujukan untuk siapa, tapi bisa dipastikan bukan untuk makluk tak kasat mata yang mengambang tidak jelas.


Membuka aplikasi hijau yang menyimpan cuitan pesan berisi janji, Yuki mendesah kasar, membuang udara panas dari mulutnya. Sorot matanya menyimpan kekecewaan pada cuitan janji manis. Benar, janji seorang Keven yang akan hadir sebelum Yuki melaksanakan sidang. Sebuah janji yang tercetus kala Yuki menolak halus ajakan makan bersama, tentu bukan hanya berdua dengan Keven, melainkan juga bersama Mama Agni dan Papa Leigh. Yuki takut jika dirinya kembali goyah pada tatapan sosok senja yang membuatnya tidak kuasa.


'Teman gak perlu berkencan. Teman ... Jangan baper!'

__ADS_1


Rasa kecewa perlahan membesar, melingkupi Yuki yang mulanya tidak berharap banyak. Namun ternyata di sudut hatinya benar-benar menantikan kehadiran seorang Keven. Entah apa maksud hati Yuki.


Siapapun ... tolong ingatkan lagi pada Yuki jika tinggal menghitung jam dirinya dan Keven bukan siapa-siapa lagi.


‘Stop Yuki! Dia itu siapa? Cuma calon mantan suami. Sadarlah wahai calon janda muda paling cantik!’ Mengetuk-ngetuk pelipisnya, Yuki bergumam dalam hati.


Sedangkan Keven yang memenuhi benak Yuki sibuk mengumpati seseorang dari sambungan telepon.


“Argh … Sialan lo, Ka! Gue udah janji ke Yuki bakal datang waktu sidang!”


[…]


“Brengsek! Sidang skripsi! Setengah jam lagi juga Yuki selesai. Pokoknya gue tinggal. Sisanya tanggung jawab lo!”


[...]


"Masa bodoh!"


Panggilan itu dimatikan begitu saja oleh Keven. Ia uring-uringan. Berulang kali menyugar kasar rambutnya yang acak-acakan. Lengan kemeja yang digulung setengah tiang sudah amburadul, sebelah melebihi di atas siku, serta yang satunya lagi sudah menjuntai sampai ke pergelangan tangan. Kusutnya jangan ditanya lagi.


"Kamu mau pergi?" celetuk datar suara dari belakang Keven. Terdengar lirih namun juga sarat ketidaksukaan.


Memutar tubuhnya, Keven mengangguk yakin.


"Saka sebentar lagi datang," jelas Keven.


"Terus kalau Saka datang, kamu pergi? Nggak, Kev! Cukup kamu temani aku sampai orang tua aku sampai. Mereka pasti lebih nyaman kalau tau aku sama kamu."


“Sebentar lagi Saka sampai. Dia yang akan temani kamu.” Mengabaikan perkataan Alia, Keven memalingkan wajahnya, kembali sibuk dengan ponsel di tangan.


“Gimana kalau perut aku tiba-tiba sakit kayak tadi?”


“Ada Dokter di sini. Bahkan aku akan minta perawat untuk jagain kamu," tegas Keven. “Aku pergi.”


“Pasti karena Yuki, kan? Kenapa kamu jadi gak peduli sama aku gara-gara dia?" ucap Alia lantang, menghentikan kaki Keven yang baru menjauh 3 langkah. “Aku udah sabar ya tentang dia. Aku udah nurutin mau kamu untuk batasin komunikasi, bahkan stop ketemuan. Mau fokus berjuang selama proses cerai? Bullshit!! Aku tau itu alasan kamu aja. Pasti dia yang minta kamu jauhin aku.”


"Kita udah pernah bahas ini. Berulang kali aku kasih tau kamu, bukan karena Yuki, tapi kita yang kelewatan. Seandainya kita tau batasan kita masing-masing, semua ini gak akan kacau," jawab Keven tanpa berbalik menatap Alia. Laki-laki itu mengepalkan tangan, meremas jemari yang reflek menyakiti kulit telapak tangannya dengan hujaman kuku. Lama-kelamaan Keven jengah dan bosan harus menghadapi sikap Alia yang selalu menekan, memonopoli hidup Keven yang harus berotasi hanya pada Alia seorang.


Keven tau jika Alia memang selalu ingin menjadi pusat perhatian, khususnya dari dirinya. Akan tetapi tidak melebihi kapasitas seorang sahabat yang menjelma menjadi keluarga. Namun kali ini semuanya terlalu berlebihan, sangat kelewatan batas untuk sekedar Keven sebut Alia haus kasih sayang.


"Gak, Kev. Kamu berubah gara-gara perempuan itu. Cuma aku yang harus kamu prioritaskan, bukan dia! Aku yang lebih mengenal kamu, kenapa selalu dia yang kamu pikirin?! Aku mau kembali kayak dulu, masa dimana kamu selalu jadi pahlawan buat aku, bahkan sebelum Saka hadir di antara kita. Aku tau, kamu pasti masih ngerasa bersalah tentang pernikahan aku, kan? Please, Kev, semua itu udah berlalu."

__ADS_1


“Al ....” Menurunkan suaranya, Keven menekan kemelut di dada. Ia terpaksa mengalah kala memikirkan kondisi Alia saat ini. “Sampai kapanpun kamu tetap sahabat aku. Yuki gak pernah berniat menggeser posisi kamu sebagai sahabat. Perhatian aku tetap sama, tapi caranya yang harus diubah. Bukannya kekacauan ini bermula dari kita yang nggak bisa memahami situasi di antara kamu, aku dan Saka? Yuki itu korban kita. Dan di sini aku mohon untuk kamu mengerti, baik kamu ataupun Yuki sama-sama penting buat aku. Jangan buat aku semakin gak ingin meneruskan persahabatan kita."


"Kalau gitu kamu gak perlu nemuin dia. Dia kan korban, dan korban kita itu sebentar lagi juga jadi mantan istri kamu. Gak perlu kamu pikirin lagi."


"Susah bicara sama kamu ... Terserah kamu, Al!! Aku capek hadapi kamu. Entah apa yang kamu mau sebenarnya," ketus Keven, berbalik mengabaikan Alia yang terus memanggil namanya. Ia sibuk memesan taksi online sambil merangkai kalimat permohonan maaf pada Yuki yang diyakini sudah menyelesaikan sidang skripsi.


Keven bagai terperosok lalu terkilir, sulit merangkak naik pada tempat semula yang harusnya baik-baik saja. Kehadiran Alia secara tiba-tiba, keributan di restoran, pengakuan Alia yang mengalami kontraksi, mobil mogok sampai yang terakhir berupa perdebatan tidak berujung dengan Alia. Keven benar-benar sedang meniti setiap kesialannya.


"Argh! Pe-rut sa-kit ... Keev?!" rintih Alia sambil memegangi perutnya.


Terbelalak lebar, Keven berlari menghampiri Alia yang terduduk di lantai. "Harusnya kamu diam di dalam!" tukas Keven marah. Laki-laki itu segera membopong Alia, merengkuh kuat agar ibu hamil muda itu tidak terjatuh.


Beberapa saat kemudian Keven sudah membaringkan Alia ke atas brankar, menekan tombol emergency call agar perawat dan dokter segera datang untuk memeriksa kondisi Alia.


‘Ini baru kamu, Kev.’ Senyum samar Alia menghiasi bibir yang terus merintih kesakitan. Satu yang Alia inginkan, Keven tidak lepas dari jangkauannya lagi.


...----------------...


Wajah itu semakin merengut, ditambah lagi kemeja kusut dan rambut acak-acakan, menyempurnakan tampilan menyedihkan Keven yang sejatinya tidak separah isi hatinya. Keven hanya mampu menatap remang lampu yang mulai dinyalakan. Berjongkok di samping Pos Satpam, mengabaikan kakinya yang mulai kesemutan.


“Duduk sini, Mas,” ucap Pak Satpam sambil menyodorkan kursi plastik dengan warna merah yang memudar. Ada rasa iba yang tampak menjalar dari sorot laki-laki tua itu. Pasalnya selama ini sudah berulang kali dirinya melihat Keven yang menunggui Yuki, atau bahkan diam-diam mengamati sang penghuni kamar kos paling energik itu.


“Terima kasih, Pak.”


“Non Yuki udah di telepon, Mas?”


Mengangguk lemah, Keven berusaha mengulas senyuman, namun gagal. Kedua sudut bibirnya tidak mampu menarik lengkungan naik, terlalu perih hingga ingin menangis.


Semua orang sudah dihubungi, namun tidak ada yang tau Yuki di mana. Tentunya Keven sudah menghubungi satu-satunya sahabat Yuki yang nomor ponselnya Keven simpan, tapi tetap tidak menghasilkan apapun. Justru jawaban acuh yang membuatnya terbakar amarah.


"Teleponnya bunyi lagi, Mas," ujar Pak Satpam itu sambil mengedikkan dagu ke ponsel Keven yang berdering kencang untuk kesekian kalinya. Terlihat nama Mama Agni tertera di layar ponsel Keven, bergantian dengan nama Saka yang belum lama itu juga menghubungi Keven.


Berdiri dengan sedikit limbung, Keven beranjak dari posisinya berjongkok. Ia geser ikon hijau untuk menerima panggilan dari Mama Agni. Namun sayang, jari Keven kalah cepat dari dering panggilan yang terputus.


Di sisi lain di waktu yang sama, ditemani senja yang perlahan bersembunyi dengan segelas es cappucino, Yuki diam terpaku. Raganya seakan kosong. Nafasnya sesak tersengal meski ia tidak berbuat apa-apa. Didongakkan wajah itu, menatap sosok yang memberinya kesan iba, sejenak Yuki ingin menghilang.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih sudah menanti kisah Yuki dan mendukung tulisan ku😍


__ADS_2