Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Before I Love You


__ADS_3

Bunyi renyah keripik singkong melengkapi obrolan serius Yuki dan Ara. Kedua gadis itu kini tengah duduk bersisian. Sibuk menyusun aneka kue kering buatan Tante Lauritz, orang tua Ara, serta beberapa titipan dari tetangga. Tidak ketinggalan mulut keduanya juga ikut sibuk mengunyah keripik singkong buatan Dimas.


“Lebih baik jujur deh,” lirih Ara yang berbisik agar tidak kedengaran Mama nya.


“Tapi dengar cerita Nita kasihan juga sama Angga,” sahut Yuki tidak kalah lirihnya.


“Nggak mungkin juga dilarang kalau lihat bayi itu deket sama Nita. Lagian Nita juga nggak kerja, cuma sesekali nengokin. Kalau kita gak kasih tau Dimas, nanti kalau ada apa-apa gimana? Minimal jadi bisa nemenin atau sekedar dipantau lah,” jelas Ara panjang lebar bernada khawatir.


“Iya juga sih … Dilema aku tuh. Tingkah mereka itu udah kayak orang mau kawin lari.”


“Kamu aja kali yang parno.”


“Masalahnya Nita itu masih polos. Aku takut banget kalau dia nanti dibodoh-bodohi. Kenal atau nggak sama Mas Saka, tetap aja aku nggak percaya.”


Krauk.


“Enak ya keripik pedasnya,” celetuk Yuki tiba-tiba.


“Iya. Nanti Mama mau pessn khusus sama Dimas, bikin yang super pedas buat camilan di rumah.”


“Heeh … Keluarga cabe,” gumam Yuki sambil menghembuskan nafas yang dibuang lewat mulutnya.


Meraih ponselnya, pupil mata Ara melebar. “Udah jam 1 lewat loh, Ki. Katanya interview jam 2.”


“Hah, serius? Aku lupa ….” Yuki seketika berdiri, berlari kecil menuju wastafel, mencuci tangan bekas cabai dan minyak dari sambal pedas keripik. Sekelebat kemudian gadis itu sudah heboh dengan tas make up. Mulai berjibaku dengan maskara dan polesan eyeshadow tipis.


Beberapa saat setelahnya Yuki sudah bertengger di atas motor sambil mengenakan helm. Menstater motor pelan dengan tetap mengerem.


“Jangan lupa mampir ke bengkel ya, Ki. Oli motormu disuruh ganti sama Papa.”


“Sip! Nanti habis interview aku mampir.”


“Harusnya mampir ke bengkel dulu, tapi takutnya kamu telat. Semoga aja aman di jalan.”


Tidak seperti harapan Ara, motor Yuki mendadak bagai orang yang terkentut-kentut sebelum akhirnya mati total. Panik? Tanpa ditanya pun sudah jelas, tentu saja Yuki panik.


“Mampus aku kalau beneran turun mesin,” gerutu Yuki gusar mengingat ucapan Om Yudith sebelum Papa dari Ara itu berangkat ke bengkel.


Dibukanya jok motor. Diputar penutup tanki minyak dan diintipnya bensin yang rupanya masih membludak. Seketika bahu Yuki menurun dengan tubuh yang seakan melemas.


‘Sial,’ umpat Yuki dalam hati.


Sekilas Yuki reflek menoleh ke segala penjuru yang sepi, hanya ada satu kendaraan yang berhenti tidak jauh darinya. Tapi mendadak dada Yuki berdegup pada warna dan plat nomor mobil yang familiar.


Termenung Yuki mencoba menduga-duga, menalar dan menyangkal skenario yang dibuatnya. Namun semua membeku kala mobil itu mendekat dan berhenti kembali tepat di depan motor Yuki yang mogok.

__ADS_1


“Kan beneran dia,” lirih Yuki sambil menunduk.


'Kenapa aku jadi serba salah kalau ketemu kamu lagi? Pakai pelet apa sih ini orang?!' lanjut Yuki bermonolog dalam hati.


Bagai tiupan angin yang menerpa kulit tanpa mampu ditangkap, sapaan yang terdengar basa-basi itu hanya Yuki dengarkan begitu saja. Komunikasi satu arah tanpa balasan yang seakan Yuki acuhkan terus berlanjut. Jika bisa berbusa, mungkin mulut Keven sudah berbusa karena terlalu banyak bicara.


"Gak usah, gak usah, aku bisa sendiri."


Ctak.


Terlambat, Keven sudah mengunci pengait sabuk pengaman untuk Yuki. Ia tetap mempertahankan senyuman yang dulunya jarang dipamerkan. Tentu tanpa paksaan, karena nyatanya setiap melihat Yuki ia selalu ingin tersenyum bahagia, meski setitik rasa tercubit perih.


"Kamu dari mana?" tanya Keven seolah tidak tau, padahal harinya hampir terisi penuh dengan agenda membuntuti Yuki.


Tanpa dikomando Keven selalu mengarahkan setir kemudinya ke kos-kosan baru Yuki. Setia memandangi Yuki dari kejauhan dengan kerinduan yang semakin menyayat pedih kilasan masa lalu yang tidak bisa dihapuskan. Pastinya tanpa berani Keven memunculkan diri. Ia sadar Yuki ingin menghindarinya.


Kini, siangnya menjadi waktu tersingkat merasai debaran membahagiakan kala senyum, tawa dan keceriaan Yuki melintas di pelupuk mata. Berbeda dengan malamnya yang berputar terlalu lama, bagai rotasi bumi yang diperlambat setengah kecepatan. Meski ia sudah menyibukkan diri, bergelut dengan pekerjaan yang ditinggalkan, Keven akan kembali mendatangi kos-kosan Yuki. Melihat dari kejauhan pintu yang terkunci rapat dengan tangis kering yang menyesakkan dada.


"Oh ini, aku habis interview kerja. Setelah sekian banyak surat lamaran aku kirim, baru ini yang dapat panggilan," jawab Yuki riang, ada kepuasan yang tersirat nyata di garis wajahnya.


"Bagian apa?" ucap Keven santai sambil memutar musik di mobilnya. Percayalah, tanyanya yang terdengar santai itu tidak sesantai genderang di dada yang ingin meloncat keluar.


"Admin. Jauh sih dari background ku, tapi ambil aja deh."


"Iya, ambil aja setiap peluang yang ada," sahut Keven mendukung keputusan Yuki. Sejenak hening melanda, tidak ada obrolan yang mengisi disela deru mobil yang melaju.


"Makasih infonya. Nanti aku pikirin lagi. Semoga aja hasil interview ini aku lolos dan diterima kerja," ucap Yuki tulus penuh pengharapan dengan senyum geli yang disembunyikan. Pasalnya hati Yuki tiba-tiba menghangat oleh perhatian kecil yang Keven berikan.


Sayang, kehangatan obrolan di antara keduanya tidak bertahan lama. Mereka berdua sama-sama bungkam, meresapi kesedihan yang sama dengan cara masing-masing. Terpatik lewat alunan melodi lagu Takeaway dari The Chainsmokers yang menyihir sumber cairan di sudut mata dan rongga hidung. Mencekat sakit tenggorokan dan merebakkan kelu di lidah.


Before I love you (nah, nah, nah)


I'm gonna leave you (nah, nah, nah)


(Sebelum aku mencintaimu, nah, nah, nah


Aku akan meninggalkanmu, nah, nah, nah)


Benar, dulu ini yang Keven inginkan. Meninggalkan Yuki sebelum ia terjerat pesona gadis pengganggu yang gencar melancarkan ungkapan cinta. Tapi takdir berkata lain. Nyatanya Keven sudah jatuh teramat dalam pada cintanya untuk Yuki hingga tidak mampu melepaskan, meski akhirnya harus merelakan.


Before I'm someone you leave behind


I'll break your heart so you don't break mine


(Sebelum aku menjadi seseorang yang kau tinggalkan

__ADS_1


Aku akan menghancurkan hatimu agar kamu tidak menghancurkan hatiku)


Yuki menelan paksa air liurnya, membasahi kerongkongan yang tercekik kekeringan. Ia memang sengaja meninggalkan Keven lebih dulu, takut suatu hari nanti Keven akan meninggalkannya, menghancurkan hatinya yang terluka lebih parah lagi. Cinta yang Keven gaungkan kala kalimat perpisahan Yuki pinta nyatanya bagai cambuk berduri.


Yuki memang berhasil menghancurkan hati Keven, namun hatinya sudah lebih dulu hancur, berdarah dan terpecah berkeping-keping.


"Ekhem!" berdehem singkat, Yuki meraup udara dalam-dalam, menyedot cairan yang memenuhi rongga hidung.


"Pelan-pelan aja di sini, udah mau sampai," kata Yuki dengan suara sengau, tangan kirinya terulur menunjuk deretan ruko yang telah dan mau dilewati.


"Nah, habis tiga ruko ini kiri. Itu bengkelnya," ucap Yuki lagi sebagai pengingat untuk Keven yang tetap fokus mengikuti 2 orang pengendara di depan dengan mata memerah. Terlihat salah seorang yang mengendarai motor berbeda menumpu tenaga di sebelah kaki guna mendorong motor Yuki.


"Ini bengkel Papa nya Ara," jelas Yuki pada Keven yang kedapatan mengedarkan pandangan, meneliti sebuah bengkel mobil sebagai tempat tujuan akhir mereka.


"Om ...," pekik Yuki menyapa Papa sahabatnya itu. Ia berlari kecil dengan girang, berusaha mengalihkan perhatian dari kegalauan yang baru saja dialaminya.


"Kapoklah turun mesin." Kekeh Om Yudith menakut-nakuti Yuki.


Terbelalak Yuki menggigit bibir bawahnya. Sepersekian detik kemudian ia memasang raut serius sambil melontarkan tanya, "beneran turun mesin, Om? Yaah, jadi gimana nih, Om?"


"Salahnya disuruh ganti oli dari kemarin gak datang. Padahal kalau sore ke rumah nyuruh Jona juga bisa dia ganti ... Udah duduk sana, gak usah nangis. Biar Om cek dulu." Om Yudith menunjuk kursi kayu panjang yang sebagian sudah terisi helm para pekerja.


"Mas, sini ....." Tangan Yuki melambai, memanggil Keven yang diam menyimak. Tidak mungkin Yuki mengabaikan Keven yang baru pertama kali datang ke tempat asing. Namun kepala Keven yang sedang menoleh itu membelakangi Yuki.


Laki-laki itu masih mematung dengan pucuk-pucuk bunga baru yang belum sempat mekar, namun tampak siap untuk kembali berguguran. Badai kilat dan petir yang membahana sedang bergemuruh hebat di dada Keven.


"Bang, ini ... Kemeja aja, kan?"


"Udah datang? Taruh di mobil aja."


Suara familiar menyeruak indera pendengaran Yuki. Menarik atensinya untuk menoleh dan mencari tau pemilik suara itu.


Gegas Keven memblokade arah pandang Yuki. Menarik kedua sudut bibirnya menutupi asap dari bara cemburu yang mengepul. Keven tersenyum lebar meski kesal pada sosok yang sudah tiga kali dijumpainya.


Sayang usaha Keven sia-sia. Yuki berdiri, menyembulkan kepala dari balik tubuh tegap Keven.


"Oh, Mas Dion," gumam Yuki yang terdengar jelas di telinga Keven. Sukses membuat Keven panik, tidak ingin Yuki menghampiri laki-laki yang dianggapnya saingan cinta. Namun Yuki yang kembali duduk manis seketika menyeruakkan kelegaan di hati Keven.


"Mas Keven kenapa berdiri di situ? Duduk sini." Mengernyit Yuki menepuk sisi kursi di sebelah kirinya yang kosong. Sejenak Yuki lupa pada kecanggungan yang sempat dirasainya sendiri.


...****************...


*


*

__ADS_1


*


Terima kasih udah bertahan mengikuti kisah Yuki😘


__ADS_2