
‘Mas Keven?’ gumam Yuki sesaat sebelum mobil dari lajur berlawanan melintas.
“Ada apa?”
Tersentak dengan mata membulat, Yuki menggeleng cepat. “Nggak ada.”
Diremas jari-jemari yang saling bertautan di atas paha. Sebisa mungkin mencoba menyangkal, namun juga menerka benarkah Keven yang baru saja dilihatnya. Lantas Yuki memalingkan wajah ke luar jendela yang gelap, menghindar dari tertangkap basah mata elang Dion. Sayangnya hanya sekejap, takut mendadak muncul penampakan di antara rimbunnya pepohonan dan semak belukar.
“Jangan terbebani dengan pembahasan kita tadi,” celetuk Dion sambil menatap lurus jalanan yang tersorot lampu mobilnya.
Jujur saja Dion seolah tertampar oleh perkataannya sendiri. Entah mampu atau tidak jika ia jalani, nyatanya berbicara selalu lebih mudah dari pada bertindak untuk diri sendiri. Selain itu, Dion jelas merasakan ketakutan Yuki lewat sorot mata gelisah dengan pupil mengedar liar tanpa arah yang pasti.
“Hm,” dehem Yuki agak tersendat oleh kerongkongan yang seketika terasa kering. Setelahnya kedua manusia itu terdiam. Hening menyapa tanpa pembicaraan.
Sesekali deburan ombak menghantam bebatuan terdengar riuh mengisi keheningan di dalam mobil yang melaju sedang. Masih panjang jalan berkelok dan gelap yang harus mereka lalui. Menembus di antara rimbunnya pepohonan serta terkadang melalui jalanan tepi laut dengan kuatnya deburan ombak dan angin malam yang menciptakan nyanyian antar dedaunan yang saling bergesekan.
Sedangkan di tempat berbeda seseorang sedang kebingungan karena belum juga menemukan pusat kota dalam pulau kecil yang baru saja didatangi. Benar, ia adalah Keven. Laki-laki yang 40 menit lalu baru saja sampai di pelabuhan satu-satunya pulau itu.
Menginjakkan kakinya di depan sebuah bangunan satu lantai, Keven akhirnya bernafas lega. Gegas ia masuk, menghampiri sosok laki-laki paruh baya yang menyesap kopi hitam.
“Permisi, Pak …,” ucap Keven ramah memberi sebuah sapaan.
“Iya? Mau menginap?” tanya laki-laki itu tanpa basa-basi. Terlihat matanya berbinar senang.
“Iya.” Angguk Keven dengan seulas senyum tipis. Melebarkan senyuman laki-laki tua yang terburu-buru menuju ke balik meja resepsionis. Malam itu hadir kebahagiaan lain dari kelegaan Keven menemukan sebuah penginapan setara hotel melati.
...----------------...
Tepat pukul satu siang di bawah terik matahari yang sedetikpun tidak lelah bersinar. Bagian belakang kaosnya basah, menempel di punggung yang terus mengucurkan keringat. Berulang kali jemarinya menyisir rambut cepak yang menahan buliran peluh dari kulit kepala. Sudah hampir setengah hari Keven menyusuri Desa di mana Yuki mungkin berada. Namun setitik saja informasi tidak bisa Keven dapatkan.
“Orang mana, Mas?” celetuk laki-laki berperut buncit dengan setelan kaos singlet dan celana kolor selutut berwarna hitam bergaris merah.
__ADS_1
Menoleh dengan kernyitan sekilas karena terkejut, Keven secepatnya mengulas senyum ramah. Tentu masih terlihat cukup kaku. “Dari B, Pak.”
“Oh … dari Kota. Orang proyek ya, Mas?”
“Bukan,” jawab Keven dengan gelengan singkat. “Saya numpang berteduh sebentar di sini ya, Pak.”
Menepuk sisi kosong kursi kayu panjang yang baru saja diduduki, laki-laki itu lantas berkata, “duduk aja, Mas, santai. Kirain tadi orang proyek tambang pasir. Biasa kalau sore juga banyak yang nongkrong ngopi di sini.“
“Oh gitu ya … di sini perkampungannya sebatas sepanjang jalan ini aja ya, Pak?” tanya Keven sambil menutup botol minuman penambah ion tubuh. Tentu isinya sudah habis diteguk.
“Nggak, Mas." Mengibaskan tangan, laki-laki itu beranjak berdiri, berjalan ke tepi jalanan beraspal yang sepi. Reflek Keven mengekor di belakangnya. Sejurus kemudian ditunjuk lurus pada satu arah dengan tangan kanan yang menggantung di udara. "Nah itu di tikungan sana ada jalan semen agak hancur sebelah kiri, kan? Masuk situ sekitar 20 atau 30 meter nanti ketemu jalan semen yang bagus. Itu juga tembus ke jalan aspal di ujung gapura yang belok kiri kalau dari arah pasar kota. Kalau yang di sini Kampung Laut, masuk ke sana Kampung Darat.”
"Ada kampung lagi? Bukan kebun singkong sama semak aja?"
Secercah harapan akhirnya muncul. Terlukis jelas dari pupil mata melebar dan kedua sudut bibir yang tertarik naik. Pasalnya Keven sudah sempat menyusuri jalanan di dalam sana. Penuh kebun singkong yang masih terjaga, sisanya banyak kebun-kebun tanaman lain yang terbengkalai dan hanya penuh semak belukar. Adapun jalan bercabang yang satu per satu ditelusuri tidak membawa Keven pada petunjuk apapun. Tidak seorangpun mengenal Yuki.
"Masuk lagi, Mas. Kampungnya di tengah-tengah. Di situ memang banyak kebun. Nanti kalau mau musim angin laut kuat, baru sebagian yang nggak bisa melaut ngebun. Masnya lagi nyari orang?"
Dulu Keven tidak bermaksud apa-apa, hanya spontanitas yang dikira tidak berguna. Tapi siapa sangka mungkin kala itu ia sudah mulai menumbuhkan bibit cintai tanpa dirinya sendiri sadari.
“Bu, sini sebentar … pernah lihat?” teriak laki-laki itu, melambai pada wanita berdaster merah yang baru selesai meniriskan gorengan. Dapat Keven tebak kedua orang di hadapannya ini sepasang suami istri.
“Mirip yang dibawa suami Imel. Iya ini … ituloh yang kemarin ….” Suara wanita itu tiba-tiba melemah. Tubuhnya mendekat pada sang suami, sejenak dilirik Keven dari ujung ekor mata sebelum menaikkan telapak tangan menutupi bibir yang hendak berbisik.
“Janda itu,” sambungnya sedikit berbisik, mata mendelik sekilas dengan alis mengerut kilat. Entah apa yang sebenarnya ingin disampaikan, namun suaranya masih tertangkap indera pendengaran Keven.
“Yang cantik itu?”
Plak.
__ADS_1
“Bapak!” teriak wanita itu bersamaan dengan pukulan ringan yang berbunyi nyaring. “Dasar laki-laki! Matanya jelalatan!”
“Loh memang cantik. Seumuran ponakan mu itu. Gak usah cemburuan.”
“Jadi bener ada di sini? Tolong kasih tau saya, Pak, Bu,” ucap Keven memohon, menyela perdebatan sepasang suami istri di hadapannya.
"Ini kalau gak salah ya ... tadi pagi saya ketemu ketua RT dengar-dengar siang mau ke kantor Desa bareng Mbak yang ngurus kolam. Coba Mas datang ke sana. Kalau nggak ke jalan semen yang saya bilang tadi. Ikuti aja terus jalannya sampai ketemu gang tanah pertama, masuk ke situ terus sampai ada kolam-kolam sama rumah satu. Di situ katanya Mbak ini tinggal.”
“Mas ini siapanya?” celetuk wanita berdaster merah dengan tatapan menyelidik. Bagai sedang memindai Keven dari ujung kaki sampai puncak kepala.
“Saya … saya suaminya," jawab Keven terbata. Ia juga bingung ingin menjawab apa. Jika ditanya mengapa tidak jujur saja, maka jawabannya Keven tidak rela. Ada kekosongan yang semakin menyesakkan kala kata 'mantan suami' memenuhi kenyataan.
"Tap ...." Belum sempat perkataan wanita itu terucap sepenuhnya, Keven sudah berhasil memotong.
“Oh iya, gorengannya saya beli 10 ya, Bu … tahu isi sama pisang goreng aja,” ujar Keven mencoba mengalihkan topik menarik sosok yang menatapnya penuh kecurigaan.
“Jadi 15 ribu ya, Mas. Harganya naik 500, nggak seribuan lagi. Minyak gorengnya mahal, langka. Terigu juga naik,” ucap wanita itu bagai curhatan sambil menyerahkan sekantong gorengan pada Keven.
"Iya. Ambil aja Bu kembaliannya." Angguk Keven singkat sambil menyodorkan pecahan 50 ribuan.
Beberapa saat kemudian Keven sudah berlalu melajukan mobilnya. Berdebar hebat dalam kelegaan berselimut gugup dan khawatir. Bahkan tanpa sadar ibu jarinya terus mengetuk setir kemudi. Sedetik bibir bawahnya digigit, namun sepersekian detik kemudian ia tersenyum sumringah bagai orang kehilangan akal sehat.
Sedangkan di tempat yang sedang Keven tuju, tepatnya di dalam sebuah ruang minimalis tampak ketegangan tengah memuncak. Di sanalah Yuki duduk bersisian dengan seorang wanita dan tiga orang laki-laki yang merupakan rekannya dalam kegiatan pembudidayaan lahan perikanan darat. Tentu tidak hanya mereka berlima, namun juga ada orang-orang lainnya yang saling melemparkan opini masing-masing.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih untuk semua pembaca tersayang ❤