Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Menantu Mama Yuki


__ADS_3

“Mas Keven!!” seru Yuki dengan bibir mencebik. Meskipun begitu ada senyuman yang tidak bisa disembunyikan.


“Mandi, Sayang. Baunya sampai sini.” Hidung Keven mengerut. Kulit di antara kedua alis pun berlipat. Namun masih saja Keven dengan sengaja menambah kibasan telapak tangan besarnya.


“Bau-bau gini bikin kamu nyosor kayak bebek mulu. Lagian gak perlu kamu siram-siram juga nanti aku mandi,” balas Yuki sambil merotasi bola matanya jengah. Berlanjut memainkan rambut dan berseloroh menyombongkan diri, “atau barusan kamu terpesona sampai salah ngira ada bunga yang pengen disegerin ya? Ngaku loh!? Memang sih aku ini terlalu cantik. Mana mungkin kamu gak silau. Betis mulus. Leher jenjang. Dada mon-mmph!!”


Melotot Keven membungkam bibir Yuki dengan jepitan dua jari. Jika terus dibiarkan, bisa-bisa istrinya itu mengabsen seluruh anggota tubuh yang tidak akan pernah puas Keven cumbui.


“Gak apa-apa kali, By. Kata dokter kan boleh. Kamu juga udah kode nyiram pengen basah-basahan, kan?” Mengerling genit, Yuki malah bertingkah malu-malu.


Satu hal yang perlu dikoreksi, Keven jelas tidak menyiram Yuki. Jemarinya hanya memercik sedikit aliran air yang disentil. Bahkan selang yang terus mengalirkan air itu masih tetap Yuki kuasai. Perempuan itu masih asik membasuh kakinya yang kotor, meski kini bertambah kotor oleh tanah dari polybag yang tidak sengaja tersenggol tumitnya.


“By, jangan lupa ya nanti sore kita ke rumah Ara. Kamu jangan ke mana-mana. Pokoknya sore ini stop ke tempat Mas Saka. Heran, betah banget nongkrong berdua mulu.”


“Iya. Sekarang kamu mandi dulu. Kita beli camilan.”


“Di rumah kan masih banyak, By.”


“Untuk bawaan.”


“Oh ….” Suara Yuki perlahan menghilang, namun bibir mungilnya tetap membulat.


Kepala yang entah mengapa terus mengangguk itu di mata Keven mirip mainan yang Yuki pasang di dashboard mobil Papa Leigh. Bergerak tanpa komando meski sesuai irama guncangan yang menghantam di sepanjang perjalanan.


Menjelang sore hari, nyatanya Yuki tidak datang ke rumah Ara bersama Keven. Bahkan Dimas pun sulit dihubungi saat ingin meminta tumpangan. Alhasil perempuan berbadan dua yang sudah keburu kesal dan hampir emosi tingkat dewa karena ditinggal Keven pergi itu memilih memesan ojek online. Tanpa bawaan seperti yang direncanakan, karena masih berada di mobil yang Keven bawa.


"Loh? Udah bangun si Cantik nya Bunda Ara?" Yuki beringsut mendekat. Merunduk tepat di depan stroller.

__ADS_1


Dalam sekejap Yuki melongo dan terbengong, terpesona pada mata jernih Elly, putri Ara. Bahkan bayi mungil itu tidak menangis mencari Ayah dan Bundanya walau dihadapkan situasi asing. Tentu asing karena kala membuka mata justru Yuki yang menyambutnya.


"Dda da da dda ... Dadda-da ...." Celotehan Elly memanah tepat ke dada Yuki yang berdebar hebat.


“Ya ampun gil-lucu banget,” gumam Yuki sambil menangkup pipinya sendiri. Tapi otak dan lidahnya masih sempat meralat kata gila menjadi lucu. Menjaga pendengaran suci gadis kecil yang membuatnya jatuh hati.


"Anak Bunda yang cantik haus ya?" ucap Ara lembut. Botol susu di tangan sudah diletakkan di atas meja. Berganti meraih Elly ke dalam dekapan.


"Dadda-daa ... Dda da da ...," pekik Elly kecil heboh.


"Ra, nanti kalau anak aku cowok jadiin menantu kamu ya? Aku mau Elly jadi menantu aku," celetuk Yuki sambil menatap gemas Elly yang berada di pangkuan Ara.


Ingin sekali Yuki memonopoli kepala mungil yang terus bergerak gusar berusaha melihat di mana botol susu diletakkan. Tidak ketinggalan tangan yang masih terbalut jaket tebal itu bergerak asal seolah menegaskan sebuah keinginan yang belum juga diberikan.


"Memang yakin itu isi cowok?"


"Mau ya Princess jadi menantu Mama Yuki?" ucap Yuki lagi. Tersenyum sambil memainkan tangan Elly. Lalu kembali bersuara menyerupai celotehan anak kecil. "Iya mau Mama. Ambil aja Princess yang cantik ini jadi menantu.”


"Kasihan anak aku kalau punya mertua kayak kamu, Ki. Berisik, cerewet," ucap Ara sambil tertawa kecil. "Oh ya, kamu ke sini sendiri gak masalah tuh? Hamil gini punya suami gak cerewet?"


"Biasa aja. Nanti dia juga nyusul ke sini ... kenapa? Bosan ya kamu ke mana-mana ajudan ngintilin?" Menaik-turunkan kedua alisnya serentak, Yuki jelas sedang menggoda Ara.


"Gak juga sih." Menggeleng singkat, Ara kembali melanjutkan perkataannya, "malah aneh kalau Mas Rava gak ikut. Tambah repot juga kalau Mas Rava gak ikut."


"Loh kok gitu? Kenapa?"


"Ponsel aku bisa meledak gara-gara terus menjerit."

__ADS_1


Sontak jawaban nyeleneh yang terdengar jengah seketika mematik tawa renyah keduanya. Keposesifan Rava sudah menjadi rahasia umum. Akan tetapi perbincangan dua wanita bersahabat itu tidak berlangsung lama. Sebuah suara familiar mengintrupsi dengan nada seramah mungkin.


"Ya ampun Kakak ipar makin cantik aja ... Princess juga gak kalah cantiknya."


"Mas Dion telat datang. Pasti sengaja gak mau bantu-bantu kan?" seloroh Yuki dengan bibir mencebik yang dibuat-buat. Sejatinya perempuan itu sedang menyindir Dion yang terlihat masih sangat rapi dengan setelan formalnya.


"Udah datang dari tadi, tapi gak langsung keluar. Ditahan sama Jona suruh nyuci sayur buat lalapan," ucap Dion dengan mata mengerjap lucu yang tidak teralihkan dari wajah mungil Elly.


‘Masih piyik tau aja yang mana yang ganteng. Emang beda kalau udah punya aura om-om,’ batin Yuki dengan bibir terlipat dalam. Ia cemburu karena Dion berhasil mendapatkan perhatian si bayi cantik yang baru saja melepas dot kesayangan.


"Dimas kok belum sampai juga, Ki?" celetuk Ara tiba-tiba.


"Udah di jalan kok. Barusan dia chat udah di perjalanan ke sini," jawab Yuki sambil memandang Elly yang tertawa saat tangannya gagal menangkap jari telunjuk Dion.


Tanpa sadar mata Yuki berapi-api. Ia amati setiap gerak-gerik Dion dalam menarik perhatian Elly. Dipelajari dan akan diingat benar-benar setiap triknya.


Namun sayangnya, semua yang bergelut di benak Yuki tidak tersampaikan pada sosok yang mencengkeram erat kantong berisi camilan. Di sana pada jarak sekitar tiga meter Keven berdiri di balik pintu kaca, belum beranjak keluar ke teras belakang setelah menyapa tuan rumah.


Tidak terhitung sudah berapa banyak hembusan kasar yang lolos. Bahkan urat di pelipis tampak menonjol seiring rahang yang mengeraskan menahan luapan gejolak amarah dari sekujur tubuh. Di mata Keven, Yuki terlihat terpaku takjub pada Dion.


“By,” seru Yuki. “Akhirnya sampai. Lama banget sih.”


“Hm.” Acuh dan terkesan ogah-ogahan, namun tetap berjalan mendekat. Ia biarkan Yuki bergelayut manja. Bahkan berusaha memamerkan kemesraan pada sosok yang tidak peduli atas tingkah keduanya.


Benar, dunia Dion sedang berputar hanya pada keponakannya saja. Tapi tetap tidak ada yang tau bagaimana isi hati laki-laki itu sebenarnya.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih banyak udah nungguin UP Yuki 🥰


__ADS_2