
Matahari sudah beranjak naik, hampir sejajar dengan bangunan-bangunan yang menjulang tinggi. Tapi tubuh besar di atas kasur itu baru menggeliat. Tulang dan sendinya kelelahan cukup parah.
Perlahan laki-laki dewasa itu mengerjap bagai anak kecil, mengintip dari sela kelopak mata yang terbuka tipis. Sekejap dahinya mengernyit pada bayangan samar yang masih diproses otak. Namun tiba-tiba sepasang mata mengantuk itu terbelalak kaget.
“Mama, Papa … ada apa?” tanya Keven bingung sambil mengusap kasar wajahnya. Menguap lebar meloloskan rasa kantuk yang masih bergelayut di pelupuk mata.
“Kamu gak kerja?” tanya Mama Agni lembut.
“Jam berapa?” Bukannya menjawab, Keven justru bertanya balik sambil meraih ponsel di atas nakas. Sedetik kemudian ia mengacak rambutnya yang memang berantakan seraya bergumam, “kesiangan.”
Buru-buru Keven berdiri. Berjalan dengan agak limbung sambil berusaha menghalau kantuk yang tersisa. Padahal ia baru berhasil tidur tidak sampai tiga jam setelah seharian kemarin tidak beristirahat sama sekali.
“Keven, duduk dulu. Papa sama Mama mau ngomong.” Kalimat Papa Leigh menghentikan Keven tepat di ambang pintu kamar mandi.
Menurut, Keven memutar badan menghampiri kedua orang tuanya yang duduk di tepi ranjang. Tanpa bicara, Keven bisa menebak jika ada suatu hal yang sangat penting. Terbukti dengan keberadaan Mama Agni dan Papa Leigh di kamarnya pagi menjelang siang hari itu.
“Kamu mau ke tempat Yuki lagi?” tanya Mama Agni sambil menepuk paha anak semata wayangnya itu.
“Iya, Ma. Masih ada yang harus kami siapin buat nanti malam.”
“Ke toko juga?”
“Nanti jam dua sama Yuki, Pa. Harus cek kas, stok bahan, lihat gimana perkembangan di sana,” jelas Keven sambil menatap kedua orang tuanya bergantian. Sejurus kemudian ia bertanya, “sebenarnya ada apa?”
“Kamu tau kan Mama ini makin tua … kapan kamu nikah lagi?” ucap Mama Agni tiba-tiba. Suara wanita tua itu melemah disertai helaan berat ketidakpuasan.
“Perempuan itu diam bukan berarti dia gak kepikiran. Pasti nunggu kepastian kamu. Kalau Mama lihat Yuki lebih sering ambil inisiatif. Tapi kalau Yuki terus, kamu yakin lama-lama Yuki kuat hadapin kamu yang lemot gini?” lanjut Mama Agni berucap.
“Kalian sekarang merintis usaha bareng. Ke mana-mana berdua. Lebih baik segerakan sebelum keluar omongan gak enak. Ujung-ujungnya nanti Yuki lagi. Dia perempuan, rentan kena omongan jahat, Kev,” sambung Papa Leigh.
Sejenak Keven melempar pandangan ke setiap sudut ruangan. Keven bukan ragu, hanya perasaannya mengatakan bahwa dirinya saat ini belum cukup pantas untuk memiliki Yuki kembali. Namun jelas tidak akan pernah ia lepaskan Yuki dari dekapan.
“Aku bukan gak mau secepatnya, Pa, Ma.”
“Kalian udah bicarakan lagi tetang pernikahan?” tanya Mama Agni yang hanya dijawab gelengan lemah Keven sambil menunduk serba salah. Reflek bahu kokohnya menurun lesu seiring hembusan nafas tercekat.
__ADS_1
“Papa punya tabungan. Pakai itu buat biaya nikah.”
“Aku punya, Pa. Tapi belum cukup,” sahut Keven sarat akan penolakan pada tawaran Papa Leigh.
“Nunggu cukup tapi nggak pernah kamu bicarakan, mau sampai kapan uang itu bisa dibilang cukup?” ucap Mama Agni menohok Keven.
“Tanya Yuki maunya gimana. Kita kumpul keluarga buat bicarakan waktunya. Biar semuanya jelas, Kev,” perintah Papa Leigh sambil berpindah tempat duduk ke sebelah kanan Keven. Sontak membuat Keven terapit di tengah.
Sepersekian detik kemudian, Papa Leigh menepuk pelan bahu Keven. “Asal kamu tau, belum lama ini Mama-nya Yuki tanya ke Mama-mu tentang perkembangan kalian. Papa sama Mama harus jawab apa? Kita yang lebih dulu minta supaya Yuki tetap jadi bagian keluarga kita. Tapi sampai sekarang status kalian cuma sekadar pacaran. Mau sampai kapan? Habis nikah juga bisa pacaran. Nanti mau pakai gaya pacaran yang kayak gimana pun sah-sah aja.”
“Pa, aku ….” Keven mendongak. Ia tambah merasa bersalah kala matanya justru bersirobok dengan pupil mata senja sang Mama yang bergetar sendu. Seketika lidah Keven membeku untuk menyambung kata demi kata selanjutnya.
“Mama gak mau ya kalau Yuki sampai kabur lagi gara-gara bosan kelamaan nunggu kepastian kamu.”
“Aku pastikan itu gak akan pernah terjadi, Ma,” tukas Keven lugas. Ia menolak pengandaian yang bisa saja terwujud dari kalimat Mama Agni.
Kini, sambil mengisi token listrik di kos Yuki, Keven berulang kali memupuk kepercayaan diri. Menghela nafas pelan menepis rasa rendah diri. Ia yang dulu bisa lebih cepat dan tidak tergoyahkan kala mengambil keputusan menjadi cukup mudah terombang-ambing keraguan.
“Siapa bilang aku mau pesta? Nggak tuh. Bisa jadi istri kamu lagi aja aku udah bahagia, kamu juga, kan?" kata Yuki cukup santai sambil bersedekap dan bersandar di salah satu sisi kusen daun pintu.
“Maka dari itu By, kita gak perlu pesta mewah. Sebenarnya kalau perlu dari aku cukup undang keluarga Ara sama Dimas aja. Selebihnya terserah kamu. Kalau kita jelasin pelan-pelan, pasti orang tua kita ngerti. Lagian ini pernikahan kita. Awal kehidupan kita berdua dan aku maunya kita buat simple. Intinya sah gitu aja."
"Jadi kamu mau?"
"Harus ya kamu tanya lagi? Ya jelas mau lah," jawab Yuki sambil memutar bola matanya malas. "Empat atau lima bulan kayaknya cukup buat kita urus semuanya. Aku juga mau belajar bisnis dari kamu sambil kita persiapan married. Nanti pelan-pelan kita kumpulin modal buat bikin kolam lele. Lumayan kan aku udah punya bekal dari kerjaan sebelumnya. Aku juga udah ada list siapa aja yang harus dihubungi. Nah satu lagi, paling tambahan undang orang lain dari aku itu ya temen seperjuangan lele. Bisa, kan? Bisa lah ya."
"Kamu beneran gak mau kita bikin pesta semewah dulu?"
"Buat apa, By? Buang-buang uang. Memang siapa yang mau diundang bikin mewah-mewah gitu? Kadar kebahagiaan kita juga nggak diukur dari seberapa mewahnya pesta pernikahan. Dan kita berdua juga udah pernah membuktikan hal itu."
"Tapi pernikahan impian kamu?"
"Aku udah pernah jadi princess seharian dan itu ternyata capek. Lebih baik kita bikin acara khidmat yang singkat, simple dan pastinya hemat budget."
"Maaf ya, Sayang, karena kondisi aku kurang mendukung ka-"
__ADS_1
"Sstt!!" potong Yuki seraya menempelkan jari telunjuk kanan di bibirnya sendiri. "Stop minta maaf tentang kondisi kamu. Memang kamu kenapa? Kamu baik-baik aja loh. Kamu sehat, pekerja keras, tetap ganteng dan paling bisa bikin aku berdebar. Dompet kamu juga masih setebal dulu kok. Walaupun yang di rekening Bank udah pasti kembang-kempis tipis. Tapi sejauh ini aku rasa juga tetap baik-baik aja. Namanya roda berputar, kadang di atas, kadang di bawah. Stay positif dibarengi usaha, pasti baik-baik aja.”
Mata Keven berkaca-kaca. Sejenak ia mendongak, lalu membalikkan badan. Ditekannya pangkal hidung yang mendadak kesulitan meraup oksigen. Ia tercekat gejolak haru yang membahagiakan.
“Ciyee … terharu ya?” goda Yuki. Tiba-tiba kepala gadis itu menyembul dari sisi luar betis kanan Keven. Ia berjongkok sambil tertawa cekikikan. Sukses membuat Keven menurunkan pandangan.
“Kamu ....” Keven mengusap sudut matanya yang basah. Senyumnya mengembang lebar dengan tangan yang mengusap gemas puncak kepala Yuki. Sejurus kemudian ikut berjongkok saling berhadapan.
“Kebaikan apa yang udah aku lakuin bisa dapatin kamu?” tanya Keven pada dirinya sendiri. Ia tangkup pipi yang sudah tidak setirus sebelumnya, namun montoknya hanya seperti masa-masa dahulu Yuki baru bekerja di restoran Keven.
“Pasti kamu jadi makin sayang kan sama aku?” goda Yuki lagi sambil menaik turunkan kedua alisnya serentak.
“Kamu mau cubit pipi aku, boleh. Mau dielus juga boleh. Mau cium-cium juga boleh ... tapi bohong,” kata Yuki lagi seraya berdiri dan mencoba kabur dari hadapan Keven.
Akan tetapi Yuki kalah cepat dengan Keven yang mencekal pinggangnya. Spontan gema jeritan melengking menyeruak pendengaran. Kaki ramping itu menghentak berontak dengan tawa dan rengekan yang saling bersahutan.
“Hahaha,” gelak Yuki sampai terbaring di lantai, menahan geli aksi gelitikan Keven. Namun tawa itu mendadak berubah menjadi seruan lantang kala matanya tidak sengaja beradu pandang dengan sosok yang lewat di depan pagar. “Hanyak kecoak, ha-ha takut. By, kecoak, By!”
“Kecoak?! Mana?!!” Seketika Keven terlonjak. Laki-laki berparas rupawan sebuas beruang itu bernyali kecil jika menyangkut binatang berkaki enam yang terlihat mengerikan saat terbang.
“Sayang, mana?!” seru Keven panik.
“Aduh, By … udah! Udah hilang. Udah aman. Udah ya?”
“Gak-gak, gak mungkin. Terbang ke mana?”
Menarik kuat lengan Keven, Yuki melotot. “By, aku bohong. Tadi ada orang julid lewat,” ucap Yuki dengan suara menggeram rendah. Lupa memprediksi bahwa reaksi Keven akan seheboh ini.
“Please, Sayang, jangan main-main. Jangan pernah asal-asalan sebut kecoak.”
“Iya-iya. Takut banget sih. Masa pangeran berkuda hitamku yang ahli geplak kecoak cuma Ara. Berarti di antara kita jadi aku dong yang harus sedia sandal sebelum kecoak terbang?” Telunjuk Yuki menunjuk putus asa ke arah dirinya sendiri. Sekejap mata membulat itu mengerjap lesu seiring bibir dimanyunkan.
...****************...
Terima kasih udah membaca kisah Yuki & selalu support aku😘
__ADS_1