
“Bagus juga di sini. Makasih udah minta aku temani kamu.” Ucap Yuki berterima kasih pada Keven. Hari-harinya yang membosankan dan terlalu memusingkan setidaknya bisa sedikit terobati dengan kesenangan hari ini bersama Keven.
“Mama yang suruh aku.” Kilah Keven.
“Oh, Mama toh. Kalau gitu nanti aku bakal bilang makasih sama Mama.” Ucap Yuki santai, namun tidak sesantai pendar bahagia yang baru saja pecah.
Meski dari sorot mata Keven bisa ditebak jika perkataan laki-laki itu bukanlah kebenarannya, namun Yuki hanya ingin Keven mengakui lewat bibirnya sendiri. Yuki tau betul jika Mama Agni yang meminta Keven membawa dirinya berlibur dengan alasan peninjauan lokasi restoran, pasti Mama Agni sudah heboh jauh-jauh hari sebelumnya.
Mengedarkan pandangannya untuk memperbaiki mood yang anjlok, secara perlahan Yuki menghembuskan nafas teratur menata lubang yang seketika terasa hampa. Layaknya suara balon yang baru pecah, Yuki menatap gamang sorakan hati yang seketika terbungkam.
Kini Yuki hanya memusatkan perhatiannya pada gerai-gerai yang beranekaragam. Mulanya Yuki dan Keven hanya berkeliling butik yang dibuka dalam wilayah resort, namun entah bagaimana akhirnya mereka keluar dan kini sudah berada cukup jauh dari area penginapan. Menikmati hari yang sudah beranjak malam. Mengitari gerai-gerai makanan dan pernak-pernik khas daerah wisata itu.
“Mau itu, boleh?” Tunjuk Yuki sambil menatap Keven, meminta persetujuan pada sesuatu yang menarik perhatiannya.
Mengedikkan dagunya, Keven seakan mengiyakan sekaligus memerintah Yuki agar cepat menyelesaikan segala hal yang diinginkan. Cukup lelah selama lebih dari 2 jam hanya menemani Yuki berkeliling tanpa tujuan yang jelas. Tidak masalah uangnya terkuras, tapi Keven berharap Yuki segera menyudahi aksi sensus pada setiap gerai yang ada.
Seratus persen Keven lelah masuk dari gerai satu ke gerai lainnya. Dan ajaibnya selalu saja ada satu barang yang Yuki comot dari setiap tempat yang disinggahi. Tidak terlalu menguras dompet Keven, tapi sangat menyesakkan kedua tangan Keven yang penuh dengan kantong belanja Yuki.
“Ambil!” Ucap Keven terkesan datar tanpa ekspresi. Inilah yang membuat sesi jalan-jalan malam mereka melelahkan bagi Keven, Yuki terlalu lama mengambil keputusan untuk membeli sesuatu yang menarik matanya.
“Boleh?” Tanya Yuki berbinar, tas anyaman berwarna coklat mengingatkan Yuki pada Ara. Ingin sekali Yuki mengambil tas itu untuk diberikan pada Ara. Kebetulan juga dirinya tidak perlu keluar uang sedikitpun, jadi sangat tepat memanfaatkan semaksimal mungkin. Bukankah Yuki sangat berbaik hati membagi kebahagiaan itu dengan sahabatnya?
“Hm.” Dehem Keven singkat, mengangkat pergelangan tangan melihat waktu di jam yang melingkar. Saat ini sudah pukul 8 malam kurang 10 menit dan mereka melewatkan jam makan malam.
“Udah?” Tanya Keven di belakang Yuki yang baru saja membayar 2 buah tas anyaman yang serasi. Tentu Yuki membayar dengan uang Keven. Bahkan dompet Keven sudah dimonopoli Yuki sejak gerai ke sembilan yang mereka datangi.
Bukan Yuki yang merebut, namun Keven terlalu malas harus berulang kali mengeluarkan dompetnya setiap Yuki ingin membayar. Belum lagi tangannya yang sudah repot membawa hasil belanjaan Yuki. Alhasil Keven langsung menyerahkan dompet miliknya ke tangan Yuki. Berharap cepat selesai segala urusan, begitu pikir Keven awalnya. Namun masalah sebenarnya di sini adalah Yuki selalu bimbang saat memutuskan untuk jadi membeli atau tidak.
“Belum. Mau itu, itu sama itu.” Menggeleng mantap, Yuki menunjuk 3 gerai makanan sekaligus. Sontak saja hal itu membuat Keven terbelalak, mendengus berat memupuk kesabaran, namun tetap berjalan mengekori layaknya kerbau dicucuk hidungnya.
Seporsi takoyaki, dua porsi waffle dengan toppings peanut butter dan blueberry creamcheese, serta tidak ketinggalan es boba sudah berada di kedua tangan Yuki. Tidak perduli udara dingin, Yuki sudah kelewat ngiler dengan es boba.
__ADS_1
Beruntung dua porsi waffle yang Yuki inginkan juga ditempatkan pada kantong pembungkus hingga bisa dibawa menggantung pada sela jari Yuki. Bayangkan saja jika tidak, pasti Keven yang akan pusing tujuh keliling. Tangannya sudah penuh, tidak mungkin bisa membantu Yuki membawa makanan lagi.
“Langsung pulang aja, kamu makan di mobil.” Ucap Keven sambil menghalangi arah pandang mata Yuki. Padahal baru saja mata Yuki kembali berbinar saat melihat gerai aneka sate.
“Masih ada yang belum dibeli.” Keluh Yuki pada Keven dengan tatapan memelas.
“Kamu mau makan semua itu sendiri? Masih ada waktu besok.” Ucap Keven ketus sambil menggeleng tidak percaya pada perut rata Yuki yang bisa menampung porsi besar. Keven yang hanya melihat saja sudah merasa kenyang, apalagi Yuki yang memakannya. Mereka memang melewatkan waktu makan malam, atau tepatnya Keven yang melewatkan karena Yuki sudah sibuk mengunyah aneka camilan sambil berbelanja pernak-pernik.
Tersenyum senang, Yuki berlari kecil menyamakan langkah di sisi kiri Keven. Tanpa perlu dijelaskan, bagi Yuki ucapan Keven sudah cukup mengatakan bahwa mereka akan bersenang-senang lagi esok hari. Yuki benar-benar perlu kesabaran dan daya peka yang kelewat tinggi jika menghadapi Keven.
...----------------...
“Mas Keven gak mau waffle nya?” Tanya Yuki yang sebenarnya menawarkan, sengaja waffle itu belum dimakannya. Berbeda dengan takoyaki yang sudah ditandaskan bahkan sesaat setelah mobil Keven melaju.
Dari 8 bola-bola takoyaki dalam satu porsi itu, hanya satu gigitan yang berhasil dilahap Keven. Itu juga setelah Yuki menyuap dengan penuh pemaksaan.
“Habiskan aja.” Ucap Keven menolak secara halus. Otaknya seolah sudah dimanipulasi agar merasa kenyang hanya dengan melihat Yuki yang terus-menerus mengunyah.
Berdiri di ambang pintu, Keven berbalik menatap Yuki. “Bes-..”
Drrt.. Drrt..
Baru saja sepenggal perkataan ingin Keven ucapkan, ponselnya sudah bergetar mengejutkan. Beralih merogoh ponsel di saku celananya, tampak tertera nomor asing yang pastinya tidak Keven kenali.
Terpaku sejenak, Keven tidak langsung mengangkat panggilan telepon itu.
“Kenapa gak langsung diangkat?” Tanya Yuki menyela, memerhatikan ponsel Keven yang terus bergetar dan menampilkan sebuah panggilan tanpa nama.
“Gak kenal.” Jawab Keven sekenanya.
“Kali aja penting, angkat Mas!” Ucap Yuki bak perintah pada Keven. Dibenak Yuki bisa saja panggilan itu berhubungan dengan hal-hal yang penting, misalnya bisa saja berkaitan dengan pekerjaan. Jika tidak pun panggilan itu bisa langsung dimatikan.
__ADS_1
“Halo?” Ucap Keven membuka panggilan itu dengan sapaan singkat. Masih berdiri di depan pintu kamar Yuki, sudut ekor matanya bahkan masih bisa menangkap raut wajah Yuki yang penasaran.
[…]
“Alia?”
Deg!
Bak terhempas dari menara pemancar sinyal, terjun bebas menghantam tanah berbatu, begitu pula yang Yuki rasakan saat nama Alia terucap dari bibir Keven. Euphoria kebahagiaannya hancur, lenyap dan menghilang tanpa sisa. Hanya sebuah nama, tapi berdampak sangat besar pada keutuhan hati Yuki.
“Di mana Saka?” Ucap Keven meninggi. Mendadak aura kekhawatiran menguar dari diri Keven. Dengan tangan yang terkepal erat Keven berlalu begitu saja dari hadapan Yuki.
Sedangkan Yuki hanya mampu memandang nanar lorong kosong yang sudah Keven tinggalkan. Bolehkah Yuki tertawa? Tapi mengapa air matanya luruh padahal ia ingin tertawa?
Tanpa ada kejelasan, itulah pembicaraan satu arah yang terakhir Yuki dengar dari panggilan telepon dadakan. Jika saja Yuki tau nama Alia akan disebutkan, pasti Yuki akan mati-matian menahan Keven untuk tidak mengangkat panggilan itu.
Bodoh. Yuki merutuki dirinya yang justru mendorong Keven mengangkat sambungan telepon tanpa nama itu. Kini Yuki hanya bisa merasakan sesak di dada. Jelas ia cemburu. Sangat-sangat cemburu.
Brak.
Mengusap pipinya yang basah, Yuki menutup pintu sekuat tenaga hingga menghasilkan bunyi dentuman kencang. Menatap tidak berselera pada makanan yang menanti untuk disantap habis.
Di lain kamar, Keven masih sibuk berdialog dalam sambungan telepon. Sesekali Keven meremas rambut dan meraup wajahnya dengan kasar. Benar-benar sesuatu yang tidak pernah Keven duga akan terjadi.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Untuk pembaca setia kisah Yuki, terima kasih sudah menanti kisah Yuki ini ya🥰 Semoga tidak membosankan😁