
Seorang laki-laki dewasa terus-menerus membolak-balikkan badannya. Berusaha tenang dan nyaman dalam tidurnya, namun nihil. Sekujur tubuhnya terasa gerah, lelah dan entah sakit di mana-mana.
Baru juga nyaris terlelap dari tidur yang penuh kegelisahan, Keven terlonjak kaget akan suara melengking Yuki yang tertangkap indera pendengarannya. Mengerjap dengan rahang mengeras terbawa emosi, Keven mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar yang hanya terisi oleh hadirnya.
Membawa tubuh lelahnya beranjak dari atas kasur empuk, Keven berjalan gontai menuju kamar mandi. Mengguyur tubuh dengan air hangat yang mengalir dari pancuran shower.
“Ki..? Yuki..!!??” Teriak Keven memanggil nama Yuki sambil menggosok bagian belakang rambutnya yang basah. Mata Keven terus menatap kasur yang masih berantakan dan tidak ada pakaian kerjanya yang biasa Yuki siapkan.
“Tumben hari ini gak siapin baju. Cih.. Akhirnya dia nyerah.” Ucap Keven sambil tersenyum miring, mencibir sikap Yuki yang selama ini dianggap sebagai pencitraan belaka. Bagi Keven tidak mungkin Yuki bisa baik-baik saja setelah secara terang-terangan ia tolak. Namun yang lebih bodohnya Keven tidak sadar bahwa dirinya mulai bergantung dan hatinya tergoyahkan oleh sosok Yuki yang berani, seenaknya, cerewet dan tidak mau mengalah tapi sangat perhatian terhadap segala hal tentang Keven.
“Ki..!! Kaos kaki yang warna hitam ada corak garis abu-abu di telapak kakinya mana?” Sekali lagi Keven berteriak sambil mengacak isi lemari yang sudah Yuki susun rapi disaat bosan melanda. Bahkan dalaman penutup aset limited edition dan kaos kaki miliknya sudah berbaur saling berkolaborasi menyakitkan mata yang memandang.
Menyerah dengan kaos kaki hitam polos yang sudah ia kenakan, Keven menuruni anak tangga terburu-buru. Biasanya Yuki rajin membangunkan dirinya. Tentu bukan dengan cara romantis, melainkan tarikan kasar pada selimut yang masih Keven kenakan, pukulan singkat nan panas di lengan dan yang paling Yuki senangi tentu menjepit hidung mancung Keven.
“Tumben gak ada kopi buat aku, kemana lagi anak itu?” Gumam Keven lirih, memerhatikan meja makan yang kosong, tidak ada sarapan atau bahkan hanya sekedar kopi susu panas seperti biasanya.
Melongok kan kepala ke arah dapur, Keven juga tidak menemukan Mama Agni dan Yuki yang biasa bercanda riang ala Ibu-ibu di dapur. Sedetik kemudian Keven merasa ada hal yang aneh dan tidak biasa yang menggelitik sesuatu tersembunyi di pikirannya, namun sejak tadi Keven belum juga menemukan apa yang seharusnya ia ingat.
“Kerja?” Ucap Papa Leigh tiba-tiba dari arah belakang, berjalan lesu meraih teko berisi air putih dan menuangkan airnya ke gelas transparan setinggi 11 sentimeter.
“Iya, Pa.” Jawab Keven singkat sambil memerhatikan ke arah belakang Papa Leigh, berpikir mungkin saja Mama Agni akan segera muncul seperti saat dahulu sebelum Yuki ada di rumahnya. “Mama mana, Pa?”
“Baru bisa tidur. Jangan berisik! Lebih baik kamu cari Yuki di luar sana! Percuma kamu teriakin sampai rumah ini roboh juga Yuki gak akan muncul.” Ucap Papa Leigh cepat dan ketus, memukul kesadaran Keven pada kenyataan jika Yuki menghilang dan belum juga ditemukan.
__ADS_1
“Shiit!” Umpat Keven merutuki otak bodohnya yang bisa melupakan kepergian Yuki yang tidak jelas.
“Gak usah sat-sit sat-sit!! Yuki itu istri mu! Papa gak pernah ya kasih kamu contoh jadi laki-laki kurang ajar. Apa sekarang kamu udah merasa jago jadi berani kurang ajar biar dihajar??!!” Ucap Papa Leigh dengan amarah memuncak, bergaya menyingsingkan lengan baju sebatas siku, padahal kaos yang dikenakan hanya menutupi seperempat lengannya.
Kemarin malam Papa Leigh memang sengaja menahan emosi yang sebenarnya ikut meluap. Bisa gawat jika harus menambah kericuhan kondisi rumah yang bak seblak jeletot level lahar volcano. Lihat saja nanti buktinya jika Mama Agni terbangun dari tidur dadakan karena kelelahan hampir berkeliling Kota mencari Yuki.
“Bukan gitu, Pa..” Bantah Keven yang ingin mengatakan kebenaran bahwa dirinya lupa Yuki menghilang, namun urung saat melihat tatapan garang Papa Leigh. Meski Keven sudah berusia 28 tahun menjelang 29 tahun, di hadapan kedua orang tuanya Keven tetap lah anak kecil yang tidak bisa melawan bila daun telinganya dijewer tiba-tiba.
Huuftt..
Menghela nafas panjang dan gusar, Keven kali ini menggunakan mata tajam yang biasa ia gunakan menatap Yuki untuk menyoroti setiap sudut jalanan yang ia lewati. Berharap matanya menangkap sosok Yuki yang mungkin saja tidak terlihat saat hari masih gelap.
Selain itu tangan Keven juga tidak kalah sibuk terus mencoba menghubungi Yuki. Untuk nomor ponsel mertuanya jelas Keven punya, namun menurut Keven belum waktunya ia menghubungi kedua mertuanya itu.
Bermodal informasi penghuni rumah yang ia kira salah alamat dan seorang penjual yang sempat mengobrol dengannya, Yuki memberanikan diri mencari sosok Gibran Abian yang katanya pernah membuat kehebohan sensasional.
“Pa-pa..” Ucap Yuki lirih dengan suara parau. Ia ingin menyangkal, namun fakta di depan mata tidak bisa dihapus meski genangan air alami merembes hingga tidak terbendung lagi.
“Ha ha ha..” Tertawa dengan air mata mengalir tanpa ingin ditahan lagi atau sekedar diseka, Yuki menguatkan hati, mengangkat kakinya melangkah mendekat.
Sejurus kemudian sosok laki-laki dewasa yang sudah kelewat matang, bahkan bisa dikatakan nyaris busuk itu menyadari keberadaan Yuki dengan raut wajah terkejut. Tawa bahagia sambil menimang seorang anak laki-laki yang sedikit mirip dengan Yuki mau tidak mau terpaksa terhenti.
Merengek dengan tubuh memberontak, suara dan tingkah batita itu tidak bisa menyadarkan seorang Gibran Abian yang terkejut bukan main atas kehadiran anak pertamanya. Terpaku dan bingung, ia terpojok tidak berkutik. Rasanya terlalu tiba-tiba untuk Yuki mengetahui semuanya.
__ADS_1
“Bahagia ya, Pa?” Tanya Yuki saat dirinya sudah sampai tepat 5 langkah di depan sang Papa yang ia rindukan. Sayangnya rasa rindu itu menguap, berganti kecewa, marah, sedih dan putus asa. Iya, Yuki putus asa untuk mendapat kehangatan kedua orang tuanya jika fakta di depan mata sudah sangat jelas tanpa perlu dipaparkan lagi.
“Yuki..” Ucap Papa Gibran dengan intonasi rendah sarat akan rasa bersalah. Ia sadar bahwa Yuki pasti terluka, tanpa diucapkan juga sudah sangat terlihat dari tangis tanpa suara yang mengiringi langkah gadis muda itu.
“Aku hubungi dari tadi gak bisa, rupanya Papa udah bahagia di sini dengan anak Papa yang lain. Kenapa, Pa? Apa salah Mama? Apa salah aku?” Menelan saliva nya dengan kasar, Yuki berusaha untuk tetap bersikap waras. Menahan monster jahat menguasai raga yang sudah lelah menghadapi kenyataan hidupnya yang berantakan, bahkan sebelum ia menyadari segalanya.
Dari sedikit informasi yang Yuki dapatkan sudah 4 tahun orang tuanya berpisah, namun terputar dengan jelas diingatan Yuki bahwa 3 tahun lalu dirinya masih merasakan kehangatan keluarga. Sandiwara, kenyataan atau orang-orang yang tidak ia kenal sudah berbohong, entahlah Yuki sulit mempercayai dan mencerna segalanya.
Namun satu hal yang Yuki yakini, Papa nya bukan hanya miliknya lagi. Keinginan Yuki terkabul untuk memiliki seorang adik, akan tetapi mengapa harus lahir dari rahim wanita lain yang tidak melahirkan dirinya?
Sejenak Yuki ingin menertawakan lagi hidupnya yang kesepian. Tinggal hanya ditemani asisten rumah tangga yang bahkan tidak 24 jam ada untuknya. Sedangkan Mama Maria dan Papa Gibran hanya menghubungi seadanya. Pulang ke Kota B bisa dihitung jari selama beberapa tahun meninggalkan dirinya. Wajarkah kini Yuki berpikir selama ini dirinya memang disingkirkan?
...****************...
*
*
*
Judul asli Terhalang Cinta KITA Tanpa AKU itu Kita, Tanpa Aku aja. Jadi judul novel ini aku kembalikan ke ide awal, tapi covernya aku biarkan, gak sempat edit lagi.
Gak tau udah muncul judul aslinya atau belum setelah bab ini UP, yang pasti semoga di bab ini semuanya cukup puas.😄
__ADS_1