Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Cemburu


__ADS_3

Praktis setelah perdebatan panjang yang berujung tanpa penyelesaian memuaskan kedua belah pihak, Yuki semakin menjaga jarak dari Keven. Komunikasi mereka seakan lenyap meski tidak bisa saling melupakan. Keven bahkan sampai harus meregistrasi nomor baru karena sudah dapat dipastikan Yuki memblokir nomor Keven dari ponselnya. Begitulah Yuki jika ingin memutus segala macam bentuk interaksi.


Sedangkan laki-laki yang tanpa henti mendatangi tempat kos Yuki itu sudah sejak pagi menunggu Yuki di depan pagar kos nya. Jika kemarin ia harus mengejar Yuki yang menyelinap dan melompat lewat pagar belakang, maka saat ini dirinya tidak akan melepaskan pandangan dari pintu kamar yang tertutup rapat. Sayangnya tanpa Keven ketahui jika Yuki bertolak ke kampus dari rumah Ara, bukan tempat kos.


Tidak putus asa, Keven bergegas melajukan mobilnya ke area kampus. Dipandanginya gedung-gedung besar instansi pendidikan tinggi itu dengan mata penuh awas.


Waktu sudah menunjukkan pukul 10 pagi lewat 37 menit, hampir menjelang siang dan ia baru mengetahui jika Yuki tidak pulang ke kos semalaman. Sialnya lagi Satpam yang mengetahui ketidakberadaan Yuki malah mengira Keven memang sengaja menunggu Yuki pulang ke kos, bukan menanti Yuki keluar dari kamar kos nya.


Sejenak Keven melebarkan senyumannya. Menepikan mobil di area parkir khusus mobil. Ia secepat kilat menyambar bucket bunga dan aneka camilan yang dikemas dalam kantong kresek berlogo sebuah pusat perbelanjaan. Saat ini Keven sudah cukup banyak belajar dari beberapa kejadian yang terlewat jika Yuki lebih tertarik pada camilan dibandingkan aneka makanan berat yang biasa dibawakannya.


"Kayak kenal gak sih?"


"Siapa?"


"Sebelah-sebelah ... Cowok yang baru turun dari mobil."


"Kayak yang pernah i-tu sama Yuki, anak kelautan, ingat gak?"


“Eh, iya loh, bener ….”


Bisik-bisik yang terdengar samar mulanya Keven abaikan, namun sebuah nama familiar membuatnya terpaku, menyimak dengan alis berkerut. Sejenak ia memindahkan kantong dari tangan kanan ke tangan kiri yang sudah memegang bucket bunga. Sejurus kemudian ia rogoh saku celananya, digenggamnya ponsel dengan layar yang masih menggelap sambil memasang telinga seksama.


"Aslinya lebih ganteng ya ... Pantes Yuki mau di unboxing duluan," bisik gadis-gadis yang menyelonong acuh di samping Keven. Entah sadar atau tidak jika intonasi suaranya melebihi orang berbisik, atau mungkin sengaja mencibir Keven.


Sontak Keven membulatkan matanya. Merenung sejenak dengan dengusan kesal, ia cukup paham maksud perempuan-perempuan itu. Pasalnya jika Yuki yang dimaksud adalah istrinya, maka semua itu salah besar. Bahkan sampai detik ini juga keduanya belum pernah berciuman. Hanya sebuah kecupan tipis di dahi sebagai formalitas pada sesi foto ketika resepsi pernikahan.


“Per- ….” Keven mengeraskan rahangnya, padahal baru saja ia ingin menegur 3 perempuan muda yang sempat bergosip, niatnya ingin mengkonfirmasi sesuatu.


"Brengsek!" umpat Keven. Pemandangan yang jauh lurus di depan mata sukses mematik emosi dan sisi cemburunya.


Melangkah lebar Keven menghampiri Yuki yang belum menyadari keberadaannya. Sebelah tangan Keven yang terbebas menyambar lengan sosok laki-laki yang mendorong wajah Yuki hingga sebelah mata gadis itu terhimpit pipi.


"Lepas!!"


"Lepasin begok!"

__ADS_1


Suara Keven dan Yuki terlontar serentak, ditujukan pada orang yang sama dengan penekanan yang berbeda. Tampak Yuki dan Keven sama-sama terperanjat kaget. Terkejut Yuki karena suara Keven yang lantang, sedangkan Keven malah tertohok kalimat Yuki yang dikira ditujukan untuk dirinya.


“Aaaarrgghh!!” jerit Dimas nyaring, menyadarkan Keven yang terpaku meresapi kesakitan semu atas sikap dingin Yuki.


Rambut bagian belakang Dimas seperti tercabut setelah Yuki dengan santai kembali menjambak kilat sebelum melepaskan rambut pendek yang baru dipangkas.


Mengabaikan keberadaan Keven yang semakin mengobarkan api kecemburuan, Yuki menjulurkan lidahnya pada Dimas. Menyeringai Yuki pada kekalahan Dimas dengan skor yang hanya selisih 2 angka. Keduanya bertempur memainkan game cacing dengan mempertaruhkan uang traktiran makan siang.


“Aku mau nasi rames komplit, minumnya es cincau yang jumbo … Ayo, pergi sekarang!” celetuk Yuki pada Dimas. Ia bersikap sesantai mungkin meski sebagian tubuhnya seakan kaku akibat tatapan Keven yang menghunus tajam.


Diputarnya berlawanan arah raga yang enggan didekati Keven itu sekuat tenaga. Menganggap seolah keberadaan Keven hanya ilusi semata. Tidak peduli meski kini laki-laki itu terus menghadang Yuki dengan berbagai kalimat manis dan perhatian yang tiada habisnya.


"Sampai berlutut pun kamu di sini gak akan merubah keputusan aku. Kita hanya perlu bertemu beberapa hari lagi di pengadilan!" ketus Yuki dengan mata terpejam erat, menahan gejolak amarah yang menyiksa batinnya. Suara rendah Yuki benar-benar menyiratkan penolakan kuat yang tidak terbantahkan lagi.


"Dan berhentilah buang-buang uang untuk aku. Apapun perhatian yang kamu kasih udah gak ada artinya sedikitpun! Kamu hanya calon orang asing di hidup aku," lanjut Yuki berucap, ditatapnya sekilas mata sendu Keven. Ia tidak memberikan secuil celah untuk Keven kembali membela diri atau bahkan melontarkan kalimat permohonan agar Yuki mengurungkan niatnya.


Tidak disangka cinta yang pernah bersemi bisa mati dan melebur, tidak menyisakan jejak di hati. Semua terkubur rasa kecewa yang tebal hingga sulit untuk digali kembali. Sedikitpun binar kerinduan tidak tersirat di mata Yuki. Yang ada Yuki justru semakin meradang dengan kemurkaan yang memuakkan.


Saat kebencian itu hadir, maka sebanyak apapun kebaikan akan sirna, berubah menjadi hal menyebalkan yang selalu ingin disingkirkan. Begitu pula yang terjadi pada Yuki. Kehadiran Keven hanyalah sebuah beban mendalam yang akan selalu menjadi belati perak yang menggores luka bernanah yang sedang disembuhkan.


“Biarkan Yuki pergi!” tegas Dimas sembari menahan langkah Keven. Cekalan tangan laki-laki yang lebih muda dari Keven itu menjalarkan kemarahan mendalam.


Jujur, Dimas ingin membogem wajah rupawan yang pernah membuat Yuki terpesona hingga saat ini berakhir merana. Namun sekali lagi Dimas menyadari kondisinya. Ia bisa saja terhempas dari daftar penerima beasiswa jika berulah dan terlibat perkelahian dengan suami sahabatnya itu. Apa lagi posisi mereka saat ini di dalam lingkungan kampus. Sungguh sangat memberatkan Dimas yang harus melawan emosi dengan logikanya.


Tidak sedikit Dimas menyaksikan tingkah polah Yuki yang menggilai Keven. Dari tawa kasmaran, cengengesan dalam lamunan panjang, tangis menggelikan sampai menyedihkan dan yang paling miris memudarnya keceriaan Yuki secara perlahan. Tidak dapat dipungkiri jika Dimas adalah seseorang yang selalu berdiri di sisi Yuki dalam semua situasi yang bak rollercoaster.


Mengibaskan tangan dan menepis celakan Dimas, Keven membalas tatapan sengit Dimas sebelum memalingkan wajahnya menatap nanar punggung Yuki yang semakin menjauh.


“Saya memang gak pantas untuk menjadi pendamping Yuki. Tapi sebagai sahabat, saya bisa membahagiakan dia dengan cara saya sendiri,” tukas Dimas memotong pergerakan bibir Keven yang hendak mengucapkan sumpah serapah.


Sebagai sesama laki-laki, Keven jelas tau bahwa Dimas menyimpan rasa yang lebih dari sekedar sahabat pada istrinya itu. Bodoh. Kembali Keven merutuki dirinya sendiri. Terlalu lama menutup mata hingga tidak menyadari bahwa seorang lawan yang tangguh justru selalu berada di samping Yuki, baik dikala senang maupun sedih. Sedangkan dirinya, ke mana?


‘Brengsek!’ umpat Keven dalam hati. Seketika kedua tangannya terkepal. Ia mendorong bahu Dimas sampai terhuyung dan terjungkal.


Di bawah sorot tajam Keven yang mengintimidasi, Dimas justru terkekeh mencemooh. Sadar bahwa sosok suami yang sebentar lagi Yuki ceraikan itu terlambat menyadari cintanya. Anehnya, kedua laki-laki itu saling berpandangan cukup lama dengan pikiran masing-masing.

__ADS_1


“Jangan harap kamu bisa memiliki Yuki! Tetaplah menjadi seorang sahabat … Jika perlu menyingkir dari kehidupan kami!”


“Yang perlu menyingkir itu An-da! Sadarlah … Harus tegas!” Menggeleng pelan Dimas menegakkan punggungnya, menjulurkan tangan terlipat ke belakang guna membersihkan baju sesuai kemampuan jangkauan telapak tangannya.


Berlalu Dimas meninggalkan Keven yang hendak membanting bucket bunga ke mukanya, ia berlari kecil menyusul Yuki yang jelas sudah di kantin. Sepanjang perjalanan Dimas merasai punggungnya yang panas akibat membentur sebatang pohon pinus. Kulit pohon yang tidak rata sukses membentuk pola memerah di punggung Dimas.


Sama halnya dengan Dimas, Keven juga memilih menuju kantin. Ia sudah bisa menebak keberadaan Yuki. Beberapa hari selalu rutin membuntuti Yuki membuat Keven sedikit hafal rutinitas dan tempat favorit Yuki di kampus.


Baru juga kaki Keven menginjak undakan lantai kantin, ia sudah disuguhkan senyum lebar Yuki kala menyambut kedatangan Dimas. Jelas amarah Keven siap meledak di ubun-ubun. Tanpa Keven ketahui sebenarnya Yuki bukan senang menyambut Dimas, melainkan isi dompet Dimas yang harus digunakan untuk membayar menu makan siang di hari yang belum terlalu siang itu.


"Apa ini alasan sebenarnya kamu minta cerai?!" ucap Keven sinis, ia meletakkan bucket bunga dan sekantong camilan dengan kasar di atas meja. Ia merasa keputusan Yuki berpisah masih ada sangkut pautnya dengan Dimas. Tidak dipungkiri kecemburuan itu berubah menjadi prasangka buruk. Kekalutan dan ketakutan bercampur menutupi pikiran rasional Keven.


"Dengar, Yuki ... Sampai kapan pun kamu tetap menjadi istri aku. Dan kamu ...." Wajah merah padam Keven seketika tertoleh pada Dimas yang memutar bola matanya malas. "Jangan lupakan status Yuki, IS-TRI-KU. Sadari posisimu!"


Menghela nafas frustasi, Yuki mendongakkan kepalanya seraya berkata, "terserah mau kamu lah. Semua akan selesai di pengadilan ... Silakan pergi dari sini kalau udah selesai!" Yuki mengibaskan tangannya, mengusir Keven yang merusak suasana hatinya. Ia hanya ingin makan dengan tenang, namun sorot tajam nan sinis Keven di seberang meja benar-benar mengganggu meski bukan ditujukan untuk dirinya.


Bahkan kini dengan santainya Keven memesan menu makanan serupa milik Yuki. Tidak memedulikan pengusiran gadis yang masih berstatus istrinya itu.


Sikap Keven saat ini sejatinya menggelitik geli relung hati Yuki. Membuatnya ingin tertawa terpingkal pada sisi sok cemburu yang Yuki yakini hanya bagian dari sandiwara belaka.


...****************...


*


*


*


Sebelumnya aku mau minta maaf kalau gak bisa rutin UP sehari/dua hari 1 bab🙏


Baru-baru ini karena kecerobohan aku sendiri, aku tergelincir & tersungkur di tangga rumah. Mendarat mantap dengan tangan kanan duluan sampai berasa ada bunyi 'krak' (beruntungnya gak patah), tapi pergelangan tangan kanan, jempol dan kelingking ku terkilir😅 Cukup sakit saat aku pakai ngetik, apa lagi kalau ngetik di HP, termasuklah untuk ngedit di platform langsung, soalnya bengkak juga🤧


Mohon maaf ya semuanya 🙏


Terima kasih udah menanti kisah Yuki dalam tulisan receh ku ini 🥰

__ADS_1


__ADS_2