Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Berdua Saja


__ADS_3

“Bisa nggak Papa kasih waktu buat kita berdua aja?” Yuki mengepalkan kedua tangan di atas paha. Terpejam sedetik sebelum menghela nafas berat. Ia kecewa.


“Apa salahnya kamu belajar dekat sama Bunda?” tanya Papa Gibran jengah.


“Bunda-bunda, Bunda terus! Sampai kapan Papa mau maksa aku panggil Tante Inka bunda?! Apa Papa nggak capek minta aku ngakuin orang asing itu ….”


“Jaga sikap kamu! Jangan buat Papa malu.” Suara rendah Papa Gibran memotong kalimat brontak Yuki.


“Gara-gara Maria anaknya manja … kekanakan!” lanjut Papa Gibran dengan intonasi suara yang jauh lebih rendah lagi, tetapi masih bisa tertangkap indera pendengaran Yuki.


Tersentak, Yuki bergeming dengan kepalan tangan mengerat. Ia gigit bagian dalam bibir bawahnya yang bergetar. Sejenak dihembuskan nafas perlahan yang menyesakkan dada.


“Terus Papa malu nggak sama aku? Nggak, kan? Bahkan aku nggak pernah minta Papa kasih aku ibu baru,” lirih Yuki dengan nanar merebak di pelupuk mata. Meskipun begitu Yuki masih sempat menyeringai sinis dibumbui kekehan hampa.


Lantas dalam sekejap Yuki membuang pandangan, kembali menghela nafas kuat. Ketahuilah, luapan emosi kecewa telah mengubur secercah tawa bahagia kemarin sore.


“Yah, udah. Kakak jangan dimarahin terus.” Tiba-tiba suara lembut menginterupsi ketegangan di antara Papa Gibran dan Yuki. “Pulang, yuk? Di rumah Bunda udah masak makanan kesukaan Kakak. Ini Adek juga udah ngantuk, kayaknya kecapekan.”


“Lihat! Bunda itu sayang sama kamu. Waktu kamu dikira hilang, Bunda yang paling khawatir. Tadi kamu juga senang-senang aja, kenapa ….”


“Ssstt, Ayah … udah lah.”


“Aku ke sini mau me time bareng Papa, bukan keluarga Papa. Kalau Papa mau have fun sama istri muda Papa itu, silakan. Tapi jangan libatkan aku. Udah cukup buat aku menyaksikkan seberapa bahagia kalian,” ucap Yuki datar, tatapannya berubah tidak bersahabat. Bahkan terkesan ingin melahap siapa pun yang mengotori pandangan. Tapi ajaibnya ia masih saja tersenyum lebar.


Mendorong kasar kursi yang diduduki, Yuki berdiri mengabaikan sosok yang baru saja duduk di kursi seberang. Riuh riang taman bermain tak ayal bagai dentuman meriam di hati. Meluluhlantakan kamuflase tarikan benang di kedua sudut bibir Yuki yang tersenyum palsu.


“Belajar menerima dan berdamai itu nggak semudah ocehan aku, Pa. Bahkan Papa nggak mengenal anak Papa sendiri. Maaf udah jadi anak durhaka, tapi nyatanya memang seberat itu,” kata Yuki dengan ekspresi datar seolah tanpa emosi.


Jujur, bukan sikap seperti ini yang Yuki inginkan. Ia sudah berusaha menerima kenyataan. Bertahan dengan tawa palsu yang melelahkan, tapi nyatanya ia tetap dikalahkan penolakan yang menjerit kesakitan.


Lagi-lagi lantunan kata baik-baik saja tidak bisa membuat Yuki membaik. Ia tetap belum siap untuk bertemu dan berbagi tawa dengan sosok yang hadir di antara Papa Gibran dan Mama Maria. Meskipun Yuki tau kesalahan juga berasal dari kedua orang tuanya.


“Semoga Tante jadi yang terakhir, bukan satu di antara calon ibu tiriku lainnya.”


“Anak nakal,” ucap Papa Gibran spontan. Terlihat garis tegas di wajah menua itu mengeras.


“Satu lagi … sepandai-pandainya Papa menyimpan istri muda, akhirnya akan tua juga. Itu kalau Papa punya istri muda,” ujar Yuki sekenanya. Ia tidak ambil pusing jika dimarahi sang Papa. Yuki malah memilih pergi dengan raut wajah puas meski hatinya dongkol setengah mati. Masa bodoh jika dirinya kualat, begitulah pikir Yuki.

__ADS_1


“Yuki mau ke mana, Nak?”


“Udah, Bun, biarin anak keras kepala itu. Sebentar lagi juga ke sini.”


Samar-samar, seperti itulah percakapan singkat yang masih sempat Yuki dengar. Kini perjalanan jauh yang ditempuh terasa sia-sia. Angannya bisa tertawa dan menghabiskan waktu sepuasnya bersama Papa Gibran sirna. Padahal Yuki tidak meminta banyak, hanya bertemu berdua saja.


...----------------...


“Argh, kelilipan. Maskara eyeliner aman, kan?”


“Nangis aja. Gak usah ditahan.”


Tersentak, Yuki menoleh ke sisi kanan. Menghentikan kegiatan memindai wajah lewat pantulan layar ponsel. Posisinya yang berjongkok di balik pilar besar rupanya tidak menyulitkan laki-laki pengintai yang sejak awal membuntuti. Sontak Yuki mendongak, memastikan tebakannya tidak meleset.


“Kayak setan di mana-mana ada.” Mencebik, Yuki beranjak berdiri. Tidak lupa memalingkan wajah beberapa saat seraya mengusap garis kelopak mata yang basah. Lalu bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. “Mas Keven ngapain?”


“Berdiri, apa lagi?”


“Halo? Aku juga punya mata. Bisa lihat kamu berdiri. Yang aku tanya ngapain kamu di sini? Kerja? Atau jangan-jangan ngikutin aku, iya kan?”


Mengangguk, Keven menjawab, “iya.”


Yuki melengos. Keduanya terdiam sebentar. Keven sibuk menikmati keimutan gadis yang merengut. Sedangkan Yuki sibuk bergelut dengan pikirannya pada sesuatu yang ingin dikatakan tapi lupa.


Menoleh sekilas, Yuki lantas berdecih pelan. “Pengangguran banyak acara!” ketus Yuki mengimbuhi perkataannya seolah menjawab kerutan halus di dahi Keven yang semakin bertambah. Padahal Keven asik mengabsen ujung rambut Yuki yang ditemukannya bercabang.


“Gara-gara seseorang aku bisa jadi pengacara.”


“Nyindir? Gak mempan! Udah sana pergi. Awas kalau ketahuan ngikutin aku!”


“Kamu mau ke mana? Ingat, motor masih di rumah Papa." Keven berjalan lambat, mengekori hentakan langkah gadis mungil di depannya.


Membeku, Yuki secara perlahan memutar badan layaknya sebuah patung di kotak musik. “Kok kamu … sejak kapan?”


“Rumah Dimas,” jawab Keven jujur namun agak kesal.


Sejatinya semalaman Keven terjaga karena memikirkan Yuki, gadis yang tanpa basa-basi memilih tidur di rumah Dimas. Meskipun Keven tau Yuki menumpang tidur di kamar Nita. Tapi tetap saja berhasil membuat Keven kelimpungan sepanjang malam, bahkan berulang kali bolak-balik keliling rumah guna menenangkan diri. Alhasil pagi-pagi buta ia memilih diam-diam memantau rumah Dimas, walaupun dalam waktu singkat langsung ketahuan oleh Dimas sendiri.

__ADS_1


“Ayo, kita ke tempat Papa. Pasti mereka masih nungguin kamu,” ucap Keven tiba-tiba. Selain mencoba mengalihkan pembicaraan, ia juga tidak ingin Yuki terlena dalam kemarahan yang sedang disesali.


“Malas!” Yuki menggeleng kuat, cemberut dan mendengus sebal.


“Boleh aku tanya kenapa?”


“Kenapa apanya lagi?! Udah jelas aku gak suka di sana!”


“Kenapa kamu bisa maafin aku, tapi nggak dengan Papa dan Bunda?”


“Ck! Ngapain sih manggil dia Bunda? Beda umurnya sama kamu itu setipis kue lapis. Malah kayaknya lebih cocok kamu yang jadi suaminya dari pada Papa.”


“Boleh?” tanya Keven dengan seulas senyum menggoda.


“Dasar kadal!” ucap Yuki disertai desisan marah. Kakinya spontan terangkat tinggi dan mendarat kasar di kaki sebelah kiri Keven.


“Ugh!” Reflek Keven memegangi punggung kaki yang dipijak Yuki. Ia terseok mengejar Yuki yang berjalan cepat meninggalkannya. “Ki, nggak gitu ....”


‘Please, jangan ngambek,’ batin Keven panik. Buru-buru ia menyamakan langkah tanpa mencoba menghentikan laju ayunan tungkai Yuki. “Tadi aku becanda.”


Melirik sekilas ke kaki Keven, Yuki berdecak singkat. Ia menyesal kurang kuat menghentak kaki Keven.


“Aduh, sa-kit nih,” keluh Keven tiba-tiba kala menyadari arah mata Yuki memandang.


“Enak, kan? Kapok!” cibir Yuki sambil menjulurkan lidahnya mengejek.


“Kadal banget jadi orang. Ada yang cakep dikit mau dipepetin, disenyumin. Dari daun muda sampai tua, sekalian aja Nenek-nenek dipacarin!! Huh, kesel banget. Tau nggak aku kesal sama kamu?! Ngapain juga kamu senyum-senyum sama perempuan yang namanya Nindy itu? Kamu kenal sama orang ngeselin kayak dia? Mantan pacar kamu ya?!” gerutu Yuki disertai tatapan sengit yang tidak segan menghujam Keven.


“Kamu tau Nindy mantan pacarku?”


Terbelalak dengan mulut menganga lebar, Yuki acungkan jari telunjuk ke wajah Keven berulang kali. Ia nyaris kehabisan kata-kata.


“Oh, gitu … memang ya, penyakit itu susah sembuh. Dulu nikah sama siapa, tapi sayang dan bucinnya ke siapa. Sekarang ngejar-ngejar siapa, tapi bau-bau balikan sama orang lain. It’s okay, aku paham sekarang.”


“Lagi-lagi kamu suka mengambil kesimpulan sendiri.” Mengusap gemas puncak kepala Yuki, ekspresi panik Keven berangsur menghilang. Ia justru tersenyum senang pada kata 'balikan' yang Yuki ucapkan secara spontan di bawah puncak emosi kesal.


Sayangnya dalam sekejap raut wajah Keven kembali menegang kala matanya bersirobok pandang dengan lelaki tua yang menggendong balita. Akan tetapi bukannya menghindar, Keven justru menarik tangan Yuki untuk menghampiri sosok yang menatapnya tidak suka. Terpaksa Yuki berjalan gontai di belakang Keven, enggan menampakkan diri.

__ADS_1


Lagi-lagi ini adalah pertemuan kesekian kalinya yang belum Keven ketahui bagaimana akhirnya. Semoga bukan pengusiran seperti yang sudah terjadi sebelum-sebelumnya.


__ADS_2