
Aroma wangi menguar dari dapur sederhana yang tidak terlalu besar. Di dalam sana, terlihat kuali kotor yang masih panas tergeletak di wastafel, menanti giliran untuk dicuci. Sejenak penguasa dapur itu meraih ponsel sambil tersenyum sumringah.
“Thank you, Chef,” ucap Keven mengakhiri panggilan telepon.
Di depannya kini sudah terhidang dua porsi spaghetti saus lele dan spaghetti pecel lele, kreasi resep tidak terduga sang kepala koki Lux Fantasy. Tentu semua itu atas permintaan memaksa Keven. Demi satu tujuan, yaitu membuktikan pada Yuki jika apa yang ingin dilakukan sangat masuk akal.
Sepanjang pagi Keven sudah berkeliling pasar mencari bahan-bahan yang dibutuhkan, meski harus berakhir dengan bahan seadanya. Bahkan ia rela berebut lele segar dengan penjual pecel lele yang ternyata lebih dahulu melakukan pembelian. Dari sini Keven bisa melihat jika ternyata permintaan pasar untuk ikan air tawar, khususnya lele sendiri cukup tinggi. Tentu saja hal itu tidak lepas dikarenakan ketersediaannya terlalu sedikit.
‘Aku udah pernah sangat terlambat. Bahkan aku pernah kehilangan kamu. Jadi jangan harap kamu bisa lari lagi.'
Keven tidak berubah, ia masih tetap egois. Hanya kali ini dirinya sedang berjuang. Berbeda dengan permulaan kisah mereka yang dihiasi keterpaksaan. Namun Keven tidak akan pernah menerima kegagalan dalam perjuangannya.
Menutup kotak mika transparan, lantas Kevan memasukkan ke dalam kantong kresek merah yang sudah dipersiapkan. Kondisi dapur yang sempat berantakan juga sudah ia bersihkan. Nyaris tidak terlihat jejak kegiatan memasak selain perkakas basah dengan wastafel yang tergenang beberapa titik air.
"Sudah?" tanya laki-laki tua yang lagi-lagi Keven temui sedang menyesap kopi hitam.
"Maaf Pak, dapurnya saya pakai. Masukan aja tarifnya ke tagihan kamar saya."
"Gak usah, cuma pakai dapur aja. Yang penting jangan berantakan, nanti istri saya ngomel,” ucapnya sambil meletakkan cangkir berisi kopi hitam. “Jadi ini mau kembali ke penginapan lagi?”
Menggeleng, Keven segera menjawab, “saya langsung mau antar makan siang ini. Di dapur juga ada sedikit saya buatkan makanan untuk Bapak.”
“Wah kok malah repot-repot. Padahal mau pergi bolak-balik jauh gitu … susahnya di sana memang nggak ada kontrakan. Lagi pula nggak laku kalau buka kontrakan di kampung kecil jauh dari pasar,” tutur laki-laki itu seraya berdiri dan kembali berkata, “ya udah, lanjut aja. Nanti keburu dingin makanan buat istrinya.”
“Mari, Pak, saya permisi,” pamit Keven sambil mengangguk sekilas.
Kemanapun Keven pergi, Yuki akan diakui sebagai istrinya. Mungkin memang ia sudah sangat gila karena tidak bisa menerima status Yuki sabagai mantan istrinya.
Merogoh kunci mobil dari saku celana, Keven bergegas menuju mobil. Diletakkan menu makan siang sekaligus wujud pembuktian itu di samping kursi kemudi. Dilirik sekilas lewat sudut ekor mata dengan rasa bangga dan puas. Keven sudah tidak sabar untuk segera menemui Yuki.
Sejenak Keven menurunkan kaca jendela mobilnya, menikmati terpaan angin di jalanan tepi laut yang sedikit banyak menenangkan hati. Jujur saja ia sangat gugup, namun juga dirundung kerinduan yang teramat sangat kuat.
Ada sedikit kekesalan karena terlalu lama berkeliling pasar dan beberapa kali melakukan kesalahan kala memasak. Beruntung sinyal kartu sim yang digunakan mendukung untuk meminta bantuan dalam setiap langkah demi langkah yang harus Keven kerjakan. Ia benar-benar ingin agar hasil masakannya memiliki cita rasa sesuai kesukaan Yuki.
“Makasih Kak Anna,” ucap Yuki pada wanita bertubuh mungil yang baru saja menyuguhkan segelas teh susu dingin. Reflek ucapan Yuki dibalas seulas senyum manis sebelum berlalu pergi untuk melayani pembeli lainnya.
“Kamu nggak makan?”
“Gak selera.”
“Lambungmu nggak bersalah. Jangan siksa dia gara-gara hati kamu gak baik-baik aja,” cerca Dion secara tiba-tiba.
__ADS_1
“Sok tau,” ketus Yuki.
“Dia datang, kan?”
Mengernyit, Yuki menghentikan niatan menyeruput teh susu dingin yang tampak menyegarkan. “Dia? Apa?”
“Manusia. Tanyanya itu dia siapa, bukan dia apa.”
“Ya itulah pokoknya sama aja. Jadi siapa?”
Mendekat, Dion berbisik, “mantan suami kamu.”
“Dari mana kamu tau?!” tanya Yuki sambil melotot tajam. “Gak mungkin kan hasil ngerumpi sama perawat di Puskesmas?”
“Hanya tebakan karena ada yang lihat kamu ngobrol sama orang asing,” jelas Dion tanpa menceritakan seluruh perbincangan yang tidak sengaja didengarnya.
“Hm,” dehem Yuki disertai anggukan kecil. Sejurus kemudian ia abaikan pertanyaan Dion yang dirasa telah mendapatkan jawaban.
“Saingan aku udah datang, tapi kamu masih gantungin aku,” celetuk Dion mengejutkan Yuki.
“Uhuk! Huk … ap-apaan sih!?” Tersedak Yuki mencebikkan bibir dengan dengusan sebal.
“Gak tau! Gak mau jawab!”
“Mungkin ungkapan yang tepat itu kamu bukan tidak tau jawaban, kamu hanya tidak mau mengakuinya, bener kan?”
“Mending Mas Dion pindah haluan deh.” Yuki menyerongkan duduknya, sedetik kemudian kedua alisnya terangkat dengan dagu mengedik. “Tuh … Kak Anna cantik banget. Kembang Desa yang masih sendiri. Orangnya kalem, lemah lembut, udah mandiri dari usia dini. Jangan sama aku yang janda labil meski cantiknya jangan ditanya lagi, nggak tertandingi. Udahlah Mas Dion nyerah aja. Sekarang 99 persen hidup aku cuma untuk mengejar uang.”
“Bahkan 0,0001 persen sekalipun masih terhitung peluang. Jadi kenapa aku harus menyerah?” sahut Dion sambil meletakkan sendok. Sejenak ia mengurungkan niat menyendok sesuap nasi rames sebagai menu makan siangnya.
Diam. Yuki menulikan pendengaran. Ia bersikap acuh tidak peduli bagai batu yang dihantam deburan ombak.
“Lagi pula kalau kamu mengejar uang, aku kaya loh,” ucap Dion lagi, menimpali perkataannya. Ia cukup percaya diri jika diminta menyombongkan tampan, mapan dan menawan.
“Hah … jadi lapar aku.” Beranjak dari duduknya, Yuki benar-benar mencoba mengabaikan perkataan Dion.
Terlihat Yuki berjalan cepat menghampiri wanita yang dipanggil ‘Kak Anna’ untuk memesan seporsi pempek. Padahal niat awal Yuki pergi ke kantin yang berada dekat dengan kantor Kecamatan dan Puskesmas di mana Dion sementara bertugas hanya untuk menemui Danu. Namun ternyata Danu sedang memiliki urusan tidak terduga yang tidak ingin pula Yuki cari tau.
Plak!
Baru saja Yuki berbalik, suara tamparan menggema. Sontak ia memutar badan dengan mata melotot akibat terperanjat.
__ADS_1
“Dasar perempuan gatal!”
“IMEL!!” teriak Danu penuh amarah bercampur malu.
“KENAPA?! KAMU MAU BELAIN MANTAN PACAR KAMU?!! INGAT YA, AKU ISTRI KAMU!!”
“Ikut aku!!” perintah Danu sambil menarik kasar pergelangan tangan sang istri.
“Awas kamu Anna!!” ancam Imel, wanita yang diyakini sebagai istri dari Danu.
Membeku, Yuki hanya mampu membulatkan mata serta mulut menganga. Ia terlalu syok dengan situasi yang terjadi secepat sambaran petir itu.
“K-kak? Ka-kak gak apa-apa?” tanya Yuki kikuk. Tangannya menggantung di udara. Ragu-ragu untuk menyentuh Anna yang terdiam dengan mata memerah.
Tes.
Sebulir air mata jatuh membasahi pipi kanan Anna. Sedetik langsung diusap sambil berkata dengan suara parau, “gak apa-apa. Memang Imel gitu … pempeknya jadi?”
“I-iya.” Angguk Yuki sambil terus melihat Anna yang sudah sibuk dengan berbagai pesanan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Memundurkan langkah dan berbalik, Yuki kembali duduk di kursinya. Dapat Yuki lihat Dion diam-diam memperhatikan Anna.
“Kamu mau berjuang move on bersama, kan?” Memasang ekspresi serius, Yuki menatap lamat sepasang bola mata Dion yang baru saja bersirobok.
“Iya,” jawab Dion singkat dan mantap.
“Sama Kak Anna aja. Dia ditinggal nikah sama Pak Danu tanpa pernah diputusin. Orang tua Pak Danu nggak merestui karena Kak Anna cuma tamatan SMP,” ucap Yuki dengan intonasi suara rendah, namun cukup kuat untuk bisa Dion dengar.
“Kamu berubah profesi lagi? Mau jadi penulis novel?” Terkekeh, Dion mencubit gemas pipi Yuki untuk beberapa saat. Bisa-bisanya Yuki justru menyuruh Dion memutar haluan, bahkan berpindah kapal. Tentu tidak semudah itu setelah Dion bertekad dan mengenal Yuki sejauh ini.
“Hish, modus banget,” ucap Yuki sambil menepis tangan Dion. Seketika ia memalingkan wajah, merotasi bola mata malas yang sekejap menjadi terbelalak.
...****************...
*
*
*
Terima kasih udah sabar aku gantungin bacanya🥰
__ADS_1