Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Janda Muda Paling Cantik


__ADS_3

Tap.


Tap.


Tap.


Derap langkah canggung mengitari ruangan yang sudah puluhan hari tidak ditempati. Warna dinding abu-abu berubah menjadi putih tulang. Gorden, selimut, seprai dan sarung bantal senada tampak asing di mata Yuki. Sudut yang mulanya kosong terisi meja belajar, atau mungkin meja kerja. Entahlah, yang pasti sebuah meja yang tepat digunakan saat ingin mengerjakan sesuatu.


Satu hal lagi, meja rias elegan dengan cermin dilengkapi lampu sensor otomatis jelas bukan selera Keven mengisi ruang yang tadinya terdapat lemari kayu yang tidak pernah Yuki jelajahi isinya. Padahal baru 42 hari dirinya pergi, namun sudah banyak perubahan. Terhitung sehari menginap di tempat Ismi, 40 hari mengabdi dalam tugas KKN dan sehari lagi dihabiskan dalam perjalanan pulang terombang-ambing di lautan.


“Kamu mau mandi?” celetuk Keven yang sejak tadi memperhatikan Yuki dengan gugup.


“Gak. Aku udah mandi di kapal. Aku mau tidur,” jawab Yuki datar dan cepat. Pancaran wajahnya tampak enggan diajak berbincang lebih lama lagi oleh Keven.


“Istirahatlah sekarang,” ucap Keven seraya berlalu ke kamar mandi. Lama tidak bertemu Yuki membuat tubuh, otak, jantung dan hati tidak baik-baik saja. Gejolak asing terus berusaha mendobrak pertahanan dirinya.


Aneh. Keven seakan sangat merindukan sosok gadis yang sudah berada di kamarnya saat ini.


“Hanya karena mau memperbaiki semuanya, kenapa jadi berdebar gini?” gumam Keven dengan kepala tertunduk memandang lubang wastafel yang terus dialiri air kran. Kedua tangannya bertumpu pada pinggiran wastafel dengan kuat.


Berulang kali hembusan nafas berat keluar dari sepasang lubang hidung Keven. Diangkat dan dipandanginya pantulan wajahnya dengan mata semakin membulat. Ia sangat terkejut pada telinganya yang memerah. Sangat terlihat rona alami yang bingung untuk didefinisikan sebagai luapan emosi yang seperti apa.



Diputar raga dengan gejolak yang masih belum bisa dipahaminya itu menghadap dinding. Kini Keven mendudukkan pantatnya disertai hembusan nafas frustasi. Ingin Keven langsung meminta Yuki untuk bicara empat mata, namun ia tidak ingin kembali egois dengan menyita waktu istirahat Yuki.


Benar, Keven akan meminta Yuki untuk memberinya kesempatan memperbaiki diri. Jika hari ini harus ditunda, maka besok bisa ia lakukan, begitulah pikir Keven mencoba menenangkan dirinya sendiri.


Sayangnya kenyataan yang ada tidak sesuai keinginan Keven. Saat mata yang masih mengantuk itu terbuka, punggung Yuki yang membelakanginya semalaman sudah tiada.


Hanya sebuah pesan yang Mama Agni sampaikan jika Yuki terburu-buru meminta izin keluar mengurus tugas kuliah bersama teman-temannya. Padahal seingat Keven perkuliahan Yuki belum juga dimulai dan hari itu masih teramat pagi untuk memulai aktivitas di luar bagi seseorang yang katanya ingin mengerjakan tugas kuliah.


“Tugas istri mu banyak. Tadi nyebutin video dokumenter sama apalah gitu. Kamu sih katanya dibangunin malah ngebo,” seloroh Mama Agni dengan tangan sibuk mencuci beras.


Padahal sedetikpun tidak ada waktu Yuki terbuang untuk membangunkan Keven. Gadis itu lebih fokus mengendap-ngendap bahkan rela mandi di toilet luar agar tidak mengusik tidur Keven.


...----------------...

__ADS_1


“Kamu yakin, Ki?”


“Gak ada alasan untuk aku gak yakin.” Mengibaskan rambutnya yang menyapu wajah, sedetik kemudian Yuki mencengkeram erat pagar besi setinggi dada yang berjarak 1,5 meter dari ujung tebing terjal sebagai pembatas.


Deburan ombak di bawah sana yang menghantam bebatuan terdengar riuh. Hempasan angin yang berhembus menelusup masuk lubang lengan kemeja. Sontak samar-samar dapat Yuki rasakan dinginnya udara menjalar hingga ke ketiaknya.


“Asal kamu tau, Dim, selama 40 hari di sana aku udah bertekad. Perlahan aku tulis semua yang menjadi permasalahan kami. Gak hanya tentang kesalahan dia, tapi aku juga … Aku masih bertahan bukan untuk terus berharap, tapi aku perlu waktu untuk mempersiapkan semuanya.”


Yuki mendongak, menatap awan yang bergerak perlahan. Angan gadis muda itu melayang pada sekelebat kilasan manis menurut versinya. Menghadirkan senyuman tipis dengan nyeri dada yang semakin melebar.


“Percuma aku terus meminta pisah kalau dia gak bertindak sedikitpun. Aku yang harus turun tangan sendiri. Menggugat cerai itu juga perlu modal. Hidup ku setelah bercerai juga masih perlu modal,” lanjut Yuki mengimbuhi perkataannya. Terkekeh miris sebelum meneruskan kalimatnya. Wajah yang sengaja mendongak itu rupanya menahan genangan air mata yang merembes.


“Orang tua ku? Jujur aku gak mau bergantung sama mereka lagi setelah ini. Aku terlalu kecewa sama mereka. Biarlah Mama dan Papa bahagia atas hidup mereka sendiri. Aku sadar … Melihat aku pasti Mama sakit hati karena teringat Papa. Sedangkan Papa ….”


“Udah, Ki! Cukup!” tukas Dimas lirih, lidahnya kelu merasakan perihnya menjadi Yuki. Sekuat tenaga ia menghirup udara segar berbau lautan bebas untuk mengisi paru-parunya.


“Maaf … Kisah mu bahkan lebih mengerikan, tapi aku yang banyak mengeluh tentang sikap orang tua ku,” ucap Yuki sesal. Ia melupakan hubungan Dimas dengan kedua orang tuanya yang tidak kalah buruk. Bahkan teramat buruk karena Dimas dan kedua adiknya sudah ditelantarkan sejak kecil.


“Ki … Baik aku ataupun Ara, kami pasti siap menerima dan bantuin kamu. Jadi kenapa kamu gak tinggalin gitu aja suami pajangan mu itu?” tanya Dimas dengan sorot mata lurus, namun memendam kebencian pada Keven.


“Mungkin mudah hanya dengan bilang pergi aja dari laki-laki peak titisan demit kayak Keven. Tapi setelah itu aku harus ke mana? Pantaskah aku yang masih berstatus istri pergi begitu aja? Nggak. Aku gak mau pergi dengan banyak beban tertinggal. Aku juga masih punya tanggungan untuk fokus kuliah. Belum lagi banyak deterjen jeletot yang maha benar. Coba bayangin dulu, status janda aja banyak di bully, gimana kalau mereka tau aku istri yang kabur? Akan terlalu banyak masalah baru yang menumpuk.”


“Kenapa gak balas dengan cara dekati laki-laki lain juga? Buat dia panas dingin karena cemburu. Buat dia merasakan saat kamu diabaikan atau saat kamu lihat dia sama itu- ….” Pupil mata Dimas seketika membeliak ke atas, berusaha mengingat sebuah nama yang pernah Yuki sebutkan. “Tante-tante itu siapa sih namanya? Aku lupa, pokoknya itu.”


“Idih Tante ….” Menggelengkan kepalanya Yuki menipiskan bibir, mata menyipit dengan lubang hidung mengembang. “Masih kelihatan muda kali. By the way, namanya Alia.”


“Balik ke topik tadi, kenapa kamu gak cari cogan lain aja? Atau kalau mau yang imut-imut baby face gemesin aku juga bisa bantu,” ucap Dimas sambil membusungkan dadanya. Akhirnya kumat lagi sifat narsis Dimas.


“Mau toxic akut sekalipun hubungan pernikahan kami, aku gak mau ikut mengotorinya. Jadi kalaupun ada wanita lain yang dia tarik masuk ke dalam pernikahan kami, bukan berarti aku harus balas dengan hadirnya laki-laki lain. Udah cukup aku dulu merendahkan harga diri mengejar cin-cuiiih!! Pokoknya gak. Aku gak mau mengambil tindakan rendah yang nantinya bisa jadi boomerang.”


“Cincuih apaan?”


“Cinta-cinta … Gitu aja gak ngerti!” ketus Yuki sewot. Sudut bibir kiri atasnya tertarik naik. Mencebik pada Dimas yang pura-pura tidak mengerti. Terbukti kini pemuda itu tergelak tawa kencang. Mencairkan suasananya sarat akan kesedihan.


“Kamu, Cuit … Sebagai sahabat seperjuangan harus mendukung cita-cita baru aku. Sekarang aku mau bebas. Rencana juga udah cukup matang untuk menuju masa depan impian,” ucap Yuki tegas. Menyerongkan badannya menghadap Dimas dengan seringai lebar.


“Apaan lagi mendadak bahas cita-cita baru.”

__ADS_1


“SEMANGAT SUKSES MENJADI JANDA MUDA PALING CANTIK!” teriak Yuki menggema dengan senyum lebar penuh keceriaan, namun tatapan matanya masih sama sendunya.


Suara Yuki yang lantang, meninggi dan lepas layaknya kepakan sayap burung di udara yang bebas. Menampar jiwa Dimas hingga nyaris ikut melayang karena terperanjat.


“Kasihan banget diriku yang sekarang nemenin istri orang, eh besok-besok sama janda … Hahaha … Janda?” Membekap mulutnya, Dimas sudah siap menyemburkan tawa susulan.


“Yakin nih gak nyesal? Nanti nangis-nangis lagi …,” ucap Dimas lagi mencibir Yuki.


Tidak perlu dihitung seberapa banyak Dimas menjadi saksi nyata maskara atau eyeliner yang luntur. Belum lagi terkadang lipstik yang belepotan di pipi karena ikut tersapu telapak tangan yang menghapus kasar lelehan air mata di pipi.


Dibandingkan Ara, Dimas lah yang lebih sering menjadi pendengar pertama. Menjadi objek pelampiasan curhatan yang menggebu sebelum kembali bercerita dengan lebih tenang pada Ara.


Tujuannya hanya satu, menghindari pemicu emosi Ara yang bisa sangat mengerikan. Yuki sangat paham dengan watak pendiam tapi mematikan Ara. Terkadang gadis yang tidak banyak omong dan sering ketinggalan berita kampus itu memiliki rencana cerdik nyaris licik yang sangat liar. Berbeda dengan dirinya yang sering menggebu-gebu di permukaan, namun terasa layu di hati yang tidak tegaan.


“Udah puas belum di sini? Ara pasti udah on the way ke Kejora,” celetuk Dimas yang mendadak teringat janji mereka bertiga untuk berkumpul.


“Kafe Kejora? Tumben mau di situ dia ngajak ngumpulnya?”


“Katanya habis ngumpul sama kita dia mau lanjut ngedit video promosi Desa kelompok dia. Terus Pak Rava juga ada urusan kerja di sekitar situ. Maklum aja lah Ki, itu bocah sekarang mau ngapain aja bodyguard selalu ngekor. Takut banget kalau Ara dilirik yang lain.”


“Heh … Iya.” Mengangguk setuju Yuki mengikuti langkah Dimas menuju motor yang terparkir agak jauh.


Keduanya melaju menuju Kafe Kejora sambil sesekali berbincang di atas motor. Bersuara lantang melawan bunyi nyaring deru mesin kendaraan, knalpot berisik dan angin yang ditabrak.


Jika sebutan sepasang kekasih bisa disematkan, maka akan terlihat lebih cocok Dimas lah yang mendapat gelar itu dibandingkan Keven. Seperti itulah penampakan yang kini jelas terlihat di mata seseorang yang tersenyum miring di balik setir kemudi. Antrian kendaraan yang berhenti menanti pergantian lampu merah memudahkannya melihat kedua anak muda yang bercanda riang seolah tanpa beban.


...****************...


*


*


*


Sambil persiapan menulis bab ini aku baru tau kalau mau gugat cerai sekaligus jalani prosesnya juga perlu duit yang gak sedikit meski tanpa pengacara🙂 (Sesuatu sekali everyone ....)


Terima kasih semuanya yang sudah sabar menanti kisah Yuki😘

__ADS_1


__ADS_2