Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Kesialan dan Tuduhan


__ADS_3

Prang..


“Aduh, Kak Alia pelan-pelan dong.. Kan jadi jatuh, pecah deh.” Gerutu Yuki kesal, memundurkan langkahnya memindai pecahan gelas yang berserakan. Beruntung Yuki cukup sigap hingga mampu menghindar secepat kilat.


Melirik sekilas pada Alia yang tampak mengernyit kesakitan, di dalam hati Yuki mengumpati Alia yang seenaknya menyenggol lengannya. Yuki yakin Alia sengaja melakukan hal itu. Bukan berprasangka buruk, namun Yuki sangat paham dan menyadari tekanan dari lengan Alia yang mengenai lengannya jelas bukan senggolan ketidaksengajaan.


Apa lagi Yuki mulai jengah beberapa hari selalu mengalami kesialan jika berdekatan dengan Alia. Mulai dari ember air pel yang tumpah, tongkat pel yang melayang, piring pecah, pesanan yang salah, dan kini dua buah gelas kaca yang pecah.


Bahkan setelah Yuki benar-benar pulih dan kembali aktif sebagai pramusaji, bukan mengambil alih mengupas bahan bumbu seperti bawang merah dan bawang putih lagi, Yuki menyadari sorot mata berbeda dari seorang Alia.


Memutar segala hal yang mungkin berawal dari kesalahannya, Yuki tidak mendapati ada hal aneh selain dirinya pernah tidak sengaja melihat Alia dan Saka berpelukan mesra. Itu pun jika Yuki ingat lagi tidak ada diantara keduanya yang menyadari bahwa Yuki tidak sengaja melihatnya.


“Aw.. Sakit.” Keluh Alia sembari memegangi betisnya yang sedikit tergores.


“Iya, pasti sakit lah.” Ucap Yuki ketus yang tanpa sadar terlontar bebas dari bibirnya.


‘Lambat kali otaknya ngerasain sakit.’ Gumam Yuki dalam hati sambil memunguti pecahan gelas berukuran besar di lantai. Tidak berselang lama, Yuki kemudian berdiri hendak mengambil sapu untuk membersihkan sisa pecahan kaca yang sulit ia kumpulkan dengan tangan kosong.


Berjalan santai dengan tujuan utama gudang peralatan, Yuki berpapasan dengan Saka yang jelas sedang mencari Alia.


“Kenapa Al?” Tanya Saka pada Alia yang masih terdengar oleh Yuki.


“Gak apa-apa kok.” Jawab Alia lirih.


“Kamu luka?” Ucap Saka khawatir saat seberkas bintik-bintik cairan merah menghiasi betis Alia sepanjang 2 sentimeter.


“Hm.” Dehem Alia lemah sambil mengangguk singkat.


“Kamu gak apa-apa, Al?”

__ADS_1


“Aku cuma tergores sedikit, Hon. Tapi tangan aku agak sakit tadi membentur lengan Yuki.” Jelas Alia sambil mengusap lengannya. Sesekali Alia mengerutkan dahinya seolah menahan rasa sakit.


“Kenapa bisa terbentur?” Tanya Saka semakin khawatir. Meraih lengan Alia yang sedari tadi diusap pemiliknya, Saka menyingkap lengan baju Alia, memerhatikan jika ada memar di kulit mulus Alia. Namun nihil, tidak ada bekas apapun yang membuat Saka bernafas lega.


“Aku gak tau, mungkin Yuki banyak pikiran jadi asal nabrak aku.” Jawab Alia lirih diselingi sesekali mengaduh sakit saat Saka sedikit menekan lengannya.


‘Apaan sih si Setan ini?!!’ Gerutu Yuki kesal setengah mengumpat pada Alia. Langkah kakinya berhenti tepat di belakang Alia dan Saka. Sebuah sapu lengkap dengan penyerok sampah tergenggam di masing-masing tangan Yuki. Siap sedia jika dibutuhkan untuk menghajar sepasang kekasih di depannya.


“Bener-bener deh Yuki itu. Kerjaan dia jadi gak beres akhir-akhir ini.” Ucap Saka cukup kesal, pasalnya dirinya yang dulu sempat meminta Keven agar Yuki tetap diterima sebagai pramusaji restoran mereka. Cukup wajar keresahan dan kekecewaan yang Saka rasakan, hal itu jelas karena secara tidak langsung ia yang merekomendasikan Yuki.


Menahan kekesalan, Yuki melanjutkan langkahnya, berhenti di hadapan Alia dan Saka, tanpa ambil pusing langsung membersihkan pecahan kaca dari dua gelas yang terjatuh.


“Yuki, ke ruangan aku setelah ini!” Ucap Saka ketus, merengkuh bahu Alia dan menuntunnya kembali ke ruangan khusus yang sudah Saka dan Keven sediakan untuk Alia.


Tok.


Tok.


Tok.


Membuka pintu ruangan Saka dan Keven yang menyatu, Yuki menyembulkan kepalanya. Mengintip sedikit pada ruangan luas yang terisi bunyi berisik dari tuts keyboard personal computer yang beradu dengan jari-jemari Keven.


“Permisi..” Ucap Yuki lantang, mengejutkan Keven yang terlalu fokus pada layar berisi deretan angka di depannya. Ketukan pintu yang Keven kira hanya halusinasi ternyata sebuah kenyataan.


“Kenapa?” Tanya Keven singkat. Ia terlalu sibuk untuk diganggu. Di otak Keven hanya ada Yuki yang tiada henti mengusiknya. Belum lagi jika Yuki tertawa riang bersama Saka dan pekerja laki-laki lainnya, bagi Keven hal itu sangat berisik dan mengganggu pemandangan.


“Di suruh Mas Saka ke ruangannya tadi.” Ucap Yuki pada Keven dengan sebenar-benarnya. Sontak saja hal itu menimbulkan kernyitan dan alis kanan Keven menukik tajam. Keven sangat penasaran akan alasan Saka meminta Yuki masuk ke dalam ruangan mereka.


Entah bisikan dari mana, sedetik kemudian banyak pikiran buruk melintas di otak Keven. Ia takut Saka terlalu baik kepada Yuki dan membuat mereka terjebak dalam suatu hubungan yang rumit. Belum lagi Alia yang terus-terusan mengatakan jika Saka kurang memberikan perhatian sukses membuat Keven ingin mengusir Yuki dan menghardik Saka agar segera sadar diri.

__ADS_1


Perempuan seperti Alia yang rela ia jaga hanya bermodal status persahabatan harus mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya. Keven sadar selama ini Alia bergelimang harta, semua keinginannya dikabulkan sehingga membuat Alia menjadi anak yang manja, namun Keven juga mengetahui sisi gelap kehidupan Alia yang selalu kesepian.


Kedua orang tua Alia terlalu sibuk dengan karir masing-masing. Mengabaikan seorang anak yang butuh kasih sayang. Beruntung saat itu orang tua Keven memberikan kasih sayang yang sama untuk Alia, meskipun Alia hanyalah seorang anak tetangga yang sehari-hari lebih banyak tinggal bersama asisten rumah tangga.


Akan tetapi semua mulai berubah saat keluarga Keven memutuskan untuk pindah rumah karena usaha toko yang dirintis bangkrut. Dari situlah intensitas pertemuan Alia dan Keven berkurang, hingga akhirnya jalinan persahabatan itu semakin lengket saat mereka duduk di bangku SMA dan bertambah pula Saka diantara mereka.


“Kamu gak mau masuk?” Ucap seseorang membuat Yuki terperanjat dengan badan terlonjak kaget.


Suara itu bukan milik Keven, melainkan Saka yang sudah berada tepat di belakang Yuki yang berdiri di ambang pintu. Memutar tubuhnya memandang Saka, seketika Yuki bergidik ngeri, merinding dengan tubuh yang mematung, sorot mata Saka menyiratkan amarah yang membara.


“Masuk!” Ucap Saka sinis. Baru pertama kalinya Yuki mendapati Saka yang dingin kepadanya.


“Duduk!” Ucap Saka lagi masih dengan intonasi datar yang sama dengan sebelumnya. Tentu saja sikap Saka tidak luput dari perhatian Keven. Kini Keven menjadi bingung pada sesuatu yang mungkin terjadi diantara Saka dan Yuki.


“Sebutkan alasan kamu gak suka dengan Alia!” Ucap Saka tiba-tiba seolah menuduh Yuki sebagai pembenci Alia. Sontak saja Yuki langsung memiringkan kepala dengan penuh kebingungan.


Yuki merasa aneh pada pertanyaan Saka yang terkesan menuduh dan terucap secara tiba-tiba. Tidak mungkin hanya karena kejadian gelas pecah Saka sudah menyimpulkan bahwa dirinya membenci Alia.


Lagi pula seharusnya Saka mendengarkan alasan dan cerita sebenarnya dalam versi kedua belah pihak dimana Yuki lah salah satunya. Tidak hanya berat sebelah. Mentang-mentang omongan pacar saja langsung dipercaya.


...****************...


*


*


*


Yang udah dapat spoiler dari novel sebelah selamat merangkai dugaan-dugaannya😄

__ADS_1


__ADS_2