Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
7 Minggu


__ADS_3

“Sayang, Ara telepon,” teriak Keven sambil menuruni anak tangga. Matanya tertuju pada Yuki yang bersantai di ruang keluarga. Duduk diapit Papa Leigh dan Mama Agni yang berbahagia atas kabar kehamilan sang menantu.


Berjalan semakin mendekat, Keven bisa melihat lima test pack berjajar di atas meja. Sekali lagi gelayar haru itu merebak. Menggelitik ke sekujur urat nadi. Melebarkan dada yang membusung bangga. Ketakutannya menjadi penyebab sulit memperoleh keturunan sirna.


“Yuki ngobrol sama Ara dulu ya, Pa, Ma,” ucap Yuki meminta izin. Mendekap ponsel yang sudah terhubung oleh panggilan telepon dari Ara.


Sejekap sudah berlalu ke arah dapur seraya menyambung obrolan dengan Ara di seberang panggilan sana. Niatnya sekalian ingin mengambil camilan.


Sedangkan di ruang keluarga, kini Keven ikut bergabung. Orang tua dan anak itu menyimak informasi terkini terkait perkembangan kasus pembunuhan yang sedang marak diberitakan. Menggemparkan seluruh jagat maya yang ikut mengawal hingga satu per satu misteri terpecahkan.


“Nanti kalau di rumah sakit Yuki gak nyaman atau antrinya kepanjangan, kelamaan, pindah ke Klinik bersalin aja, Kev,” ucap Mama Agni.


“Memang lengkap, Ma?”


“Klinik bersalin sekarang udah lengkap, Kev. Kalau dulu iya Mama ngelahirin kamu di Rumah Sakit, cari yang alat-alatnya lengkap. Apa lagi Mama udah gak muda waktu lahirin kamu. Pas banget dokter kandungannya laki-laki. Siapa tau kamu kayak Papamu. Istrinya biasa aja, tapi suami yang uring-uringan.”


“Dokternya di Klinik?”


“Kamu kok mendadak norak sih Mas-mas. Dokternya ya ada. Mau nanti lahiran dibantu bidan juga gak masalah. Kita banyak-banyak berdoa supaya Yuki sama cucu Mama sehat terus.”


“Anak kompleks sini juga ada yang jadi dokter kandungan di Klinik dekat sini kan, Ma? Anaknya siapa itu … Pak Sam? Si Lisa ya, Ma?” tanya Papa Leigh dengan alis berkerut. Tidak lupa dibarengi dengan secangkir teh yang siap diseruput.


“Risa, Pa. Kembarannya Lisa kerja di Bank.”


“Iya itulah, Kev.” Angguk Papa Leigh membenarkan. “Kalau bisa yang tangani perempuan aja. Papa tau kamu ini titisan Papa."

__ADS_1


Sekilas Papa Leigh melirik Mama Agni lewat sudut ekor mata. Sepertinya laki-laki paruh baya itu tengah mengenang kilasan paling berharga seraya mengimbuhi perkataannya. “Pesan Papa, jaga baik-baik istrimu. Apalagi sekarang lagi hamil muda. Kamu banyakin sabar. Jangan buat Yuki gampang marah. Kalau mendadak emosinya labil ya maklumi aja. Orang hamil itu kadang gak terduga.”


“Dengerin tuh kata Papa. Jaga Yuki sama cucu Mama yang bener ya, Kev. Mama bersyukur banget kalian gak perlu kayak kami. Gak nunggu kamu ubanan dulu baru punya anak. Kita juga masih punya kesempatan main sama cucu ya, Pa?”


Suara Mama Agni bergetar. Di masa senjanya, sebuah harapan yang sempat ingin dipendam saja secara ajaib sebentar lagi akan terwujud, yaitu bisa melihat anak dari putra semata wayangnya. Semoga saja umur panjang menyertainya hingga sang cucu yang berkembang di dalam perut Yuki bisa menangis, berlari, memanggil dirinya Oma dan masih mampu digendongnya.


...----------------...


“Mikirin apa sih, By? Dari tadi ngelamun aja.”


“Bukan apa-apa,” kilah Keven sembari mengelus lengan Yuki. Mengeratkan rangkulan di bahu perempuan yang semula asik bermain ponsel, sibuk belanja online.


“Aku ini istri kamu bukan?”


Mengernyit, sebelah tangan Keven reflek menggenggam jemari kiri Yuki. “Memang kamu istri siapa kalau bukan aku, hm?”


“Bisa-bisanya ngatain suami kayak badak.”


“Ngalahin badak, bukan kayak badak. Nanti pulang kamu harus bersihin telinga. Jangan-jangan kebanyakan tai, mampet. Iya kali aku hamil anak badak.”


“Iya, udah. Jadi tasnya dibeli?” Sengaja Keven mengalihkan pembicaraan.


“Udah. Ambil dua gak apa-apa kan, By? Biar sekalian ongkirnya. Terus kalau beli dua dapat bonus gantungan singa. Nih … lucu banget, kan?” Layar ponsel menggelap itu kembali menyala. Menampilkan gambar sebuah gantungan kunci berbentuk singa.


“Lucu lagi kamu.”

__ADS_1


“Ya jelas dong. Istri kamu itu kan cantik, imut, lucu, baik hati, tidak sombong, rajin menabung, selalu mempesona meski kurang bohai.”


“Kamu itu udah seksi …,” bisik Keven, berlanjut diimbuhi dalam hati, ‘di kamar, di ranjang, polos lagi. Mana tahan.’


“Pasti lagi mikir jorok. Ckckck, mesum.”


“Ibu Yuki Yulika ….”


“Buruan, By. Giliran kita. Nanti di rumah aku service plus-plus, gratis. Tapi kita konsultasi dulu.”


Mendengar kalimat Yuki, Keven spontan berdehem salah tingkah. Pasalnya mereka bukan satu-satunya orang di situ. Ada pasangan lain yang menunggu antrian selanjutnya.


“Wah ini dia Si Mungil yang lagi beradaptasi di perut Bunda. Panjang tubuhnya sudah mencapai satu koma tiga ya, Pak, Bun. Masih sebesar buah ceri. Sayangnya kita belum bisa lihat wajah Si Mungil,” ucap Dokter itu seolah menjawab kerutan di dahi Keven. Paham pada kebingungan Keven kala mengamati bentuk aneh yang jelas anaknya sendiri.


“Bu Dok, anak saya kok mirip kuda laut gendut ya? Bentuknya normal, kan? Kayaknya waktu saya lihat gambar di internet kaki tangannya udah terbentuk deh.”


Sontak pertanyaan Yuki mengundang kekehan sang dokter. “Memang seperti ini Bun di usia Si Mungil tujuh minggu. Bisa dilihat di sini ada kaki dan tangannya.”


“Kelihatan kayak mau main tinju loh, By. Iya kan, Dok?” celetuk Yuki seraya menaikkan tangan kanannya yang terkepal. Terkekeh dengan cengiran khas yang ingin sekali Keven bungkam lewat kecupan jika hanya berduaan.


“Iya, sekilas seperti tangan terkepal ya, Bun. Kayak main tinju. Di usia ini belum bisa kita lihat dengan jelas karena jari-jari tangan dan kakinya belum lama mulai terbentuk, masih berselaput ya, Bun. Nah sekarang kita pindah ke bagian kepalanya … bisa Bunda lihat, kontur wajahnya masih berkembang lagi ya, Bun. Tapi jangan khawatir, overall sehat. Di sini jantung dan hati Si Mungil juga sudah berkembang pesat. Untuk wajahnya, nanti kita coba lihat di pertemuan selanjutnya ya, Pak, Bun. Semoga Si Mungil nggak malu-malu atau ngajak main petak umpet.”


Sekali lagi, baik Yuki maupun Keven diliputi perasaan gemas, takjub dan berbagai rasa bahagia lainnya yang menyatu sulit diungkapkan. Janin berusia tujuh minggu itu telah berhasil menempati sebuah puncak tertinggi di hati sepasang calon Papa dan Mama muda itu. Memberikan kilauan warna baru yang berpendar di hati keduanya.


Sumpah, Keven dan Yuki sudah tidak sabar ingin menyambut alunan merdu jeritan pertamanya di dunia ini.

__ADS_1


...****************...


Terima kasih semuanya udah sabar nungguin up😘


__ADS_2