
“Jangan sering-sering nyusul aku. Kamu di sini kerja, bukan main-main.” Maju selangkah, Yuki terkekeh sekejap, lalu merendahkan suaranya dalam ucapan, “ingat harus punya tabungan masa depan.”
Spontan kode keras dalam balutan candaan membuat Keven tersenyum lebar. Harus diakui sejak dulu Yuki memang cukup agresif. Namun tiba-tiba Keven mendesah lesu di bawah sorot sendu. “Maaf, sejauh ini aku belum bisa kasih kamu sesuatu yang layak.”
Menggeleng, Yuki berkata, “aku bertanggung jawab atas diri aku sendiri. Kamu juga udah cukup kasih aku sesuatu yang layak. Dan berhenti kirim uang ke rekeningku! Kalau bulan depan aku lihat ada transferan lagi … kamu tamat! Aku cuma mau kita selesaikan tanggung jawab kita masing-masing tapi tetap saling dukung. Satu hal lagi, aku kerja di sana karena itu kemauan aku, bukan untuk benar-benar pergi dari kamu. Buktinya kamu tetap bisa nemuin aku.”
“Janji setelah ini kamu nggak ada main kabur-kaburan lagi?” Keven mengacungkan jari kelingking. Didorong maju sejajar dadanya.
“Iya-iya, janji,” ucap Yuki seraya membalas menautkan jari kelingkingnya. Mengikat sebuah janji sederhana dibubuhi ketulusan dari kedua hati yang telah terbuka satu sama lain.
“Jangan mendekat!” Belum juga tautan jari itu terurai, suara Yuki mendadak melengking. “Kok nggak kapok habis disangka pasangan mesum?! Pasti mau nyeruduk, kan? Mulai sekarang kamu dilarang peluk, pegang, rangkul dan mepet-mepet kayak gini tanpa seizin aku!”
“Berarti cium boleh?” gumam Keven asal dengan suara lirih layaknya berbisik.
Yuki spontan memukul lengan Keven. Gadis itu buru-buru menutup bibirnya dengan tangan kiri sambil melotot lebar. Diangkat pula telunjuk teracung lurus seolah tidak percaya pada cicitan yang terdengar samar.
Tepat pada saat Keven hendak membuka mulut, suara panggilan masuk untuk seluruh penumpang kapal menggema. Sontak Yuki merampas tas miliknya yang Keven bawa. Berlari kecil menjauh secara tiba-tiba, namun segera berhenti sebelum kesadaran Keven tersentak. Lantas ia berbalik sambil mengulas senyum sumringah.
“Boleh, tapi ikat aku dulu.” Lima jemari kiri Yuki direnggangkan, terbuka lebar dan diangkat sejajar wajah yang berbinar-binar. Namun dalam sekejap ia menyengir seraya menukar jemari kanannya untuk dipamerkan. “Eh, salah. Harusnya yang ini.”
“Hahaha,” tawa Keven pecah. Laki-laki itu reflek memegangi perutnya dengan sebelah tangan. Detik berikutnya berjalan mendekat. Mengusap gemas puncak kepala Yuki yang menangkup wajah dengan kedua tangan.
“Aaa … aku malu. Mas Keven sih!” Yuki mendongak sambil manyun. “Udah ya, bye. Aku tunggu kapan ditembaknya. Kita masih TTM, teman tapi mantan.”
Perpisahan manis itu Keven lepas dengan ketidakrelaan. Sesekali ia berikan balasan lambaian tangan pada Yuki yang menoleh ke belakang. Mereka sudah dipisahkan barikade pagar besi setinggi satu meter. Bisa dengan mudah Keven lompati, tapi jelas tidak mungkin dilakukan.
“Yuki-Yuki.” Geleng Keven tidak habis pikir pada gadis yang perlahan menghilang dari pandangan. “Bukannya aku udah minta kita balikan? Jadi tadi kita ngapain? Teman tapi mantan, nggak salah. Tapi ….”
__ADS_1
Pelan-pelan Keven hembuskan nafas berat tertahan. Ia putar kakinya membelakangi pintu masuk keberangkatan penumpang. Menyugar rambut yang tertata rapi dengan sedikit kekehan tanpa bisa menjelaskan seperti apa perasaannya, namun jelas didominasi kebahagiaan.
Di sana Keven tidak langsung meninggalkan Pelabuhan. Nyatanya ia cukup berharap seorang gadis tiba-tiba muncul dengan wajah cemberut karena kapal tidak jadi berlayar. Sangat disayangkan semua hanya harapan semu Keven. Gema kuat klakson angin pertanda jangkar dinaikkan dan kapal siap melaju menghempaskan seluruh kilasan angan yang dirangkai.
...----------------...
Hari yang berlalu tanpa terduga sudah menjadi minggu, lalu dalam sekejap berganti bulan. Tapi Yuki selalu bisa menikmati hari-harinya meskipun tidak jarang harus berjalan di bawah terik mentari, terkadang juga harus menembus rintik hujan. Tawa riangnya pun masih sama, hanya terdengar lebih ringan dan lepas.
“Ini untuk bulan lalu … kamu yakin gak mau nambah lagi?”
“Makasih Pak Danu. Tapi maaf, saya cuma bisa ikut bantu sampai di sini aja.”
“Sayang banget. Padahal kelompok usaha kita udah mulai maju. Sebentar lagi gurame sama nila bisa dikirim ke luar negeri. Tinggal nunggu dilegalkan surat permohonan kita.”
Menyengir canggung, Yuki usap tengkuknya dengan kikuk. Memang cukup disayangkan ia memilih berhenti dari pekerjaan yang kini tengah berada di puncak. Berakhir dengan gaji terakhir beserta bonus yang belum diketahui berapa nilainya. Hanya sebatas tebakan karena amplop yang dipegang terasa lebih tebal.
“Sayang, ayo.”
Menoleh, kedua sudut bibir Yuki spontan tertarik naik, melengkung ke atas menyerupai bulan sabit. “Cie, udah lancar banget panggil Sayang-nya. Jadi pengen meleleh, tapi bukan es krim. Kalau manja-manja boleh kali ya?” ucap Yuki sembari merangkul lengan kokoh laki-laki yang mengusak rambutnya. Lantas tertawa kecil bersama seraya meninggalkan petakan kolam tanah dan terpal yang tersusun berjejeran.
“Kamu yakin berhenti kerja di sini?”
“Memang kamu rela kalau aku bilang nggak yakin terus lanjut kerja di sini lagi?”
Menggeleng, Keven turunkan sorot sayu menyiratkan penolakannya pada Yuki. “Nggak.”
“Udah tau nggak rela gitu pakai nanya lagi. Nggak takut nyesal kalau aku berubah pikiran?”
__ADS_1
“Gak masalah selama itu bisa buat kamu bahagia. Tapi akan sulit untuk minta Mama Papa ikut pindah ke sini.”
“Ada-ada aja. Makanya kamu gak perlu ke sini, cukup di sana aja supaya bisa sambil jagain Mama Papa … oya, kamu belum kasih tau Mama kan kalau aku mau pulang ke sana?”
“Belum. Sesuai permintaan kamu,” jawab Keven sambil mengurai rangkulan tangan Yuki dari lengannya. “Periksa lagi barang-barang kamu di kamar. Biar aku bawa tas di ruang tamu ke motor.”
“Okay, Bos.” Berlagak siap pada perintah Keven, Yuki secepatnya berlalu masuk ke rumah yang sebentar lagi akan ditinggalkan. Ia melesat ke kamar yang semalam masih ditiduri, memindai setiap sudut menjalankan perintah Keven.
Sementara Keven di luar sudah asik bercengkrama dengan dua orang warga yang nantinya akan membantu membawa barang sekaligus mengantar dirinya dan Yuki ke Pelabuhan. Selain itu, ada pula sebagian lagi adalah orang-orang yang sedang bertugas merawat kolam binaan Desa.
...----------------...
Menempuh sekitar enam jam perjalanan laut menggunakan speedboat, Yuki sukses membuat Keven justru kesenangan dalam kesemutan. Bahu kiri laki-laki itu kebas. Menopang kepala gadis yang seakan pingsan, padahal hanya tertidur selama satu jam. Namun percayalah sudah lebih dari tiga atau empat jam lamanya jika ditotal waktu Yuki sering menyandarkan kepala pada bahu Keven.
“Yuki? Sayang? Bangun yuk,” bisik Keven sambil menepuk-nepuk pelan pipi Yuki.
“Hm,” dehem Yuki singkat disertai tepisan kasar tanpa kesengajaan sebagai jawaban.
“Sebentar lagi sampai. Kamu nggak mau bedakan?”
Berhasil. Yuki pelan-pelan membuka kelopak matanya. Mengintip dengan sebelah mata yang disipitkan.
“Ada liurku ya?” tanya Yuki dengan suara serak. Menghadap Keven tanpa malu dengan mata kembali terpejam malas. Tidak lupa tangan kirinya menekan tengkuk yang kaku dan kram.
"Nggak ada," jawab Keven sembari mengusap sudut kanan bibir Yuki.
"Nggak ada tapi dilap. Tukang bohongnya mendarah daging," ketus Yuki mencibir sekenanya, namun jelas sama sekali tidak menyinggung perasaan Keven. Laki-laki itu justru membantu Yuki merapikan riasan meski hanya sebatas bedak tipis dan menyisir rambut.
__ADS_1