Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Orang Ketiga


__ADS_3

Dua pasang mata yang saling menatap sempat beradu argument lewat sorot intens. Berbeda dengan Yogi yang diam dan tenang, Keven tengah menggeram marah. Emosi memuncak sama sekali tidak ditutupi. Ia tidak habis pikir pada rekaman yang terputar di ponsel Yogi. Beruntung suara yang samar masih tertangkap jelas di pendengaran.


“Perlu gue naikin lagi kasusnya?"


"Gak perlu. Gue capek.” Keven menyugar rambutnya dengan sedikit remasan. Pelan-pelan menghembuskan nafas yang dibuang kasar lewat mulut. Berusaha menetralkan ekspresi wajah kaku agar tidak kentara oleh Yuki.


“Ya udah, tenang aja. Kita tunggu sampai bulan depan proses hukum pengembalian aset lo selesai. Gue jamin semua aman,” ucap Yogi sambil menepuk bahu Keven. “Masa hukuman mantan asisten lo juga udah jalan.”


‘Apa Rezvan anak mereka?’ batin Keven tiba-tiba. Tanpa sadar kerutan halus di dahi kian bertambah. Ia juga mengeraskan rahang dengan tangan terkepal.


“Plot twist kasus lo itu cinta atau obsesi,” celetuk Yogi sambil menyengir jahil. Sontak mendapat pelototan kilat Keven.


“Kayaknya dendam banget mantan pacar Alia sama lo. Walaupun belum terbukti dia dalang semua masalah ini, tapi dari cekcok mereka dan hasil penelusuran gue, udah fix … kalau lo mau kasusnya bener-bener tuntas, kasih gue kuasa buat naikin kasus lo,” imbuh Yogi panjang lebar.


“Gak perlu,” tolak Keven lagi.


Sementara itu di tempat berbeda Yuki sejenak mematung. Ia tersentak kaget oleh sapaan seseorang yang sangat tidak asing, namun tidak ingin dilihatnya lagi. Padahal sudah Yuki abaikan sedari awal tanpa sengaja bersirobok pandang.


“Boleh aku duduk di sini?”


“Duduk aja, gratis,” jawab Yuki malas. Ia melengos mengabaikan sosok yang ternyata memilih berdiri di tempatnya.


“Jualan apa?”


“Belum buka,” sahut Yuki cepat, agak sewot. Gadis itu kembali fokus meneruskan pekerjaan yang Keven tinggalkan. Membuka meja dan kursi lipat tepat di teras toko milik Om Yudith yang sudah tutup.


“Kamu apa kabar, Ki?”


“Baik,” jawab Yuki, tentu tanpa melihat lawan bicaranya.


“Aku, nggak sebaik waktu sama kamu dulu.”


“Oh," balas Yuki singkat sambil memutar bola mata malas. Bagi Yuki, meskipun laki-laki yang merusak suasana hatinya ini tenggelam di perut paus sekalipun itu bukan urusannya, ia tidak peduli.


'Si paling menderita,' sambung Yuki dalam hati dengan bibir mencebik sewot.


“Aku dengar kamu udah nikah.” Lagi-lagi suara laki-laki itu menyeruak pendengaran Yuki. Seperti tidak cukup sadar jika dirinya diabaikan, ia kembali berkata, "mmm, aku boleh minta nomor kamu?"


"Nggak!"

__ADS_1


"Buat ngobrol atau ...."


"Gak ada obrolan apa-apa lagi di antara kita," potong Yuki ketus. "Gak etis deketin mantan yang udah nikah. Gak usah berharap apapun."


“Bukannya kamu udah cerai?”


Mengernyitkan dahi, Yuki menoleh sekilas dengan mata memicing sengit. Ia terkekeh jengah sambil memutar bola mata malas. Lalu secepatnya Yuki membalikkan badan menghadap laki-laki yang juga berdiri cukup dekat darinya.


“Sorry, udah rujuk," tukas Yuki sembari menunjuk pergelangan tangan kiri yang diangkat sejajar wajah. Ingin sekali Yuki menendang orang di hadapannya ini agar segera menghilang.


"Nah itu suamiku,” seru Yuki sumringah seiring tangan menunjuk lurus. Terpercik binar di wajah berseri yang sempat kusut.


Dalam sekejap Yuki sudah melangkah ringan namun lebar menghampiri Keven. Akhirnya ia bisa bernafas lega kala mendapati Keven muncul dari lorong di antara bengkel dan toko onderdil milik Om Yudith. Tentu tidak ketinggalan diikuti pula oleh Yogi.


"Lama banget sih, By. Katanya ngobrol sebentar," bisik Yuki merengek pada Keven. Spontan menerbitkan seulas senyum tipis di bibir Keven.


Terlihat pula Yuki sengaja merangkul dan menarik turun lengan Keven agar si empunya merunduk. Sontak pemandangan itu berhasil memangkas kuncup layu yang baru saja bersemi kembali.


"Gue lanjut ya, Kev, Yuki … Satria ngapain bengong? Ayo," ucap Yogi tiba-tiba. Ia tepuk bahu pemuda yang menatap getir dengan senyum kecut tepat pada lengan Keven yang dirangkul Yuki.


"Iya, Pak." Angguk Satri patuh. Terdengar helaan nafasnya yang berat sebelum kembali menatap Yuki seraya berpamitan, “duluan, Ki. Kapan-kapan aku mampir."


“Siapa?” tanya Keven selidik, suaranya rendah dan tidak ramah. Bahkan sosok yang menjadi pertanyaannya belum juga menghilang dari penglihatan.


"Namanya Satria, tapi lebih cocok dipanggil Bang-Sat," jawab Yuki menekan perkataannya sambil bersungut sebal.


"By, usapin kepala biar nggak mendidih. Kesel banget," pinta Yuki tiba-tiba dengan bibir mencebik sembari meletakkan telapak tangan Keven di puncak kepala. Tentu Keven hanya diam menurut, menunggu penjelasan Yuki. Meskipun sejatinya ia bukan tipe orang yang sabaran.


"Kalau orang udah diblokir harusnya sadar diri, kan? Udah tau diblokir, sekian lama nggak pernah kontakan, putus juga musuhan, tapi tiba-tiba ketemu sok gak bisa move on. Merasa gak bahagia padahal tadi sebelum turun dari mobil juga cengengesan, penipu ulung. Dikira mataku katarak gak bisa lihat!? Oya, dia itu mantan aku, By,” sungut Yuki mengomel diakhiri pernyataan santai yang sukses meninju ulu hati Keven.


“Jadi dia yang lebih baik dari aku?” tanya Keven datar. Api cemburunya sudah berkobar dahsyat.


“Enak aja. Bukan!" sahut Yuki dengan gelengan tegas. Tangannya pun mengibas di depan wajah. Sontak membuat Keven bertambah panas, bahkan berlalu begitu saja. Menghentak langkah kaki kasar. Meraih apapun yang bisa dikerjakan sambil berselimut emosi kecemburuan.


Bergabung dengan Keven, Yuki ikut membantu meneruskan pekerjaan yang bisa ia lakukan. Keduanya pun tidak ada yang berbicara, mendadak sama-sama serius namun dengan suasana hati yang jelas berbeda.


Namun tanpa diduga Yuki dan Keven secara bersamaan menghembuskan nafas pendek nan berat. Saling menatap satu sama lainnya dengan ekspresi penuh makna.


“Seneng ketemu mantan?” cibir Keven remeh di bawah sorot curiga.

__ADS_1


"Kok kamu bilang gitu sih? Dia itu cowok paling plin-plan, gak peka, tegaan, pokoknya nggak banget. Asal kamu tau, aku sering dijadiin orang ketiga. Padahal status aku pacar, tapi dikit-dikit selalu sahabatnya yang cewek itu paling diutamain. Terus kalau aku protes dibilang baper. Mana mungkin aku percaya mereka nggak ada apa-apa. Kenapa nggak mereka aja yang pacaran, iya kan?! Kesel banget tau By harus ingat masa-masa bucin bodoh itu ... hah!! Kenapa sekarang keselnya aku berlipat ganda ya? Kayak ada hal serupa yang bikin aku marah, tapi aku gak tau itu apa.”


Hidung Yuki kembang kempis. Matanya membulat geram. Giginya bergemeretak dengan rahang mengeras. Sejenak ia kibaskan helaian rambut yang menempel di tengkuk, gerah tanpa sebab yang jelas.


Berbeda dengan Keven yang tiba-tiba merasa tersindir. Ia terdiam beberapa saat sebelum menghembuskan nafas kasar. Tersentil kenyataan yang tidak jauh berbeda dari keluhan panjang Yuki.


Lagi-lagi dada Keven sesak oleh penyesalan yang masih membekas. Rasa bersalah itu benar-benar bersemayam nyata di lubuk hati Keven.


"By," tegur Yuki sambil mencolek pinggang Keven. "Masih cemburu? Marah? Gak perlu.”


Tangan Yuki menangkup pipi Keven. Kedua ibu jarinya mendorong lembut sudut bibir Keven yang melengkung sendu.


“Jangan buang-buang tenaga buat hal gak penting. Kamu kan tau siapa yang paling aku cinta.” Mengerling genit, Yuki langsung berbalik. Sepersekian detik kemudian kembali berucap, “mending buruan angkat bahan masaknya, tuh udah datang. Sama jangan lupa pakai kaos yang aku kasih tadi."


Kaki Keven membatu. Langkahnya seketika berat dengan hati menolak tidak rela. "Kamu yakin aku pakai itu? Apa nggak berlebihan?"


"Kamu Malu? Bajunya bagus kok. Mukaku juga imut. Sablonnya mulus. Kainnya adem. Ukurannya pas di badan kamu. Aku juga udah ikutin gaya ala model brand ambassador gitu. Pakai ya, hm?"


"Tapi ... iya, aku pakai." Keven mengalah. Ia kalah pada ekspresi memelas Yuki yang menggemaskan.


Senyum cerah yang tercetak di bagian punggung kaos hitam Keven benar-benar menarik perhatian banyak orang. Ditambah lagi pose imut dengan rambut dicepol dua layaknya bocah kemarin sore. Jangan lupakan pula sifat periang Yuki setiap berurusan dengan pelanggan, mungkin tidak seorangpun yang mengira jika Yuki sudah memasuki pertengahan usia 20 tahunan.


‘Bisa-bisanya dia buat gue mirip om-om bucin,’ batin Keven menggerutu. Namun tetap sibuk bermain dengan kuali bergoyang di atas tungku membara. Dalam sekejap dua hidangan sudah ia selesaikan secara bersamaan.


“Kenapa, Sayang?” tanya Keven pada Yuki yang kebingungan.


“By, saus bakaran di mana? Ini habis. Ada yang pesen bebek sama lele bakar.”


“Ada di box merah, Sayang,” sahut Keven cepat. “Itu tinggalin dulu. Biar aku aja. Tolong kamu antar pesanan ini.”


Meletakkan wadah bekas saus khusus beserta kuasnya, Yuki lantas menyusun tiga piring ke atas nampan. “Okay, meluncur. Meja ujung kan, By?”


“Iya,” jawab Keven sambil menuang saus rahasia dari botol berukuran lima liter. Lalu meraciknya kembali dengan tambahan bumbu dapur umumnya untuk menguatkan rasa.


Sedangkan Yuki sudah melenggang sampai di meja tujuan. “Permisi … mie goreng sosis pakai telur ceplok setengah matang, capcay goreng plus nasi. Selamat menikmati. Kalau ada yang mau dipesan lagi, langsung panggil YU-KI aja ya ….”


Di balik pemanggang persegi panjang, Keven menggeleng takjub. Sudah sejak awal keduanya memulai rutinitas berjualan dan Yuki selalu mengucapkan kalimat yang nyaris serupa dengan keramahan berbalut senyum cerah yang sama.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih udah setia baca kisah Yuki😘 Karena ada kesibukan tertentu, maaf ya bikin menunggu selama ini buat update nya😊🙏


__ADS_2