
“Mas, mau pakai kemeja biru atau maroon?” Tanya Yuki sambil menimang dua kemeja di tangan kanan dan kirinya yang masih tergantung di hanger.
“Biru aja.” Jawab Keven singkat sembari menggosok rambut belakangnya yang basah. Matanya lebih memilih untuk memerhatikan Yuki ketimbang kemeja yang harus ia kenakan.
“Hari ini kamu jangan minum kopi, minum yogurt yang masih ada di kulkas. Semalam asam lambung kamu naik, gak baik kalau pagi ini dihajar kopi.” Ucap Yuki sambil mengembalikan kemeja berwarna maroon ke dalam lemari gantung khusus pakaian Keven.
“Kamu tau?” Mengernyit heran, Keven tidak menyangka Yuki tau jika kemarin malam asam lambungnya naik. Sudah beberapa hari dirinya memang sibuk bolak-balik mengurus restoran dan usaha barunya. Sejak Saka memutuskan hengkang dari Lux Fantasy, beban pekerjaannya melimpah ruah.
Faktor kesibukan, telat makan, kurang tidur dan stress membuat penyakit asam lambung yang belum pernah bertandang akhirnya menyapa tanpa permisi. Kondisi Keven ini tidak lepas karena penurunan hormon prostaglandin yang dipicu stress sehingga asam lambung meningkat. Padahal salah satu fungsi hormon itu di tubuh untuk menurunkan produksi asam lambung.
“Tau.” Jawab Yuki singkat. Sangat jelas Yuki tau dari mendengar sendiri keluhan Keven pada Mama Agni. Hanya Keven saja yang terlalu manja mengeluh di samping Mama Agni yang merebus air sampai tidak menyadari Yuki sempat melintas di belakang punggungnya kala meletakkan tongkat pel kering ke gudang kecil di belakang dapur.
Meninggalkan Keven yang masih terus memandangi Yuki hingga menghilang, saat ini Yuki sibuk memanggil Papa Leigh dan Mama Agni untuk sarapan terlebih dahulu. Sedangkan dirinya hanya berdiam menunggu Keven turun.
Yuki bersikap seolah tidak terjadi apapun. Baik Keven, Papa Leigh dan Mama Agni juga memilih bungkam atas kejadian yang menimpa Yuki. Ketiganya tidak ingin menyinggung masalah sensitif yang bisa saja mengguncang jiwa Yuki.
“Cukup?” Tanya Yuki sambil menyendok tumis kacang panjang ke dalam piring Keven. Kini keempat orang dewasa penghuni rumah berlantai dua itu duduk melingkari meja makan. Menu sarapan pagi ini sepenuhnya hasil olahan tangan Yuki. Rasa yang masih belum rata seringkali menimbulkan kernyitan sekilas, namun masih dimaklumi, tidak dicaci sedikitpun. Semuanya tetap mengunyah dan mengadaptasikan lidah demi menghargai jerih payah Yuki.
Semua yang Yuki lakukan bukan untuk mendapatkan hati Keven. Layaknya sebuah tanggung jawab dan kewajiban, itulah yang mendasari tindakan Yuki saat ini. Fakta menyakitkan dari rumah tangga Papa Gibran dan Mama Maria menjadi pukulan telak bagi Yuki untuk tersadar pada dirinya yang harus siap berdiri di atas kakinya sendiri tanpa perlu mengharapkan orang lain yang berlabel keluarga.
Menatap satu per satu orang-orang yang sibuk dengan piring di hadapan masing-masing, Yuki tersenyum simpul. Sedih jika membayangkan suatu saat dirinya akan berpisah, namun juga semakin sakit jika terlalu berharap.
Sudut matanya yang kini beralih melirik keven berhasil menghadirkan nyeri semu di anggota tubuh. Ia sudah lelah berjuang dan terus menata hati yang patah berulang kali. Serpihan hati yang sulit digapai untuk Yuki satukan membuat lubang yang berhasil menimbulkan retakan baru.
...----------------...
Yuki tetap melanjutkan rutinitasnya seperti biasa. Bangun pagi membantu Mama Agni, menyiapkan keperluan Keven, menjalani perkuliahannya. Masih sempat pula bersenda gurau mengomentari adegan absurd yang tetap ditayangkan sebuah rumah produksi film. Bahkan sesekali Yuki menghabiskan waktunya bersama Dimas dan Ara. Akan tetapi ada satu hal yang berubah, tidak ada Yuki yang terlalu berisik saat hanya bersama Keven.
__ADS_1
‘Kenapa dia jadi pendiam?’ Tanya Keven dalam hati. Rasanya ada sesuatu yang mengusik sisi kerinduan pada suara berisik Yuki. ‘Rindu?’ Membatin Keven dengan senyum miring.
“Ck! Apa-apaan sih otak gue!” Hardiknya pada diri sendiri, menepuk dahi berulang kali seolah ingin mengeluarkan kata rindu yang sejenak singgah di otaknya.
Ceklek.
Brak!
“Keven..!”
Knop pintu dibuka paksa terdengar. Dentuman daun pintu menghantam dinding secara kasar bersamaan dengan teguran lantang menyerukan namanya menyentak pusat perhatian yang Keven bangun setelah cukup lama teralihkan dengan bayangan Yuki di pelupuk mata. Sosok yang kini melangkah lebar dengan emosi meluap membuat kerutan halus di dahi Keven terbentuk semakin dalam.
“Bajingan elo, Kev!” Hardiknya dengan intonasi suara lebih meninggi, menarik kerah kemeja Keven. Kepalan tangan kanannya sudah sangat siap melayangkan bogeman kapanpun ia mau.
“Untuk apa lo ke sini lagi, Ka?” Tanya Keven dengan sorot mata tajam, namun tidak berniat terlepas dari cengkeraman Saka yang dipenuhi emosi memuncak.
“Kalau lo juga cinta sama Alia, jujur sama gue! SIALAN!!” Ucap Saka sambil menghempaskan tubuh Keven dan meninju kasar meja kerja dengan tumpukan kertas berserakan.
“Kenapa lo selalu pura-pura dukung usaha gue? KENAPA KEV!?” Lanjut Saka berucap dengan suara parau. Dapat Keven lihat bahwa penampilan Saka sangat kacau. Kemeja yang kusut, kantong mata tebal dan menghitam serta tubuhnya yang bertambah kurus.
“Gue juga sahabat elo, Kev. Kalau lo udah tau Alia gak cinta sama gue, kenapa lo biarin dia gue nikahi? Gue tulus cinta sama Alia. Gue tulus sama persahabatan kita, tapi kenapa kalian tega mempermainkan ketulusan yang udah gue kasih?” Gumam Saka yang masih sangat jelas terdengar oleh Keven.
Membenamkan wajahnya ke dalam telapak tangan yang menengadah, Saka meraup kasar wajahnya. Nafasnya tersengal hebat. Pikirannya kacau setelah sebuah rekaman yang sempat ia abaikan baru saja terputar beberapa hari lalu yang menjadi titik awal semua tabir terkuak.
“Maksud lo apa datang ke tempat yang udah lo buang dan marah-marah gak jelas?” Tanya Keven jengah tanpa memperdulikan rentetan tuduhan Saka kepadanya.
“Dari awal lo mau gue sama Alia pisah kan? Lo berhasil, Kev. Sebentar lagi gue dan Alia bakal cerai. Silakan lo ambil perempuan yang lo cintai itu!” Ucap Saka pilu. Berbagai musibah sudah menimpa dirinya sejak awal menikah dengan Alia. Hebatnya semua hal itu selalu membawa nama Keven. Apapun yang Saka lakukan untuk Alia selalu salah, ia terus dibandingkan dengan Keven.
__ADS_1
Mulanya Saka percaya bahwa Keven satu-satunya yang bermain api. Bahkan dari ucapan Alia sendiri Saka mengetahui jika Keven yang mendekatinya. Namun kini semua sudah jelas, bahwa dirinya yang terlalu terbutakan oleh cinta hingga mempercayai semua perkataan calon mantan istrinya itu.
“Lo gak usah aneh-aneh ya!” Terpancing sudah emosi Keven. Tidak mungkin pernikahan sahabatnya itu kandas. Bahkan demi menjaga hubungan Saka dan Alia terbebas dari prasangka ia dengan tega melibatkan Yuki dalam permasalahannya.
Sampai saat ini meski kebencian hadir, namun kenangan tentang persahabatan mereka akan terus mendominasi di sudut hati Keven. Ia memang marah karena Saka yang memanipulasi hubungan masa lalunya dengan Nindy. Sebuah permainan gila yang Saka buat agar Nindy menerima cinta Keven jika ingin mendekati dirinya. Keven tentu kecewa telah dipermainkan oleh Saka, bak superhero tapi nyatanya pembuat skenario.
...****************...
Promo novel yang baru lahir😄
Genre : Komedi Romantis
Sinopsis :
Bintang dan Lintang, dua anak manusia yang mendadak bersatu dalam ikatan suci, tanpa cinta. Menggores kisah masing-masing dalam lembaran yang sama. Mereka bukan teman ranjang biasa.
Benarkah titik-titik kisah yang dirangkai hanya sebatas legalitas goresan hitam di atas putih?
Lalu, bagaimana keduanya mengarungi hari-hari setelah resmi melepas status si gagal move on dan jomblo abadi?
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih sudah mengikuti kisah Yuki😘