
Pagi itu gerimis melanda bersamaan cahaya fajar menyingsing. Lamat-lamat kilaunya mengintip lewat celah gorden yang disingkap. Seolah memberikan sapaan pada seorang bayi mungil yang mencebikkan bibir.
Sementara Yuki menarik nafas panjang. Bergegas mengambil ancang-ancang. Menggenggam kedua sisi samping celana segitiga tipis dan melorotkannya. Seketika tubuh ibu muda itu bergidik kedinginan.
“Sayang … Mama Simba … Mama Leo!” panggil Keven menyerukan hampir semua sebutan kesayangan untuk Yuki. Kepalanya menoleh ke samping memastikan bahwa sang istri telah muncul di ambang pintu kamar mandi.
“Sayang ini gimana? Udah gembung lagi. Dia kayaknya mau pipis,” seru Keven panik. Padahal baru saja ia hendak mengganti popok yang basah sesuai instruksi Yuki.
“Tutup pakai kain bedongnya, By!” balas Yuki agak nyaring lengkap dengan helaan kasar efek mengejan tertahan. Bersambung membatin di dalam hati, ‘belum juga sampai di ujung loh ini.’
Gagal sudah sesi buang air besar. Yuki membasuh tangan pasrah dengan dengusan seberat hembusan badak siap menyeruduk.
Baru beranjak sebentar saja tidak bisa. Padahal Yuki ingin menuntaskan hajat besar yang sedari tadi seakan melilit usus besar.
Di mata Yuki, suaminya menjelma menjadi sosok tidak berguna bila harus berurusan dengan sang buah hati. Terbukti dengan seprai yang entah bagaimana juga ikut basah terkena air kencing Leo. Ditambah tangisan memekik kencang hingga seluruh wajah dan kepala mungil bayi itu memerah.
“Kan udah aku bilang tutup pakai kain bedongnya, By. Habis ini gak usah dibedong lagi,” gerutu Yuki sebelum matanya berakhir membulat besar.
“Kenapa seprai jadi basah? Gak ada harganya perlak anakmu ini. Kamu juga kenapa mainin pipis Leo sih?! Kapan kita bisa gantian kalau kayak gini terus?!” keluh Yuki frustasi. Menyambar popok baru dari tangan Keven dengan kasar. Menepis uluran tisu basah yang sejatinya dibutuhkan.
“Maaf, Sayang, aku ….”
“Ssstt!! Ini tuh tinggal gini loh. Lepasin semua baju Leo. Angkat, pindahin. Lap badannya … kasih minyak biar hangat. Pelan-pelan pakai baju ganti. Tinggal ambil aja di keranjang ini. Semua udah aku susun satu set. Kalau udah jam segini gak usah di bedong lagi biar mulai terbiasa kayak gini, kecuali malam, dingin. Kurang apa lagi sih, By? Aku cuma pengen … huft. Kenapa susah banget sih By ngurus anak? Ini baru satu, gimana kalau ...," ucap Yuki panjang lebar namun tidak terselesaikan.
Perempuan itu mengusap wajahnya kasar. Menarik nafas dalam-dalam lalu bergegas menyelipkan tangan di bawah tubuh mungil Leo. Sedikit kepayahan akibat tenaga yang seolah terkuras. Belum lagi perutnya masih mulas.
__ADS_1
Tanpa kata Keven menahan Yuki. Mengambil alih Leo. Memindahkan perlahan tubuh kecil dengan gerakan canggung dan kaku ke dalam buaiannya. Menimang dengan posisi berdiri sambil sesekali menurunkan sebelah tangan mengusap puncak kepala Yuki yang tertunduk lesu.
Si kecil itu tidak suka hawa dingin dunia barunya. Sering kali rewel jika tidak cepat-cepat digantikan dengan pakaian bersih dan hangat, namun tidak pula selalu berlapis tebal. Menjelang siang ia akan kembali rewel jika kegerahan.
Sekali lagi Keven merutuki ketidaksigapan sebagai seorang papa. Namun mau bagaimana lagi jika memang dirinya masih sangat kikuk untuk mengurus sang buah hati. Takut bila tenaga yang digunakan justru menyakiti bayi mungil dalam buaiannya ini.
"Sayang, maaf ... salahku. Maaf bikin kamu susah sendirian," sesal Keven lagi. Menatap miris istrinya yang berantakan. Rambut dicepol asal-asalan. Daster busui kusut yang belum diganti dari semalam. Lengkap dengan kantong mata menghitam tebal.
"Hari ini biar aku aja yang jaga Leo. Kita panggil tukang pijat ya?"
Mendongak, Yuki menggeleng lemah. "Kerjaanmu gimana?"
"Nanti urusan warung bisa di handle dari rumah.”
“Masih ada waktu sampai Leo bisa kita bawa keluar. Persiapannya udah hampir selesai. Bisa kita pantau berdua dari rumah.”
“Kalau sibuk pergi aja, By. Aku gak apa-apa.”
“Aku yang nggak baik-baik aja, Sayang. Aku gak mungkin bisa ninggalin kamu kayak gini. Udah hampir seminggu kamu kurang tidur."
"Aku nyusahin ya, By?" tanya Yuki sendu. Bibirnya melengkung ke bawah. Mencebik persis seperti Leo kala ingin menangis. Tidak perlu ditunggu, mata mama muda itu berkaca-kaca.
Tiga hari setelah melahirkan, perasaan Yuki sering kali kacau. Ia kelewat sensitif. Bahagianya sedikit terusik rasa rendah diri. Tepatnya setelah kunjungan beberapa tetangga komplek, teman arisan Mama Agni.
Rupanya keresahan itu berlanjut hingga saat ini. Yuki merasa teramat sangat tidak kompeten dan tidak mampu menjadi orang tua yang baik untuk Leo.
__ADS_1
"Hei, Sayang kenapa?"
Sambil terus menimang Leo, Keven tangkup dagu Yuki. Diangkat lembut hingga dua pasang mata itu saling mengunci.
Perlahan Keven coba duduk di sisi sang istri. Berusaha tetap menjaga timangan yang stabil agar Leo kecil tidak rewel.
"Udah gak becus jadi ibu. Gak becus juga jadi istri," jawab Yuki parau. Lolos sudah setetes kesedihan di sudut ekor mata. Buru-buru di usapnya dengan punggung tangan.
Spontan Keven menggeleng. Menyangkal pernyataan Yuki. "Kamu lihat aku ... bajuku licin, wangi, perutku kenyang. Lihat anak kita, lucu kan? Semua ini karena kamu. Kamu yang merawat kami."
"Tapi ASI ku gak lancar lagi. Orang-orang bilang anak kita kecil. Panjang kurus." Helaan berat terdengar memenuhi kamar beraroma khas bayi.
Mata yang berkantong tebal menghitam dan lelah setelah lima malam beruntun tidak mampu benar-benar terlelap itu menatap lurus pada Keven. Namun sangat hampa. Jiwa Yuki seolah bersembunyi menyalahkan dirinya sendiri.
"Anak kita sehat. Gak perlu dengarin omongan orang lain. Anak kita baik-baik aja," tegas Keven. Cukup menyiratkan kegeraman pada entah siapa yang telah berhasil melukai hati istrinya. Akan tetapi ia sudah bertekad untuk berbicara empat mata secara pelan-pelan dengan Mama Agni.
“Perlu kamu ingat, dokter bilang berat badan Leo bisa turun dan itu normal. Kita nggak perlu dengarin omongan orang-orang jahat itu. Fokus aja di Leo. Lagian anak kita itu gembul, Sayang. Lihat ini pipinya montok. Lengannya padat. Kamu tega ngatain anak sendiri kurus?” ucap Keven lagi.
Menunduk terdiam, Yuki amati sang buah hati yang seketika menggeliat. Mengecap-ngecap bibirnya dengan menggemaskan. Ia tidak tertidur, namun seolah ikut menyimak obrolan kedua orang tuanya.
‘Orang gila mana yang bikin istri gue stress gini?! Gak bisa dibiarin!’
...****************...
Terima kasih udah selalu baca kisah Yuki sampai saat ini🥰
__ADS_1