
Tetesan air di permukaan daun sudah menipis. Menguap ke angkasa menyambut mentari yang semakin menyembul, mengintip dari balik awan abu bercampur putih di langit biru. Perlahan menghangatkan Bumi yang basah.
“Mama titip Yuki ya, Kev. Tolong bahagiakan anak cerewet Mama itu. Jangan biarin dia sampai sendirian dan nangis lagi. Kalau suatu saat ada tingkah laku Yuki yang kurang berkenan buat kamu, tolong bimbing dia karena kamu yang lebih dewasa. Sebisa mungkin kamu yang sabar hadapin dia.”
“Iya, Ma. Keven janji pasti bahagiakan Yuki. Gak akan Keven biarin Yuki sendirian lagi, karena tanpa Mama minta sebenarnya aku yang nggak bisa jauh dari Yuki.”
“Pegang janji dan omongan kamu … Mama restui kalian berdua.”
Terpancar binar bahagia di raut wajah Keven. Laki-laki yang berdiri di sisi kiri Mama Maria itu spontan menolehkan kepala, menatap Ibu dari sang pujaan hati. Sekejap Keven seakan terlempar ke udara dan terhempas pada trampolin berbunga yang tebal, lembut dan menguarkan semerbak wangi menenangkan.
“Mama percayakan Yuki ke kamu,” sambung Mama Maria sambil mengusap lengannya, tiba-tiba ia bergidik, merinding karena dingin. “Jadi kapan kalian mau nikah lagi? Jangan pacaran lama-lama. Apalagi kalian juga udah pernah menikah.”
Menunduk sendu, Keven hela nafasnya kasar. Cukup kecewa dengan dirinya sendiri. “Aku … maaf, Ma. Keven nggak bisa janji secepatnya. Jujur dengan ekonomi saat ini ….”
“Cukup resmikan hubungan kalian. Tanpa pesta pun Yuki mau,” potong Mama Maria. “Mama tau anak nggak sabaran itu diam-diam nunggu kepastian kamu. Bicarakan berdua. Mama tunggu kabar baiknya.”
“Kabar baik apa?” celetuk Yuki dengan suara melengking, berhasil membuat Mama Maria dan Keven berjengit terperanjat.
Gadis itu bagai pencuri yang tiba-tiba hadir, namun berani menyempil di antara Keven dan Mama Maria. Kini mata bulat yang sempat memandang lurus jalanan komplek perumahan di pagi hari itu mulai melihat kedua manusia di sisi kanan kirinya silih berganti.
“Kabar baik Mama dapat cucu,” jawab Mama Maria sekenanya, lalu berbalik masuk ke dalam rumah orang tua Keven. Tepatnya sudah tiga hari dua malam Mama Maria menumpang tinggal di sana selama berada di Kota B.
“Dikira ngupil bisa cepet ngasih cucu,” gerutu Yuki lirih sambil mencebik.
“By, nanti siang habis Mama pulang antar aku ke suatu tempat ya?” Suara Yuki kembali menggema, namun kali ini lebih manja dan jelas ditujukan untuk Keven.
“Ke mana?” tanya Keven lembut sambil mengusap puncak kepala Yuki.
“Ikuti aja nanti arahan aku. Pokoknya kamu spesial hari ini jadi Ayang ojek aku, okay?” kata Yuki seraya membentuk lingkaran dari telunjuk dan ibu jari kanannya sebagai sinyal persetujuan. Akan tetapi dari nada tegas yang terlontar jelas tidak mau menerima penolakan.
...----------------...
Menjelang siang, pagi yang menghangat itu hilang. Sayangnya tidak pula bertambah menjadi panas. Langit biru tertutup sempurna oleh awan hitam. Bergemuruh kuat bagai tangisan bayi kelaparan.
“Pulang besok aja, Dek,” ucap Mama Agni mencoba mencegah Mama Maria yang sudah siap dengan payung ungu.
__ADS_1
“Izin cutinya ha-AAGH!”
“Aaaaa!!”
Gema jeritan kedua wanita tua itu seketika memenuhi seisi sudut rumah. Kilauan dan suara menggelegar sambaran petir bagai sebuah kemarahan yang siap meluluhlantakan dunia. Di samping itu Yuki reflek memejamkan mata sambil menutup telinga dengan kedua tangan. Lain halnya Keven dan Papa Leigh yang hanya terpejam sekejap.
“Ma, besok aja pulangnya. Serem loh. Kalau dipecat juga gak apa-apa. Dari pada bahaya di jalan.” Yuki mendekat, memohon dengan raut wajah memelas penuh kekhawatiran.
“Iya deh, Mama tunggu reda. Takut kilatnya dahsyat banget.” Gegas Mama Maria kembali melipat payung di tangannya.
“Ayo, masuk-masuk. Hujannya makin deras,” kata Papa Leigh sambil mendorong lembut lengan Mama Agni. Berlanjut melambai rendah pada Yuki agar cepat menyusul masuk.
Kini kelima orang itu sama-sama duduk di ruang tengah berteman teh hangat dan keripik pisang. Saling melempar obrolan ringan yang pelan-pelan menjadi perbincangan serius.
Topik berat seputar hubungan Keven dan Yuki pun tidak luput dibahas. Pertama tentu perihal keinginan Mama Maria menitipkan Yuki sehari-dua hari pada Mama Agni dan Papa Leigh sebelum masuk ke rumah kos yang sudah ia persiapkan. Lalu mulai mengulik pendapat antar orang tua yang berakhir pada pertanyaan tentang keseriusan kedua pemeran utama.
“Ya ampun anak ini,” ujar Mama Maria putus asa. Mulutnya hampir berbusa, namun yang menjadi pemeran utama justru tertidur lelap sambil memeluk lengannya. Bahkan tidak ada yang menyadari karena sejak awal Yuki menyembunyikan kepalanya yang menunduk di bawah lengan Mama Maria.
“Pa, mejanya geser dulu. Bantalnya taruh sini … bantu angkat Yuki, Kev.”
“Udah biarin aja, Mbak. Yuki kalau udah tidur meluk kayak gini susah dilepas. Persis lintah.”
...----------------...
“Hoaaaeem ….” Raungan nyaring keluar dari mulut yang terbuka lebar. Visualnya yang menakjubkan bagai hentakan gelombang dari sudut bibir kiri ke kanan.
“Masih ngantuk?”
“Banget, By.”
“Pegangan. Sandarin kepala kamu.”
“Halah, modus! Pakai nanya ngantuk. Kalau pengen dipeluk bilang aja. Kamu ini kebanyakan gaya,” celoteh Yuki sewot sembari melingkarkan tangan di perut Keven. Tanpa menunggu lama ia tempelkan sebelah pipi di sisi bahu kiri Keven sambil terpejam menikmati terpaan udara dingin selepas hujan. Tercium pula bau tanah basah yang ajaibnya menyegarkan. Sedangkan Keven hanya menggeleng geli.
“Mama udah sampai belum ya, By?” ucap Yuki kuat di balik punggung Keven yang fokus mengendarai motor.
__ADS_1
“Belum. Mungkin baru keluar gapura. Kenapa?”
“Gak ada.”
“Masih kangen?”
“Iya," lirih Yuki, tentu tidak terdengar oleh Keven.
Sejenak kebungkaman hadir di antara sepasang anak manusia itu. Hanya kebisingan deru mesin motor dan klakson yang kadang bersahutan menyeruak pendengaran.
Beberapa saat kemudian Keven memperlambat laju motor dan lantas berkata, “sebentar lagi ada simpang, kanan kiri?”
“Kiri, By," jawab Yuki dengan belitan tangan kiri yang sekejap terlepas. Terulur lurus seiring telapak tangan melambai layaknya menegaskan jawaban yang diberikan.
"Pulangnya mampir beli martabak ya, By. Buat bawaan ke rumah Om Yudith," ucap Yuki lagi.
Keven diam mengangguk. Sejurus kemudian dielus dan tepuk-tepuk lembut punggung tangan Yuki yang masih betah melingkar di perutnya. Sekejap ia turunkan pandangan, melirik ke arah jemari mungil yang masih kosong. Dulu, di situ sebuah cincin pernah bertahta.
"By, lusa aku gak usah diantar. Kamu kan mau interview anak baru buat jaga toko. Biar efisien. Lagian tinggal bawa badan sama baju aja ke kos temen Mama itu. Udah Mama urus semuanya. Paling sorean kita cek lokasi sekalian main ke bengkel Om Yudith. Aku juga belum tau model jualan kita nanti gimana. Cuma kebayang kayak kaki lima yang biasa jual nasi goreng malam-malam gitu."
"Ikut aku. Setelah itu kita ke kos baru kamu," ucap Keven sarat akan penolakan sambil memperlambat laju motor yang perlahan berhenti. "Interview jam delapan, cuma dua orang. Siangnya aku mau ketemu Yogi, jadi kamu bisa tidur. Sore aku jemput."
“Yogi temen kamu yang pakai kacamata kotak terus orangnya keliatan kalem itu ya?” ucap Yuki cepat sambil menaikkan sebelah alisnya.
Keven mengangguk mengiyakan.
“Pasti punya banyak cewek, kan?”
“Kamu tau dari mana?” Mengernyit, Keven mengulas senyum tipis. Cukup takjub pada tebakan Yuki yang bisa dibilang tepat sasaran.
“Bener ya? Kelihatan dari senyumnya doyan gombal sama tebar pesona. Tapi emang ganteng sih, agak ada manis-manisnya gitu.”
Spontan Keven menepuk kilat punggung tangan Yuki. Merengut sebal sambil bertekad tidak akan membawa Yuki saat bertemu Yogi, teman yang merangkap sebagai pengacaranya saat ini.
Benar, perjuangan atas penipuan yang Keven alami masih terus diupayakan. Jikalau tidak bisa mendapatkan kembali hasil jerih payahnya selama ini, Keven hanya berharap bisa meluruskan kesalahpahaman dengan berbagai mitra bisnis dan memulihkan citranya yang sempat tercoreng.
__ADS_1
Sementara itu, Yuki si pembuat onar hanya menyengir dan tertawa renyah di belakang Keven. Ia justru sangat penasaran bagaimana ekspresi cemberut Keven karena dirinya baru saja memuji laki-laki lain. Meskipun tidak ditampik pujiannya bukan sebuah skenario belaka. Nyatanya bagi Yuki sosok Yogi memang lumayan tampan.
"Aku udah nggak sabar banget mau lihat kamu masakin pesanan orang-orang. Padahal diem aja suka bikin aku klepek-klepek. Tapi kok aku agak was-was ya, By? Kayak harus siapin mental ... udah jelas banget level kegantengan kamu dijamin naik. Pokoknya nanti aku mau pasang perisai pawang galak, kamu nggak boleh komplain!" seloroh Yuki diselingi suara cekikikan yang berakhir dengan helaan nafas berat.