
“Gak mungkin,” gumam Keven gusar. Tidak mempercayai apa yang baru saja didengar.
Seketika lututnya melemas, tapi tetap dipaksa melangkah pergi. Perlahan namun pasti Keven berlari. Melonggarkan kerah kemeja yang sudah terbuka dua kancingnya. Diusap kasar leher yang berkeringat dingin. Ia tercekik oleh udara bebas yang nyatanya sebagai sumber kehidupan.
Sejenak dihembuskan nafas kasar dari mulut. Dihempaskan lengan dengan tangan terkepal bertumpu di badan mobil guna menopang tubuh yang limbung. Jangan tanya sekacau apa pikiran Keven, jelas berkecamuk amburadul.
‘Di mana kamu?’ batin Keven bertanya-tanya. Pandangannya sekejap turun, menatap miris kantong makanan yang sempat dibanggakan. Samar-samar ia terbayang tas besar di samping kasur Yuki.
Mengusap wajahnya, kini Keven ingat, bukan hanya tas besar namun juga koper yang berada di samping kasur. “Bodoh!” umpat Keven marah pada dirinya sendiri.
Hari itu Keven kukuh membawakan makanan untuk Yuki dan Dimas. Sempat pula diintip bagian kamar kos yang hanya terdiri satu ruang tidur dan kamar mandi, jelas terpampang banyak barang yang sedang dikemas. Bahkan beberapa kotak kardus masih terbuka, hanya isinya berupa makanan instan dan sedikit perkakas tidak membuat Keven saat itu curiga.
Brak!
Tangan yang terkepal itu bergetar. Sakitnya tidak dirasa. Bahkan tidak cukup untuk meluapkan seluruh emosi membara.
Tanpa menunggu lama Keven memacu mobilnya. Mengebut dan menerobos keramaian di tengah jam makan siang yang padat. Hanya satu tujuan Keven, kos-kosan Yuki.
“Dia ….” Suara Keven menggantung bersamaan pedal rem yang diinjak dalam-dalam. Tubuhnya sedikit terpental, namun tetap menatap lekat sosok yang mengunci pintu kos Yuki.
Secepatnya Keven keluar dari mobil. Mengayunkan langkah kaki terburu-buru.
“Babysitter Saka?”
Terperanjat, remaja perempuan di depan Keven sontak menoleh. “Oom temennya Om Saka mantan suami Kak Yuki, kan?” todong Nita dengan mata menyipit karena silau. Wajahnya yang mendongak mau tidak mau harus menghadapi kilauan terik matahari siang itu.
“Iya.” Angguk Keven.
“Nyari Kak Yuki?”
“Iya.” Angguk Keven lagi.
“Gak ada. Udah pergi,” ucap Nita sambil menggeleng.
“Pergi? Ke mana?!” tanya Keven dengan nada menuntut.
“Katanya ke tempat KKN dulu,” jawab Nita polos. “Tadi Abang antarin ke Pelabuhan. Udah lama … Oya, babysitter Angga, bukan babysitter Om Saka.”
Seakan tuli, Keven mengindahkan penuturan terakhir Nita. Gegas Keven berlari menuju mobilnya. Memutar setir kemudi secara brutal. Lagi-lagi ia mengebut di jalanan dengan suara klakson yang terus sahut-menyahut.
__ADS_1
Sedangkan Yuki yang memporak-porandakan seluruh jiwa raga Keven tengah tersenyum manis pada Dimas. Keduanya saling senggol dan menyindir jalan hidup masing-masing. Namun semua itu tidak cukup menutup kerinduan di mata Dimas meski kepergian Yuki belum juga terjadi. Seandainya Yuki sedikit lebih peka lagi, mungkin ia bisa mengartikan makna terselubung dari senyum di bawah tatapan sendu Dimas.
“Pokoknya tanggung jawab kalau aku sampai dipiting Ara,” sungut Dimas.
“Masa bodoh, yang penting bukan aku.”
“Wah resek banget. Dia yang nggak ngasih tau Ara, tapi aku yang jadi tumbal.”
“Tenang aja, Ara udah punya pawang. Kalau sampai dia miting atau nyentuh kamu sedikit aja, percayalah Pak Rava bakal kasih yang lebih dari itu. Hahaha ….” Tawa Yuki pecah, puas membayangkan Dimas yang mengkerut bagai terong busuk.
“Udah sana naik! Nanti ditinggal kapal nangis.” Kedua tangan Dimas menempel di belakang bahu Yuki, mendorong pelan agar gadis itu segera bergerak menaiki kapal.
“Nanti biar aku telepon Ara kalau udah sampai sana. Aku pergi dulu ya …,” ucap Yuki sambil menepuk lengan Dimas. Mengulas senyum tipis dan berbalik badan. Gadis itu menarik koper penuh tekad. Semakin banyak langkahnya terayun, maka semakin jelas kapal ro-ro yang hendak dinaiki.
Dalam sekejap bayangan Yuki hilang dari pandangan Dimas. Menyisakan rasa gamang atas jarak yang sebentar lagi tercipta. Kini Dimas hanya ingin mendudukkan diri di kursi tunggu sampai tanda kapal berlayar terdengar, memastikan jika Yuki sudah benar-benar pergi dari Kota B.
Berbeda dengan Keven yang masih berjuang mengarungi jalan. Bahkan tidak jarang tinjunya mendarat kasar ke paha. Hanya tinggal satu belokan lagi Keven berhasil sampai ke gerbang utama pelabuhan. Sayangnya seketika otaknya seakan membeku, mengunci pompaan darah di jantung. Pemandangan kapal di tengah lautan yang berlayar menjauh membuat Keven semakin takut.
“Please, jangan pergi lagi,” pinta Keven dengan berbagai penyangkalan di hati.
Sayangnya kenyataan tidak sesuai harapan Keven. Yuki sudah merentangkan tangan, membiarkan dirinya diterpa hembusan angin kencang ala film fenomenal. Tersenyum puas bagai meraih kemenangan bisa meninggalkan Kota B yang penuh kenangan. Tanpa ia ketahui ada sosok yang nyaris gila karena kepergiannya yang tiba-tiba.
Keven membenci kenyataan yang ada. Membenci dirinya yang melepaskan Yuki. Membenci cintanya yang begitu bodoh hingga terlambat disadari.
Tertatih Keven kesulitan berjalan karena kaki kanannya terkilir. Kini pelabuhan bukan lagi tujuan Keven, beralih menjadi bandara yang menjadi harapan satu-satunya. Namun apa yang dihadapinya lagi-lagi tidak sesuai harapan.
Terpengkur dengan wajah tenggelam di kedua telapak tangan, Keven kehabisan kata-kata. Otaknya kosong, tidak terlintas satu kata pun yang mampu Keven pikirkan.
...----------------...
“Kev … Kamu tau Yuki pergi hari ini?” tanya Mama Agni sambil memasang ekspresi serius. Sontak menghentikan Keven yang hendak menuju kamarnya. Padahal baru saja dirinya memasuki ruang tamu rumah berlantai dua itu.
“Mama tau dari mana?” Seketika Keven melotot.
“Yuki.”
“Mama tau dan gak kasih tau aku?!” Suara Keven tiba-tiba meninggi. Kini bukan hanya matanya yang melotot, namun rahang Keven mengeras disertai tangan terkepal di sisi tubuh.
“Gimana Mama mau kasih tau kalau kamu gak pernah pulang?” jawab Mama Agni sambil memalingkan wajah, cukup serba salah setelah mendapati respon sang anak.
__ADS_1
“Mama tau Mama bisa kasih tau aku tanpa aku harus pulang. Kenapa Mama diam aja? Dari kapan Mama tau kalau Yuki mau pergi?!” Raut wajah Keven berubah datar, dilingkupi nanar yang merebak dari bola mata.
“Udah dua atau tiga hari lalu Yuki pamit ke Mama. Dia mau kerja di luar,” lirih Mama Agni layaknya sedang bergumam.
Menggeleng, Keven berlalu pergi ke kamarnya. Kecewa itu membesar kala mengetahui sang Mama nyatanya sudah tau perihal kepergian Yuki.
Memang bukan urusannya lagi. Ia tidak berhak mencegah atau menghalangi keputusan Yuki. Namun setidaknya Keven ingin menjadi salah satu dari orang-orang yang Yuki anggap penting.
Pyaar ...
"Aaaaarrghh!!!"
Suara kaca pecah diiringi teriakan Keven menggema hingga ke lantai dasar. Mengejutkan Mama Agni yang langsung menaiki anak tangga dengan panik.
"Keven!!?" teriak Mama Agni. Pupil matanya spontan membesar kala melihat darah bercucuran dari sela jari-jemari Keven.
Di lain tempat di waktu yang sama, Papa Leigh menyemburkan seruputan kopi karena terkejut. Laki-laki tua yang asik nongkrong di warung kopi bersama bapak-bapak komplek itu nyaris jantungan saat disodori video amatir.
"Ini kapan?" tanya Papa Leigh dengan tangan gemetaran. Dijeda video yang terputar, menyorot sebuah kartu identitas yang sangat dikenali.
"Lap dulu mulutmu, Lek."
"Menantuku ini ... Ini punya menantuku," ucap Papa Leigh panik berhasil mengguncang ketenangan pengunjung warung kopi yang kebanyakan hanya menikmati Wi-Fi.
...****************...
*
*
*
Lama ya UP nya? 😅 Iya, tau kok emang lama banget sampai bikin aku sendiri kesel🙏
Sambil nungguin kisah Yuki yang masih berlanjut, bisa nih baca juga novel Kak rini sya, judulnya Mantan Terindah (Ini berbawang🤧)
Terima kasih sudah membaca kisah Yuki🥰
__ADS_1