
Bunyi tamparan dan pukulan asal menggema di hari yang beranjak pagi. Matahari memang masih betah di belahan bumi lainnya, namun jika bulan bisa tertawa, maka ia akan terpingkal pada Keven yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Bugh.
Plak.
“Ma.. Udah, Ma! Anak kita kamu pukuli sampai bonyok juga Yuki gak bisa langsung ketemu.” Ucap Papa Leigh menghalau pukulan kencang Mama Agni yang akan kembali mendarat sempurna di punggung Keven, anak laki-lakinya.
“Mama kesel, Pa..!! Istrinya ilang tapi dia santai-santai aja!!” Gerutu Mama Agni, melirik sinis pada Keven yang masih mengaduh dan meregangkan punggungnya.
Mulanya Mama Agni tidak menyadari kepergian Yuki. Pikirnya Yuki kelelahan dan tidur, namun saat Mama Agni memaksa Keven membangunkan Yuki untuk makan malam justru jawaban singkat Keven yang mengatakan Yuki tidak ada di kamarnya membuat Mama Agni khawatir.
Menggeledah seluruh ruangan, memanggil nama Yuki dengan suara nyaring hingga mencoba menghubungi lewat nomor ponsel yang tersimpan sudah berulang kali dilakukan. Bahkan Keven sudah menyusuri jalanan atau bahkan tempat-tempat yang mungkin Yuki kunjungi, salah satunya rumah lama yang pernah Yuki tempati. Dan tentu saja hasilnya nihil, karena nyatanya Yuki berada di terminal bus dan sudah siap melalang buana ke Kota lain.
“Keven harus gimana lagi, Ma? Ponselnya mati, Keven gak punya kontak teman-teman Yuki, rumah yang dulu Yuki tempati juga udah dipakai orang lain.” Ucap Keven mencoba membela diri. Kesal atas kepergian Yuki yang hanya menempatkan dirinya dalam situasi sulit.
“Besok juga pasti pulang, Ma. Udah deh Keven mau tidur, besok kerja.” Lanjut Keven berucap dengan malas. Sedetik saja kakinya nyaris melangkah dari tubuh yang sudah diputar balik, Keven harus merelakan gendang telinganya berdenging.
“ASTAGA KEVEEEEENN..!!” Teriak Mama Agni memekakkan telinga, bahkan tampak membangunkan penghuni di rumah sebarang. Sedangkan Papa Leigh yang sebenarnya ikut marah pada sikap Keven hanya mampu mengusap dada. Peperangan antara Ibu dan anak itu tidak akan usai sebelum Yuki ditemukan.
Papa Leigh pun tidak kalah bingung, lebih tepatnya bingung untuk menenangkan Mama Agni yang menabuh genderang perang. Belum lagi sikap acuh Keven yang mau tidak mau membuat Papa Leigh hanya mampu menggeleng kepala, bersabar dan tidak ikut meluapkan emosi.
“Mama gak mau tau, cari menantu Mama sampai ketemu!!” Perintah Mama Agni mutlak, beringsut maju menghadang langkah kaki Keven dengan jari telunjuk yang menghardik tepat di wajah sang anak.
“Nanti dia pasti pulang juga, Ma. Keven capek seharian ini banyak banget masalah.” Ucap Keven memelas, menyugar kasar rambutnya dengan sedikit remasan. Bukan hanya tubuhnya yang lelah, namun pikirannya yang penuh beban harus ditambah dengan menghilangnya Yuki.
Rasanya sudah cukup perdebatan yang dialaminya dengan Yuki mengganggu sesuatu di dasar relung hatinya belum lama itu. Mengapa harus Yuki berulah lagi dengan kabur dari rumah, begitu pikir Keven.
__ADS_1
“Menyesal Mama biarkan Yuki kamu nikahi!” Ucap Mama Agni parau, intonasi suaranya rendah, memalingkan wajah dengan mata berembun.
“Kamu pikir Mama gak tau kalau Yuki terpaksa menikah sama kamu?! Kamu pikir Mama gak tau kalau semua hanya akal-akalan kamu?” Ucap Mama Agni lantang, menolehkan kepalanya dan mengangkat dagu seolah menantang.
“Maksud Mama apa?” Sela Papa Leigh sambil menyentuh bahu terguncang Mama Agni yang menahan sesak menghimpit di dada. Sedangkan Keven hanya mampu terdiam tidak berkutik.
“Kev, apa maksud Mama mu?” Ucap Papa Leigh lagi dengan tidak sabaran, berganti melontarkan tanya pada Keven yang masih diam mematung.
Tubuh yang tadinya sudah lelah seketika tidak bertenaga dan semakin lemas dengan kalimat yang Mama Agni ucapkan. Sejenak otak Keven langsung menuduh Yuki yang sudah banyak bercerita mengenai rumitnya hubungan mereka, namun hanya sebentar lalu ditepisnya. Pikiran buruk Keven terhenti seketika setelah sebuah kilasan tawa Yuki mengisi rumah sebagai saksi bisu tumbuh kembangnya.
Bodohnya Keven tidak pernah sadar pada apa yang pernah tidak sengaja dirinya ucapkan atau tutupi dari seorang Alia. Menjaga hubungan baik agar pertemanan yang sudah terjalin sejak mereka kecil tidak hancur, tapi Keven sekali lagi lupa bahwa ikatan mereka tidak akan pernah terbentuk kembali seperti semula.
Apa lagi dengan Saka yang sudah benar-benar menjauhkan diri. Sosok yang tadinya bak permen karet atau layaknya magnet berubah menjadi cuka dan pemutih. Bisa disatukan, namun sangat berbahaya.
“Mama selalu merasa bersalah atas apa yang kamu lakukan ke Yuki, Mas. Seandainya anak Mama yang ada di posisi Yuki, gak akan Mama biarkan dia kamu nikahi!” Imbuh Mama Agni dengan raut wajah datar, namun sorot matanya sarat akan kekecewaan.
Jelas Mama Agni lebih tau tempat-tempat yang mungkin Yuki kunjungi dibandingkan Keven. Seringnya intensitas kedua wanita itu bersama menikmati sinetron andalan Mama Agni diselingi berbagi cerita membuat Mama Agni paham Yuki sudah cukup membuang banyak waktunya untuk Keven.
Sedangkan di tempat berbeda di waktu yang sudah menjelang pagi dengan semburat mentari yang mengintip diantara gedung-gedung tinggi, Yuki berjalan dengan langkah ringan dan riang. Sesekali bersenandung dan melompat kecil dengan girang.
“Dicariin gak ya kira-kira sama manusia batu?” Ucap Yuki bertanya pada dirinya sendiri sambil terus melangkah menyusuri jalanan sebuah deretan kompleks rumah dinas. Meski sempat dirundung kesedihan yang menyakitkan, bukan Yuki namanya jika tidak bisa selalu bersikap positif.
“Moga aja deh dicariin, biar kapok kalang kabut puyeng-puyeng sana.” Gumam Yuki disertai kekehan dan seringai tipis. Andai saja Yuki tau jika yang lebih pusing atas menghilangnya dirinya adalah Mama Agni, tentu Yuki sudah putar balik dan dilanda rasa bersalah.
Rencana kabur dadakan Yuki bukan untuk menghilang selamanya dari hadapan Keven. Hanya 3 hari Yuki akan menikmati waktunya berjauhan dengan Keven. Bagi Yuki terlalu menyenangkan untuk Keven jika dirinya pergi, menghilang dan lenyap begitu saja.
Akan lebih indah balasan yang Yuki berikan bak rollercoaster, perhatian yang tidak terhingga sampai sikap acuh sedingin gletser di Antartika. Menyebut sikap sedingin gletser seketika Yuki langsung teringat pada sosok penting di hidup salah satu sahabat baiknya, Ara. Tampaknya Yuki akan berguru dan meniru sikap dingin super cuek seseorang untuk menghadapi Keven saat keduanya kembali dipertemukan.
__ADS_1
“Benarkan ya ini alamat rumah dinas Papa?” Ucap Yuki sambil melongok kan kepalanya memerhatikan bangunan kokoh di hadapannya serta nomor rumah yang tertera. Antara yakin dan ragu, Yuki menginjakkan kakinya di teras rumah yang pernah ia datangi sekitar 3 tahun lalu.
“Pasti Mama sama Papa kaget lihat aku ada di sini.” Terkekeh Yuki membayangkan kedua orang tuanya yang akan heboh.
Bersama langit berhias sinar samar, udara yang masih dingin dengan embun yang belum juga habis, senyum Yuki terkembang diiringi kepalan tangan yang terayun mengetuk pintu kayu di depannya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Permisiiiii..!!" Teriak Yuki nyaring, kepalan tangannya terus-menerus mengetuk pintu kayu dengan irama tidak beraturan.
Ceklek.
“Ma-..” Mulut menganga, kepala dimiringkan dan dahi berkerut, Yuki kaget mendapati sosok wanita asing di hadapannya yang membukakan pintu.
...****************...
*
*
*
Maafkan diriku yang baru update kisah Yuki😁
__ADS_1
Terima kasih yang sudah menanti😄