
"Aku gak tau ka-"
"Suka," sela Yuki cepat. Manik matanya menatap datar Keven yang meletakkan nampan berisi jagung bakar manis, sate kerang dan teh tarik hangat ke atas meja persegi di antara dua kursi yang mengapit. Menghadap kegelapan laut yang memantulkan bias remang kelap-kelip lampu perkotaan.
Sejatinya bukan tempat ini yang ingin Keven tuju. Namun ia memutar haluan ke tempat sederhana ini kala mengingat kejadian lebih dari satu setengah bulan yang lalu di pantai dengan hamparan pasir putih. Kesederhanaan yang membahagiakan lewat layang-layang putus dan kegiatan saling menyeburkan diri dalam gulungan ombak kecil.
"Aku suka melihat senyuman kamu saat di pantai dulu," ujar Keven santai, menutupi debaran gugup yang seirama deburan ombak menghantam bebatuan breakwater.
Bukan senang Yuki mendengar ungkapan Keven. Getir hatinya merebak, menarik ngilu sudut bibir yang terkekeh samar. Entahlah, ia hanya merasa jatuh dalam lubang kehampaan. Seolah menatap kilau yang jauh tidak teraih di atas kepalanya.
"Maafkan aku ... Maafkan aku yang banyak berbuat salah dengan kamu."
Mengernyit keheranan Yuki memaksa menolehkan kepalanya. Layaknya boneka usang, ia kesulitan menggerakkan engsel lehernya yang kaku. Bahkan tenggorokannya tercekat hingga menghambat tarikan dan hembusan udara sumber kehidupannya.
"Aku tau kesalahan aku benar-benar membuat hidup kamu menderita." Keven menatap lekat sepasang pupil mata Yuki. "Aku memanfaatkan ketulusan kamu, tapi justru aku yang mencaci dan merendahkan kamu atas pilihan yang aku buat sendiri."
Menarik nafas dalam-dalam, selanjutnya Keven membasahi kerongkongannya dengan air liur yang didorong paksa. Ia mengalihkan pandangannya pada lautan gelap di depan sana. "Sebagai laki-laki dan sosok yang lebih dewasa, jujur aku malu menghadapi kamu."
Berdiri mendadak, sikap Keven semakin membuat Yuki bertanya-tanya. Apa mungkin Keven gila? Atau mungkinkah tiba-tiba dirinya tau memiliki penyakit mematikan? Meski begitu tidak menampik perilaku tidak terduga Keven berhasil menggetarkan sudut yang jelas masih terisi oleh hadirnya nama Keven.
Berlutut di depan Yuki yang terbelalak dan gelagapan, Keven memberanikan diri menggenggam jemari di atas paha Yuki. "Yuki ... Aku mohon, tolong kasih aku kesempatan untuk memperbaiki diri dan hubungan kita. Aku akan berusaha menjadi suami yang seharusnya kamu miliki sejak awal."
"Jadi ... Maukah kamu kembali berjuang dalam hubungan kita?" lanjut Keven sambil merogoh saku kiri celananya. Sedetik kemudian dilepas genggaman tangan kanannya di jemari Yuki. Membuka kotak berisi cincin emas putih yang memancarkan kilaunya.
Mematung. Yuki seakan kehilangan udara di sekitarnya. Ia dihantam kebimbangan. Pondasi yang tidak kokoh itu goyah.
Namun satu hal yang pasti, Keven terlambat. Apa yang dirinya lakukan berhasil membuat Yuki termangu. Bergeming meratapi retakan baru.
Tangis tanpa suara bahkan lelehan air mata mengoyak sisi terdalam hati Yuki. Terselip sedikit kebahagiaan, sisanya hanya taburan rasa kecewa, kesal, sesal dan benci.
Kenapa harus disaat ia sudah menyerah? Kenapa tiba-tiba bersikap seperti ini? Apa semua itu ada hubungannya dengan Alia? Apa ia akan kembali diperalat untuk menjaga citra diri Keven dalam menutupi fakta sebenarnya dari Ayah bayi yang dikandung Alia?
__ADS_1
Banyak sekali pertanyaan, namun hanya segelintir yang mampu Yuki gumamkan dalam batinnya. Terlalu sesak, pilu dan menusuk perih.
"Aku tau aku sangat bersalah. Aku memang gak tau malu ... Aku mohon, ki, terima aku lagi. Kasih aku kesempatan sekali lagi. Kamu mau kan?"
Helaan nafas tersendat dan mata terpejam erat mencoba menyusun potongan kata. Menguatkan jiwa yang berlari menjauhi raga penuh keputusasaan.
Lidah kelu dan bibir kaku Yuki bergerak bersamaan, menjawab lirih pertanyaan Keven yang menanti kepastian. "I-iya."
"Ayo, kita lukis kisah kita ... Melukis dari awal lagi."
Berbinar Keven menyambut jawaban Yuki dengan suka cita.
"Terima kasih ... Terima kasih kamu udah kasih kesempatan ini buat aku." Pancaran aura kebahagiaan menguar dari seluruh tubuh Keven. Gestur tubuhnya yang masih canggung menarik Yuki jatuh ke dalam dekapannya.
Sejurus kemudian dipegangnya kedua bahu Yuki dengan sedikit dijauhkan. "Kamu beneran kasih aku kesempatan ini kan?"
Mengangguk kecil, Yuki mengembangkan bibirnya. Lengkungan kebahagiaan itu seakan menjalar membentuk garis lengkung lainnya di bibir Keven. Tanpa Keven sadari di balik senyuman Yuki terdapat sejuta kepingan luka yang sengaja disimpan rapat.
Keven yang terlalu bahagia dan baru belajar memahami Yuki benar-benar terbodohi. Jika saja cahaya menyorot penuh wajah Yuki, maka terlihat jelas tatapan nanar yang Yuki berikan bersama anggukan dan senyum kecilnya.
"Aku pakaikan ya cincin nya?" tanya Keven seraya meraih tangan kiri Yuki. Ia tidak bisa membendung senyum lebar yang baru pertama kali terasa sangat melegakan.
Keven berulang kali melontarkan kalimat. Tidak melulu berterima kasih, namun juga menawari Yuki segala hal yang tertangkap panca inderanya. Berbeda dengan Yuki yang menjadi pendiam. Seolah jiwa kedua manusia itu tertukar. Kecerewetan Yuki terkunci bersama kebahagiaan yang seharusnya diecapnya.
Sedangkan di belahan Kota lainnya seorang laki-laki dewasa berkeringat hebat, mengigau dan berteriak dalam tidur hingga tersentak kasar dengan kelopak mata melebar. Sudah berkali-kali mimpi buruk menghantuinya. Pernikahan yang dilumuri noda membekas jelas di otak Saka. Ia tidak pernah tidur nyenyak sejak statusnya berubah menjadi duda. Oleh karena itu sejak sore ia mencoba terlelap, namun rupanya tetap memiliki akhir yang serupa.
Diraupnya dengan kasar wajah kuyu dari raga yang kehilangan asa. Hidupnya hampa saat mimpinya bukan hanya lenyap, tapi hancur di depan mata. Saka terlalu terbutakan cinta dan tertampar karma memainkan banyak hati perempuan demi sosok Alia yang kini melumpuhkan dirinya.
Mengapa ia diberikan kesempatan bersama tanpa memiliki sepenuhnya?
Saka membenci kedua orang yang mengaku sebagai teman, bahkan sahabat yang layaknya keluarga. Pada akhirnya cintanya disambut, tapi juga dipermainkan oleh dua orang yang berarti dalam hidupnya.
__ADS_1
Membuka dompet yang tergeletak di atas nakas, Saka menarik secarik kertas putih. Dibalik kertas bertuliskan angka berupa tanggal pengambilan gambar, tampak senyum lebar seorang gadis di tengah dua pemuda yang tidak lain salah satunya Saka sendiri.
Luruh air mata Saka. Ia bukan lemah, tapi kesedihan membludak memecahkan kantong air mata. Banyak kenangan indah yang berakhir tergores obsesi gila.
Drrt ... Drrt ...
📩
Bocil
Om jangan lupa lusa balikin bukunya. Itu punya guru aku. Awas kalau gak dibalikin!! Siap-siap aja aku cekik!
Pesan singkat berbau ancaman menarik sudut kiri bibir yang mendorong naik pipi basah Saka. Ditariknya laci nakas tempat sebuah buku bertema hukum kehidupan yang liar. Bukan yang terkuat yang akan menjadi pemenang, tapi yang tercerdik yang akan bertahan hidup lebih lama. Terkadang tidak masuk akal, namun separuh ungkapan itu kebenarannya.
Meninggalkan Saka yang kembali merenung, di Kota B, tepatnya di tempat Yuki dan Keven berada suasana semakin riuh. Pasangan muda-mudi memenuhi area bernuansa hangat yang sangat cocok untuk berkencan. Raut-raut wajah bahagia mencubit iri Yuki.
Kini tangannya digenggam Keven, namun tidak memercik debaran jantung yang sama lagi. Ia memang gugup, tapi bukan gugup penuh cinta seperti saat dulu Keven pernah memberi perhatian saat kakinya terkilir.
Mungkinkah keputusan berpisah dari Keven yang diam-diam sudah Yuki rancang berhasil menutup sedikit cinta yang tersisa?
"Maaf," gumam Yuki tiba-tiba di balik punggung Keven, sangat lirih, bahkan nyaris hanya berupa gerakan bibir membuang udara sisa pernafasan.
Sepenggal kata maaf sengaja Yuki gumamkan untuk segala sikap yang akan diambil kedepannya.
...****************...
*
*
*
__ADS_1
Terima kasih udah ngikutin kisah Yuki 😘