
Pendar lampu dari belakang punggung Keven menghilang. Menyisakan kegelapan mencekam di malam yang dingin. Ujung jari-jemari laki-laki dewasa itu sudah membeku sejak beberapa saat lalu. Diremas bergantian namun tidak menghangat sedikitpun.
Sedetik kemudian terdengar bunyi pintu berderit dan lubang kunci diputar. Berlanjut dengan derap langkah cepat bergegas melarikan diri dari kegelapan. Kontras Keven berdiri, melangkah lebar mendekati sumber suara.
Jantungnya berdebar kencang, bukan karena takut atau sedang dalam mode siaga bahaya. Hanya kesenangan membludak saat membayangkan seorang bidadari akan muncul dari balik kegelapan itu.
“Loh … Mas Keven masih di sini?” Terperanjat Yuki dengan mata terbelalak dan mulut menganga lebar. Kunci laboratorium yang menggantung di jari telunjuk nyaris saja terlempar akibat terkejut.
Tersenyum simpul di bawah bias remang lampu penerangan jalanan, Keven mengayunkan tungkainya, memangkas jarak yang tersisa di antara dirinya dan Yuki. “Udah selesai?” tanya Keven singkat. Intonasi suaranya terdengar melembut.
“Belum sih, tapi sambung besok. Udah malam banget,” jawab Yuki sambil menormalkan keterkejutan yang sempat menghampiri. Berusaha menggeser rolling door laboratorium biologi sebelum melanjutkan niatan untuk pulang.
“Biar aku.” Keven menarik pelan bahu Yuki, menggantikan posisi menggeser pintu kaca besar yang tampak macet.
“Kenapa tadi gak kasih tau kalau di sini?” tanya Yuki sambil melirik Keven. Detik berikutnya terdengar tepukan pelan di dahi disertai suara Yuki yang kembali berucap, “ah iya, di dalam lab susah sinyal.”
Meraih totebag maroon berukuran sedang dari tangan Yuki, Keven memperpendek langkah kakinya, mensejajarkan diri di sisi kanan Yuki. “Biar aku bawa,” ucap Keven saat pandangan keduanya bersirobok.
“Kenapa gak ketuk aja tadi pintunya?”
“Takut ganggu kamu.”
“Cuma ketuk pintu gak bakal ganggu, Mas. Kemarin juga udah aku bilangin kamu gak usah nunggu kayak gini lagi, kan? Lama-lama bisa masuk angin. Lagian buang-buang waktu, kayak gak punya kerjaan aja. Katanya lagi ngembangin bisnis baru, tapi malah buang-buang waktu gak jelas. Kenapa juga gak masuk aja? Minimal gak dingin banget kalau masuk,” cerocos Yuki sambil terus berjalan, namun bisa dipastikan kecepatan bibir dan langkah kaki itu tidak sebanding.
Sedangkan Keven tentu saja sudah terkekeh geli pada kesewotan Yuki. Suara cempreng berisik yang dulunya sangat mengganggu berubah menjadi nyanyian selembut lambaian sutra. Tidak pernah Keven sangka dirinya akan sejatuh cinta ini pada gadis pengganggu yang sorot matanya selalu terpergok mengekori gerak-geriknya di restoran.
Bisa berdiri di sisi Yuki saat ini saja Keven merasa sangat bersyukur. Meski singkat, kebersamaan keduanya benar-benar sangat berarti. Walaupun tetap menyisakan kegetiran di relung hati terdalam Keven.
Kebahagian itu hilang timbul seenaknya, membekas gamang karena tergerus fakta bahwa mereka kini hanya sebatas ‘teman’. Benar, hanya berteman dalam status pernikahan yang mungkin sebentar lagi usai.
Sudah lebih dari 1 bulan lamanya semenjak sidang mediasi berlangsung dimana Keven tidak membantah segala tuduhan dan menyetujui gugatan pisah yang Yuki ajukan. Dan sejak saat itu pula Yuki menerima ajakan Keven untuk berteman. Hubungan yang semula penuh kecanggungan perlahan berubah menjadi jauh lebih akrab. Beruntung Yuki mampu mencairkan suasana dengan keceriaannya.
Tanpa melibatkan perasaan benci menggunung dan cinta yang mampu melukai, keduanya serius menjalani pertemanan. Akan tetapi lagi-lagi semua itu hanya sandiwara. Keduanya penuh dusta. Menyangkal denyutan perih, bahagia, kasmaran dan banyak hal yang sulit diungkapkan yang terjadi dalam kurun waktu super singkat. Semua demi menjaga kata ‘teman’ yang menjadi satu-satunya jembatan agar tidak memicu perdebatan.
Mungkin itulah pilihan terbaik.
“Aku mau ke lab lain dulu. Mas Keven kalau mau pulang ….”
“Nggak. Aku ikut,” potong Keven cepat.
__ADS_1
“Mau nunggu di sini atau ikut masuk?” ucap Yuki tanpa menatap lawan bicaranya. Telapak tangannya sudah menyentuh di antara celah rolling door laboratorium bioteknologi. Kebetulan masing-masing laboratorium dibangun secara terpisah, tidak pada satu atap yang sama.
“Bukannya orang luar gak boleh masuk?” Menaikan alis kanannya, Keven melontarkan tanya pada Yuki.
“Ya ke dalam ruang inti laboratorium jelas gak boleh. Tapi di dalam ada bilik kecil tempat biasanya penjaga lab duduk,” ujar Yuki santai sambil mendorong kuat rolling door.
Baru saja kepala Yuki melongok masuk, ia sudah dibuat kikuk oleh tatapan tajam seseorang. ‘Yaah ... Salah ngajak Mas Keven nih,’ gumam Yuki dalam hati. Berdehem pelan, Yuki menelan paksa air liurnya. Ia tau akan menghadapi situasi kurang mengenakan jika membawa Keven masuk.
Sekilas ditolehkan wajahnya, menatap ragu pada Keven yang membalas dengan kernyitan bingung. Garis-garis kerutan terlihat samar mengisi dahi Keven yang memasang ekspresi seakan bertanya ada apa dengan Yuki.
“Malam, Pak …," sapa Yuki ramah sambil mengangguk singkat. Senyuman canggung mengembang dari bibir Yuki. Sosok laki-laki yang sangat kentara menguarkan aura permusuhan benar-benar membuat Yuki bergidik ngeri.
Tanpa menghiraukan sosok yang siap menerkam mangsanya, Yuki bergegas merangkul lengan Ara yang terlihat menyusun alat dan bahan bekas penelitian. "Udah kelar, Ra?”
“Aku tadi mau ke tempat mu dulu, Ki. Sebenarnya belum, tapi ini nih dari tadi ribet,” jawab Ara seraya menunjuk Rava dengan ujung ekor matanya.
“Udah malam, Sayang. Kamu bisa lanjutin besok."
“Mau dipakai sampai besok pagi juga bisa, Mas. Udah ada surat izinnya. Bener kan, Ki?” ucap Ara yang mendadak meminta dukungan pembenaran dari Yuki.
“Iya. Seandainya kita satu lab pasti mangkal bareng. Aku takut di sana sendirian, makanya udahan aja.”
“Tadi Mas udah hubungi penanggung jawab lab ini, tinggal kamu sesuaikan jadwal kuliah sama waktu turun lapang. Nanti bisa masukin surat lewat asistennya. Tapi besok langsung kabari Mas kamu mau pakai kapan lagi," ucap Rava panjang lebar sembari merunduk dengan punggung sedikit membungkuk. Tidak lupa mendaratkan cubitan kecil di ujung hidung Ara.
“Beneran?” tanya Ara sambil memicingkan mata. Pasalnya tidak mudah menemui penanggung jawab laboratorium yang notabene juga seorang Dosen.
“Iya, Sayang. Sekarang pulang ya?” balas Rava sambil mengusap penuh kasih puncak kepala Ara.
“Enaknya yang udah ada kejelasan. Bantuin saya juga dong, Pak ….” Spontan Yuki menangkupkan kedua telapak tangan, mengedipkan mata perlahan bersikap sok imut sambil memohon pada Rava.
“Gak rugi loh Pak kalau baik-baikin saya. Kalau Bapak gak mau bantuin nanti saya bisa bisikin Ara bujuk rayu setan. Jangan kaget kalau ada yang tiba-tiba kelimpungan gak bisa telepon pujaan hati, hahaha ….”
Hilang sudah raut wajah polos khas anak baik. Kini Yuki justru tertawa jahat sok mengancam untuk mengurai kecanggungan. Sadar pula jika hanya sikap manis Ara yang mempan untuk melelehkan Rava.
“Ngaco,” ketus Ara singkat dengan gelengan kepala pasrah. Gadis itu menepuk pelan lengan Rava sambil mengirimkan kode lewat kedipan agar Rava tidak terpancing kalimat Yuki.
Sekilas interaksi manis Ara dan Rava benar-benar membuat Keven yang sejak tadi bungkam di belakang Yuki merasa iri. Dalam diam Keven berdoa agar bisa berada di posisi itu suatu saat nanti, tentunya bersama Yuki.
...----------------...
__ADS_1
"Pasti nggak nyangka kan sahabatku yang galak itu punya pacar? Asal kamu tau, pacarnya segalak dia juga. Malah lebih serem kalau marah tapi diam kayak tadi.”
“Tau kok,” gumam Keven lirih hingga tidak terdengar oleh Yuki. Ia hanya membuka bibir tipis seakan berbicara tanpa suara.
Keven jelas masih sangat ingat pada sosok Rava. Laki-laki yang hampir meremukkan tangannya karena mendekap Ara. Padahal tujuan utama Keven saat itu hanya melerai perkelahian dimana Alia kalah telak. Kondisi yang tidak memungkinkan membuat Keven mau tidak mau mengangkat Ara secara paksa.
Selain itu, Keven benar-benar tidak akan pernah bisa melupakan sosok yang baru diketahuinya ternyata sangat berpengaruh, khususnya di Kota B. Mana Keven sangka sebelumnya jika Rava adalah jajaran pengusaha muda yang bisa mendepak dan memusnahkan bisnis yang baru digelutinya kapan saja.
“Habis makan jadi ngantuk.”
Kantuk mendera Yuki yang duduk gelisah mencari kenyamanan. Kelopak matanya sudah terasa sangat berat, namun berkali-kali Yuki lebarkan agar tidak tertidur.
"Hooaaam ...." Menguap lebar, Yuki merasa bola matanya hampir jatuh jika tidak segera memejamkan mata.
“Enak kan tadi ayam goreng di pecel lele itu? Aku kalau malam sering ke situ sih. Udah murah, enak lagi. Tempe bacemnya juga maknyus. Biasa ada bakaran juga, tapi malam ini telat deh jadinya udah habis,” celoteh Yuki tiba-tiba. Bibirnya yang terus mengoceh sedang berusaha menguasai kesadarannya agar tetap terjaga.
Sedangkan Keven hanya menjawab sebatas anggukan. Tangannya terulur memutar musik dengan melodi yang mengalun lembut. Ia memperlambat laju mobilnya. Sengaja agar bisa bersama Yuki lebih lama lagi.
“Nanti kalau udah sampai bangunin ya? Mendadak ngantuk banget. Kayaknya salah pergi ke pecel lele, tau bakal ngantuk banget tadi makan bakso aja yang deket,” ucap Yuki pada Keven dengan suara yang perlahan melemah, bahkan nyaris seperti bergumam.
Tanpa menunggu lama gadis itu sudah berada di alam mimpi. Memeluk tubuhnya sendiri dengan posisi yang jelas tidak bisa dikatakan nyaman. Bahkan bisa dipastikan Yuki akan pegal-pegal jika terlalu lama berada dalam posisi itu.
"Ki ...," panggil Keven menggantung. Mobilnya sudah berhenti di depan pagar kos-kosan, tapi dengkuran halus dari gadis yang terlelap sambil menganga itu seolah mengalihkan seluruh dunia Keven.
"Ck ... Pasti kalau sadar dia malu," ucap Keven sambil menarik sehelai tisu. Diusapkan perlahan ke sudut bibir Yuki yang basah karena air liur. Sejenak dipandangi wajah lucu Yuki yang terlihat sangat kelelahan.
"Maafin aku untuk malam ini," lirih Keven yang tersenyum penuh makna. Laki-laki itu kembali melajukan mobilnya dengan dada berdebar. Hanya satu pinta Keven kali ini, semoga Yuki semakin nyenyak dan baru membuka mata esok hari.
...****************...
*
*
*
Kira-kira Keven mau cari masalah lagi atau nggak?🤭
Terima kasih sudah menanti kisah Yuki yang super telat UP😘
__ADS_1