Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Duda Beranak 3


__ADS_3

Berjalan terburu-buru menuruni anak tangga, Yuki mencepol asal rambutnya. Ia merutuki dirinya yang ketiduran lagi setelah mengomeli Keven. Ternyata efek terkejut tidak mempan melawan rasa kantuk yang merekat kelopak matanya.


"Moga Mama belum bangun. Bisa malu kalau ketahuan kesiangan molornya," gumam Yuki seraya melotot lebar agar bola matanya tertiup semilir udara segar yang terperangkap di dalam rumah pagi itu. Gegas Yuki mempercepat langkah lebarnya menuju dapur.



Baru saja tubuh itu hendak melewati ambang pintu penghubung dapur dan ruang keluarga, sosok Keven yang tampak rapi berkutat dengan teflon membuat Yuki menganga. Laki-laki itu terlalu asik mengolah bahan makanan. Tersenyum riang tanpa sadar ada sosok yang syok akan kehadirannya.


"What a surprise (Tumben)," ucap Yuki lantang, matanya masih membulat memandang tidak percaya. Baru kali ini Yuki melihat Keven sudah menyibukkan diri di dapur.


Mendongak dan mendapati Yuki melongo terkejut, Keven menipiskan bibir yang tadinya tersenyum lebar. Ia sudah kembali menjadi Keven yang jual mahal. "Mandi sana!" perintah Keven sambil mengedikkan dagunya.


"Kamu tumben banget masak. Gak kesetanan kan? Jangan-jangan kamu mau ngeracunin orang serumah ya?!" cerca Yuki sembari melipat tangannya. Punggung gadis itu menyandar pada ujung pintu bata. Menatap remeh Keven yang jelas merengut sebal.


"Sebelum ada kamu, aku sering masak. Kamu pikir aku hanya asal-asalan punya restoran? Aku juga bisa masak."


"Oya?" Tersenyum miring Yuki menaikkan alis kanannya. "Hampir setengah tahun aku numpang hidup di sini aku gak tau tuh."


"Karena kamu selama ini sering di dapur, jadi aku nahan diri," jujur Keven tanpa ditutupi. Ia memang malas berurusan dengan dapur semenjak Mama Agni menggiring Yuki menguasai wilayah favoritnya itu. "Sandwich yang dulu kamu makan juga buatan aku."


"Sandwich? Sandwich sebulan lebih itu? Kalau kayak gitu juga yang gak bisa masak tetap bisa bikin," ucap Yuki sekenanya, terkesan sangat meremehkan. Tidak ketinggalan disertai mata membeliak dan bibir berdecih samar.


"Terserah kamu lah ... Udah mandi sana!"


"Gak. Takut nanti ada yang pura-pura menyedihkan di depan Mama," tolak Yuki ketus. Menggeser posisi Keven yang baru saja selesai menghidangkan udang saus asam manis.


Jangan heran, laki-laki sekeras batu meteorit itu memang penggila olahan bertabur pemanis. Beruntung Yuki juga cukup menyukai makanan manis ketimbang pedas dower yang bisa meledakkan ubun-ubunnya.


"Eh, tumben kalian ...." Terperangah Mama Agni menyaksikan anak dan menantunya. Benar-benar pemandangan yang langka. Nyaris seperti tidak nyata. Spontan wanita tua itu berlari kembali ke kamarnya, meninggalkan Yuki dan Keven yang sama-sama keheranan.


"Mama kenapa, Mas?"


Mengangkat bahunya acuh, Keven menggeleng kecil dengan kepala masih menunduk, terfokus pada brokoli yang sedang dicucinya. "Gak tau."


Sedangkan Yuki kembali berusaha menggulung telur dadar agar tidak retak atau bahkan terputus. Bahkan sesekali Yuki menahan nafas kala spatula mendorong gulungan telur agar menyatu. Ia ingin menambahkan telur gulung bercampur wortel cincang, daun bawang dan seledri ke dalam menu sarapan.

__ADS_1


Cekrek.


Tepat saat Keven meletakkan kuali, bunyi jepretan kamera ponsel bersamaan cahaya menyilaukan mengerjap cepat. Pasangan suami-istri yang baru pertama kalinya terlibat bersama di dapur itu mendongak serentak, menatap Mama Agni yang kembali mengarahkan kameranya.


"Akhirnya Mama lihat kalian kayak suami-istri akur, bukan saudara yang lagi perang dingin berebut sepeda," seloroh Mama Agni sambil menunjukkan layar ponselnya.


Sekilas dalam jepretan pertama kamera ponsel Mama Agni, posisi Keven seolah hendak memeluk Yuki. Tentu bukan itu yang sebenarnya terjadi.


"Udah Mama kirim ke nomor kalian berdua. Disimpan buat kenang-kenangan! Dulu aja Mama sama Papa dikit-dikit romantis-romantisan ... Kamu itu Mas, nurunin siapa sih kok mirip kanebo? Punya istri muda gak disayang-sayang. Nanti disayang tetangga baru kebakaran jenggot!" cerocos Mama Agni panjang lebar.


"Dari pada terus-terusan kamu cuekin, Yuki Mama jodohin sama anak Pak Basri aja kali ya?" lanjut Mama Agni berucap, tujuannya jelas memanas-manasi Keven.


"Ma, Yuki ini istri aku. Lagi pula anak Pak Basri itu udah duda anak 3," sanggah Keven dengan suara meninggi tidak terima. Mendengus kesal, memicingkan matanya sarat akan permusuhan pada Mama Agni.


Jelas Keven tidak terima pada perkataan seenaknya Mama Agni yang ingin menjodohkan Yuki dengan laki-laki lain. Padahal sudah jelas jika Yuki itu istri anaknya sendiri. Terkadang Keven justru merasa seperti anak pungut jika disandingkan dengan Yuki bagi kedua orang tuanya.


"Lah si Adam mau duda anak 3 juga seumuran sama kamu. Kalah telak kaku itu. Gak apa-apa Mama jodohin Yuki sama Adam. Anggap aja buy 1 get 4."


"Mas Adam ganteng juga gak, Ma?"


Kenyataannya Yuki memang sengaja memancing sisi cemburu Keven. Ia ingin melihat bagaimana respon Keven. Memang tidak berguna, namun entahlah, Yuki hanya berharap Keven merasakan cemburu. Jika bisa akan lebih baik bila Keven terbakar api cemburu hingga menjadi debu. Tampaknya Yuki cukup banyak menyimpan dendam atas sakit hati yang pernah dialaminya.


"Gak cuma ganteng, Ki. Adam itu ramah, sopan, penyayang anak. Kamu mau? Kalau mau nanti Mama kenalin," ucap Mama Agni mempromosikan sosok Adam yang sejujurnya Yuki ketahui. Duda beranak 3 itu memang ramah pada tetangga sekitar. Sangat berbeda jauh dengan Keven yang kelewat masam dan suram.


"Ma!!" teriak Keven lantang. Melotot lebar sebagai bentuk kekesalan yang tidak bisa diluapkan. Bisa dikutuk jika Keven berani kurang ajar pada Mama Agni.


"Kenapa? Mama lagi ngomong penting sama anak perempuan Mama."


"Tapi anak perempuan Mama itu istri aku!" geram Keven dengan suara rendah. Mendesis menahan gejolak menggumpal di dada yang ingin diteriakkan.


"Biasanya juga kamu gak perduli kalau Mama bahas ginian sama aku," sela Yuki lagi. Telur gulung buatannya sudah selesai. Bahkan baru saja Yuki mencomot potongan tepi yang berukuran paling kecil sambil menyimak perdebatan ibu dan anak di depannya.


"Argh! Gak tau lah, Mama ini!"


"Kok Mama? Gitu aja dulu sok gak perduli," sindir Mama Agni seraya melengos pergi.

__ADS_1


Ibu kandung Keven itu mendadak kesal sendiri saat mengingat sikap acuh anaknya. Sebagai wanita tentu Mama Agni sering berandai-andai jika dirinya yang berada di posisi sang menantu.


Bagi Mama Agni, sejak Yuki terikat dengan Keven, maka Yuki sudah selayaknya menjadi anaknya sendiri. Ia tidak ingin masuk ke dalam kategori geng mertua kejam. Apa lagi bisa dikatakan bahwa Mama Agni lah yang terlebih dahulu jatuh cinta dengan Yuki di pesta pernikahan Saka dan Alia, bukan Keven.


...----------------...


Menjelang siang, Yuki ditemani Ismi melihat sebuah kamar kos. Ruangan dengan kamar mandi kecil menerbitkan senyum tipis di bibir Yuki.


"Kenapa kamu cari kamar kos?" tanya Ismi yang masih setia berdiri di samping Yuki. Ia memang dipercayakan oleh pemilik kos jika sewaktu-waktu ada yang ingin menyewa.


"Butuh," jawab Yuki singkat, menggantung banyak makna yang tidak bisa Ismi pahami.


"Di sini cowok gak boleh masuk loh. Jadi suami mu gak bisa ikutan kos di sini."


Menganggukkan kepala, Yuki berkata sambil menatap Ismi, "tau kok, makanya aku pilih di sini."


"Maksudnya gimana ini? Aku gak paham ...." Merotasi bola matanya seakan mencari jawaban, Ismi melipat tangannya, menghela nafas pelan dengan bibir bergerak ke kanan dan kiri searah rotasi mata.


"Intinya aku cuma mau fokus skripsi dan kuliah aku aja. Dari sini juga dekat sama kampus. Kalau di rumah bareng suami bisa gak fokus kejar tayang. Bisa-bisa kerja kayang di kamar gak ada habis-habisnya." Mengusapkan jari telunjuk ke belakang telinga, Yuki bersandiwara malu-malu dengan gestur tangan seakan menyelipkan rambut yang berantakan.


"Merendah untuk pamer. Bikin jones makin ngenes." Menutup pintu kamar kosong dan menguncinya, Ismi mencebikkan bibir dan menatap tajam Yuki yang terkekeh.


Sejurus kemudian keduanya berlalu pergi, saling berpisah karena Yuki memiliki urusan lainnya. Kebetulan makalah laporan seluruh kegiatan selama KKN sudah kelompok mereka selesaikan. Hanya tersisa pengeditan video dokumenter dan promosi desa yang membutuhkan jari-jemari ahlinya. Maklum saja tidak ada yang memiliki keahlian dalam hal editing video di antara Yuki dan teman-temannya.


Meraup sebanyak-banyaknya udara yang tentu tercemar polusi, Yuki meremas stang motor yang sudah terhenti di parkiran gedung pengadilan. Padahal Yuki masih duduk nyaman di atas jok motornya, namun kegugupan yang menyita pasokan udara benar-benar berhasil menyesakan.


"Harus berani. Harus yakin. Ini yang terbaik." Berulang kali Yuki menggumamkan kalimat menyemangati tindakannya. Tapi berulang kali pula suara menolak berbisik samar di telinganya.


...****************...


*


*


*

__ADS_1


Terima kasih sudah mendukung aku sejauh ini dan terus mengikuti kisah Yuki😘


__ADS_2