Kita, Tanpa Aku

Kita, Tanpa Aku
Janji Suci


__ADS_3

Kilatan kemarahan menguar tajam dari sepasang bola mata Yuki. Merebak menjadi embun tipis kekecewaan di pelupuk mata. Rahang Yuki mengeras, giginya bergemelatuk dengan tangan terkepal kuat di sisi tubuh. Semua yang semula baik-baik saja berubah mencekam.


"Kamu gak lihat Mamaku? Kamu gak lihat Mama yang berjuang antara hidup dan mati? Kondisi Mama belum stabil, Mas! Bisa-bisanya kamu bahas pernikahan kita. Dipercepat?! Gila … kamu egois tau gak!!?"


"Sayang ...."


"Pergi!" Mata Yuki menatap Keven nyalang. Tangannya terulur lurus mendorong kasar dada Keven.


Dalam sekejap Yuki membalikkan badan. Menghentak kasar bumi yang dipijak. Menutup telinga rapat-rapat dengan kedua belah telapak tangan. Mengumpat gema dari derap langkah kakinya yang menjalar mendobrak gendang telinga.


"Sa-"


"PERGI!!!" teriak Yuki lantang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Keven. Ia terus melangkah menjauh dengan kekecewaan menggunung.


"Sayang dengerin aku dulu!" seru Keven seraya menghadang langkah kaki Yuki. Mencengkeram lembut bahu gadis yang terguncang emosinya. Memberanikan diri mendekap erat Yuki yang memberontak dengan jeritan histeris. Mengindahkan hujaman kepalan tinju di punggung.


"Kamu jahat! Kamu gak berubah. Kamu egois! Aku benci kamu, Mas!"


"Tolong dengar aku dulu."


"Gak! Kita bisa nunggu sampai Mama sembuh."


"Iya, tapi ...."


"Minggir!! Lepasin aku! Tinggalin aku! Lebih baik kita gak usah nikah sekalian. Pergi!! Pergi kamu! Gak usah kamu peduli sama aku atau Mama lagi!"


"Gak gitu Sayang ... please, dengar penjelasan aku dulu."


"Aku gak mau! Pokoknya gak mau!"


Lidah Yuki kelu. Tenggorokannya tercekat. Kepalanya seakan dihantam godam hingga berputar dan kehilangan pijakan.


Sekali lagi Yuki rapuh dalam pelukan Keven. Berusaha membebaskan diri serta kemarahan lewat pukulan yang lambat laun kian melemah. Nyatanya laki-laki itu terus mengeratkan belitan dan memberikan usapan lembut agar Yuki tenang.


"Aku juga gak mau kalau harus kayak gini. Tolong, Sayang, maafin aku,” sesal Keven.


“Ng-gak. A-ku gak mau. Mama pasti gak serius. Aku gak mau nikah di sini. Gak mungkin, By.” Geleng Yuki kuat. Kepalanya perlahan menempel di dada Keven. Ditahan lembut dengan usapan penuh kasih sayang dalam dekapan. Tangan yang memberontak tidak lagi memukuli Keven, tapi melemas di sisi tubuh seiring raungan yang terbungkam dada Keven mengecil.

__ADS_1


Benar, bibir yang mengucap benci itu tidak mampu memaksa hati dan raga menghempas Keven. Meskipun sejatinya di benak tetap kalut. Ucapan terbata-bata Mama Maria membekas jelas di ingatan, mengacaukan logika dan memporak-porandakan ketakutan yang semakin meledak.


Semenjak wanita tua itu telah sadarkan diri, sudah lewat beberapa hari dari pertemuan pertama Yuki dengan Mama Maria. Bukan hanya Keven, tapi Yuki sendiri juga tau jika mempercepat pernikahan adalah permintaan Mama Maria. Wanita itu seolah memberi sinyal siap untuk menutup akhir kisah perjalanannya. Dan Yuki membenci hal itu.


Sedangkan dari kejauhan tampak Papa Gibran menghembuskan nafas kasar. Matanya tidak lepas memandang sepasang anak muda yang sengaja memilih lorong sunyi, berbincang serius berakhir beradu mulut di dekat area kamar mayat.


Sejatinya pagi hari itu memang masih cukup sepi. Belum banyak pasien yang berdatangan. Apa lagi yang berlalu-lalang di dekat area kamar mayat.


...----------------...


“Jemput orang tua kamu,” perintah Papa Gibran.


“Tapi Pa …,” sela Keven ragu seraya menunduk sekilas ke arah Yuki. Gadis itu asik menatap kosong dinding di depannya.


“Pulang sekarang dan urus dokumen pernikahan kalian. Saya mau Yuki kamu nikahi secara resmi. Kamu pasti udah paham apa yang harus dilakukan,” tegas Papa Gibran pada Keven.


“Papa apa-apaan sih?! Kenapa jadi nyuruh aku sama Mas Keven cepat nikah?!” ucap Yuki sewot. Spontan berdiri dan menatap Papa Gibran sengit.


“Mamamu harus secepatnya di operasi. Sebelum itu kalian menikah lah.”


“Jadwal operasi Mama itu gak lama lagi. Kenapa sih harus nikah cepat-cepat? Kami bisa nunggu sampai Mama pulih. Aku mau Mama hadir dan menikmati acara kecil di pernikahanku, Pa. Bukan kayak gini!”


“Gak semudah itu, Pa,” sanggah Yuki.


“Papa udah sampaikan permintaan ini ke pihak rumah sakit. Waktu kalian sampai lusa. Pulang dan urus semuanya.”


“Pa!!” pekik Yuki dengan mata membulat tidak terima.


“Tolong jaga Yuki,” ucap Papa Gibran serius. Sekejap menatap lurus pada Yuki lalu berkata, “kamu ikut Keven. Hari ini juga pulang!”


Kembali Yuki mendudukkan dirinya putus asa. Mengusap wajah dengan kasar. Menghela nafas panjang sarat akan beban. Sejenak pupil matanya mengekor pada bayangan Papa Gibran yang berlalu pergi.


“Tolong menjauh. Aku pengen sendiri,” pinta Yuki frustasi. Menepis rangkulan Keven di bahunya.


Saat ini, baik Yuki maupun Keven tidak memiliki banyak waktu. Mengurus dokumen pernikahan tidak semudah membalikkan telapak tangan. Apalagi bila pernikahan itu harus dilangsungkan dalam waktu dekat, bahkan tidak sampai seminggu lagi, hanya tiga hari dari sekarang.


“By,” panggil Yuki lirih pada Keven yang duduk berjarak dua bangku di sisi kiri. Sudah cukup ia bergulat dengan pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Ayo," ucap Yuki lagi kala Keven berjongkok di hadapannya. Tersenyum hambar penuh keputusasaan.


Reflek pupil mata Keven melebar. Ia meraih dan menyatukan tangan Yuki dalam genggaman. "Kamu yakin?"


Yuki mengangguk. “Iya, ayo.”


Mengalah, Yuki mendongak pada langit cerah. Membuka visor helm agar matanya yang basah mengering. Sejenak ia terkekeh miris pada takdir yang begitu hebat. Mengguncang seluruh ketabahan yang hampir saja membuatnya kalah.


Sehari.


Dua hari.


Setiap menit terlewat tidak luput bersama kekhawatiran. Setiap langkah yang diayunkan tidak lepas dari beban kesedihan.


Keduanya sibuk memburu persetujuan pengajuan nikah. Bolak-balik mengurus surat permohonan rekomendasi dan izin dispensasi nikah karena mengadakan pernikahan di luar wilayah tempat tinggal sekaligus dilangsungkan kurang dari 10 hari setelah pendaftaran nikah dilakukan.


Namun siapa sangka persiapan ala kadarnya itu mengantarkan Yuki dan Keven pada acara sakral yang hanya dihadiri orang tua dari kedua belah pihak. Tentu dengan Mama Maria yang terbaring lemah di atas brankar.


Tanpa gaun dan riasan mewah. Tanpa jas dan sepatu mengkilap. Bahkan tanpa sepasang cincin baru yang keduanya rancang untuk beli bersama.


'Jangan nangis, Yuki! Jangan nangis! Kuat! Kamu kuat! Harus buat Mama bahagia, nggak stress. Jangan bikin Mama khawatir.'


Yuki menundukkan pandangan. Menahan tangis yang ditekan dalam-dalam. Hatinya getir mendapati Mama Maria yang susah payah berusaha melirik ke arahnya. Meskipun wanita tua itu kesulitan berbicara dan sama sekali tidak mampu menggerakkan anggota tubuh.


Tepat setelah sepasang anak manusia itu kembali mengikat janji suci pernikahan. Melingkarkan cincin pernikahan terdahulu. Ketakutan Yuki rupanya menjadi kenyataan. Mama Maria menghembuskan nafas terakhir.


"Dokter!!" seru semua orang, kecuali Yuki.


Suasana haru berubah kacau. Semuanya didorong mundur agar Dokter yang bertugas lebih leluasa. Segala tindakan terus diupayakan. Namun jelas semua sia-sia.


Hari itu seharusnya Mama Maria di operasi. Hari itu pula seharusnya Yuki masih mengkhawatirkan sosok tua, lemah dan tidak berdaya berjuang di atas meja dingin. Namun kenyataan di depan mata adalah raga kosong tanpa nyawa.


"Sayang? Hei, Sayang?!" panggil Keven panik pada Yuki yang melemas dan hampir tersungkur.


Gadis itu sudah tidak mampu menangis. Suaranya hilang bagai ditelan kekalutan. Tubuh yang sempat mematung dengan tatapan kosong itu limbung, sedetik kemudian pingsan dalam rengkuhan Keven.


...****************...

__ADS_1


Terima kasih udah setia mengikuti kisah Yuki sampai sejauh ini ❤


(Aku jangan ditendang ya udah bikin Mama Maria menghilang dari dunia yang fana ini 😬)


__ADS_2