
“Kamu pengangguran ya?”
Mengernyit sekilas, Keven hanya menggeleng. Sejurus kemudian ia beranjak pergi sambil mengangkat sebuah pipa paralon berdiameter tiga inci sepanjang lebih kurang 10 meter. Laki-laki yang mengenakan kaos basah karena keringat bercampur semburan air dari selang yang bocor itu diam-diam mengulum senyuman.
“Restoran kamu bangkrut? Atau jangan-jangan kamu kabur ke sini gara-gara dikejar rentenir ... ngaku, iya kan?!” cerca Yuki di belakang Keven. Gadis itu berusaha menyamakan lari kecilnya dengan langkah kaki lebar nan ringan milik Keven.
Berhenti seraya menyerongkan badan, tindakan Keven ini sontak ikut menghentikan Yuki. “Jangan ikuti aku terus. Kamu di sana aja. Di sini panas,” ucap Keven layaknya perintah, namun dalam intonasi suara yang lembut.
“Kamu yang ngekorin aku. Enak aja fitnah. Malah sok perhatian banget. Udah biasa aku main panas,” gerutu Yuki sambil cemberut.
“Nanti kulit kamu terbakar. Ini udah merah-merah.” Tunjuk Keven pada pipi, leher dan lengan bagian bawah Yuki secara bergantian, tentu tanpa menyentuh kulit gadis itu secara langsung.
“Udah merah-merah terbakar juga. Lagi pula resiko kerja di tempat panas terpapar sinar matahari ya gini. Kamu sih kebiasaan kerja di tempat dingin, duduk mengeram kayak ayam, jadinya syok. Lebih baik kamu yang duduk diam sana. Dari tadi apa yang mau aku lakuin kamu tikung. Kelihatan banget jiwa pebinornya masih tersisa.”
“Yuki …,” tegur Keven dengan suara rendah bernada tidak suka. Sorot matanya yang teduh berubah tajam.
“Iya-iya, aku cuma berjanda sama kamu yang berduda. Hahaha ha-ha … garing ya? Ck, ya udah maaf.” Menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, sedetik kemudian Yuki berlari kecil dengan canggung meninggalkan Keven.
Sedangkan Keven hanya bisa menghela nafas pasrah sambil berjalan cepat menyusul Yuki. Menyusup di antara beberapa orang yang memang bertanggung jawab mengurus pemberdayaan lahan Desa. Ikut serta dengan sukarela demi mencegah Yuki dilirik pemuda lain yang bukan hanya sekali Keven lihat curi-curi pandang.
Brugh.
Terperanjat, Yuki mendelik sebal seraya memekik kuat, “astaga! Pelan-pelan taruhnya, Mas!”
“Iya,” sahut Keven singkat sambil memicing sinis pada sosok yang tidak sengaja memegang tangan Yuki. Keven benar-benar tidak segan menunjukkan ketidaksukaannya.
...----------------...
Beberapa hari setelah kesibukan yang menguras tenaga, Yuki yang sempat mengatai Keven justru saat ini seperti seorang pengangguran. Pekerjaan yang dibayangkan akan sangat menakjubkan rupanya hanya sebatas angan-angan. Semuanya tidak berjalan lancar meski kepercayaan masyarakat mulai meningkat. Bahkan hal itu karena Keven dengan gigih menjamin hasil budidaya akan dibeli seluruhnya.
“Gaji sejutaan kalau cuma rebahan sama aja kayak makan gaji buta. Kok tiba-tiba menyesal ya keluar dari kerjaan di sana,” gumam Yuki sambil berkeliling mengitari kolam yang separuh bagiannya sudah terisi air, namun belum dimasukkan bibit ikan yang hendak dibudidaya. Masih dalam tahap pengawasan konsentrasi pH seimbang untuk pemeliharaan.
__ADS_1
"Cuma aku yang gak punya kerjaan di sini. Bantuan tenaga ahli tambahan yang nggak punya keahlian apa-apa. Kesel banget nggak ada kerjaan," keluh Yuki di bawah langit mendung yang sering melingkupi daerah tempat tinggalnya kini, namun tidak sekalipun meneteskan air hujan.
Sedangkan di kamar tidur asing yang bahkan tidak pantas disebut asing lagi, Keven baru saja membanting ponselnya ke atas kasur. Ditinju udara yang tidak bersalah. Ditarik dan acak rambut yang teremas jari-jemari.
Niatnya memperpanjang waktu sewa kamar kandas. Keven harus segera kembali ke Kota B, mengurus pekerjaan yang sudah sangat lama dikesampingkan. Ada masalah besar yang tidak pernah ia duga.
Sejenak Keven menghempaskan tubuh lelahnya ke atas kasur. Mata yang mengerjap lambat itu menerawang ke langit-langit kamar. Menyusun kepingan puzzle rencana terbaik yang harus dipilih.
‘Apa yang harus aku lakuin, Ki?’
Keven meraup kasar wajah yang mendongak lesu. Larut dalam kegalauan harus berjauhan dengan Yuki. Apalagi banyak pikiran negatif bergelayut akan ancaman baru yang berusaha mengisi celah kekosongan hadirnya.
Menghembuskan nafas panjang, Keven mencoba melupakan permasalahan yang ada. Bergegas ia menemui pemilik penginapan. Tentu bukan untuk membicarakan waktu sewa yang ingin disudahi, namun hendak meminta strawberry cake tanpa potongan strawberry yang sengaja dititipkan ke dalam freezer.
Dalam waktu cukup singkat Keven sudah melajukan mobilnya untuk menemui Yuki. Pikirannya masih saja berkecamuk meski sekuat tenaga mengindahkan permasalahan yang ada. Tidak pernah dirinya sangka bahwa akan dikhianati.
Sesuram pikiran Keven, kaca mobil dengan kecepatan menurun itu memburam. Rintik hujan yang tiba-tiba jatuh semakin deras bagai mengguyur mobil Keven. Seolah langit pun ikut merasakan kegundahannya.
Tok.
Tok.
Tok.
"Yuki? Ki ... Yuki?" panggil Keven dengan suara lantang. Berusaha melawan gema hujan yang maha dahsyat. Kembali punggung tangannya ingin mengetuk pintu kayu, namun suara dari arah belakang mengejutkan.
"Mas Keven ngapain ke sini?" celetuk Yuki dengan bibir pucat yang bergetar.
Terperanjat, Keven spontan membalikkan badan. Terpampang gadis mungil basah kuyup sedang meremas kaos yang dikenakan.
"Kamu main hujan?!" tanya Keven tegas, penuh kekhawatiran dengan mata membulat lebar.
__ADS_1
Terburu-buru Keven meletakkan strawberry cake yang dibawa ke kursi kayu sederhana di teras rumah itu. Secepat kilat jemarinya menyibak helaian rambut Yuki yang menjuntai ke wajah. Menggosok kuat kedua telapak tangan dan menempelkannya ke pipi dingin Yuki.
"Udah gak usah," tolak Yuki sembari menyingkirkan tangan Keven. Ia berlalu membuka pintu rumah yang ditempati. Meloncat-loncat kecil sebelum berlari cepat memasuki ruang tamu dan menghilang kala melewati pintu lainnya. Mengabaikan Keven yang tidak dipersilakan masuk atau bahkan diusir.
Merapatkan tangan yang bersilang di depan dada, Keven berusaha menghalau dingin yang menusuk hingga ke tulang. Pintu rumah itu masih terbuka, tapi Keven tidak berniat sedikitpun untuk masuk. Banyak hal yang dipertimbangkan.
"Kamu kenapa nggak masuk? Mau berubah jadi daging beku?"
"Jangan keluar, dingin," cegah Keven pada Yuki yang menyembulkan kepala, mengintip Keven sekaligus menghindar dari hembusan udara dingin di luar rumah.
"Kamu masuk sini. Dari pada masuk angin gak ada yang ngerokin. Mana sekarang jadi jomblo kesepian gitu. Gak mau ya aku bantuin," ucap Yuki sewot. Tapi berhasil menghangatkan hati Keven di tengah cuaca dingin yang menggigit.
Bahkan segelas kopi susu berteman setoples biskuit yang lebih dulu terhidang di lantai ruang tamu beralas karpet itu sukses membuat Keven terharu. Kini semakin Keven sadari jika dalam sikap ketus dan perkataan sewot, Yuki tetap selalu memperhatikan dirinya. Memang ia saja yang sejak awal menutup mata akan perhatian-perhatian kecil Yuki.
...****************...
*
*
*
Terima kasih ya udah setia menanti kisah Yuki🥰
Sambil nungguin Yuki update lagi, bisa nih baca novel temenku. Ada dari Kak Weny Hida dan Kak Rini Sya ❤ Mau cari yang ongoing sampai tamat juga ada. Cus silakan dicari ...
Yuk intip sedikit blurd salah satu novel mereka yang aku screenshot 😉
__ADS_1