
“Buat apa susah-susah ngurus, laut kita luas,” bantah seorang laki-laki berperawakan kurus, tidak terlalu tinggi dan berkulit hitam legam akibat terlalu sering terpapar sinar matahari. Terlihat dari kerutan dahinya sosok itu sangat tidak menyukai usulan yang sempat dipaparkan.
“Bener. Modalnya juga memang Desa yang tanggung semua, nggak kan?” imbuh sosok lain yang menepuk pahanya sendiri sambil menatap dua rekan yang kebetulan duduk bersisian.
“Mending kapal bantuan dioperasikan lagi. Pak Danu yang jelas-jelas aja. Warga kita itu nelayan semua, lebih butuh kapal, jaring, solar dari pada kolam.”
“Kita ini orang laut, biasa makannya ikan laut. Ikan itu bau lumpur, kurang sedap.”
“Tapi gini loh Bapak-bapak semuanya … rata-rata warga kita nggak bisa melaut saat angin utara. Hasil kebun juga seadanya karena keahlian kita minim. Jadi kita perlu terobosan,” jelas Danu mencoba menengahi perdebatan.
“Belum tentu juga bisa ngirim ke Kota. Kalau gelombang tinggi kapal juga tak sandar. Itu kalau ada yang beli, kalau tidak bagaimana? Siapa yang mau tanggung kerugian? Pak Danu? Saya gak yakin. Lebih baik penuhi kebutuhan sesuai keahlian kami. Hidupkan lagi koperasi nelayan. Jangan setengah-setengah saat orang-orang besar itu mau turun baru semuanya turun tangan.” Sekali lagi bantahan itu terlontar.
Di antara para lelaki yang sibuk berdebat, Yuki memijat pelipisnya. Ditatap wanita yang lebih tua setahun dari dirinya yang ikut meringis bingung. Terlalu takut dan segan untuk menyela. Apalagi Yuki yang hanya berlabel tenaga ahli amatiran. Bisa-bisa ia disentil tuntutan bertubi karena terlalu ikut campur.
"Ke toilet dulu ya, Kak," bisik Yuki pada wanita di sebelahnya yang dibalas anggukan pelan. Berjalan cepat sambil menunduk canggung, Yuki sepelan mungkin membuka pintu dengan hati-hati.
Keluar dari ruangan persegi yang memanas, Yuki tidak menuju toilet, ia justru berjongkok di sisi samping bangunan. Benar, toilet hanyalah sebuah alasan untuk menghirup udara segar tanpa terkurung dalam tekanan.
Kembali Yuki memijat pelipis, tengkuk dan bahu yang kaku. Termenung mencoba memutar otak agar para perwakilan warga itu mau bekerjasama. Pasalnya setelah sempat meninjau di beberapa tempat di Kota B, terlihat prospek di bidang kuliner untuk ikan air tawar cukup menjanjikan.
Sangat disayangkan belum ada seorangpun yang tergerak oleh hasil pemaparan Yuki yang menggiurkan. Padahal Desa itu sendiri sudah memiliki lahan yang semula diperuntukan untuk budidaya ikan air tawar seperti lele dan gurame.
“Hah … dibilangin uang juga hasil laut kelihatan lebih bling-bling. Melaut udah jadi makanan sehari-hari juga. Percuma kalau Pak Danu bikin tim, tapi gak ada warga yang mau terlibat.” Menjambak rambutnya, Yuki menggerutu frustasi.
Dihembuskan nafas kasar. Ditendang udara yang tidak bersalah dengan brutal. Yuki sejenak mendongak. Ia bagai menantang terik matahari. Namun mendadak tenggorokan Yuki tercekat, bola matanya nyaris melompat karena terperanjat.
Di sana, berjarak sekitar 10 sampai 15 meter tampak Keven berdiri mematung. Bibirnya yang mengulas senyum tipis berhias sorot sendu menyimpan banyak kerinduan yang ingin segera ditumpahkan. Tidak terasa mata Keven memanas, bukan karena bersedih. Ia hanya terlalu bahagia bisa menemukan cintanya yang kabur bagai kelinci liar.
Berbalik, Yuki segera berlalu pergi. Ia melarikan diri sebelum sempat Keven sergap. Bukan karena tidak siap bertemu Keven, hanya takut apa yang dilihatnya adalah khayalan semata efek otak memanas.
Iya, Yuki akui bayang-bayang Keven hingga kini masih gencar menghantui. Perasaan menggelap yang ditutup rapat itu masih memerah. Terkadang masih berdetak seiring sesal yang tidak bisa dihapuskan. Jangan tanya mengapa, karena Yuki tau ia terlalu bodoh untuk tetap memendam cinta dan benci yang sama besarnya itu.
Berdamai? Sedang Yuki coba. Mungkin tawaran Dion adalah pilihan terakhirnya.
Lebih dari 20 menit kemudian, masih di tempat yang sama mobil Keven terparkir. Namun si empunya entah sedang berada di mana. Hanya terlihat Yuki yang celingukan dari jendela bertralis. Terlihat kelopak mata Yuki mengerjap cepat, mengeja nomor yang tertera pada plat mobil yang semakin dilihat memang semakin sangat familiar.
Menggeleng sembari menggigit bibir bawah, Yuki tertawa sumbang. Bahunya terguncang akibat kekehan yang terus ditahan. Sejurus kemudian ia keluar dari ruangan yang sejak beberapa menit lalu ditinggalkan semua orang.
“Ini kartu nama saya. Saya pastikan semua akan saya beli."
__ADS_1
Membeku, Yuki sangat mengenali sosok yang sedang membelakanginya saat ini.
“Silakan buat kesepakatan dari pihak Anda. Tapi saya mau ... Yu-ki?” Suara tegas itu terjeda, mengalun melemah dengan keterkejutan yang berubah menjadi kelegaan membuncah. Ekspresi yang semula datar dalam sekejap berbinar.
Dalam-dalam sorot itu dijatuhkan pada Yuki. Berhasil mengantarkan sengatan yang membolakan mata. Terkejut bercampur takjub, Yuki spontan menunjuk lurus pada Keven.
‘What!? Beneran dia?’ teriak Yuki dalam hati saat pandangan keduanya bertemu. Sontak Yuki mematung dengan mulut melongo dan mata melotot. Tidak lama didorong rahang bawahnya dengan tangan kanan yang juga reflek membekap mulut.
Sukses tingkah Yuki membuat Keven tersenyum geli. Ia benar-benar merindukan kekonyolan Yuki. Entah sudah berapa lama tidak menyaksikan gadis itu berulah.
"Jadi maksud anda?" Danu menekan perkataannya, menyela kebungkaman Keven yang justru mengepalkan tangan menahan diri agar tidak langsung mendekap Yuki.
Seandainya Danu tidak ada, mungkin Keven sudah berlari merentangkan tangan, membenamkan kepala mungil itu di dada bidangnya. Namun tidak untuk saat ini. Keven tidak ingin mempermalukan Yuki atau bahkan membuat perempuan yang dicintainya itu kehilangan harga diri karena ia peluk sembarangan.
“Berapapun hasilnya saya yang akan beli.” Tidak ada keraguan dalam ucapan Keven. Tapi tidak bagi Yuki. Gadis itu sontak menarik lengan Keven dengan sedikit sentakan.
“Kamu gila?! Restoran kamu gak cocok banget sama lele,” ucap Yuki seraya mengencangkan celakan sambil melotot tajam.
“Sia ….” Perkataan Danu menggantung, disela bersamaan oleh Yuki dan Keven yang sama-sama menaikkan suara.
“Temen.”
“Suami!”
“Suami!” tegas Keven lagi. Raut wajahnya berubah datar, atau lebih tepat kentara tidak senang atas kehadiran Danu. Padahal kedatangan Keven sebagai tamu yang sepatutnya dipertanyakan.
“Maksudnya suaminya temen,” sambung Yuki sambil tertawa sumbang dan melotot tajam pada Keven. Diam-diam ternyata jarinya sudah mencubit kecil pinggang Keven yang sontak meringis tipis. “Iya, kan?!”
“Suami kamu,” sahut Keven kukuh, membalas senyuman terpaksa Yuki dengan sorot meneduhkan. Benar-benar mengejutkan.
“Argh … becanda aja suami orang ini.”
Bugh!
“Lucu banget sih becandanya,” lanjut Yuki berucap setelah pukulan kesal itu dilayangkan ke punggung Keven. Detik berikutnya Yuki menangkupkan tangan, meminta maaf pada Danu dan bergegas menarik Keven untuk menyingkir.
“Mau kamu apa sih? Nyebelin banget jadi orang. Jadi setan aja sana sekalian kalau resek banget gini. Kamu itu bener-bener merusak label janda kembangku tau nggak!!?” Mengibaskan rambutnya, Yuki mendelik kesal dan kembali berkata, "ngapain lihatnya gitu banget?! Baru sadar aku cantik? TELAT!"
“Kenapa kamu tega?”
__ADS_1
“Idih, apaan lagi yang diomongin.” Memutar bola matanya malas, Yuki bersedekap sambil memalingkan wajah.
“Kenapa cuma aku yang gak tau kalau kamu pergi?”
Menghela nafas, Yuki menatap malas Keven. “Kamu tau, buktinya kamu di sini.”
“Jangan pura-pura gak tau!”
“Iya-iya … lagi pula gak guna juga kamu tau. Terus mana?” Menengadahkan tangannya, Yuki mencebik cemberut. “Kamu ke sini pasti mau kasih dompet sama ponsel aku, kan? Ya udah mana?”
“Setelah kamu tega nggak ngabarin aku, kamu pikir aku bakal kasih gitu aja?” Sudut kanan bibir Keven tertarik naik, menyeringai tipis. Berhasil membuat Yuki bergidik ngeri.
“Maksudnya?”
“Harus kamu ingat, aku tetap pengusaha yang setiap untung ruginya udah aku perhitungkan," ucap Keven menyembunyikan fakta bahwa ponsel Yuki rusak karena laka laut yang dialami si pencopet.
“To the point aja, kamu minta bayaran? Jangan bilang minta ditemani selama di sini biar bisa modusin aku, nggak kan? Duh, kalau iya, itu klise banget gak sih?”
“Ka-mu percaya diri banget,” ucap Keven sambil mengusap tengkuknya kikuk. Pasalnya yang Yuki sebutkan memang benar.
"Kasih aku sekarang atau aku laporin kamu dengan tuntutan pengancaman dan perampasan barang!" tukas Yuki.
"Oya? Dari mana kamu bisa kasih bukti aku ngancam?" Menyeringai, Keven memangkas jarak dari Yuki. Mendesak gadis itu yang terpaksa memundurkan kaki.
"A-aku bisa minta Mas Dion. Pasti masih ada chat aku sama kamu di ponsel Mas Dion. Kalau mau aku juga bisa minta Mas Dion jadi saksi dompet dan ponselku hilang." Yuki berkacak pinggang. Ia gugup namun berlagak menantang.
Sedangkan Keven reflek mengeraskan rahang. Ia menatap tajam Yuki yang sejujurnya menciut secara perlahan.
"Jangan sebut nama dia! Jangan temui dia lagi! Kamu ... hanya aku, bukan dia!"
"Memang kamu siapa?" tanya Yuki sambil terkekeh remeh. "Masih mau pura-pura jadi suami aku? Ck ... lucu."
"Tentu gak selucu kamu yang pura-pura nggak mencintai aku lagi," balas Keven tidak kalah menyindirnya.
...****************...
*
*
__ADS_1
*
Terima kasih udah menanti kisah Yuki🥰