
“Lihatnya jangan gitu banget dong, aku kan jadi malu,” ujar Yuki sambil menyenggol centil lengan Keven yang terus memandanginya. Disambut oleh hembusan kasar dari mulut Keven.
Kini dua pasang kaki itu melangkah dengan derap yang berbeda. Bergema memenuhi lorong sepi di luar bangunan yang sudah tidak asing lagi. Di sana perpisahan penuh tangis dan emosi ketidakrelaan sempat mendera dua orang yang saat ini berjalan beriringan, bergandengan tangan yang tentunya dengan ekspresi tidak serupa.
“Kira-kira di masa depan kita ba-”
“Gak!”
“Hish, apaan sih?! Belum juga aku selesai ngomong,” gerutu Yuki sambil mencebik sebal.
“Aku tau. Gak perlu kamu lanjutkan.”
“Iya-iya yang paling peka sekarang,” balas Yuki agak mengejek, tapi diam-diam tersenyum sumringah.
“Apa tujuan kamu ke sini?” Lagi-lagi Keven menghembuskan nafasnya kasar. Sesak dan pengap berada di bawah atap yang pernah menjadi saksi bisu kegagalannya mempertahankan Yuki.
“Nostalgia.” Jawaban Yuki sukses menghentikan langkah kaki Keven. Sontak berhenti pula Yuki yang seketika berbalik memandangi ekspresi masam mantan suami yang telah berganti status sebagai pacar, mungkin begitu sebutannya. Lagi pula di antara Keven dan Yuki hanya ada komitmen untuk kembali bersama tanpa memperjelas status hubungan mereka saat ini.
Sementara Keven kini merengut tidak nyaman. Laki-laki itu belum bisa berdamai dengan luka yang ia perbuat sendiri. Namun berbeda dengan Yuki yang tampak biasa dan terkesan sangat ceria.
“Kamu tau nggak, muka kamu tuh kayak gini ….” Yuki menyipitkan mata, mengerutkan dahi dengan alis nyaris tertaut, lalu sedikit memanyunkan bibirnya. Tentu melebihi ekspresi sebenarnya yang Keven tunjukan.
“Kamu atau aku?”
“Kamu lah. Serem, kan? Makanya senyum. Kamu senyum tipis aja udah mengalihkan duniaku.” Yuki mengerling. Menarik manja Keven yang seketika terkekeh dengan rona bahagia.
Dadanya benar berbunga-bunga. Sedikit mengurangi kegelisahan yang bergelayut di pikiran. Namun Keven tetap berusaha mempertahankan ekspresi datar, meskipun harus menahan kedua sudut bibirnya yang berkedut tertarik naik.
“Kamu sadar nggak kalau dari tadi aku gugup?” tanya Yuki tiba-tiba. Gadis itu menyengir canggung sambil menyibak poni dan menggaruk pangkal dahi yang tidak gatal. Sekejap matanya memicing pada siluet di sebalik kaca gelap.
“Tangan kamu dingin,” sahut Keven sambil mengangguk. Diusap pula punggung tangan yang ada dalam genggamannya itu.
“Kamu nggak ngira aku sakit gitu?”
__ADS_1
Keven menggeleng. “Semakin dekat ke sini, tangan kamu mulai dingin. Mungkin kamu sendiri nggak sadar kalau sebenarnya kamu gemetaran. Seperti aku yang nggak suka tempat ini, kamu pasti punya alasan. Yang pasti bukan nostalgia, bener kan?” balas Keven seraya mengeratkan genggaman.
“Iya, kamu benar.” Angguk Yuki sekilas lantas kembali berkata, “By, maaf … izinkan aku sedikit membuka luka lama kita, ya?”
“Untuk apa? Kita udah selesai dengan yang lalu. Bukannya kita udah janji untuk belajar membangun masa depan berdua?” Senyum sendu tercetak di bibir Keven. Pelan-pelan ia hela nafas yang kian berat. Ada ketakutan yang mendera pikiran bersamaan praduga pada akhir yang bukan tentang mereka lagi.
Berbalik, Yuki langsung meraih sebelah tangan Keven yang terbebas. Ia lantas berjalan mundur dengan tenang. Beberapa detik sempat terdiam sambil mengguncang riang kedua tangan yang saling berpegangan. Sedangkan Keven hanya pasrah mengikuti kemauan perempuan di hadapannya itu.
“Dulu, ada yang pernah bilang sama aku kalau membuka lembaran baru bukan berarti ceritanya selesai. Kuncinya hanya ada di aku, mau atau tidak. Dan kamu tau? Ternyata aku mau membuka lembaran baru dengan kisah yang sama … kita.” Berhenti, Yuki tatap lurus Keven yang memasang raut wajah sulit didefinisikan.
“Menurutku dia benar. Banyak hal yang bisa aku jawab sambil mengintip halaman lama. Bahkan bisa belajar lebih baik dari kisah yang udah terukir. Itulah maksud aku tadi dengan membuka luka lama. Karena yang menurutku biasa aja, belum tentu sama untuk kamu makanya aku minta izin,” sambung Yuki.
“Laki-laki sok cantik itu yang bilang?” tanya Keven selidik sambil mengerutkan dahinya.
“Kok sok cantik sih? Mas Dion laki banget tau,” ucap Yuki terdengar membela Dion. Sontak suasana hati Keven tambah bergemuruh suram.
“Udah mujinya?” tukas Keven jengah.
“Kamu cemburu lagi? Gemesin banget sih By kalau cemburu.”
“Aku suka,” gumam Yuki lirih seraya menunduk, serentak dengan ucapan Keven.
“Maksud kamu?!”
Suara rendah Keven terdengar sangat berat. Matanya berkilat tajam seiring rahang tegas yang tampak mengeras. Reflek Keven melepas genggaman tangan pada Yuki, takut jika energi kemarahannya menyakiti tulang ringkih sang pujaan hati.
Sedetik berikutnya Keven melangkah maju. “Maksud kamu apa? Kamu suka dia?! Gak mungkin. Aku pasti salah dengar. Tolong jawab aku, Sayang!” cerca Keven penuh penekanan.
“Bukan,” jawab Yuki sembari menurunkan cengkeraman lembut Keven dari bahunya. “Kamu yang aku suka. Sorry kalau aku nyebelin, tapi bisa lihat kamu yang cemburu galak kayak gini ternyata asik. Apa mungkin karena kita masih manis-manisnya ya? Pokoknya itu lah. Aku suka kamu dengan sikap posesif yang agak kaku ini.”
“Permisi, Pak, Bu, maaf mengganggu, ada yang bisa saya bantu?” celetuk seseorang sambil menangkup kedua belah telapak tangan.
“Oh, eh,” balas Yuki kikuk, “… kantornya.”
__ADS_1
“Mohon maaf kantor sudah tutup ya, Bu. Jika ada yang ingin diurus, bisa datang besok di jam kerja mulai jam delapan pagi. Bisa langsung masuk lewat pintu utama di bagian depan sana.”
“Iya, Pak, terima kasih. Permisi," sahut Keven cepat, menyela kecanggungan sebelum Yuki sempat menambah masalah.
Tepat pukul empat sore di pelataran kantor pengadilan, Yuki tergelak geli. Ia jelas menertawai ekspresi melongo kebingungan kala satpam yang bertugas menyapa mereka.
“By, tadi aku kaget banget tau. Sampai bingung harus ngapain. Untung aja kamu cepat tanggap."
"Kamu juga ada-ada aja. Buat apa kita ke sini?"
"Tadinya aku punya misi khusus, tapi gagal."
"Misi khusus?" Keven mengernyit.
"Hm," dehem Yuki singkat mengiyakan dengan anggukan kecil.
"Mulai hari ini kamu dilarang rahasiakan apapun dari aku. Nggak ada misi khusus lagi. Kasih tau aku dulu sebelum kamu mau ke mana-mana."
"Yaaah, nggak asik. Kalau aku kasih tau duluan mana mau kamu ikut kayak gini."
"Jangan cari penyakit!"
"Kenapa nggak boleh? Aku cari sehat kok, nggak cari penyakit. Kan aku udah dapat empat sehat lima cinta," balas Yuki sambil menggoda Keven.
"Kamu beneran marah ya?" tanya Yuki lagi ketika mendapati Keven bungkam. Namun bukannya merasa bersalah, Yuki justru mencolek-colek nakal lengan Keven. Sedetik kemudian ia bertingkah imut seraya berkata, "ganteng banget sih yang lagi kesel, apa resepnya juga empat sehat lima cinta ya? Auuww, meleleh adek, Mas."
Keven menggeleng putus asa. Benteng kekesalannya runtuh begitu saja oleh tingkah manis Yuki. "Kamu itu, Yang ... benar-benar keajaiban," kata Keven sambil mengusak rambut Yuki.
"Maksudnya? Aku udah fosil terus langka gitu jadi keajaiban?!" ketus Yuki sewot. Ia manyun sambil terbelalak lebar. Mendadak sensitif oleh kalimat yang terucap dari mulut Keven.
"Kamu itu keajaiban yang terlalu nggak masuk akal untuk aku dapatkan. Orang bodoh dan jahat ini benar-benar beruntung bisa berdiri di sisi kamu yang seajaib ini. Bahkan bisa cubit pipi seimut ini," jelas Keven sambil mencubit gemas pipi Yuki. Sontak Yuki tersipu dan spontan mendaratkan beberapa kali pukulan salah tingkahnya ke lengan Keven.
'Kok bisa manis gini sih?! Mana cumi keringku?! Argh!! Pengen karungin!' jerit Yuki dalam hati. Sejenak ia menarik nafas dalam-dalam lalu berkata dengan percaya diri, "dan kamu bukan mitos yang nggak bisa aku pecahkan. Karena aku yakin memiliki kamu hanya fakta yang sempat tertunda. Terbukti sekarang kamu udah jadi punyaku ... belum sepenuhnya sih, tapi tetap punyaku. Walaupun sebelumnya aku juga pernah nyerah, hehe ...."
__ADS_1
Berlindung dari cahaya senja yang bersinar terang di bawah pohon akasia, Keven dan Yuki tiba-tiba saling merangkul mesra. Tidak peduli pada kondisi sekitar yang sejatinya sepi. Tapi percayalah ada sepasang mata yang menyaksikan dari balik kaca gelap bangunan kantor pengadilan. Berhasil pula membuatnya berdecak meratapi nasib kejombloan.